Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Matahari Surabaya mungkin terasa lebih terik bagi Ziva yang sedang bergelut dengan angka-angka di ruang rapat, namun di Jakarta, suasana di Markas Polres terasa jauh lebih "panas" bagi Baskara. Ini adalah hari pertama mereka menjalani hubungan jarak jauh—meski hanya untuk tiga hari—namun bagi seorang Baskara yang baru saja mencicipi manisnya masa-masa "aku-kamu", satu jam tanpa kabar dari Ziva terasa seperti satu shift penuh di ruang interogasi.
Baskara duduk di kantin kantor dengan wajah yang lebih kaku dari biasanya. Ia terus menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas meja, berharap ada setitik notifikasi muncul. Kopi hitam di depannya sudah mendingin, sama sekali tidak disentuh.
Arga dan Nisa, yang kebetulan sedang berkunjung untuk kontrol rutin ke RS Bhayangkara dekat situ, menghampiri meja Baskara. Mereka langsung menangkap aura "mendung" yang dipancarkan sang sahabat.
"Waduh, Pak Inspektur. Mukanya kok kayak tersangka yang belum dapet pengacara?" celetuk Arga sambil menarik kursi di depan Baskara. Nisa duduk di samping suaminya sambil tersenyum geli.
Baskara mendongak, matanya sedikit sayu. "Ziva belum kasih kabar sejak mendarat di Surabaya dua jam lalu. Katanya langsung ada rapat pembukaan."
Nisa tertawa renyah, ia meletakkan tasnya di meja. "Baru dua jam, Mas Baskara. Surabaya-Jakarta itu deket, bukan pindah ke planet Mars. Masa perwira Jatanras yang biasanya paling tenang kalau nunggu buronan, sekarang gelisah nunggu chat istri?"
"Itu beda, Nis. Buronan itu urusan negara. Ziva itu urusan... hati," gumam Baskara pelan, yang langsung disambut tawa ledak dari Arga.
"Gila! Sejak kapan lo jadi pujangga begini, Bas? Mana Baskara yang dulu bilang 'nikah itu cuma kontrak sosial'?" goda Arga sambil menepuk-nepuk bahu Baskara dengan keras. "LDR sehari aja udah begini, gimana kalau Ziva dapet tugas setahun ke luar negeri?"
"Jangan bicara yang aneh-aneh, Ga. Satu hari saja sudah terasa sepi di rumah, apalagi ada Ayah dan Bunda mertua. Aku merasa canggung kalau nggak ada Ziva yang jadi penengah," aku Baskara jujur.
Tepat saat Arga hendak melontarkan ledekan berikutnya, ponsel Baskara bergetar hebat. Sebuah panggilan video (video call) masuk. Nama kontak yang tertera bukan lagi "Zivanya" atau "Istriku", melainkan sudah berubah menjadi "Bebe 💖"—nama panggilan yang baru saja Ziva ganti secara paksa di ponsel Baskara tadi pagi sebelum berangkat.
Baskara refleks menyambar ponselnya. Ia lupa kalau ada Arga dan Nisa yang sedang memasang telinga lebar-lebar.
"Halo, Ziva? Kamu sudah selesai rapatnya?" tanya Baskara cepat, suaranya naik satu oktav karena lega.
Di layar ponsel, muncul wajah Ziva yang tampak sedikit lelah namun sangat cantik dengan latar belakang hotel bintang lima di Surabaya. Ia masih mengenakan blazer kerjanya, namun rambutnya sudah dicepol asal.
"Baru aja selesai sesi pertama, Kak. Capek banget, investornya cerewet banget soal margin," keluh Ziva di seberang sana. Ia kemudian memajukan wajahnya ke arah kamera, memberikan senyum paling manis yang membuat jantung Baskara mencelos. "Halo, Bebe... Kamu udah makan belum? Kok mukanya kaku gitu sih, kangen ya sama aku?"
Baskara mendadak mematung. Kata "Bebe" yang keluar dari bibir Ziva terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan kantin. Ia melirik Arga dan Nisa lewat sudut matanya. Arga sudah menutup mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang hebat karena menahan tawa, sementara Nisa matanya berbinar-binar nakal.
"Ziva... ada Arga sama Nisa di sini," bisik Baskara dengan wajah yang mulai berubah menjadi merah padam hingga ke pangkal leher.
"Loh, ada Kak Arga sama Kak Nisa? Halo Kakak-kakakku sayang!" seru Ziva ceria di layar. "Maafin ya kalau Bebe aku lagi mode robot, dia emang gitu kalau nggak ada aku yang nge-charge energinya."
"BEBE?!" Arga akhirnya meledak. Tawanya pecah sampai beberapa anggota polisi di meja lain menoleh heran. "Bas! Sumpah, gue nggak kuat! Lo... Inspektur Baskara yang sangar, dipanggil 'Bebe'? Hahaha! Aduh, perut gue sakit!"
Nisa ikut tertawa sambil melambaikan tangan ke arah layar ponsel Baskara. "Ziva! Keren banget panggilannya! Terusin ya, biar Mas Baskara nggak terlalu tegang kalau lagi patroli!"
Baskara ingin sekali menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia segera membawa ponselnya berdiri dan berjalan menjauh menuju area parkir yang lebih sepi, meninggalkan tawa Arga yang masih menggema di kantin.
"Ziva, kamu sengaja ya?" protes Baskara begitu ia sampai di pojokan parkiran yang sunyi. "Malu, Ziva. Arga nggak bakal berhenti ngeledek aku sampai tahun depan gara-gara panggilan itu."
Ziva di seberang sana tertawa renyah, ia merebahkan dirinya di kasur hotel sambil tetap memegang ponsel. "Biarin aja sih, Kak. Lagian lucu tau. 'Bebe' itu kan panggilan sayang, biar kita makin sweet meskipun lagi LDR begini. Emang kamu nggak suka aku panggil gitu?"
Ziva memasang wajah cemberut (pouty face) yang sangat menggemaskan, senjata pamungkas yang selalu membuat Baskara bertekuk lutut.
Baskara menghela napas panjang, senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya. "Suka. Aku suka apapun yang kamu panggil, asal itu dari kamu. Tapi kalau di depan umum, tolong... kasihan wibawaku sebagai polisi, Sayang."
"Hehe, iya deh, Bebe... eh, maksud aku Kak Baskara," goda Ziva lagi. "Gimana Ayah sama Bunda? Mereka nggak ngerepotin kamu kan?"
"Sama sekali tidak. Tadi pagi Bunda masak banyak sekali, Ayah juga ajak aku diskusi soal saham. Mereka sangat baik. Tapi rasanya tetap beda kalau nggak ada kamu di meja makan," ucap Baskara dengan nada yang sangat tulus.
"Sabar ya, Kak. Besok lusa aku udah pulang kok. Nanti aku bawa lapis kukus Surabaya yang banyak buat kamu. Oh iya, nanti malem video call lagi ya sebelum tidur? Aku mau kamu bacain aku dongeng atau apa kek, biar aku bisa tidur nyenyak di hotel sendirian."
Baskara terkekeh. "Bacain dongeng? Kamu pikir kamu masih umur lima tahun?"
"Biarin! Di depan investor aku emang analis hebat, tapi di depan kamu aku kan tetep 'kelinci Kuromi' kamu," sahut Ziva manja.
Percakapan itu berlanjut selama tiga puluh menit, melupakan semua berkas kasus yang menumpuk di meja kerja Baskara. Bagi Baskara, panggilan "Bebe" yang awalnya memalukan itu kini menjadi melodi paling indah yang menemaninya melewati hari pertama tanpa Ziva.
Meski Arga dan Nisa mungkin akan menjadikannya bahan candaan seumur hidup di grup WhatsApp mereka, Baskara tidak peduli. Selama Ziva bahagia, ia bersedia menjadi "Bebe" paling tangguh di seluruh kepolisian Republik Indonesia.
Malam itu, Jakarta terasa sedikit lebih hangat bagi Baskara, karena ia tahu, di Surabaya sana, ada seorang wanita yang sedang merindukannya sama besarnya dengan kerinduannya.