Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.
Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.
Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.
Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.
Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
[S86] Player 745: Sudahkah kalian memeriksanya? Enam player yang keluar dari dungeon event telah naik level secara besar-besaran!
[S86] Player 621: Ya, tapi bukan itu yang paling penting. Yang penting adalah fakta bahwa ada satu player yang berasal dari server kita!
[S86] Player 133.211: Kalau aku ingat dengan benar, namanya kalau tidak salah adalah Nate. Seseorang pernah menyebutnya sebelumnya.
[S86] Player 12.751: Nate ini... Jadi dia peringkat berapa di papan global? Apa ada yang punya tebakan, atau tahu nomor player-nya?
Nate melihat obrolan chat itu. Entah dengan cara bagaimana, dia sudah menjadi bahan perbincangan yang panas dalam sekejap.
Tentu saja, menjadi populer atau tidak bukan sesuatu yang perlu dia pikirkan terlalu jauh. Yang lebih menarik perhatiannya adalah fakta bahwa selama beberapa hari dia meninggalkan server ini, cukup banyak hal yang berubah.
Ada begitu banyak player yang ditemukan meninggal. Rata-rata dari mereka adalah orang tua dan anak-anak yang tidak tahu harus bertindak seperti apa. Lingkaran sosial juga semakin ketat dan tidak ramah, aspek yang lemah sudah cukup untuk membuat seseorang dikucilkan, sementara yang punya aspek kuat langsung mendapat tempat dan perlindungan.
Hal lain yang berubah adalah kemunculan monster peringkat E yang semakin sering, memaksa para player untuk naik level secepat yang mereka bisa. Tapi rata-rata dari mereka saat ini hanya mampu mencapai level enam, dengan yang tertinggi berada di level sebelas, mengecualikan enam player yang keluar dari dungeon event.
Dengan semakin kuatnya monster, semakin dekat pula manusia ke ambang kepunahan.
Nate bukanlah pahlawan dan tidak berniat menjadi pahlawan. Tapi krisis yang mungkin terjadi begitu manusia perlahan-lahan punah bukanlah sesuatu yang bisa dia abaikan begitu saja demi kebaikan dirinya sendiri.
Apa gunanya menjadi sangat kuat dan mampu bertahan hidup jika pada akhirnya hanya sendirian?
Manusia tidak pernah bisa hidup sendirian.
Nate mendecakkan lidahnya dengan kesal, menghunus sabitnya dengan main-main. Saat ini dia berdiri di puncak sebuah gedung yang sangat tinggi, menatap kota yang telah menjadi reruntuhan dengan begitu banyak asap hitam mengepul naik. Sesekali monster udara melintas di atas.
Lalu di kejauhan, tatapannya selalu kembali terkunci pada seekor monster raksasa yang tertidur melingkari dua gedung pencakar langit hanya dengan tubuhnya saja.
Naga yang pernah disebutkan Haron.
Bukan hanya naga itu. Dari ketinggian ini, Nate bisa menemukan cukup banyak monster berperingkat sangat tinggi yang tersebar di berbagai sudut kota. Jumlah mereka sedikit, tapi satu saja dari mereka sudah cukup untuk membekukan pergerakan seluruh player di sekitarnya.
Saat itu Nate mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dia menoleh, menemukan Player 397 yang datang dengan ekspresi santai dan ceria.
"Tuan Nate, aku sudah melakukannya sesuai yang kamu katakan."
Nate mengangguk dengan senyum tipis. "Kerja bagus."
Dia melirik tepat ke bawah, di mana begitu banyak benda mencuat keluar dari gedung itu di setiap tingkatnya. Lalu tatapannya bergeser ke depan, sedikit lebih jauh ke atas langit.
Di sana, sebuah portal dungeon yang sangat unik berputar dengan warna ungu gelap.
[Dungeon (Ascension Player 991)]
Dungeon kenaikan peringkat aspeknya berada tepat di udara, di ketinggian yang melampaui gedung dengan dua puluh lima lantai.
Karena itu, Nate sudah menyiapkan benda-benda yang mencuat di setiap lantai sebagai pegangan jika dia terjatuh. Setelah semua persiapan selesai, yang tersisa hanyalah satu langkah.
Tanpa ragu sedikit pun, Nate menghunus sabitnya, lalu melesat dan melompat dari puncak gedung itu tanpa melirik ke bawah sama sekali.
Dia memasuki portal itu, dan kesadarannya langsung melemah sebelum akhirnya kembali di tempat yang sama sekali berbeda.
Nate menemukan dirinya berdiri di tengah-tengah arena koloseum yang besar, dikelilingi bangku penonton yang melingkar. Setiap bangku penuh dengan siluet berwarna hitam pekat, tidak jelas bentuk atau wajah mereka, yang terlihat hanyalah siluet, sepasang pupil, dan mulut yang terus bersorak tanpa henti.
Mereka meneriakkan sesuatu, tapi Nate tidak bisa memahami satu kata pun dari apa yang mereka teriakkan. Yang bisa dia rasakan adalah kenyataan bahwa mereka semua berteriak dengan histeris dan penuh kesenangan yang terasa gila.
[Dungeon (Arena Berdarah) Akan Dimulai]
[Bertahanlah Sebagai Satu-satunya Yang Tersisa]
Mengikuti notifikasi itu, dari tiga lorong yang berbeda, begitu banyak petarung keluar dan melangkah ke arena, cukup untuk membuat Nate mengerutkan keningnya.
Karena mereka bukan monster.
"...Manusia?"
Benar-benar manusia.
Perawakan mereka sangat buruk. Kain kusam menutup tubuh mereka yang kurus dan kecil dengan wajah yang tampak cekung, masing-masing membawa tombak dan tameng. Tapi jika ada satu hal yang paling salah dari mereka, itu adalah pupil matanya yang berbinar dengan cahaya gelap dan tampak sangat jahat. Aura yang mereka pancarkan terasa menyimpang, sesuatu yang langsung membuat Nate merasa tidak nyaman.
Saat itu siluet-siluet di bangku penonton berdiri dan bersorak sekaligus hingga tampak seolah mulut mereka akan robek karena terlalu girang.
'Ini sangat tidak nyaman.'
Nate mengerutkan wajahnya, bertanya-tanya jenis dungeon apa sebenarnya ini.
Tapi sebelum dia sempat memikirkan lebih jauh, pertandingan itu sudah dimulai dengan teriakan melengking dari salah satu manusia yang mengamuk duluan.
"MATI!!!"
"MATI!!"
"MATI!!"
"MATI!!"
Mereka semua meneriakkan satu kalimat yang sama, membunuh satu sama lain tanpa henti. Beberapa dari mereka langsung berbalik dan menerjang ke arah Nate.
Ekspresi Nate perlahan-lahan kembali ke wajahnya. Dia menghunus sabitnya.
"Lupakan saja. Tidak ada gunanya memahami dunia yang sudah lama gila. Sesuai yang dikatakan sistem, aku hanya perlu bertahan sebagai satu-satunya yang tersisa."
Sraaang!!
Kilatan samar muncul di mata abu-abunya saat dia melesat. Manusia yang menerjangnya tiba-tiba terhenti dan membeku seperti patung, lalu lehernya terpotong dan menggelinding di atas tanah berwarna kekuningan, meninggalkan semburan darah yang menyerupai pancuran air yang liar.
Teriakan terus bergema di seluruh arena. Jumlah manusia di sana tampak ratusan, tapi mereka semua sangat lemah, jauh lebih lemah dari apapun yang pernah Nate lawan sebelumnya. Cukup lemah hingga Nate merasa dia bisa menghabisi mereka semua dalam waktu kurang dari lima menit.
***