Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik Yayasan
Dominic memperhatikan kepala yayasan itu dari atas ke bawah—pria itu mengenakan setelan formal seperti orang yang terpelajar. Namun di matanya, hanya seonggok pria bodoh yang suka menjilat orang yang memberikan kontribusi besar bagi sekolah.
"Oh, jadi kau kepala yayasan itu? Bagaimana orangku bisa begitu bodoh memilih kau untuk memimpin?" geram Dominic yang masih menatap punggung sang penjilat.
Kepala yayasan yang mendengar ada orang yang menghinanya langsung berbalik ke arah Dominic dengan tatapan membulat dan wajahnya merah padam.
"Kau ini siapa?" tanya kepala yayasan sambil menenggak dagunya, rahangnya mengeras.
"Heh... Kau tidak tahu siapa aku?" geramnya dengan suara rendah.
"Robert, kapan sekretaris sampai?" tanya Dominic menoleh pada Robert yang masih menenangkan Leo.
"Sebentar lagi, Tuan," sahutnya.
"Kau ini sok-sok seperti orang kaya. Pasti berpura-pura kan, hahaha... Mana ada orang yang bisa mengancamku kecuali pemilik yayasan ini?" ucapnya sombong, memegang pinggang dengan angkuh.
Dominic hanya diam, menatap dingin sambil menunggu hal yang akan membuat kepala yayasan bertekuk lutut padanya—meskipun awalnya dia tidak ingin memberitahukan kenyataan yang akan membuat semua orang tercengang.
Sedangkan kepala yayasan itu terus mencemooh Dominic dengan kata-kata hina serta merendahkannya, namun pria itu tetap diam layaknya batu.
Hingga beberapa saat kemudian, seseorang dengan setelan formal membawa tablet dan tas kantor menghampiri mereka. Beberapa guru pendamping yang mengalangi jalan sedikit menyisihkan diri agar pria itu bisa lewat.
Kepala yayasan itu tercengang melihat orang penting yang datang. "Oh, Pak William Anda datang kesini? Repot-repot sekali,"
Kepala yayasan mencoba meraih tangan William, tetapi pria itu tidak mengubrisnya dan langsung menoleh pada Dominic. "Kalau bukan karena Pak Dominic, saya tidak sudi lagi melihat kau dan kelakuanmu itu. Kau tidak tahu siapa Pak Dominic?"
Dominic kini bisa menegakkan kepalanya dengan bangga saat William datang, dan menerima pandangan hormat dari pria yang bernama William ini.
"Dia adalah pemilik yayasan ini. Pak Dominic meminta aku memecat kau dan meninjau kembali seluruh pengelolaan yayasan ini, sebab stafnya tidak bekerja secara profesional," ujar William sambil melihat isi tabletnya.
"Tidak mungkin... Tidak mungkin... Katanya Leo hanya anak yang mendapatkan beasiswa, yang berarti dia anak yang tidak mampu," ucap kepala yayasan dengan wajah pucat dan suara menggemetar. Ia tidak sengaja mundur karena kepalanya mulai berdenyut setelah mengetahui fakta yang mencengangkan.
"Aku memang tidak menyebutkan identitasku, sebab aku ingin Leo dianggap sama seperti anak-anak lain dan tidak perlu terlalu dispesialkan. Aku yang mendirikan sekolah ramah anak ini untuk kemajuan anak-anak, termasuk anakku sendiri. Tapi, apa yang terjadi..." jelas Dominic dengan tangan yang mencengkeram erat.
"Bahkan anakku sendiri saja dikucilkan di sini. Lalu bagaimana dengan anak-anak lain, William!..." ucap Dominic menatap nanar pada William.
"Maaf, Tuan. Aku salah memilih orang untuk memimpin," jawab William dengan tubuh yang sedikit gemetar dan menundukkan kepalanya.
"Ya, kau memang salah pilih orang," ujar Dominic memalingkan wajahnya dengan gerakan kasar.
"Aku ingin kau menyelesaikan semua ini. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi di sekolah yang kubangun untuk menjadikan anak-anak menjadi pribadi yang baik dan berkualitas,"
William menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Tuan. Saya akan segera mengambil tindakan dari kejadian ini. Mulai sekarang saya akan membentuk tim khusus untuk meninjau seluruh sistem dan staf di yayasan ini. Setiap orang yang terlibat dalam kekerasan dan kelalaian akan disanksi dengan tepat,"
Tubuh kepala yayasan mengigil; dia membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Bukan hanya pemecatan, namun juga mungkin pelaporan dirinya ke kantor polisi akibat mengabaikan murid yang dianiaya orang luar.
Dan orang luar yang dia anggap tidak mampu itu adalah putra pemilik yayasan itu sendiri. Matilah aku, gumamnya dalam hati.
"Sa—saya sungguh tidak mengetahuinya, Tuan. Saya yang berpikiran bahwa Nyonya Celesta berkontribusi di sini, sehingga saya membiarkan Nyonya Celesta melihat-lihat di sekolah," ucapnya dengan suara bergetar, mencoba mengalihkan perhatian tanpa meminta maaf.
"Kau mengatakan itu, heh... Aku rasa itu tidaklah penting. Kau tahu apa yang penting untuk sekolah? Mengajari anak-anak menjadi orang yang beradab dan sukses—itulah yang aku tahu," ujarnya menatap kepala yayasan dengan dingin.
"Cepat bawa dia pergi dari hadapan ku. Enak sekali dirinya setelah tahu aku pemilik yayasan barulah memohon seperti majikan dan anjingnya,"
William yang mendengar itu meminta staf laki-laki yang mengawasi kejadian itu untuk membawa kepala yayasan itu pergi. Kepala yayasan itu memberontak memohon ampunan pada Dominic yang nampak mengacuhkan dirinya.
Dirinya hanya bisa pasrah dengan keadaan, mengigil sebab dia tidak bisa selamat dari Dominic yang katanya memiliki kekuasaan yang tinggi dan uang yang banyak. Jujur saja, kepala yayasan telah salah memilih lawan.
Para pendamping lain masih belum beranjak dari sana, ingin melihat bagaimana Dominic menyelesaikan masalah itu. Dominic kemudian berbalik pada para pendamping yang telah menyampaikan keadaan Leo sehingga Dominic tahu bagaimana perlakuan pihak sekolah bahkan kepala yayasan pada Leo.
"Terima kasih, Ibu Alena,"
"Iya sama-sama, Pak. Oh, jadi Anda pemilik yayasan ini?" ucap Alena kini malah ketakutan dan membungkukan tubuhnya.
"Iya benar, itu aku. Kamu tidak perlu sungkan. Aku senang melihat guru yang begitu penyayang seperti Ibu Alena,"
Para pendamping itu saling menatap heran dengan perkataan Dominic yang berbanding terbalik dengan wajahnya yang dingin dan seperti tanpa belas kasihan pada orang lain, terlebih lagi dengan kepala yayasan.
"Hehem..." senyum mereka terlihat canggung.
Dominic kemudian menghampiri putranya dan mengendongnya serta memeluk Leo yang terlihat masih terkejut dengan kejadian barusan. Kemudian, Dominic mendekat ke arah Robert dan membisikkan sesuatu pada Ajudannya itu.
"Ibu Alena, jika Ibu Alena berkenan, maukah Anda menjadi kepala yayasan?" tanya Robert menyampaikan apa yang dibisikkan oleh Dominic.
Alena nampak saling pandang dengan yang lainnya. "Tuan, ini terlalu berlebihan. Saya hanya ingin membantu Leo," tolak Alena sambil melambaikan tangannya.
"Kami juga bukan memilih Anda karena Leo semata, tapi karena kasih sayang Anda pada anak-anak—itulah sebabnya Anda sangat cocok untuk pekerjaan itu. Sebab Anda akan sangat memahami anak-anak nantinya," jelas Robert.
Dominic menatap Alena dengan penuh keyakinan, siap menganggukkan kepala ketika Robert menjelaskan tentang kemampuan Alena hingga perempuan itu nantinya yakin. Dia masih memeluk Leo yang kini makin tenang dan menyematkan wajahnya pada ceruk leher ayahnya.
Eva memegang bahu Alena dan mengatakan, "Ambil saja, kesempatan sebagus ini tidak datang dua kali," ujar Eva sambil tersenyum.