Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Luna sedang membersihkan rak barang ketika terdengar suara pintu toko terbuka.
"Selamat datang!" sapanya lalu melihat ke arah meja kasir. Disana telah berdiri seseorang yang tidak ingin dijumpainya.
"Hai Luna!!" seru Marina dengan gaya paling menjijikkan.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
"Aku ... Tentu saja ingin mengunjungimu. Melihat bagaimana tokomu yang kecil dan tersembunyi ini bisa bertahan sampai sekarang" jawab Marina lalu menyentuh barang-barang display yang rapi.
"Tidak membeli, cepat keluar!!" tegas Luna malas melayani orang yang hanya datang untuk mengejeknya. Tapi Marina tidak pergi, berdiri di depan meja kasir lalu mengatakan sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh Luna dalam sekali dengar.
"Aku membawa informasi penting untukmu. Mungkin bagimu sekarang tidak penting. Tapi ini menyangkut sepuluh tahun yang telah kau habiskan dulu"
"Apa maksudmu?"
"Mantan suamimu. Arya Mahendra ... Sekarang bukan lagi Arya yang dulu"
Bukan Arya yang dulu? Apa maksud Marina sebenarnya?
"Aku tidak punya urusan dengannya"
"Oppss aku lupa. Kau memang sudah bercerai dengannya. Tapi apa kau tahu kalau sekarang Arya memiliki apartemen besar di tengah kota? Tidak hanya itu. Arya juga memiliki mobil dan rumah mewah yang disiapkan untuk calon istri barunya"
Calon istri baru?
Luna tidak terkejut dengan semua harta yang dimiliki mantan suaminya setelah mereka bercerai. Bahkan ketika masuk ke dalam apartemen mewah Arya, dia juga tidak peduli. Tapi kenapa kata calon istri baru itu mengganggu hatinya?
"Apapun yang dia miliki atau kerjakan tidak ada urusannya denganku"
"Benarkah? Lalu bagaimana kalau aku bilang, Arya memiliki ayah dan ibu?"
Luna segera memusatkan perhatian pada Marina.
"Apa katamu?"
"Hahaha. Pria yang selama ini kau kenal sebagai yatim piatu itu ternyata masih memiliki orang tua. Sekarang, Arya dan orang tuanya sedang berbelanja untuk calon menantu baru mereka."
Luna terpaku.
Dia ingat sekali Arya adalah yatim piatu. Ketika berkenalan dengannya dulu, Arya dengan jelas mengatakan hanya sendirian saja di dunia ini. Bukankah itu artinya Arya adalah yatim piatu? Lalu kenapa sekarang memiliki orang tua?
"Apa informasimu benar?" tanya Luna.
"Informasi? Aku mengikuti mereka sampai ke pusat perbelanjaan. Dengan jelas sekali aku mendengar, mantan suami tersayangmu yang pernah menyentuhku itu memanggil wanita di sebelahnya dengan kata IBU"
Tidak pernah sekalipun Arya menyebut tentang orang tua ketika masih bersamanya dulu. Luna juga tidak pernah bertanya karena takut menyinggung sesuatu yang akan membuat mantan suaminya sedih. Jadilah dia bersama dan menikah dengan Arya tanpa mengetahui apakah pria itu memiliki keluarga atau tidak.
Tapi, bukankah seharusnya Arya mengatakan hal sepenting itu? Bukankah kehadirannya sebagai istri merupakan hal penting yang harus diketahui oleh keluarga dua belah pihak? Kalau seperti ini, berarti ... Arya menganggap hubungan mereka sebagai apa?
Luna melihat mantan sahabatnya dan tidak ingin tampak hancur karena berita ini. Dia berusaha menenangkan diri dan mengatakan pada Marina lagi kalau ...
"Kami sudah berpisah. Ini semua tidak ada hubungannya lagi denganku. Kalau kau ingin bersamanya, silahkan saja!" katanya lalu melanjutkan pekerjaannya memeriksa keuangan toko.
"Huh!! Kasihan sekali kau Luna. Kau bersama Arya, menikahinya sampai diceraikan tapi tidak pernah dikenalkan pada orang tuanya. Sedangkan calon istri baru Arya, mendapatkan segalanya. Rumah, mobil, kekayaan juga pengakuan keluarga. Kau benar-benar tidak dianggap sebagai wanita berharga bagi Arya!!" kata Marina kemudian pergi dari toko. Lengkap dengan suara tawa melengking yang menyiksa telinga.
Apa yang dikatakan oleh Marina perlahan merasuk ke dalam hati Luna. Tangan yang tadinya cepat menulis angka kini terhenti begitu saja. Dia merasa kecewa, karena telah diperlakukan seburuk itu oleh orang yang paling dia percayai dan cintai saat itu. Walau sekarang mereka telah berpisah, hatinya tetap terasa sakit.
"Permisi!"
"Permisi!"
Luna mengangkat wajahnya dan melihat pelanggan setianya berdiri disana. Menyodorkan beberapa barang yang harus dipindai. Dia segera menyadarkan diri dan memindai barang yang telah diletakkan di atas meja.
"Lapar?" tanya pelanggan yang ternyata dia kenal.
"Andy? Maaf, aku sedikit ... "
"Melamun?"
Luna tersenyum kecil lalu kembali memindai barang.
"Tentu saja tidak"
"Ini sudah malam, apa kau sudah makan?"
Luna baru teringat kalau dia belum makan sejak siang tadi.
"Belum"
"Boleh aku mengajakmu makan setelah toko tutup?" ajak Andy.
Luna menyingkirkan pikiran tentang mantan suami dan permasalahannya dan mengangguk. Menyetujui keinginan Andy untuk makan malam. Mencoba membuka hati untuk orang dan masalah baru. Daripada terpaku dengan masalah lama. Atau menorehkan luka baru di atas luka yang telah sembuh.
"Baik"
Setelah membersihkan toko dan menutupnya, Luna menemukan Andy menunggu di sekitar sana. Dia segera mendekat dan berjalan bersama menuju sebuah kedai makanan pinggir jalan.
"Maaf, aku tidak bisa memesan restoran untuk makan di atas jam 9" kata Andy membuat Luna tersenyum.
Percakapan disertai makanan pinggir jalan yang hangat dan sedikit pedas membuat suasana hati Luna membaik. Dia menikmati waktu itu bersama Andy, seorang dosen yang ternyata menyenangkan untuk dijadikan teman bicara.
"Jadi kau akan belajar lagi di luar negeri tahun depan?" tanya Luna.
"Iya. Aku harus belajar keluar negeri untuk mendapat gelar doktor. Tapi ... Orang tuaku tidak mengijinkan sebelum aku menikah. Kata mereka aku akan terlalu tua ketika menikah saat kembali nanti"
Orang tua? Hati Luna terasa hangat ketika Andy membicarakan masalah orang tua dengannya.
"Jadi kau tidak akan pergi sebelum menikah?"
"Entahlah, mungkin kalau orang tuaku menyerah karena melihat putranya yang kutu buku jelek ini sulit mendapatkan kekasih. Akan mudah bagiku keluar negeri, tanpa menikah"
"Kau bukan kutu buku jelek"
"Aku adalah pria yang selalu bersama dengan buku. Sepanjang hari, Minggu, bulan dan tahun. Penampilanku lebih mirip penjaga perpustakaan daripada seorang dosen. Tidak akan ada wanita yang akan menganggap ku menarik"
"Kau adalah seorang dosen Universitas. Kau memiliki gaji tetap juga uang pensiun. Badan bagus dan gaya berpakaianmu tidak buruk. Dan ada wanita yang menganggap pria cerdas sangat menarik"
"Apa kau salah satunya?"
Pertanyaan Andy membungkam Luna. Dia tidak mengira akan menghadapi pertanyaan seperti ini, sekarang. Yang bisa dia lakukan hanya terdiam sampai waktu makan malam berakhir dan mereka berpisah ke rumah masing-masing.
Luna terus saja memikirkan pertanyaan Andy sampai dia masuk ke dalam apartemennya. Tidak menyadari kehadiran orang lain di dalamnya. Baru saja dia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya terdorong keras. Membuat punggungnya menempel kembali ke pintu dan kedua tangannya ditahan di atas kepala.
Begitu kuat dan terasa mengancam, tidak seperti pria yang pernah Luna kenal sebelumnya.
"Siapa?" tanyanya mulai ketakutan.
"Kau harus dihukum!!" kata pria itu lalu menciumnya.
tahi