NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:24.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33: Noda Merah di Atas Sutra Putih

​Butik Maison de Pierre di kawasan Kemang adalah langganan para sosialita Jakarta. Pierre, sang desainer, dikenal dengan karya-karyanya yang dreamy dan detail.

​Kara melangkah masuk dengan senyum mengembang. Hari ini jadwal fitting kedua gaun pengantinnya. Dia membayangkan gaun putih berekor panjang yang akan dia pakai saat bersanding dengan Damian. Sebuah simbol awal baru.

​"Bonjour, Pierre! Gimana progresnya?" sapa Kara riang.

​Namun, suasana butik terasa aneh. Pierre, pria paruh baya yang biasanya cerewet dan gemulai, tampak pucat pasi. Dia berdiri kaku di depan manekin tempat gaun Kara dipajang.

​"Ah... Nona Kara... Sudah datang..." suara Pierre bergetar.

​"Ada apa, Pierre? Kenapa mukamu kayak orang liat hantu?" Kara mendekat.

​Mata Kara tertuju pada gaunnya. Gaun itu indah. Sutra mikado impor dari Italia, dengan detail payet kristal Swarovski. Sempurna.

​"Nggak ada apa-apa kok. Gaunnya... gaunnya cantik. Pas banget buat kamu," sebuah suara wanita menyahut dari arah sofa VIP.

​Kara menoleh tajam.

Duduk di sana dengan kaki disilang, memegang gelas kristal berisi red wine, adalah Clarissa.

​Clarissa mengenakan dress hitam pendek, tersenyum manis—terlalu manis.

​"Clarissa?" Kara menyipitkan mata. "Ngapain kamu di sini? Kamu mau pesen baju buat acara pemakaman reputasi kamu sendiri?"

​Clarissa tertawa renyah, meletakkan majalah Vogue yang dibacanya.

​"Galak banget sih, Calon Nyonya Cakra. Aku di sini nemenin Tante Sofia. Beliau kan client VVIP di sini. Pierre ini anak asuh Tante Sofia lho. Iya kan, Pierre?"

​Pierre menunduk, tidak berani menatap Kara. "I-iya... Ibu Sofia donatur terbesar saya waktu sekolah di Paris..."

​Kara paham situasinya. Clarissa ada di sini untuk mengintimidasi.

​"Oke. Pierre, tolong bungkus gaun saya. Saya fitting di rumah aja. Udaranya di sini jadi nggak enak karena ada polusi," sindir Kara, melirik Clarissa.

​"Eits, tunggu dulu dong," Clarissa berdiri. Dia berjalan mendekati manekin gaun Kara sambil membawa gelas wine-nya.

​"Aku cuma mau liat detailnya. Katanya ini sutra paling mahal ya? Hmm... teksturnya bagus," tangan Clarissa meraba kain gaun itu.

​"Jangan sentuh," peringat Kara tegas.

​"Pelit amat," cibir Clarissa. Dia memutar tubuhnya, berpura-pura hendak kembali ke sofa.

​Namun, saat berputar, kaki Clarissa "sengaja" tersangkut di kaki manekin. Tubuhnya oleng ke arah gaun.

​"Aaa!" jerit Clarissa dibuat-buat.

​BYUR!

​Isi gelas red wine itu tumpah sepenuhnya.

Bukan ke lantai. Tapi tepat ke bagian dada dan rok depan gaun pengantin putih bersih itu.

​Cairan merah pekat itu meresap cepat ke serat kain sutra, menyebar seperti darah di atas salju. Noda itu besar, mencolok, dan mematikan.

​Butik hening seketika.

Pierre menutup mulutnya dengan tangan, syok berat.

Kara terpaku menatap gaun impiannya yang kini hancur dalam hitungan detik.

​Clarissa kembali berdiri tegak dengan sangat cepat. Tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Dia justru tersenyum puas.

​"Ups," ucap Clarissa ringan. "Tangan aku licin. Sori ya. Kayaknya aku lagi clumsy hari ini."

​Dia menatap Kara dengan tatapan menantang. "Inget kan? Waktu pertemuan pertama kita, kamu juga numpahin wine ke sepatu Damian? Anggap aja ini karma, Darling."

​Darah Kara mendidih. Tangannya terkepal hingga kukunya memutih. Dia ingin sekali menampar wajah palsu itu. Tapi dia sadar, kalau dia main fisik, Clarissa akan memutarnya jadi drama "Kara Menyerang".

​Kara menarik napas panjang, menahan emosinya. Dia menoleh ke Pierre.

​"Pierre," suara Kara dingin. "Kamu diam saja? Karya kamu dirusak orang di depan mata kamu?"

​Pierre gemetar. Dia melirik Clarissa, lalu melirik Kara. Dia tahu siapa yang memegang kendali kariernya di Jakarta. Bu Sofia.

​"Ma-maaf, Nona Kara... Nona Clarissa kan tidak sengaja... Nanti... nanti saya coba laundry..."

​"Laundry?" Kara tertawa sinis. "Kamu pikir saya mau pake gaun bekas laundry di hari pernikahan saya? Gaun yang udah disentuh sama tangan kotor dia?"

​Kara mengambil tasnya. Dia mengeluarkan HP-nya.

​"Dengar baik-baik, Pierre. Detik ini juga, saya batalkan pesanan. Uang DP angus nggak masalah. Tapi mulai hari ini, nama butik kamu saya blacklist dari seluruh event Anindita Group. Dan saya pastikan teman-teman sosialita saya tau kalau butik kamu nggak aman buat nyimpen baju mahal."

​Wajah Pierre runtuh. "Nona, tolong jangan..."

​Kara mengabaikannya. Dia menatap Clarissa.

​"Kamu pikir kamu menang, Clarissa? Kamu pikir dengan ngerusak kain ini, pernikahan aku batal?"

​Kara mendekatkan wajahnya ke Clarissa.

​"Kamu cuma ngebuktiin kalau kamu itu insecure. Kamu takut. Karena mau sekeras apa pun kamu berusaha, Damian tetep milih aku."

​Kara menekan tombol speed dial nomor 1 di HP-nya. Speaker dinyalakan.

​"Halo, Sayang? Gimana fitting-nya?" suara Damian terdengar.

​"Batal, Dam. Ada hama di butik Pierre. Gaunnya kena racun," lapor Kara santai sambil menatap mata Clarissa.

​"Hama? Clarissa?" tebak Damian cepat.

​"Bingo. Siapkan jet pribadi sekarang. Kita ke Paris. Aku mau pesen gaun langsung ke Elie Saab. Sekalian kita pre-wedding di sana. Jakarta terlalu sempit buat selera kita."

​Clarissa ternganga. Wajahnya merah padam. Dia berniat bikin Kara sedih, tapi malah bikin Kara liburan mewah ke Paris.

​"Siap, Ratu. Pilot sudah standby. Aku jemput kamu sekarang. Jangan nangis ya," suara Damian terdengar lembut.

​"Nangis? Buat apa nangis gara-gara kain lap?" Kara menutup telepon.

​Dia menatap Clarissa dan Pierre bergantian.

​"Selamat menikmati tumpahan wine itu. Saya pergi dulu. Au revoir."

​Kara melenggang keluar butik dengan kepala tegak, meninggalkan Clarissa yang menggertakkan gigi karena rencananya jadi bumerang.

​Clarissa membanting gelas kosong ke lantai. PRANG!

"Sialan! Dia selalu punya duit buat ngelawan!" teriak Clarissa frustrasi.

​Pierre menangis di pojokan. "Aduh, Nona... Karier saya..."

​"Diem kamu!" bentak Clarissa. "Tante Sofia bakal ganti rugi! Dasar cengeng!"

​Di luar butik, Kara masuk ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, bahunya turun. Dia menghela napas panjang.

Sebenarnya dia sedih. Gaun itu indah. Tapi dia tidak akan membiarkan musuh melihat air matanya barang setetes pun.

​"Paris," gumam Kara. "Oke. Kita bikin gaun yang sepuluh kali lebih mahal. Biar Clarissa kejang-kejang pas liat nanti."

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
falea sezi
lanjutt
Night Watcher
terasa loncat ya thor.. tau2 mamanya kabur krn malu (kenapa?), tau2 nikah gak rencana & berunding..🤭🤭💪👌
kanjooot..
Night Watcher
loo clarisa blm ketangkep polisi too?
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!