NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 33 : ARISAN BISA DAN TOPENG YANG TERBELAH

 Restoran fine dining bernuansa klasik Eropa di kawasan Menteng siang itu tampak begitu tenang. Alunan musik jazz instrumental mengalun lembut dari pengeras suara tersembunyi, menemani denting sendok dan garpu dari para tamu elit kelas atas Jakarta. Namun, di salah satu meja VIP bundar berkapasitas sepuluh orang di sudut ruangan, atmosfer yang tercipta justru terasa sepekat racun yang siap melumat habis harga diri siapa saja.

Sarah Wijaya duduk kaku di kursinya, meremas selembar tisu kain di atas pangkuannya hingga jemarinya memutih. Siang ini adalah jadwal arisan bulanan geng sosialita "Gemerlapita"—perkumpulan para istri pengusaha, pejabat, dan pemilik rumah sakit terkemuka. Biasanya, Sarah selalu datang dengan kepala terangkat paling tinggi, memamerkan tas jinjing edisi terbatas keluaran Paris atau memuji-muji kesuksesan Shinta sebagai influencer kecantikan terkenal.

Namun hari ini, semua kemegahan itu luruh tak berbekas. Rentetan bom skandal yang meledak beruntun sejak kemarin—mulai dari berita viral di internet kalau Kalea adalah anak haram hasil hubungan gelap Hermawan, video syur Shinta yang mabuk dan bergonta-ganti pasangan dengan pria tua di kelab malam, sampai kabar miring Fitri yang mendadak mendaftarkan gugatan cerai kilat kepada Fandi di Pengadilan Agama—semuanya sudah menyebar luas laksana virus mematikan dan sampai utuh ke telinga seluruh anggota arisan.

Suasana meja makan yang awalnya riuh mendadak sunyi ketika Sarah melangkah masuk beberapa menit lalu. Sekarang, rentetan dialog penuh sindiran tajam, bisik-bisik menusuk, dan tatapan mata yang dipenuhi rasa jijik dari teman-teman sosialitanya mulai berhamburan menguliti martabat Sarah habis-habisan.

Di antara jajaran wanita paruh baya bermata tajam itu, duduk pula Ambarwati Baskara dan Larasati Murni, mamanya Natasha. Ambarwati yang mengenakan bros berlian mewah di dadanya tampak bersandar angkuh, sementara Larasati berulang kali melemparkan pandangan mata yang seolah menertawakan ketidakberdayaan Sarah.

"Aduh, Jeng Sarah..." sapa Nyonya mita (52 tahun), istri seorang pialang saham sukses, membuka percakapan dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah prihatin namun terdengar sangat sarkastik. Dia meletakkan cangkir teh porselennya dengan denting tipis yang kaku. "Tadi pas baca trending topic di portal gosip, aku bener-bener sampai istigfar loh, Jeng. Nggak nyangka ya... Di balik rumah megah bak istana milik keluarga Wijaya, ternyata tersimpan rahasia sekotor itu. Itu berita si Kalea anak haram, beneran, Jeng?"

Wajah Sarah mendadak memucat bagaikan kertas, namun dia sekuat tenaga memaksakan seulas senyuman pahit yang sangat kaku di bibirnya. "A-Ah, Jeng Mita... Itu cuma kerjaan orang iseng di internet yang mau ngejatuhin bisnis Mas Hermawan aja kok. Nggak usah terlalu dipercaya."

"Loh, nggak bisa gitu dong, Jeng Sarah!" sambung Nyonya dita (49 tahun) dengan mata yang melotot penuh rasa penasaran yang haus akan aib. Nyonya Dita adalah salah satu teman arisan yang dulu pernah berkunjung ke rumah Wijaya dan ikut koar-koar mendengarkan Sarah melabeli Kalea sebagai pembantu rumah tangga. "Waktu aku main ke rumahmu tahun lalu, kamu kan bilangnya si Kalea mata biru itu cuma anak pelayan tua yang terpaksa kamu tampung karena kasihan! Eh, nggak tahunya netizen malah ngebongkar kalau dia itu anak kandung suamimu dari wanita selingkuhannya dulu! Astaga, Jeng... Jujur, sebagian dari kami di ini bener-bener baru tahu fakta menjijikkan ini sekarang!"

"Iya, bener banget!" timpal Nyonya maya (50 tahun) sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas sutra, menatap Sarah dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa jijik yang luar biasa besar. "Kalau aku jadi kamu ya, Sarah... Dari dulu anak haram pembawa sial itu nggak bakal sudi aku rawat, aku besarkan, apalagi aku kasih makan di dalam rumah suci keluarga! Idih, ngebayangin mukanya aja udah bikin mual! Kok kamu bisa-bisaan betah melihara darah kotor dari selingkuhan suamimu sendiri selama dua puluh empat tahun, hah?! Nggak punya harga diri banget!"

Mendengar kata "nggak punya harga diri" dan caci maki yang bertubi-tubi merendahkan posisinya, tangan kiri Sarah yang berada di bawah meja makan jati mewah itu langsung mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih menahan gemuruh amarah, sakit hati, dan rasa malu yang sudah meluap-luap sampai ke ubun-ubun kepala. Namun demi menjaga sisa topeng digital dan status sosialitanya, Sarah tetap mempertahankan senyuman pahitnya, menelan semua ludah kehinaan itu dengan kepasrahan batin yang kaku.

Ambarwati Baskara yang duduk di sebelah Larasati mendadak berdehem keras, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan keangkuhan mutlak seorang pemilik jaringan rumah sakit elit. "Jeng Maya, Jeng Dita... Asal kalian tahu ya, aku juga bener-bener syok berat pas tahu fakta itu dari Jeng Larasati. Sarah ini emang cuma cerita masalah anak haram ini ke Jeng Laras aja dari dulu, kami yang lain beneran dibohongin!"

Ambarwati melemparkan pandangan mata elangnya yang sangat dingin dan penuh penolakan ke arah Sarah. "Untung waktu itu anak sulungku, Dokter Radit, langsung sadar diri dan mutusin hubungan gila sama si Kalea itu setelah tahu silsilah silsilah lahirnya cacat hukum! Keluarga Baskara itu keluarga terhormat, kami haram hukumnya dapet menantu dari darah kotor pengganggu rumah tangga orang kayak Kalea?!"

Larasati ikut mengangguk puas penuh kemenangan ego, menepuk-nepuk tas Hermes miliknya. "Bener kata Jeng Ambarwati. Makanya dalam waktu dekat anakku, Natasha, yang bakal resmi nikah sama Dokter Radit. Kalau disandingkan sama Natasha kan rapi, berkelas. Nggak kayak cewek Wijaya itu."

"Tapi Jeng Sarah... Yang paling bikin kami semua di meja ini bener-bener nggak habis pikir itu bukan soal si anak haram Kalea, loh," potong Nyonya Mita lagi, memajukan tubuh paruh bayanya dengan binar mata yang berkilat tajam penuh ejekan menusuk. "Tapi soal putri kesayanganmu... si Shinta Kirana yang selalu kamu pamer-pamerkan kecantikannya itu! Ya ampun, Jeng Sarah... Kami semua di sini kan kenal banget sama Shinta, dia sering banget datang ke acara pesta rekan bisnis kita pakai baju desainer mahal. Tapi kelakuan aslinya di dalam video kelab malam itu... Ya Tuhan, menjijikkan banget?! Kok bisa-bisanya anak emas kesayanganmu hobi mabuk-mabukan terus ciuman panas sama sugar daddy tua bangka yang umurnya udah bau tanah, yang bener-bener lebih cocok jadi bapaknya sendiri?! Ditambah video ranjang hotel gonta-ganti cowok itu... Hancur banget ya moral anakmu, Sarah!"

"Iya! Malu-maluin banget!" sahut Nyonya Maya ketus dengan tawa sinis menertawakan kehancuran dinasti Wijaya. "Udah gitu, denger-denger anak sulungmu, Dokter Fitri yang sok pinter itu, sore ini juga lagi ngurus berkas cerai kilat di Pengadilan Agama karena suaminya, Fandi, kabur setelah ketahuan tidur juga sama si Shinta?! Gila... Rumah tanggamu bener-bener kayak sarang maksiat ya, Sarah! Anak yang kamu manja ternyata pelacur kelab, dan menantumu ternyata bajingan! Kasihan banget hidupmu sekarang!"

Rentetan penuh hasutan keji, hinaan telanjang, dan kata-kata tajam dari seluruh anggota arisan itu terus memojokkan Sarah tanpa belas kasihan sepeser pun. Semua pasang mata menatap Sarah dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa jijik, meremehkan statusnya yang kini telah resmi jatuh ke dasar selokan sosialita akibat ulah kelicikan Shinta dan Fandi.

Sarah bener-bener merasa kepalanya pening luar biasa, dadanya sesak menahan air mata kemarahan yang hendak tumpah. Di dalam hatinya, gumpalan dendam yang amat sangat mendalam kembali berkecamuk hebat, dan seluruh kesalahan itu kembali dia limpahkan sepenuhnya kepada nama Kalea.

"Kalea sialan... Ini semua bener-bener gara-gara cewek mata biru pembawa sial itu! Aku bersumpah bakal bikin hidupmu hancur menderita setelah aku pulang dari tempat terkutuk ini!" maki Sarah di dalam hatinya penuh kedengkian.

Suasana arisan penuh bisa dan kepalsuan moral di dalam restoran mewah Menteng siang itu akhirnya ditutup oleh keheningan kaku dari Sarah yang hanya bisa menundukkan kepala menahan malu.

...****************...

Langkah kaki Kalea terdengar konstan saat melangkah melewati pintu kaca lobi utama Hotel Grand Luminance. Jam digital di dinding ruang administrasi menunjukkan pukul tiga sore. Setelah menyelesaikan makan siang bersama Radit yang penuh dengan karangan taktik romantis untuk mencairkan ketegangannya, Kalea kembali ke mode kerja. Sifat tegas dan mandirinya membuat ia menolak runtuh akibat bom skandal internet yang dirilis Fandi tadi subuh.

Kalea merapikan blazer hijau botol dan jilbab voal hitamnya sebelum mengetuk pintu ruang kerja pemilik hotel.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara bariton berwibawa dari dalam.

Kalea mendorong pintu kayu jati tersebut, melangkah masuk ke ruangan luas bernuansa mewah milik Pak Surya (54 tahun), pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama Hotel Grand Luminance. Surya sedang duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi berkas laporan keuangan kuartal.

Kalea mengambil posisi berdiri tegap di hadapan meja kerja dengan postur anggun seorang General Manager. "Selamat sore, Pak Surya. Mohon maaf mengganggu waktu Bapak. Saya ke sini untuk menyerahkan laporan evaluasi tingkat hunian kamar (occupancy rate) serta ringkasan koordinasi sistem reservasi tamu VIP untuk menyambut konferensi bisnis minggu depan."

Surya mendongak, memperbaiki letak kacamata bacanya, lalu menerima map dokumen dari tangan Kalea. "Selamat sore, Kalea. Silakan duduk." Surya membuka berkas tersebut, menelitinya lembar demi lembar dengan kerutan di dahi. "Bagaimana dengan koordinasi divisi Food and Beverage terkait pembatasan menu standar internasional?"

"Semua sudah teratasi dengan baik, Pak," jawab Kalea dengan nada suara yang sangat formal, tenang, dan tertata rapi. "Saya sudah menginstruksikan Executive Chef untuk melakukan penyesuaian bahan baku impor agar kualitas rasa tetap terjaga tanpa melebihi batas anggaran operasional hotel. Divisi Humas juga sudah menyiapkan rilis protokol untuk memastikan kelancaran alur kedatangan para delegasi."

Surya mengangguk-angguk puas, menutup map dokumen tersebut dengan sentakan pelan. "Kerja yang sangat luar biasa seperti biasanya, Kalea. Sifat profesionalitas dan dedikasimu tidak pernah gagal menjaga stabilitas performa hotel ini."

Namun, setelah membahas masalah operasional hotel selesai, suasana di dalam ruangan mewah itu mendadak berubah menjadi sangat kaku, canggung, dan diliputi keheningan yang berat. Surya meletakkan pulpen logamnya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit kebesarannya. Sepasang mata paruh bayanya menatap lekat-lekat ke arah sepasang manik mata biru jernih milik Kalea.

"Kalea... ada satu hal non-operasional yang ingin saya tanyakan kepadamu," ucap Surya dengan nada suara yang perlahan melunak namun tetap menjaga batas formalitas seorang atasan. "Ini mengenai berita viral yang meledak di internet dan platform media sosial sejak tadi subuh. Apakah benar informasi yang beredar luas di luar sana... bahwa kamu adalah anak hasil hubungan luar nikah dari keluarga Wijaya?"

Mendengar pertanyaan sensitif tentang status silsilah kelahirannya keluar langsung dari mulut bosnya, jantung Kalea sempat berdegup kencang secara tidak karuan menahan sesak batin yang mendalam. Semburat rasa malu yang kaku merayap di dadanya. Namun, Kalea menolak untuk berbohong atau mengarang cerita kepalsuan baru di tempat kerja.

Kalea perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan meja kerja Surya, meremas ujung jemari tangannya di atas pangkuan untuk menguatkan mentalnya yang kian tertekan akibat caci maki sosial dunia luar.

Kalea mendongak kembali, menatap lurus manik mata Surya dengan sepasang pandangan mata biru jernih yang tampak bergetar namun sarat akan ketegasan. "Benar, Pak Surya. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika berita miring tentang status pribadi saya ini sudah menimbulkan kegaduhan sosial dan merusak citra nama baik manajemen Hotel Grand Luminance hari ini."

Surya terdiam membisu selama beberapa detik, menatap lekat-lekat ketulusan dan keberanian moral yang terpancar dari wajah asuhannya tersebut. Bukannya marah atau langsung menyodorkan surat pemecatan kaku akibat berita anak haram itu, Surya justru mengembuskan napas panjang yang sangat lembut penuh rasa prihatin yang mendalam dari lubuk dadanya.

"Kalea, dengarkan saya," ucap Surya dengan nada suara formal yang terdengar begitu bijak dan menenangkan jiwa Kalea. "Silsilah darah atau apa pun kata orang di luar sana tentang asal-usul kelahiranmu, itu sama sekali bukan kesalahan hukum yang kamu perbuat. Di bawah manajemen saya, yang dinilai adalah kapabilitas otak, integritas kerja, dan prestasi nyata seorang karyawan, bukan gosip sampah tentang masa lalu keluarganya. Jadi, kamu tidak perlu cemas atau merasa bersalah. Selama kamu tetap menjaga profesionalitas kerja sebagai General Manager dengan baik, saya yang akan menjamin posisimu di hotel ini tetap aman dari tekanan jajaran direksi mana pun."

Mendengar jaminan dan nasehat berharga dari bosnya, kabut ketakutan di dada Kalea seketika menguap lenyap, digantikan oleh rasa hangat dan haru yang luar biasa besar menembus ulu hatinya. Kalea mengulas sebuah senyuman manisnya yang paling tulus, menundukkan kepalanya sedikit penuh rasa hormat yang mendalam. "Terima kasih banyak atas kepercayaan dan kebijaksanaan yang Bapak berikan kepada saya. Saya berjanji akan bekerja lebih keras lagi untuk menjaga performa hotel ini tetap berada di puncak tertinggi."

"Sama-sama, Kalea. Sekarang kamu boleh kembali ke ruanganmu untuk melanjutkan tugas," sahut Surya tersenyum ramah.

Kalea berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun, melangkah tegap keluar dari dalam ruangan kerja pemilik hotel dengan perasaan campur aduk yang dipenuhi oleh getaran letupan kebahagiaan batin yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!