Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Who is the real Samuel Alkava?
Seraph berdiri dengan gerakan yang tidak biasa untuk dia yang biasanya percaya diri. Sekarang dia terlihat rapuh.
"Orang tua gue dibun*h tepat di depan mata gue," katanya dengan suara yang bergetar.
"Seluruh keluarga gue, paman, bibi, sepupu, semua dibantai dalam satu malam."
Dia memeluk dirinya sendiri, seperti mencoba memberi kehangatan yang sudah lama hilang.
"Nyokap gue adalah ketua organisasi yang dulunya punya hubungan dekat dengan Valhalla. Mereka bekerja sama untuk melawan elite. Tapi justru karena itu—karena mereka dianggap ancaman, mereka dihabisi."
Air mata mengalir di pipi Seraph yang cantik.
"Valhalla datang terlambat. Saat mereka sampai di markas kami di Korea Selatan, semuanya sudah m*ti. Darah di mana-mana. Tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa. Dan gue, anak berusia enam tahun, duduk di sudut ruangan sambil memeluk mayat Mama gue."
Rafael menatap Seraph dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak pernah tahu. Dia pikir Seraph adalah orang yang selalu bahagia, selalu percaya diri.
Tapi di balik semua itu ada luka yang begitu dalam.
***
"Adrian," Ryzen melanjutkan saat Seraph duduk kembali dengan tubuh yang gemetar.
"Anak yang tidak tahu siapa orang tuanya karena dia dibesarkan di panti asuhan."
Adrian, yang biasanya ceria, sekarang wajahnya gelap.
"Dan asal lo tau?" kata Ryzen.
"Panti asuhan itu justru bukan menyayangi anak. Mereka malah memperbudak anak-anak."
"Menjadikan anak-anak yang kuat sebagai pembunuh, melatih mereka sejak kecil untuk membunuh tanpa rasa bersalah. Menjual anak-anak yang lemah, prostitusi, organ trafficking, apapun yang menghasilkan uang."
"Anak-anak dijual selayaknya barang dagangan. Dan jika mereka menolak, anak-anak akan dibun*h, dijadikan contoh untuk yang lain."
Adrian menunduk, tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang penuh dengan rasa sakit.
***
"Draven," Ryzen menatap pria besar yang duduk di lantai.
"Satu desa yang terserang wabah karena sebuah pabrik ilegal yang memproduksi bahan radioaktif untuk senjata nuklir."
Draven mengangkat kepala, mata yang biasanya kosong sekarang penuh dengan kemarahan.
"Seluruh desa mati dalam satu malam," kata Ryzen.
"Tidak ada petugas medis yang datang untuk membantu. Tidak ada evakuasi. Seolah desa itu harus dimusnahkan."
"Karena elite tidak mau ada saksi tentang pabrik ilegal mereka. Lebih mudah membunuh seribu orang daripada menghadapi skandal internasional."
"Draven adalah satu-satunya yang selamat, karena tubuhnya entah bagaimana resisten terhadap radiasi. Tapi dia harus melihat semua orang yang dia cintai mati dengan cara yang menyakitkan."
***
"Terakhir, Zen," kata Ryzen sambil menatap sahabatnya.
Zen berdiri, wajahnya tenang tapi ada badai di balik ketenangan itu.
"Gue adalah salah satu orang dari suku yang menghuni kepulauan kecil di Pasifik. Suku dengan rata-rata bakat yang kami miliki adalah keahlian membuat, merakit, menciptakan, dengan tangan kami sendiri."
"Elite datang ke pulau kami, meminta kepala suku untuk bekerja sama. Mereka ingin membangun senjata dengan kekuatan yang sangat besar, senjata yang bisa menghancurkan kota dalam sekejap."
Zen mengepalkan tangannya.
"Kepala suku menolak. Kami tidak mau teknologi kami digunakan untuk membunuh."
"Dan sebagai balasannya," suaranya mulai bergetar sekarang,
"mereka membantai kami. Membunuh semua pria dewasa. Memperbudak wanita dan anak-anak. Menjadikan wanita sebagai budak seks untuk tentara mereka."
Zen menutup matanya—air mata mengalir.
"Gue melihat ibu gue diperkosa berkali-kali sebelum akhirnya dibunuh. Gue melihat saudara perempuan gue dijual ke negara lain. Gue melihat seluruh suku gue hancur dalam beberapa hari."
***
Ryzen berdiri tepat di depan Rafael sekarang—jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
"Apa itu semua belum cukup sebagai bukti?" tanyanya dengan suara yang keras.
"Lo mau bukti yang lebih jelas lagi?"
Dia menatap mata Rafael dengan intensitas yang burning.
"Sekarang apakah yang kita semua lakukan untuk balas dendam itu sebuah kejahatan? Kita hanya tidak mau ada korban yang selanjutnya. Kita hanya mencoba untuk membangun dunia menjadi lebih baik."
"Apa itu salah? JAWAB, RAFAEL!"
Rafael menatap Ryzen. Lalu berkata dengan suara yang tenang tapi firm.
"Ya. Lo gak salah."
Keheningan.
"Seharusnya lo bilang dari awal tentang semua ini."
Rafael menatap mereka semua secara bergantian, Ryzen, Zen, Kael, Draven, Adrian, Seraph, Aurelia.
"Kalian semua gak perlu khawatir. Tidak akan ada lagi korban. Tidak akan ada lagi wabah penyakit. Dan tidak akan ada lagi kejahatan."
Suaranya naik sekarang, penuh dengan determination.
"Gue disini untuk membantu kalian balas dendam."
Semua orang menatap Rafael dengan mata yang lebar, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tapi sebelum itu," kata Rafael,
"ada satu hal yang harus gue tahu."
Dia menatap mereka dengan pandangan yang menuntut jawaban.
"Di pihak mana Samuel Alkava berdiri."
***
Pertanyaan itu terasa seperti petir yang menyambar Seven Sins. Tubuh mereka menegang. Wajah mereka berubah, dari shock menjadi panik.
Darimana Rafael tahu tentang Samuel Alkava?
Rafael menatap mereka semua, wajah mereka terlihat tegang. Keheningan berlangsung di ruangan, keheningan yang mencekam, yang penuh dengan ketegangan.
Ryzen menggaruk rambutnya dengan kasar sambil menghela napas dengan berat. Dia berjalan ke arah meja, mengambil bungkus rokok dan korek api. Menyalakan rokok dengan gerakan yang gemetar sedikit.
Menghisap dalam-dalam. Asap keluar dari mulutnya perlahan.
Kimberly, yang selama ini hanya mendengarkan, akhirnya angkat bicara.
"Samuel Alkava?" katanya dengan suara yang penasaran.
"Nama yang gak asing. Gue pernah mendengarnya di dunia underground."
Kimberly bukan bagian dari Valhalla. Tentu dia tidak tahu siapa sebenarnya Samuel Alkava. Dia hanya pernah mendengar nama itu di dunia underground, nama yang sangat kuat, yang ditakuti dan dihormati sekaligus.
Lalu Kimberly menyadari sesuatu. Matanya melebar.
Ada kesamaan di nama Samuel dan Rafael. Nama belakang mereka sama—Alkava.
Kimberly menatap Rafael dengan mata yang lebar, tidak percaya dengan kesimpulan yang ada di kepalanya.
"Jangan-jangan lo anaknya?"
Pertanyaan dari Kimberly membuat suasana semakin menegang. Semua orang menatap Rafael, menunggu jawaban.
Rafael menjawab pertanyaan itu dengan entengnya, seolah dia hanya bicara tentang cuaca.
"Ya. Gue adalah anak dari Samuel Alkava."
Semua orang terkejut. Seven Sins terkejut karena Rafael mengetahuinya lebih cepat dari perkiraan mereka. Mereka pikir Rafael tidak akan pernah tahu, atau setidaknya butuh bertahun-tahun untuk mengetahui.
Sementara Kimberly terkejut karena orang yang selama ini dia anggap sebagai partner, sebagai teman, ternyata adalah anak dari sang monster. Anak dari legenda yang namanya membuat orang gemetar.
Rafael berkata dengan tenang, "Tidak perlu kaget begitu. Gue tahu ini karena seseorang memberitahukan semuanya ke gue."
Dia berjalan ke tengah ruangan, semua mata mengikutinya.
"Bahkan mereka juga menceritakan history dari Samuel Alkava. Sampai titik dimana Samuel menghilang dari dunia."
Rafael berhenti, menatap Seven Sins satu per satu.
"Pertanyaan gue hanya satu. Di pihak mana Samuel Alkava berdiri?"
Suaranya naik sekarang—ada emosi yang mulai keluar.
"Gue harus tahu semuanya dengan jelas. Tidak peduli di pihak manapun dia berdiri, gue akan menemukannya dan membuat dia membayar atas apa yang sudah dia lakukan ke gue."
Pernyataan tersebut berhasil membuat Seven Sins panik. Wajah mereka berubah, dari tegang menjadi khawatir.
Karena artinya: Rafael tidak akan segan kepada Samuel hanya karena dia adalah ayahnya.
Rafael siap membunuh darah dagingnya sendiri jika perlu.
Dan itu—itu yang membuat mereka takut.
Ryzen mematikan rokoknya dengan kasar di asbak, gerakan yang menunjukkan frustrasi yang mendalam. Dia menatap Rafael dengan campuran antara kagum dan ngeri.
"Lo serius?" tanyanya dengan suara yang rendah.
"Lo benar-benar siap membunuh ayah kandung lo sendiri?"
Rafael tidak menjawab dengan kata-kata. Tatapannya yang dingin, yang tanpa ragu—itu sudah cukup menjadi jawaban.
Zen berdiri, berjalan ke arah Rafael dengan langkah yang pelan.
"Rafael, lo gak ngerti siapa Samuel Alkava sebenarnya. Dia bukan orang biasa yang bisa lo kalahkan dengan mudah."
"Gue gak peduli," jawab Rafael dengan tegas.
"Gue gak peduli seberapa kuat dia. Gue gak peduli apa yang dia lakukan untuk dunia ini. Yang gue tau hanyalah dia membuang gue. Dia membiarkan gue tumbuh dalam kemiskinan, dalam penderitaan, dalam kehilangan."
Suaranya naik sekarang, emosi yang selama ini dia pendam mulai meledak.
"Gue kehilangan Bunda saat umur lima tahun! Gue kehilangan Ayah beberapa bulan kemudian! Gue tumbuh hanya dengan Nenek yang bekerja keras sampai tubuhnya rusak! Dan saat Nenek meninggal, gue sendirian! SENDIRIAN!"
Rafael berteriak sekarang, suara yang memenuhi seluruh ruangan.
"Dan kalian bilang gue harus memaafkan orang yang bertanggung jawab atas semua itu?! Kalian bilang gue gak boleh balas dendam?!"
Dia menatap mereka semua dengan mata yang berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Hanya kemarahan yang membara.
"Kalian semua balas dendam untuk keluarga kalian. Untuk orang-orang yang kalian cintai. Dan gue. Apa gue tidak boleh melakukan hal yang sama?!"
Keheningan yang sangat panjang. Tidak ada yang bisa menjawab argumen Rafael. Karena dia benar. Mereka semua adalah pencari balas dendam. Dan Rafael punya hak yang sama.
Kael akhirnya bicara, suaranya tenang seperti biasa. "Tapi tetap saja, lo gak boleh membunuh dia. Karena—."
Rafael menoleh ke arahnya—menunggu penjelasan.
"Dia bukan bagian dari elite global," kata Kael. "Tapi dia juga bukan bagian dari Valhalla. Dia adalah... entitas independen yang bergerak dengan agenda sendiri."
"Apa maksud lo?" tanya Rafael dengan kening berkerut.
Kael menatap layar TV yang masih menampilkan data tentang Mount Elbrus. "Samuel Alkava adalah orang yang pernah bekerja sama dengan Valhalla generasi kedua. Dia yang menyediakan dana, sumber daya, koneksi, untuk melawan elite global."
"Tapi sesuatu terjadi," Kael melanjutkan.
"Sesuatu yang membuat dia menghilang. Kami tidak tahu persis apa. Bahkan pemimpin kami tidak mau menceritakan detail lengkapnya."
Aurelia yang selama ini diam akhirnya bicara. "Yang kami tahu, Samuel menghilang karena dia membuat pilihan. Pilihan yang sulit. Pilihan yang melibatkan kamu, Rafael."
Rafael menatap Aurelia dengan tajam. "Pilihan apa?"
"Kami tidak tahu," jawab Aurelia dengan jujur.
"Tapi pemimpin kami pernah bilang. Samuel mengorbankan segalanya untuk melindungi sesuatu. Dan sesuatu itu adalah keluarga."
Rafael terdiam. Pikirannya berputar cepat, mencoba memahami puzzle yang tidak lengkap ini.
"Jadi lo bilang," kata Rafael perlahan,
"Dia menghilang dan rela membuang gue hanya untuk melindungi gue?"
"Mungkin," jawab Kael.
"Atau mungkin ada alasan lain yang lebih kompleks. Kami tidak tahu pasti."
Rafael menggelengkan kepala dengan keras. "Gue tidak peduli dengan alasannya. Apapun alasannya, itu tidak membenarkan apa yang dia lakukan."
Dia menatap mereka semua dengan determination yang kuat.
"Gue akan mencari Samuel Alkava. Gue akan bertanya langsung kepadanya. Dan jika jawabannya tidak memuaskan, gue akan membunuhnya dengan tangan gue sendiri."
Kimberly berdiri, tidak bisa tinggal diam lagi. "Rafael, dengarkan dirimu sendiri. Kamu bicara tentang membunuh ayahmu sendiri!"
"Dia bukan ayah gue," potong Rafael dengan dingin.
"Ayah gue adalah Budi Haryanto. Orang yang bekerja sebagai kuli bangunan. Orang yang memeluk gue setiap pagi sebelum pergi kerja. Orang yang berjanji akan membawakan bakso tapi tidak pernah pulang lagi."
Suaranya bergetar sekarang, emosi yang overwhelming.
"Samuel Alkava hanya orang yang memberikan DNA-nya. Itu saja. Dia tidak pernah jadi ayah gue."
Kimberly menatap Rafael dengan mata yang berkaca-kaca. Dia ingin memeluk Rafael, ingin menghibur, tapi dia tahu Rafael tidak mau itu sekarang.
Seraph berdiri, berjalan mendekat ke Rafael dengan langkah yang pelan.
"Rafael," katanya dengan suara yang lembut, sangat berbeda dari biasanya.
"Gue ngerti apa yang lo rasakan. Gue juga kehilangan keluarga. Gue juga ingin balas dendam."
Dia menatap mata Rafael.
"Tapi percayalah. Membunuh tidak akan membuat rasa sakit itu hilang. Gue sudah membunuh banyak orang yang bertanggung jawab atas kematian keluarga gue. Dan setiap malam gue masih mimpi buruk tentang mereka."
Rafael menatap Seraph, melihat kerentanan yang jarang dia tunjukkan.
"Lalu apa yang harus gue lakukan?" nada suara Rafael mulai bergetar.
...****************...
Bersambung...
cerita tak monoton seperti novel bertemakan mafia atau CEO sama Y/N gituhhhh 😜, dan terima kasih buat Mimin yg bikin novel ini, guehh suka nya kebangetan Ama ni novel ,Semangat terus bang.