NovelToon NovelToon
Sekretaris Kesayangan Bos

Sekretaris Kesayangan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻

Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.

Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Api Dendam pada Larasati

"Brengsek! Berani sekali dia mengusirku!"

Larasati duduk di tepi ranjang, merogoh laci meja samping tempat tidur, lalu melempar surat cerai bermeterai yang sudah ditandatangani Hardi Armanta. Parahnya, sejak mengancam akan bercerai, pria itu tak pernah pulang ke rumah mewah mereka lagi. Tak tahu di mana dia berada sekarang.

"Sialan! Tak bisa kamu membuang ku semudah itu, Kenzo! Ayahmu sudah cukup menyakitiku, jangan harap kamu berbuat sama seperti orang tua sialan itu!" Dia meremas tangannya, mengusap air mata kasar, lalu mengelus perutnya perlahan. Senyum sinis terukir di wajahnya. "Baiklah, Ini harapan terakhirku..." Seringai muncul di bibir Larasati sambil meremas surat berharga itu 

 ****

Apartemen Mewah, Sudirman Jakarta 

Malam itu, setelah berjalan‑jalan sampai sore di pantai Ancol dan menghabiskan waktu berdua dan sempat berbelanja, kini Vinda sibuk memasak di dapur apartemen Kenzo. Pria itu pun ikut membantu dengan senang hati.

"Tara, makanan sudah siap, mas!" Vinda meletakkan piring berisi daging panggang  barbeque lengkap dengan bumbu saus dan sayuran selada di meja makan. Tanpa aba‑aba Kenzo menarik pinggang ramping gadis itu hingga duduk di pangkuannya, lalu mengambil sepotong daging dengan sumpit.

"Coba dulu, mas. Enak tidak? Terlalu pedas tidak?" Kenzo mengunyah nikmat sambil mengangguk puas, memeluk Vinda erat dan mengacungkan dua jempol.

"Sangat enak, ini. Aduh, aku mau lagi nih Sayang." Vinda tersenyum lalu menyuapi potongan berikutnya, dengan senang hati Kenzo membuka mulut

"Kamu duluan saja. Buka mulutmu."

Giliran Vinda yang disuapi, duduk nyaman di pangkuan kekasihnya.

"Hmm, enak sekali... nyam nyam.

"Mau lagi, dong."

"Ini, mas..." Vinda terkejut dan memukul dada Kenzo kesal saat pria itu tiba‑tiba mencuri makanan langsung dari mulutnya, sekaligus mengecup bibirnya dengan buas.

"Yak pak Kenzo!"

"Hahaha, lebih enak kalau makan langsung dari bibirmu." tawa Kenzo meledek

"Cih, kamu nakal sekali! Dasar mesum 

"Hahaha, ayo lagi dong Sayang. Sini bibir kamu"

"Nggak mau! Kamu curang!" Keributan kecil seperti ini selalu membuat kencan mereka makin manis dan seru; tak ada yang mau mengalah 

"Ah, ini sudah malam, aku harus pulang."

"Kamu tega meninggalkanku sendirian disini?"

"Aneh sekali dah. Biasanya kan memang kamu tinggal sendirian di sini. Mas"

"Malam ini kamu menginap saja ya, temani aku malam ini." Rayu pria itu dengan tampang merajuk menarik tangan Vinda.

Vinda baru saja selesai mencuci piring dan menggeleng cepat. Bisa‑bisa tak akan selamat nasibnya kalau bermalam di “sarang harimau” ini. "Mas, lepaskan... ah!" Keluhnya kesal.

"Nggak mau, aku belum puas menciummu."

Vinda menggeleng kesal, lalu terjatuh ke sofa empuk berwarna abu‑abu karena ditarik Kenzo. Pria itu menindih tubuhnya dan kembali mengecup bibirnya dengan panas. Tampaknya Kenzo makin berbahaya saja.

"Hei! Apa yang kalian lakukan di sana?!"

Vinda terkejut setengah mati, refleks mendorong dada Kenzo hingga pria itu jatuh terguling ke lantai. Kenzo berteriak kaget sambil memegang pinggang yang terasa nyeri.

"Aduh Kenan! Astaga! Kenapa loe bisa ada di sini?!" seru Kenzo melihat Kenan berdiri di sana sambil bertolak pinggang. "Ngapain Vinda di sini bang?" Tangan Kenan menunjuk ke arah Vinda. Kenzo berdecak kesal lalu bangkit berdiri.

"Sialan loe emang! Nyelonong masuk ke rumahku seperti pencuri saja!" Bentak Kenzo sok emosi.

"Halah, biasanya juga aku memang langsung masuk kok, hehe." Wajah Vinda merah padam karena malu. Dia buru‑buru merapikan gaunnya lalu bergegas ke dapur mencari minum untuk menenangkan diri.

"Nih Tante tadi minta aku ke sini mengantarkan makanan kesukaan loe, banyak nih masakannya. Pantesan aja dari depan pintu sudah terlihat sepatu wanita... rupanya kalian asyik berciuman di sini, dasar!"

"Udah loe taruh saja makanan itu di meja, lalu cepat pergi sana!" Usir Kenzo jutek.

"Astaga, bang loe kejam sekali. Aku belum makan malam baru juga dateng, lho. Wah, ada daging panggang juga!" Kenan duduk santai di kursi makan, menyantap masakan Vinda dengan lahap sambil terus memuji.

"Yak setan gendut sapa suruh loe makan di rumahku!?!"

"Ihh loe berisik, ini enak sekali! Rasanya seperti masakan restoran mahal. Siapa yang masak ini, bang?" Kenzo masih kesal menatap horor adik sepupunya.

"Sialan, siapa yang suruh loe makan di sini? Bawel, Sana pergi!"

"Ih loe pelit bang. Nanti aku lapor kak Soran kalau loe berani bawa wanita ke sini lagi, hehe. Dia pasti akan marah besar sampai memotong, Bu~rung~mmmph—" wajah Kenan merah padam karena mulutnya dibekap serbet.

"Yak teri asem!"

"Diam loe! Habisin makanan itu lalu loe cepetan pergi!" seru Kenzo buru‑buru menyumpal mulut Kenan dengan serbet sebelum kalimatnya makin kelewatan.

***** 

Larasati meremas surat di tangannya. Ia merasa tak berdaya menolak keputusan itu. Hardi Armanta yang sudah muak dengan pernikahan ini hanya memberinya uang pesangon 500 juta setelah perceraian mereka. Larasati makin kesal, bukan soal jumlahnya, tapi harga dirinya terinjak‑injak seperti karyawan yang pensiun dengan uang pesangon sedikit saja.

Setelah dia menandatangani surat cerai bermeterai itu, pengacara dari pak Hardi menyerahkan selembar cek bernominal 500 juta itu. Begitu pengacara pergi, Larasati meremas cek itu hingga kusut, lalu melempar bantal‑bantal sofa sambil menangis keras.

"Sialan!!" Erangnya dengan amarah meluap.

"Cih! Kamu kira semudah itu melepaskan ku, Hardi Armanta?! Kalau aku tak bisa membuat Kenzo merasakan sakit yang sama, sehancur hatiku sekarang, tak pantas aku disebut Larasati!" Dia duduk kembali di sofa dengan napas tersengal, mengusap dadanya, lalu menelepon seseorang yang diyakini bisa membantu rencananya.

"Halo, apakah ini nomor wartawan surat kabar Lifestyle?"

"__"

"Oh iya. Saya Larasati, istri Tuan Hardi Armanta... bisakah kita bertemu sebentar?"

"__"

"Ada berita menarik yang pasti kau suka, Bagaimana, apa anda berminat?"

"__"

"Baiklah, kita bertemu di ruang VIP Kafe Venus pukul tujuh malam ini. Siapkan alat rekaman anda, jangan lupa" Larasati menutup telepon sambil tersenyum sinis dan melipat kedua tangan di dada.

"Maafkan aku, Kenzo. Kamu yang memaksaku melakukan ini. Kalau ayahmu tega membuang ku, kamu pun harus merasakan hancur seperti aku."

Dia mengusap perutnya, terisak memikirkan masa depan yang tak menentu. Sempat terlintas niat menggugurkan kandungan itu, namun demi rencana balas dendamnya, dia memilih membiarkan janin keturunan keluarga Armanta itu tetap tumbuh di rahimnya.

 ***

"Kenzo, loe yakin mau melamarnya besok?"

Tanya Kenan kaget.

 "Loe kira aku bercanda? Besok siapkan semuanya sesuai pesananku. Aku ingin kejutan indah buat Vinda dan tak mau menunda lagi."

"Aduh, sepertinya loe nggak sabar sekali ya? Masih banyak waktu kok." Kenan terkekeh santai sambil menyesap soda kalengnya, menikmati udara malam yang dingin di balkon apartemen Kenzo.

"Tapi loe belum minta pendapatnya Tante Hana dan om Hardi, kan? Bukankah agak terburu‑buru?"

"Aku rasa nggak masalah soal itu. Pendapat mommy ku urusan belakangan. Tenang saja, kak Soran sudah tahu rencanaku dan dia mendukung sepenuhnya."

"Lalu om Hardi gimana"

"Dia tak berhak mencampuri urusan ini. Aku sudah dewasa, Kenan. Soal menikah dan masa depanku, hakku memilih wanita yang kucintai." Ujar Kenzo dengan kesal. Kenan mengangguk pelan lalu terdiam sejenak.

"Loe dengar kabar terbaru soal om Hardi kan?" Kenzo langsung menoleh bingung melihat wajah Kenan yang tiba‑tiba tampak sedih.

"Aku tak peduli urusannya. Selama ini aku diam dan mengalah cuma karena dia ayahku, cuma itu alasan ku"

"Dia dan Kirana Larasati benar‑benar akan bercerai. Kabarnya pengadilan akan membacakan putusan besok pagi."

"Benarkah? Loe gak bohong kan, gila! cepet banget? Apa wanita itu rela begitu saja bercerai sama Daddy ku?"

"Sepertinya iya sih, sidang dipercepat atas keputusan hakim."

"Aku tak mengerti jalan pikiran Daddy. Kenapa tiba‑tiba menceraikannya begitu saja?"

Kenzo menggeleng kesal lalu masuk kembali ke ruang tamu bersama Kenan. Tak lama bel pintu berbunyi nyaring.

"Siapa yang datang malam‑malam begini?"

Kenzo melirik jam dinding yang sudah jam sepuluh malam, dengan penasaran. Kenan hanya mengangkat bahu acuh sambil berjalan ke koridor menuju kamar tamu tempat dia akan menginap.

"Buka saja pintunya. Aku mau tidur dulu, hoam~ aku mengantuk karena minum soda tadi." Kenan ngeloyor naik duluan.

"Aish adik sialan! Dia malah pergi tidur!" Kenzo berjalan cepat ke koridor, untuk membuka pintu depan, dia terbelalak kaget melihat Larasati berdiri tegak tepat di depan pintu.

1
Ananda Boy
next ka🤭
Ananda Boy
benci aku sama mantan nya Kenzo
Ananda Boy
vjnda km beruntung
Ananda Boy
next ka😍😍
Ananda Boy
wahh makin seru 😍
Ananda Boy
huhhh😭😭
Ananda Boy
lucu 🤣🤣
Ananda Boy
sabar pak Ken 🤣
Ananda Boy
beneran bikin ngakak, Vina itu lucu banget 😄🤣
Ananda Boy
🤣🤣🤣🤣🤣
Ananda Boy
lucu banget buku ini Kenzo yang nakal dan Vina yang lugu
Ananda Boy
maaf kak, aku bengek 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!