NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembuktian

"Kamu akan menikah," jawab perempuan itu.

Sontak Aluna kaget.

"Menikah? Dengan siapa?"

Perempuan itu saling menatap satu sama lain.

"Dengan pria yang datang bersama mu."

Aluna menutup mulutnya, rasa tak percaya menyelimuti dirinya.

Ia berlari keluar dari kamar, berlari melewati beberapa orang di ruang utama dan melewati Arka.

Arka mengejar Aluna, ia menarik tangannya.

"Aluna... dengarkan aku dulu."

"Maksud Bapak apa?" Air matanya menetes.

Kedua tangan Arka memegang wajah Aluna yang tampak kebingungan.

"Kita akan menikah malam ini."

"Kenapa Bapak tidak memberitahu saya lebih dulu?" suaranya terdengar serak. "Kenapa Bapak selalu seenaknya memutuskan sesuatu?"

Arka menatapnya dalam, jemarinya masih menahan wajah Aluna agar tidak berpaling.

“Karena aku tidak punya waktu lagi, Aluna…”

Suaranya rendah, namun terdengar berat.

“Kalau aku memberitahumu lebih dulu… aku takut kamu tidak akan setuju.”

Aluna terisak dalam genggaman tangan Arka.

"Aluna... aku akan bertanggung jawab untuk bayi ini."

"Tapi saya takut," suaranya lirih hampir tidak terdengar.

Arka memeluk perempuan itu. "Selama aku ada di pihak mu, kamu tidak perlu merasa takut."

Aluna melepaskan dekapan Arka. "Apa Bapak akan terus berada di pihak saya?"

"Aku mencintaimu, Aluna... aku nggak akan membiarkanmu terluka, jadi aku akan selalu ada di pihak mu."

Aluna melihat ketulusan dan kejujuran pada sorot mata Arka.

Kedua mata pria itu akhirnya mampu meyakinkan hati Aluna, meruntuhkan tembok kebencian terhadapnya.

Dan pada malam itu.

Ketika semua orang berhenti dari kesibukannya masing-masing.

Ada dua insan yang lahir untuk kembali menjadi seseorang yang baru.

Arka dan Aluna—

Dua manusia yang seharusnya tidak pernah berada di garis yang sama.

Satu terbiasa hidup di atas segalanya,

dengan dunia yang penuh aturan, nama besar, dan ekspektasi.

Sementara yang lain…

hanya seseorang biasa,

yang bahkan untuk berdiri di sisi itu saja terasa seperti sebuah kesalahan.

Namun malam itu—

semua batas itu seolah kehilangan maknanya.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada perbedaan.

Tidak ada dunia yang membatasi mereka.

Hanya ada dua hati

yang memilih untuk tetap bersama,

meski harus dilakukan dalam diam.

Tanpa sorotan.

Tanpa restu.

Sebuah ikatan yang lahir bukan karena dunia mengizinkan—

melainkan karena mereka tidak lagi mampu hidup tanpa satu sama lain.

Dan di balik sunyi malam itu…

Arka dan Aluna resmi menjadi sesuatu yang selama ini dianggap mustahil—

suami dan istri.

...***...

Setelah sesi pernikahan selesai.

Arka membawa Aluna pergi ke sebuah rumah.

Mobil itu berhenti di depan gerbang tinggi yang menjulang.

Dua orang penjaga berdiri di sana, membuka pintu dengan sigap begitu mobil mereka mendekat.

Gerbang itu perlahan terbuka, memperlihatkan jalan panjang yang mengarah ke sebuah bangunan megah di kejauhan.

Rumah itu… terlalu besar.

Lampu-lampu menyala terang, menyoroti bangunan dengan arsitektur mewah yang berdiri kokoh dan nyaris sempurna.

Aluna terdiam.

Matanya menyapu setiap sudut yang bisa ia lihat dari balik jendela mobil.

Halaman luas.

Tangga tinggi.

Pintu utama yang tampak begitu jauh dari jangkauan.

Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama.

Seorang penjaga lain segera membuka pintu untuk mereka.

Arka turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya ke arah Aluna.

Namun untuk sesaat, Aluna tidak langsung menyambutnya.

Tatapannya masih terpaku pada bangunan di hadapannya.

Bukan karena kagum.

Tapi karena… ia merasa kecil.

"Ini rumah siapa lagi?" tanya Aluna bingung.

"Ini rumah kita." Arka tersenyum padanya.

Dan untuk pertama kalinya, Aluna benar-benar merasakan—bahwa dunia yang ia masuki sekarang

bukan lagi dunia yang ia kenal.

Arka sengaja membeli rumah untuk ditinggali bersama Aluna.

Ia ingin memastikan Aluna tidak lagi berada di tempat yang tidak layak yang bisa membahayakan dirinya.

Aluna menyapu seluruh ruangan, ia merasa kagum dengan perabotan mahal dan luasnya rumah itu.

"Pak Arka," panggilnya.

Arka menoleh sebelum menaiki tangga.

"Rumah sebesar ini hanya kita berdua yang tinggal?"

Arka berpikir sesaat. "Iya... kenapa?"

Aluna hanya menggeleng.

"Tapi mulai besok aku akan mempekerjakan beberapa asisten untuk rumah ini."

"Tidak perlu. Mungkin untuk saat ini saya belum membutuhkan itu.. saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."

Arka mendekat pada Aluna. "Aku hanya tidak ingin kamu capek."

"Saya sudah terbiasa dan lagi pula kita cuma tinggal berdua.. kita pasti lebih banyak berada di luar karena bekerja, pasti rumah tidak terlalu berantakan," jelasnya.

"Apa kamu masih akan bekerja?" tanya Arka.

Aluna mengerutkan keningnya. "Tentu saja."

Arka terdiam sejenak menatap Aluna. "Aku pikir setelah kita menikah, kamu akan berhenti bekerja."

Aluna tertawa kecil. "Kenapa saya harus berhenti bekerja?"

"Karena bersama ku, hidupmu jauh lebih baik.. jadi kamu tidak perlu bekerja lagi."

Aluna terdiam meresapi kalimat pria itu. "Saya percaya bersama Bapak.. hidup saya akan lebih baik. Tapi saya tetap ingin bekerja, anggap saja sebagai hobi."

Arka terkekeh, "baru dengar ada orang bekerja sebagai hobi."

Mereka tertawa bersamaan.

...***...

Aluna memasuki sebuah kamar yang berada di lantai atas.

Kamar itu bercat putih namun semua dekorasinya berwarna pink.

Di ranjang ada beberapa boneka ukuran besar, yang menarik perhatiannya.

Apa CEO suka boneka juga?

Gumamnya.

Ketika Aluna berbalik, ia melihat Arka melepaskan jasnya, dasi, jam tangan dan sepatu yang ia kenakan lalu meletakkannya di atas sofa.

Arka mulai membuka kancing kemejanya, membuat dada bidangnya terlihat.

"Pak Arka mau mandi di kamar ini?" tanya Aluna.

"Iya," jawabnya singkat, tangannya masih fokus pada kancing kemejanya.

"Yasudah kalau begitu saya pakai kamar mandi yang lain saja."

Aluna melangkah menuju pintu, namun tiba-tiba tangan Arka menahannya.

"Kenapa tidak mandi di sini?"

"Pak Arka saja duluan."

"Kita bisa mandi bersama."

Sontak Aluna kaget mendengar itu, ia menggelengkan kepalanya.

"Ng.. nggak mau."

Arka mengangkat tangannya, menyentuh dagu Aluna, lalu mendekatkan wajahnya. "Kenapa? Kita kan suami istri."

Aluna diam membeku, pipinya memerah. Degup jantungnya terasa lebih cepat.

Ah, sial…

Ia menghela napas pelan.

Aku lupa kalau CEO gila itu… sekarang suamiku.

Aluna masih belum terbiasa dengan status barunya.

Meskipun mereka telah sah menjadi pasangan suami istri, kenyataannya tidak ada yang benar-benar berubah dalam dirinya.

Ia masih merasa seperti karyawan biasa—

yang harus bersikap sopan, menjaga jarak, dan tahu batas.

Bahkan saat berada di dekat Arka sekalipun,

ada bagian dalam dirinya yang selalu mengingatkan: itu atasannya.

Saat Aluna masih diam dengan tatapan kosongnya, tiba-tiba Arka membopong tubuh Aluna dan membawanya masuk ke kamar mandi.

Di kamar mandi, Arka dengan hati-hati membantu Aluna melepaskan hiasan di rambutnya, sebelum tangannya beralih membuka kebaya dan lilitan rok yang terasa begitu rumit.

Aluna yang semula merasa malu, namun kini ia pasrah karena mengingat mereka sudah menjadi suami dan istri.

Arka menatap setiap detail tubuh Aluna, seolah ia baru pertama kalinya melihat keindahan tubuh perempuan itu.

Sontak Aluna cepat-cepat membalikkan badan dan menutup bagian intim tubuhnya.

Ia menutup matanya dan menghela nafas.

Beberapa saat kemudian ia merasakan hangat tubuh Arka yang menempel pada punggungnya.

...***...

1
Amiura Yuu
percakapan nya huruf nya jangan dibuat miring kak berasa ngomong dalam hati
Lass96: Wah noted kak... Makasih udah ngingetin! Aku coba evaluasi lagi biar lebih nyaman dibaca yaa
total 1 replies
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!