Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Nick berdiri di dekat jendela besar ruangannya, menatap kota yang terbentang di bawah sana. Tangannya masih memegang ponsel, rahangnya mengeras.
Di ujung telepon, suara ayahnya terdengar tenang, hampir santai.
“Nick,” katanya pelan, “kau terlalu pintar untuk tidak memahami maksudku.”
Nick tidak menjawab langsung.
Ia menatap jauh ke luar, lalu berkata dengan suara rendah namun tegas, “Jangan berputar-putar. Katakan saja.”
Ayahnya tertawa kecil.
“Baiklah. Aku hanya ingin mengingatkanmu… bahwa posisi seorang CEO tidak hanya tentang kemampuan bisnis.”
Ia berhenti sejenak.
“Reputasi keluarga juga bagian dari itu.”
Tatapan Nick langsung mengeras.
“Kalau Anda punya sesuatu untuk dikatakan tentang istriku,” ucap Nick dingin, “katakan sekarang.”
Di ujung sana, suara itu menjadi sedikit lebih berat.
“Wanita seperti Tessa… tidak cocok berada di lingkaran kita.”
Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik.
Nick mengepalkan tangannya.
“Lingkaran Anda?” balasnya tajam. “Atau lingkaran perusahaan?”
Tuan Alexander tidak langsung menjawab.
“Nick,” katanya akhirnya, “aku hanya tidak ingin kau membuat kesalahan yang akan menghancurkan masa depanmu.”
Nick tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.
“Kesalahan?” gumamnya pelan.
Ia berjalan kembali ke meja kerjanya, lalu bersandar sedikit.
“Saya rasa Anda terlalu mencampuri urusan pribadi saya.”
Suara di ujung telepon menjadi lebih dingin.
“Pribadi?” ulang Ayahnya. “Ketika kau menikah mendadak dengan wanita itu, itu berhenti menjadi urusan pribadi.”
Ada jeda beberapa detik.
Lalu kalimat berikutnya keluar pelan tapi penuh tekanan.
“Perusahaan ini dibangun oleh keluarga kita selama puluhan tahun, Nick. Jangan sampai runtuh hanya karena seorang wanita.”
Nick menutup matanya sebentar.
Ia menghembuskan napas panjang.
Lalu ketika ia membuka matanya kembali, tatapannya sudah benar-benar dingin.
“Kalau itu saja yang ingin Anda katakan,” ucapnya datar, “maka percakapan ini selesai.”
“Nick-”
Namun panggilan itu sudah diputus.
Ruangan kembali sunyi.
Nick meletakkan ponsel di meja sedikit lebih keras dari biasanya.
Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, menatap kosong ke arah layar laptop.
Kalimat terakhir itu terus terngiang di kepalanya.
Wanita itu akan menjadi masalah besar untukmu.
Nick menekan pelipisnya pelan.
Lalu tanpa sadar, tangannya kembali meraih ponsel.
Chat dengan Tessa masih terbuka.
Pesan terakhir:
"Baiklah, selamat bekerja."
Tatapan Nick sedikit melunak.
Beberapa detik ia hanya menatap layar itu.
Lalu akhirnya ia mengetik sesuatu.
Sementara itu, di rumah, Tessa baru saja selesai membuat secangkir teh hangat di dapur. Ia membawa cangkir itu ke ruang tengah, duduk kembali di sofa.
Rumah terasa sangat sepi.
Ia menatap ponselnya lagi.
Tidak ada pesan baru.
Tessa menghela napas pelan.
“Mungkin dia benar-benar sibuk,” gumamnya.
Baru saja ia hendak menaruh ponselnya kembali, ponsel itu tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Nick.
Jantung Tessa langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Ia membuka pesan itu.
Nick:
“Nanti makan siang bersamaku.”
Tessa mengerjapkan mata membaca pesan itu,
Tessa menahan senyum kecil.
Ia mengetik balasan.
“Di rumah?”
Beberapa detik berlalu.
Balasan datang hampir langsung.
Nick:
“Tidak.”
Tessa mengangkat alis sedikit.
Lalu pesan berikutnya muncul.
Nick:
“Aku akan menjemputmu.”
Tessa menatap layar ponsel beberapa detik.
Tanpa sadar, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Pria itu benar-benar, penuh kejutan. Gumamnya pelan.
Ia mengetik pelan.
“Baiklah.”
Di kantor, Nick membaca balasan itu.
Satu kata sederhana.
Namun entah kenapa, kata itu membuat ketegangan di dadanya sejak telepon tadi… sedikit berkurang.
Nick menaruh ponselnya.
Tatapannya kembali tajam seperti biasa.
Namun kali ini, ada satu keputusan yang sudah terbentuk jelas di pikirannya.
Jika ada orang yang berpikir bisa mengatur hidupnya, termasuk tentang wanita bernama Tessa, maka mereka benar-benar salah besar.
Di rumah, Tessa menatap layar ponselnya beberapa detik setelah membaca pesan terakhir dari Nick.
“Aku akan menjemputmu.”
Kalimat itu terasa sederhana. Namun entah kenapa membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tessa meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar di sofa.
“Makan siang…” gumamnya pelan.
Ia menatap jam dinding.
Masih ada waktu.
Tessa sebenarnya ingin terlihat santai, seolah itu hanya makan siang biasa. Namun tanpa sadar ia bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar.
Di depan lemari, ia berhenti.
“Apa aku perlu ganti baju?” bisiknya pelan pada diri sendiri.
Beberapa detik ia hanya berdiri di sana.
Lalu ia menggeleng kecil.
“Ini cuma makan siang.”
Namun tetap saja ia membuka lemari.
Sementara itu di kantor.
Nick berdiri di depan jendela ruangannya lagi. Tangannya dimasukkan ke saku celana, tatapannya serius menatap gedung-gedung tinggi di luar sana.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Daniel masuk membawa tablet.
“Tuan Nick, dokumen untuk rapat sore sudah-”
“Tunda semua jadwal satu jam,” potong Nick singkat.
Daniel sedikit terdiam. “Satu jam, Tuan?”
Nick berbalik menatapnya. “Ya.”
Daniel mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”
Namun sebelum ia keluar, Nick menambahkan dengan nada datar,
“Dan siapkan mobil.”
Daniel berkedip sedikit.
Biasanya klien datang ke kantor. Sangat jarang Nick keluar di tengah jadwal padat seperti ini.
“Baik, Tuan.”
Setelah Daniel pergi, Nick mengambil jasnya dari sandaran kursi.
Ia mengenakannya dengan gerakan tenang dan rapi seperti biasa.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Pikirannya tidak lagi dipenuhi angka laporan atau strategi perusahaan.
Melainkan bayangan seorang wanita yang mungkin sekarang sedang berdiri di depan lemari, bingung memilih baju.
Sudut bibir Nick bergerak sedikit.
“Aneh,” gumamnya pelan.
Di rumah, Tessa akhirnya keluar dari kamar.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil menghiasi gaun itu. Tidak terlalu formal, tapi juga tidak terlalu santai.
Ia berhenti di depan cermin ruang tamu.
Menatap dirinya beberapa detik.
Lalu menghela napas kecil.
“Kenapa aku seperti akan pergi kencan…” gumamnya.
Padahal itu hanya makan siang dengan Nick.
Tessa menggeleng kecil.
Ia baru saja hendak duduk kembali ketika suara mobil terdengar di halaman rumah.
Tessa membeku .“Cepat sekali…” bisiknya.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Beberapa detik kemudian, bel pintu berbunyi.
Tessa berjalan ke arah pintu dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya.
Ketika pintu dibuka...
Di sana Nick sedang berdiri membelakanginya.
Jas hitamnya masih rapi seperti pagi tadi. Tatapannya tenang, tajam, dan penuh kendali seperti biasa.
Namun ketika matanya jatuh pada Tessa, Ia berhenti sejenak.
Tatapannya bergerak dari wajah wanita itu… ke gaun yang ia kenakan.
Lalu kembali ke matanya.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk membuat Tessa sadar bahwa Nick benar-benar memperhatikannya.
Sejak kapan dia terlihat manis seperti ini... Batin Nick singkat.
Nick akhirnya berkata singkat,
“Siap?”
Tessa mengangguk kecil.
“Ya.”
Nick sedikit menyingkir dari pintu, memberi jalan.
Namun sebelum Tessa melangkah keluar, ia tiba-tiba berkata,
“Kau belum makan juga, kan?”
Tessa menoleh padanya. “Belum.”
Nick mengangguk kecil. “Bagus.”
Tessa mengernyit sedikit.
“Kenapa bagus?”
Nick menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata dengan nada datar seperti biasa,
“Karena aku juga belum makan.”
Tessa menatapnya sebentar.
Lalu tanpa sadar, Ia tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya hari itu,
Nick tidak langsung mengalihkan pandangannya.
munafik tau gak kamu nick😡😡😡
semakin lama semakin tessa kecewa sama kamu