Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Di Bawah Pengawasan Sang Elang
Keesokan paginya, Colette berangkat ke kantor dengan perasaan yang jauh lebih campur aduk. Meskipun ia mengenakan kemeja kerja yang biasa dan berusaha tetap bersikap profesional, ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Rahasia besar tentang identitas Caspian sebagai CEO baru Sinclair Group terasa seperti beban tak kasat mata di bahunya.
Ia melangkah masuk ke ruang divisi dengan kepala yang kini lebih tegak—bukan karena sombong, tapi karena rambut wolf cut-nya tidak lagi bisa menutupi wajahnya seperti dulu.
"Pagi, Colette!" sapa rekan kerja nya dengan semangat yang berlebihan.
"Pagi," jawab Colette singkat, lalu segera duduk di mejanya.
Suasana kantor berjalan seperti biasa. Suara mesin fotokopi, diskusi antar staf, dan denting lift yang konstan. Namun, ada satu hal yang kini mulai Colette sadari—sesuatu yang selama ini luput dari pengamatannya karena ia terlalu sibuk bersembunyi.
Tatapan dari Ketinggian
Area kerja divisi Colette memiliki desain open space dengan langit-langit tinggi, yang mana di lantai atasnya terdapat selasar kaca menuju ruang kerja utama CEO. Selama ini, Colette menganggap kaca-kaca besar di atas sana hanya sebagai dekorasi arsitektur yang dingin.
Namun, entah karena pengaruh ucapan Caspian semalam atau karena instingnya yang mulai peka, Colette merasa ada sepasang mata yang terus mengikutinya.
Saat ia sedang mengambil tumpukan berkas, ia tanpa sadar mendongak ke arah lantai atas. Di sana, di balik kaca gelap ruang CEO yang megah, tampak siluet seorang pria yang berdiri diam dengan tangan di dalam saku celana. Meski terhalang jarak dan kaca, Colette tahu itu adalah Caspian.
Pria itu sedang berdiri di sana, mengawasinya.
Caspian tidak sedang bekerja. Ia hanya berdiri menatap ke bawah, tepat ke arah meja pojok tempat Colette duduk. Tatapannya begitu intens, seolah-olah Colette adalah satu-satunya titik fokus di tengah ratusan karyawan yang sedang lalu-lalang.
Colette segera menundukkan kepalanya, pura-pura sibuk dengan laporan di tangannya. Pipinya terasa panas. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya—setengah takut, setengah tersanjung.
Selama bertahun-tahun ia bekerja di sini, ia selalu merasa menjadi orang yang "tak terlihat". Namun sekarang, orang paling berkuasa di gedung ini justru menjadikannya pusat perhatian pribadi.
"Colette? Kamu baik-baik saja? Wajahmu merah sekali," tanya Jude yang tiba-tiba muncul di samping mejanya sambil membawa dua kaleng kopi dingin.
Colette tersentak, hampir menjatuhkan pulpennya. "Ah, tidak apa-apa, Jude. Hanya sedikit gerah."
Jude meletakkan satu kaleng kopi di meja Colette. "Ini untukmu. Oh ya, nanti siang mau makan di kantin bawah? Kudengar ada menu baru."
Belum sempat Colette membuka mulut untuk menjawab ajakan Jude, suara langkah kaki yang mantap dan formal mendekat ke arah meja mereka. Itu adalah yone, asisten pribadi Caspian yang selalu tampil dengan ekspresi sedatar dinding marmer lobi.
Kehadiran yone di lantai divisi yang riuh itu seketika menciptakan keheningan mendadak. Semua mata tertuju padanya, termasuk yone yang tampak bingung dengan kedatangan orang kepercayaan CEO tersebut ke meja Colette.
"Nona Colette," sapa yone dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa rekan di sekitarnya. "Tuan Caspian menunggu Anda di ruangannya sekarang. Jangan lupa membawa dua dokumen yang Anda kerjakan semalam."
Colette tertegun. Ia melirik ke atas, ke arah selasar kaca, dan mendapati siluet Caspian baru saja berbalik masuk ke dalam ruangannya, seolah baru saja memberikan instruksi melalui tatapan mata.
"Sekarang?" tanya Colette memastikan.
"Sekarang," jawab yone tanpa kompromi. Ia kemudian melirik singkat ke arah Jude dan kaleng kopi yang ada di meja Colette, lalu kembali menatap Colette. "Mari, saya antar."
Jude hanya bisa terdiam dengan tangan yang masih memegang kaleng kopi, menatap Colette yang mulai merapikan mapnya dengan terburu-buru. "Maaf, Jude, sepertinya aku harus pergi," gumam Colette merasa tidak enak.
Colette melangkah masuk ke dalam ruang CEO yang luas dan elegan itu. Suasana di dalamnya sangat berbeda dengan hiruk pikuk lantai divisi di bawah; di sini, hanya ada kesunyian yang berkelas, diiringi suara denting jam dinding yang terdengar seperti detak jantung yang tenang.
Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, Colette merasa seolah dunianya menyempit. Caspian berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota, namun ia segera berbalik begitu menyadari kehadiran Colette.
"Letakkan dokumennya di sana," perintah Caspian singkat, menunjuk ke meja marmer hitamnya.
Setelah Colette meletakkan dokumen semalam dengan rapi, suasana menjadi hening sejenak. Caspian berjalan mendekat, langkahnya pelan namun penuh wibawa. Ia tidak langsung memeriksa berkas itu, melainkan berhenti tepat di depan Colette, membuat gadis itu harus sedikit mendongak.
"Kau terlihat sangat fokus pagi ini," gumam Caspian. Ia mengulurkan tangan, ujung jemarinya menyentuh sudut map yang dibawa Colette, namun matanya tetap terkunci pada wajah gadis itu. "Dan aku tidak suka ada gangguan yang masuk ke dalam radar fokusmu. Terutama gangguan yang membawa kaleng kopi murah."
Colette terkesiap pelan. Ternyata dugaannya benar—Caspian memang memperhatikan setiap detail interaksinya dengan Jude dari atas selasar tadi.
"Jude hanya... hanya bersikap sopan, Tuan," jawab Colette pelan, mencoba membela diri.
Caspian menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat maskulin di bawah pencahayaan ruangan yang temaram. "Sopan atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya menginginkan mu."
Ia kemudian mengambil salah satu dokumen, membukanya sekilas, lalu menutupnya kembali tanpa membaca isinya secara detail—seolah dokumen itu hanyalah alasan untuk memanggil Colette ke atas.
Namun tiba-tiba. Suasana di dalam ruangan CEO itu mendadak sunyi senyap. Keheningan yang tercipta terasa begitu pekat hingga Colette bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Segala wibawa dan kedinginan yang biasanya terpancar dari sosok Caspian seolah meluntur, digantikan oleh tatapan yang begitu tulus dan dalam.
Caspian tidak bergerak. Ia masih berdiri sangat dekat, memerangkap Colette dengan kehadirannya yang mendominasi namun kini terasa lembut. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh helai rambut wolf cut Colette yang baru, lalu beralih mengusap lembut garis rahang gadis itu.
"Tuan... Anda bercanda," bisik Colette, suaranya hampir hilang karena gugup. Ia meremas map dokumen di tangannya, berusaha mencari pegangan.
Caspian menatap langsung ke dalam mata hazel Colette, mengunci pandangan gadis itu agar tidak berpaling. Suaranya merendah, terdengar lebih seperti bisikan hati daripada sebuah perintah:
"Aku tidak pernah bercanda soal hal-hal yang benar-benar kuinginkan, Colette. Maka dari itu, aku ingin bertanya padamu secara jujur... Apakah boleh jikalau aku menyukaimu, Nona Colette? Bukan sebagai atasan yang memerintah bawahannya, tapi sebagai seorang pria yang ingin menjagamu?"
Colette terpaku. Dunia seolah berhenti berputar di dalam ruangan mewah itu. Pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu jawaban dari bibir Colette yang masih kelu. Perasaan diakui, diinginkan, dan dilindungi yang selama ini ia idamkan kini ditawarkan oleh pria paling berkuasa di perusahaan itu.
Colette tertegun. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh kosakata yang ia miliki menguap begitu saja ke udara. Pertanyaan Caspian bukan hanya sebuah pengakuan, melainkan sebuah serangan telak yang meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Tanpa sanggup mengeluarkan satu patah kata pun, Colette hanya bisa menatap Caspian dengan mata hazelnya yang melebar. Wajahnya terasa panas seperti terbakar. Dengan gerakan cepat yang hampir terlihat seperti kepanikan, ia membungkukkan badan sekilas—tanda hormat yang lebih mirip dengan usaha melarikan diri.
"S-saya... saya permisi dulu, Tuan. Masih banyak laporan yang harus saya selesaikan," ucapnya terbata-bata.
Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Colette berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Langkah kakinya yang terburu-buru bergema di atas lantai marmer, menciptakan irama yang sesuai dengan detak jantungnya yang berantakan. Begitu ia keluar dari ruangan CEO itu, ia bersandar sejenak di dinding lorong, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.