NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orde Reformasi

"Namun, perlahan-lahan, ada upaya untuk menata kembali semuanya," lanjut Mbah Sidik. "Pemerintah saat itu mulai fokus pada stabilitas. Bapak masih ingat, program-program pembangunan mulai digalakkan. Indonesia yang tadinya terisolasi karena politik luar negeri yang meledak-ledak, mulai kembali membuka diri. Kita kembali masuk ke PBB, kita mulai memikirkan bagaimana caranya agar rakyat bisa makan kenyang kembali."

Mbah Sidik menatap Ahmad lekat-lekat. "Satu hal yang paling ditekankan saat itu adalah stabilitas nasional. Mungkin kau pernah mendengar istilah itu di sekolah. Pemerintah ingin memastikan tidak ada lagi merah yang berani muncul, sehingga mereka memperketat pengawasan terhadap setiap organisasi, pers, bahkan pembicaraan di warung kopi. Bagi sebagian orang, itu terasa mengekang, tapi bagi kami yang baru saja melihat bangsa hampir pecah, itu adalah harga yang harus dibayar demi ketertiban."

"Tetapi ada sisi lain, Ahmad," Mbah Sidik merendahkan suaranya, hampir berbisik. "Luka-luka di desa-desa—seperti di tempat kita ini—tidak pernah benar-benar dibicarakan. Mereka yang kehilangan keluarga karena tuduhan PKI, atau mereka yang memang menjadi korban salah tangkap, hidup dengan stigma yang menempel seperti kutu busuk. Anak cucu mereka pun ikut menanggung beban. Itu adalah bagian dari sejarah kita yang seringkali disembunyikan di bawah karpet, dianggap tidak ada padahal masih terasa perihnya."

"Keadaan Indonesia saat itu seperti orang yang baru sembuh dari demam tinggi. Badannya sudah tidak panas, tapi masih lemah dan butuh waktu lama untuk bisa kembali berdiri tegak. Kita fokus pada pembangunan, pada kemajuan, pada swasembada pangan. Kita berupaya membangun kembali martabat bangsa di mata dunia yang sempat hancur oleh kegaduhan politik."

Setelah badai reda, menyisakan debu dan sunyi,

Negara mencoba berdiri, meski tertatih dan nyeri.

Membangun di atas puing, menyambung harapan yang patah,

Mencoba menghapus jejak air mata dan resah.

Stabilitas menjadi mantra di setiap sudut kota,

Namun ada bisik-bisik yang terkubur dalam cerita.

Bahwa damai itu mahal, dibayar dengan ketatnya jaga,

Demi menjaga rumah agar tak lagi terbelah oleh murka.

Ahmad, lihatlah bagaimana kita mencoba tumbuh kembali,

Menanam padi di atas tanah yang sempat memerah pedih.

Sebab bangsa ini harus tetap berjalan meski limbung,

Mengejar mimpi di balik kabut yang mulai menggantung.

"Jadi, setelah dibubarkan, Indonesia jadi seperti apa, Pak?" tanya Ahmad, rasa ingin tahunya tak terbendung.

Mbah Sidik menghela napas panjang, asap rokoknya menyatu dengan kabut malam. "Indonesia jadi lebih tertib, Ahmad. Tapi kebebasan bicara menjadi barang mewah yang jarang dimiliki orang biasa. Kita berhasil membangun jalan, sekolah, dan swasembada beras, tapi kita juga belajar bahwa stabilitas tanpa rasa kemanusiaan adalah bangunan yang rapuh. Kita tumbuh menjadi bangsa yang besar, tapi kita juga belajar bahwa sejarah tidak akan pernah membiarkan kita melupakan harga yang pernah kita bayar untuk perdamaian itu."

"Intinya, Nak," Mbah Sidik menepuk pundak Ahmad dengan mantap, "Indonesia belajar untuk tidak lagi mudah terhasut. Kita belajar bahwa musuh terberat kita sebenarnya bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri saat kita lupa cara menghargai perbedaan."

"Apa bedanya ode baru dengan ode lama Mbah?" Tanya Ahmad.

Mbah Sidik tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan timbangan kenangan. Ia memperbaiki posisi duduknya di kursi jati tua itu, seolah sedang bersiap membedah dua raksasa waktu yang pernah ia lalui dengan seragam tentaranya.

"Pertanyaan bagus, Nak. Itu seperti membandingkan dua kapten kapal yang berbeda cara menghadapi badai," ujar Mbah Sidik sambil mengetuk-ngetuk kan jarinya ke meja.

"Orde Lama, di bawah pimpinan Bung Karno, adalah masa di mana kita sedang 'mencari jati diri'. Suasananya penuh gelora, penuh pekik merdeka, dan rapat-rapat akbar yang membakar semangat. Bung Karno ingin Indonesia jadi mercusuar dunia. Kita bicara politik luar negeri dengan suara lantang, kita tantang penjajah, kita bangun monumen-monumen megah supaya bangsa lain tidak meremehkan kita."

"Lalu datanglah Orde Baru di bawah Pak Harto. Suasananya berubah drastis. Politik yang tadinya panas membara, mendadak jadi dingin.

Pak Harto tidak suka keributan. Beliau bilang: 'Sudah, berhenti bicara politik, sekarang waktunya bekerja!'. Maka mulailah masa pembangunan yang sangat rapi. Kita punya Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun)."

Mbah Sidik menunjuk ke arah jalanan desa yang sudah beraspal. "Di masa ini, ekonomi membaik. Kita jadi swasembada pangan, beras melimpah, sekolah dan puskesmas dibangun sampai ke pelosok desa. Indonesia jadi tenang, tertib, dan pembangunan terasa nyata. Tapi, ada harganya, Ahmad. Kebebasan bicara diredam. Kalau ada yang berani vokal atau berbeda pendapat, bisa-bisa esok harinya hilang atau dicap musuh negara. Orde Baru itu masa yang makmur sekaligus sangat penuh pengawasan."

"Jadi, bedanya begini, Nad," lanjut Mbah Sidik, matanya menatap Ahmad dengan serius. "Orde Lama itu seperti orang yang sedang jatuh cinta; bicaranya indah tapi terkadang lupa makan. Orde Baru itu seperti kepala rumah tangga yang disiplin; rumahnya rapi, uangnya cukup, tapi anggota keluarganya dilarang protes kalau tidak setuju dengan aturan bapaknya."

Mbah Sidik menghela napas panjang. "Keduanya punya jasa besar. Orde Lama mengajarkan kita untuk bangga menjadi Indonesia, sementara Orde Baru mengajarkan kita pentingnya kemakmuran dan keteraturan."

Satu masa penuh dengan pekik dan nyali,

Membakar langit dengan janji yang abadi.

Politik jadi hidangan di meja makan.

Satu masa datang dengan langkah yang pasti,

Membangun aspal dan gedung setinggi hati.

Namun suara dibungkam dalam sunyi yang lirih.

Ahmad, jangan kau pilih salah satu dengan buta,

Sebab keduanya adalah bagian dari sejarah kita.

Jadilah generasi yang mampu memetik hikmah,

Membangun negeri dengan perut kenyang dan jiwa yang merdeka.

Ahmad manggut-manggut, mencoba mencerna penjelasan bapaknya yang terasa begitu jernih. "Berarti sekarang, di zaman reformasi ini, kita harus punya keduanya ya, Mbah?"

Mbah Sidik menepuk pundak anaknya sambil tertawa kecil. "Pintar kau! Sekarang tugasmu adalah memastikan perut rakyat kenyang, tapi mulut mereka tidak perlu takut untuk bicara kebenaran. Itulah merdeka yang sejati."

Mbah Sidik menghela napas panjang, melepaskan sisa-sisa kenangan yang baru saja ia bagikan seiring dengan kepulan asap terakhir dari rokok klobotnya. Ia menepuk pundak Ahmad dengan mantap, tanda bahwa sesi bercerita malam itu telah usai, meninggalkan sebuah keheningan yang terasa begitu penuh dan menenangkan.

Di luar sana, malam di Jepara sedang memamerkan kemolekannya; langit hitam pekat ditaburi bintang-bintang yang berpendar seperti butiran intan, sementara cahaya bulan sabit menggantung rendah, menyepuh daun-daun jati dengan warna perak yang magis.

Suara jangkrik dan deru angin sawah yang sepoi menjadi musik latar yang harmonis, mengiringi transisi Ahmad yang kini terdiam seribu bahasa, meresapi setiap petuah bapaknya ke dalam sanubari.

Malam yang indah itu seolah menjadi saksi bisu bahwa sejarah bukan sekadar urutan angka dan peristiwa, melainkan sebuah denyut kehidupan yang akan terus mengalir, selama masih ada hati yang bersedia mendengar dan jiwa yang sudi belajar.

1
Kurir Apaaja
menarik sekali👍👍👍👍
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Kurir Apaaja
mantap tor.... lanjutkan ceritanya lebih seru lagi
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Kurir Apaaja
sungguh dramatis tor....
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Kurir Apaaja
manusia boleh berusaha tapi takdir yang maha kuasa, namun pasti ada hikmahnya
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Kurir Apaaja
up yang panjang tor...
Kurir Apaaja
salut
Kurir Apaaja
terbaik....
Kurir Apaaja
mantap jiwa....👍👍👍👍 seru tor
Kurir Apaaja
keren puisi puisinya
Kurir Apaaja
jadi pengen ke makka
Kurir Apaaja
mantap jiwa tor...
Kurir Apaaja
ini Jepara Jateng ya....👍👍👍👍
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!