Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Pelampiasan Kekesalan Bersama
Kamar nomor 502 itu seolah menjadi ruang hampa di tengah riuhnya Jakarta. Di luar, klakson kendaraan bersahut-sahutan, namun di dalam, hanya ada deru napas yang memburu dan aroma parfum erotis yang bercampur dengan bau keringat yang tajam. Marlon dan Stefani—dua sosok yang sedang terhimpit oleh jaring-jaring dosa mereka sendiri—kini saling berhadapan dalam kondisi yang paling primitif.
Begitu dress mini tipis itu luruh ke lantai, Marlon tidak lagi melihat Stefani sebagai rekan kerja atau alat politiknya. Di matanya, Stefani adalah samsak emosional, tempat ia bisa membuang seluruh frustrasi, depresi, dan kekalutan yang mencekik lehernya sejak Clarissa mulai mengendus jejak korupsinya. Marlon mencengkeram bahu Stefani dengan kasar, kulitnya memerah karena tekanan jemari yang penuh kemarahan.
Mereka mulai saling mengeksplorasi tubuh masing-masing dengan cara yang tidak biasa. Tidak ada kelembutan di sana. Yang ada hanyalah pergumulan yang sangat sengit, sebuah tarian penuh kekerasan yang dipicu oleh rasa benci pada keadaan. Marlon mencium leher Stefani dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas, sementara tangan Stefani mencengkeram punggung Marlon hingga kuku-kukunya meninggalkan gurat merah yang panjang.
"Kamu tahu apa yang Clarissa lakukan di kantor?!" geram Marlon di sela-sela ciuman kasarnya. Suaranya parau, penuh dengan luapan kekesalan yang tertahan. "Dia membuatku terlihat seperti pecundang! Dia terus menggali, terus mencari!"
Stefani tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengerang, tubuhnya meliuk di bawah kungkungan Marlon. Ia sendiri sedang memendam amarah yang tak kalah besar. Mobil yang dijanjikan Marlon melayang, posisinya di rumah Erian terancam, dan ia harus terus berpura-pura menjadi "Kartika" yang menyedihkan demi simpati. Hasratnya yang besar kini bercampur dengan konflik batin dan rasa jengkel yang memuncak.
Mereka berpelukan berguling-gulingan di atas ranjang yang luas itu. Seprai yang semula rapi kini kusut masai, ditarik-tarik oleh tangan-tangan yang mencari pegangan di tengah badai emosi. Marlon berguling ke bawah, membiarkan Stefani berada di atasnya sejenak, hanya untuk kemudian membalikkan keadaan dengan sentakan yang kuat. Pergulatan yang begitu hebat ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang siapa yang lebih kuat menanggung beban kehancuran mereka.
"Pelan-pelan, Marlon... Kamu menyakitiku!" rintih Stefani saat Marlon menarik rambutnya agar wajah mereka sejajar.
Namun Marlon sudah kehilangan akal sehatnya. Matanya merah, dipenuhi bayangan kegagalan dan ketakutan akan penjara. Rasa marah dan jengkel telah mengambil alih seluruh saraf motoriknya. Ia butuh merasakan kekuatan, ia butuh merasa berkuasa atas sesuatu karena di kantor, ia merasa seperti tikus yang terpojok.
Marlon membalik tubuh Stefani dengan kasar, menekannya ke atas kasur tanpa mempedulikan rintihan wanita itu. Tanpa awalan yang lembut, tanpa basa-basi romantis, Marlon menghentak memulai penyatuan yang kasar. Itu adalah serangan fisik yang murni lahir dari pelampiasan emosional.
"Marlon! Sakit! Pelan-pelan!" Stefani menjerit, suaranya pecah di antara bantal yang menutupi sebagian wajahnya. Ia meminta Marlon untuk lebih lembut, memohon agar pria itu tidak membiarkan emosinya mengendalikan gerakannya.
Tapi Marlon tak peduli. Setiap entakan yang ia berikan adalah bentuk pemberontakannya terhadap Clarissa, terhadap Erian, dan terhadap nasibnya yang kian hari kian gelap. Ia seolah-olah sedang menghantam dinding yang mengurungnya. Keringat bercucuran dari dahi Marlon, menetes ke punggung Stefani, menciptakan sensasi dingin dan panas yang aneh.
Stefani, meski awalnya kesakitan, perlahan-lahan mulai tenggelam dalam irama liar itu. Hasratnya yang memang besar mulai merespons kegilaan Marlon. Ia tidak lagi memohon pelan, melainkan mulai membalas setiap pergerakan Marlon dengan sisa-sisa tenaganya. Mereka seperti dua binatang buas yang sedang bertarung di dalam kandang sempit, mencari jalan keluar dari rasa depresi dan kekalutan yang menghantui mereka selama berhari-hari.
Ruangan itu dipenuhi suara napas yang berat dan benturan fisik yang ritmis. Marlon merasa seolah-olah setiap pergerakannya adalah cara untuk menghancurkan bukti-bukti korupsi yang sedang dikumpulkan Clarissa. Sementara bagi Stefani, ini adalah cara untuk melupakan identitas aslinya sebagai Kartika yang miskin, dan kembali merasa seperti wanita yang diinginkan, meski dengan cara yang menyakitkan.
Konflik batin yang mereka alami selama ini—ketakutan akan ketahuan, rasa iri pada kebahagiaan Nadya, dan kebencian pada kesuksesan Erian—semuanya memuncak di detik-detik ini. Mereka terus berguling-guling, saling menjerat dalam pelukan yang menyesakkan, seolah jika mereka melepaskan satu sama lain, mereka akan langsung jatuh ke jurang kehancuran.
Marlon mempercepat temponya, napasnya tersengal-sengal. Ia bisa merasakan dadanya sesak, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena rasa jengkel yang tak kunjung hilang. Ia ingin semua ini berakhir, ia ingin masalah di kantor menghilang, ia ingin kembali menjadi pria yang ditakuti.
"Sialan kamu, Clarissa! Sialan kamu, Erian!" teriak Marlon dalam hati di setiap entakannya.
Hingga akhirnya, ketegangan itu mencapai titik nadirnya. Seluruh beban emosional, seluruh rasa takut, dan seluruh kemarahan yang mereka simpan rapat-rapat seolah meledak di satu titik saraf yang sama. Otot-otot tubuh mereka menegang kaku, seolah sedang tersengat aliran listrik ribuan volt.
Akhirnya mereka berdua mencapai klimaks. Itu bukan sekadar puncak kenikmatan biologis, melainkan sebuah pelepasan luar biasa seluruh depresi dan kekesalan yang telah membusuk di dalam jiwa mereka. Segala rasa sesak di dada Marlon dan segala rasa dengki di hati Stefani seolah terpompa keluar dalam satu ledakan energi yang dahsyat.
Di dalam kamar yang temaram itu, di bawah bayang-bayang kegagalan rencana jahat mereka, mereka berdua menjerit keras bersama dengan suara yang menyayat udara, melampiaskan segala sesuatu yang tidak bisa mereka katakan di depan dunia.
"Aaaaaaaaaaarrrrrrrrgggggghhhhhhhhhhh........!!!!!!!!"
Teriakan itu menggema, memantul di dinding kamar hotel yang dingin, membawa pergi sisa-sisa kekuatan mereka. Setelah itu, keheningan yang mencekam langsung jatuh menyelimuti ruangan. Marlon dan Stefani terkapar lemas, saling membelakangi, dengan napas yang masih terputus-putus. Kelegaan yang mereka rasakan hanyalah sementara, karena mereka tahu, begitu mereka keluar dari pintu kamar ini, masalah yang sama masih menunggu untuk menghancurkan mereka.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭