NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30. Perpisahan

Happy Reading

Aily mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia terlalu lemas karena belum terbiasa naik turun gunung sekaligus.

Dia membuka matanya dengan perlahan, lalu melihat Alderza yang sedang menatapnya dan tersenyum.

"Jam berapa ini?" Aily terperanjat kaget.

Sembari memasang wajah kagetnya saat melihat ponselnya, Aily langsung meminta untuk turun kepada Alderza. Ya, banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibunya. Dia pasti sangat khawatir karena hari sudah malam.

"Aku pulang ya, mobil kamu di sini aja."

Aily pikir Alderza akan menurunkannya di tempat biasa, tetapi Alderza malah melajukan mobilnya.

"Gue anterin sampe depan rumah."

Aily melotot, bagaimana mungkin dia diantarkan sampai larut seperti ini oleh seorang cowok?

"Gak apa-apa. Udah biasa dimarahin kok." Ucap Alderza sambil menyetop mobilnya di depan rumah Aily.

"Ayo gue anterin sampe pintu."

Aily hanya pasrah mengikuti permintaannya. Entah kenapa Alderza jadi lebih jinak kali ini.

Meskipun Aily takut Tiara keluar dan memarahinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Mereka berjalan sampai ke pintu rumah. Aily langsung membuka pintu. Dia sangat berharap ibunya tidak muncul untuk saat ini saja. Hanya sebentar, tidak lama.

"Makasih, ya." Ucap Aily sembari tersenyum menatap Alderza.

Kali ini wajah Alderza tersipu malu melihat senyuman Aily yang indah. Namun, dia harus bersikap cool di depan Aily.

"Emm, sama-sama."

Saat Aily membalikkan badannya hendak menutup pintunya, Alderza menahan pintunya.

"Aily." Saat itu juga Aily kembali membuka pintunya.

"Iya?"

"Jadi gini, emm... kayaknya gue kemaren salah ngomong, deh."

Aily mengernyitkan keningnya bingung. Memangnya Alderza salah apa?

"Enggak semua cowok bajingan. Gue salah. Ada sebagian dari mereka yang bisa bener-bener jagain lo."

Aily semakin dibuat bingung, padahal dia tahu Alderza sangat yakin bahwa semua cowok itu bajingan.

"Oh, oke." Ucap Aily sambil kebingungan.

Alderza tersenyum, lalu pergi memasuki mobilnya. Aily hanya bisa menatap punggungnya dan kepergian mobilnya yang berlalu secepat kilat.

Saat Aily berbalik, ia mendapati ibunya sedang berkacak pinggang.

"Jadi, sekarang Alderza udah punya nyali ya, nganterin kamu sampe depan rumah."

***

Tidak bisa dipungkiri, Alderza sangat kesepian jika berada di rumah. Tidak ada orang tua yang begitu perhatian seperti Aily.

Untuk melupakan pertengkaran mereka yang tiada henti, Alderza selalu pergi setiap malam agar terhindar dari mereka.

Ya, dia tidak salah. Dia hanya ingin menjaga hatinya agar tidak terluka.

Sejak kecil, dia selalu pergi ke rumah neneknya. Di sanalah rumah pohon itu berada, danau jernih dengan udara seperti di pegunungan dapat membuat hatinya lebih sejuk, meskipun hanya sesaat.

***

"Hely, aku pengen kasih bunga mawar ini untuk Mama." Ucap Alderza kecil.

"Mama kamu pasti seneng kalo dapet bunga mawar merah ini dari kamu."

Alderza memetik bunganya, lalu memberikan bunga tersebut pada Hely.

"Katanya bunga itu dikasih buat orang yang kita sayang, ya. Aku gak berani kasih Mama, dia pasti gak bakal terima bunganya."

Alderza menunduk sedih, tetapi tiba-tiba tangannya terulur sembari memberikan bunga tersebut kepada Hely.

"Aku kasih kamu aja bunganya, terlanjur dipetik, sayang."

Hely menerima bunga tersebut, lalu menatap Alderza sembari tersenyum manis.

"Makasih, tapi kamu jangan sedih terus, dong."

Dan saat itu juga Alderza menangis.

"Aku capek denger mereka berantem. Aku takut mereka tinggalin aku." Ucap Alderza sembari menangis.

Dia menangis, bahkan lebih cengeng dari Hely yang cewek sekalipun.

"Nggak apa-apa. Kita kan bakal terus bersama. Kamu gak bakal kesepian."

Alderza langsung mengeluarkan sebuah kalung yang terdapat peluit tua berwarna silver kekilauan yang diberikan ayahnya, lalu menguburnya di bawah banyaknya bunga mawar.

"Aku benci mereka, aku gak mau nerima apapun dari Papa ataupun Mama."

"Hely, janji ya kita bakal terus bersama?"

Hely mengangguk penuh keyakinan. Mereka pun saling berjanji. Dan itu membuat Alderza kembali tersenyum.

Setelah itu, seperti biasanya Alderza bermain di atas rumah pohon bersama Hely seharian.

Hely memakai topi kesukaannya dan Alderza selalu mencoba menggambarnya. Meskipun gambarnya sangat jelek dan seperti lukisan abstrak.

Sejak kecil, Alderza merasakan kenyamanan dan ketenangan saat berada di dekat Aily. Hatinya yang meradang kembali sembuh karena permainan dan candaan yang dikeluarkannya.

"Alderza, Hely gak mau kamu sedih, kamu pasti kuat. Mendingan kita main layangan aja yuk biar kamu gak sedih lagi."

"Itu kan permainan cowok."

"Nggak apa-apa, aku juga bisa kok main mobil-mobilan. Tapi nanti kamu juga harus nemenin aku main barbie."

Alderza tertawa mendengar ucapannya. Dia harus memberikan timbal balik ya, oke. Selama mereka nyaman kenapa tidak?

Sungguh masa kecil yang indah.

***

Alderza tersadar dari lamunannya. Orangtuanya tidak pernah peduli kepadanya. Dia hanya ingin mencari orang yang memedulikannya dan melihatnya sedikit saja.

Saat dia pindah, Alderza menemukan Bintang, Sinta, Riska, dan Rafa yang membuatnya tersenyum dan terhibur. Mereka selalu menyemangati dan mendukungnya apa pun yang terjadi.

Sehingga, apa pun yang mereka lakukan, Alderza akan melakukannya. Termasuk merokok, minum, atau pergi ke bar.

Karena hanya mereka yang mampu memeluknya, memberi perhatian melebihi kedua orangtuanya.

"Aily." Ucap Alderza pada dirinya sendiri.

"Maafin gue."

Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Alderza dan langsung membuka pintu kamarnya.

Dia pikir itu bi Tika, tetapi ternyata itu adalah orang yang sedang dipikirannya.

"Mama?"

Mata Siska sangat merah dan bengkak, seperti orang yang sudah menangis semalam suntuk.

"Ada apa?" Tanya Alderza dengan wajah datar.

"Mama gak mau basa-basi lagi." Ucap Siska dengan suara seraknya.

"Mama sudah gak kuat."

Alderza hanya diam dan mendengarkan ibunya dengan wajah pura-pura tak peduli.

Tiba-tiba, Siska menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menangis tersedu-sedu.

"Mama dan Papa akan bercerai."

***

Aily menunggu Alderza di depan jendela, tetapi tidak ada kabar darinya. Bahkan Aily menunggu sampai pukul sebelas malam, tapi juga belum ada kabar.

Aily menelpon Alderza beberapa kali, tetapi tidak diangkat.

Aily:

Alderza, nggak jadi ke rumah?

Aily:

Kamu gak papa kan?

Aily:

Aku ganggu ya, maaf. Aku cuma khawatir aja.

Aily mengembuskan napas panjang. Dalam balutan pakaian tidur, Aily langsung berbaring di tempat tidur.

Saat Aily mau menyelimuti tubuhnya, seseorang mengetuk jendelanya dengan sangat kencang.

Tok... tok... tok!!!

Aily langsung membuka jendela tersebut. Dia takut ibunya terbangun karena mendengar ketukan itu.

"Alderza?"

Bau sengit alkohol mulai tercium saat Alderza datang, wajahnya sempoyongan seperti orang mabuk.

"Kamu mabuk, ya?"

Aily terlihat ketakutan, dia mundur beberapa langkah saat Alderza menghampirinya.

Apa yang akan dia lakukan?

Alderza berjalan dengan susah payah untuk menghampiri Aily, matanya merah, dan sangat menakutkan.

"Alderza, ka-kamu mau ngapain?"

Tiba-tiba saja Alderza menangkap Aily dan memeluknya erat, Aily sungguh sangat takut. Namun, Alderza tidak melakukan apa pun selain hanya memeluk sembari menangis tersedu-sedu.

Tangisannya benar-benar terasa menyakitkan. Seorang Alderza yang terkenal menakutkan sedang menangis sejadi-jadinya.

Aily dapat merasakan hatinya yang terluka hanya dengan memeluknya. Di balik pelukannya, Alderza berkata.

"Hely, gue kangen sama lo." Ucap Alderza sembari menangis di dalam pelukan Aily.

Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, mohon dikoreksi ya. Love you guys.

1
Ros🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!