Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning Sickness
Awal rencananya Tuan Dekha mau menginap di rumah Rayga, tetapi niatnya itu urung karena ada sesuatu hal penting yang harus dia urus.
"Kakek tidak jadi nginap di sini, ada urusan penting yang harus Kakek selesaikan," ungkap Tuan Dekha setelah mereka makan siang bersama.
Tuan Dekha mengatakan itu dengan rasa kecewa, sedangkan Rayga bernafas lega mendengarnya.
"Tidak apa-apa, Kek. Semoga segala urusan Kakek dipermudah dan lancar segalanya," jawab Aurellia.
"Semoga saja. Makasih, Nak," sahut Tuan Dekha yang begitu lembut saat berbicara dengan Aurellia.
Rayga hanya diam tidak ikut menanggapi kakeknya.
Namun, dalam hati Rayga sangat bersyukur kakeknya tidak jadi menginap di sana.
"Aku akan mengantarkan kakek pulang,"sela Rayga.
Tuan Dekha menoleh pada Rayga mendengar dirinya akan diantar oleh pria itu.
"Tidak usah. Biar kakek telepon sopir saja untuk menjemput kakek ke sini," jawab Tuan Dekha.
"Biar sopirku saja yang mengantar Kakek kalau begitu," ujar Rayga memberi penawaran lain.
"Baiklah." Tuan Dekha tak lagi menolak.
Tidak mau diomeli oleh Tuan Dekha, terpaksa Rayga berpura-pura memperlakukan Aurellia dengan baik di depan pria tua itu.
"Ya, sudah. Kakek pergi dulu ya, Nak. Jangan banyak kegiatan, jaga kesehatanmu," pesan Tuan Dekha pada Aurellia.
Aurellia mengangguk, sedangkan Tuan Dekha mengurai duduknya. Dia berjalan santai menuju pintu utama rumah Rayga.
Tanpa disadarinya, Aurellia ikut mengekor di belakang hendak mengantar Tuan Dekha sampai ke halaman depan.
"Hati-hati ya, Kek," kata Aurellia ketika sudah berada di halaman dan di sana sudah ada mobil yang menunggu Tuan Dekha.
"Iya, Nak." Senyum Tuan Dekha mengembang, dia sangat bahagia akhirnya Aurellia ditemukan dan sekarang sudah menikah dengan cucunya.
Keramahan yang ditunjukkan Aurellia menambah rasa syukur di hatinya.
"Semoga kamu bisa merubah Rayga, Nak. Kakek harap kamu bisa menghancurkan dendamnya yang menggunung. Kakek percaya padamu." Tuan Dekha membatin penuh harap, lalu masuk ke dalam mobil setelah memandang Aurellia dan Rayga secara
bergantian.
Di mata Tuan Dekha, Rayga dan Aurellia sangat serasi.
Yang satu cantik dan yang satunya tampan.
Aurellia melambaikan tangannya melepas Tuan Dekha yang berlalu pergi dari hadapannya.
Setelah pagar ditutup lagi oleh penjaga rumah, Aurellia menjadi kikuk saat berdiri berdampingan dengan Rayga seperti itu.
Suasana kembali mencekam, tidak seperti suasana hangat saat Tuan Dekha ada di rumah itu.
"Tuan, bolehkah aku ke taman belakang yang ada kolam ikannya?" tanya Aurellia dia masih penasaran dengan tempat yang rasanya begitu tak asing.
"Tidak boleh." Rayga menarik kasar tangan Aurellia, dia berjalan tanpa melepaskan tangan Aurellia, sehingga Aurellia terpaksa mengimbangi langkah Aurellia agar tidak terseret.
Rayga membawa Aurellia ke arah lift, mereka tidak melewati tangga untuk menuju kamar Rayga.
Di dalam lift tidak ada pembicaraan antara Rayga dan Aurellia, hanya saja Aurellia merasa ketakutan yang luar biasa.
Sesampainya di kamar, baru Rayga melepaskan tangan Aurellia.
Tatapan mata elang pria itu mengintimidasi, sehingga mulut Aurellia terkunci rapat dengan kepala menunduk.
"Walau kakek menunjukan kasih sayangnya padamu, tetapi itu bukan berarti kamu bebas hidup bersamaku. Kamu di sini bukan seorang keluarga yang harus menikmati perhatian lebih dari kakek. Pastikan kamu tahu batasan, jangan lupa diri!" Rayga melipat kedua tangan di dada, terlihat begitu angkuh dan tak berperasaan.
Mata Aurellia terasa menghangat, bulir bening jatuh berderai melewati pipinya.
Tanpa diingatkan Rayga, dia juga sadar diriatas posisinya di sana.
Aurellia bersikap ramah kepada tuan Dekha bukan untuk menarik perhatian Tuan Dekha ataupun menikmati kasih sayang yang ditunjukkan padanya.
Namun, Aurellia bersikap ramah karena menghargai Tuan Dekha yang memperlakukannya dengan baik.
"Aku sangat paham dan sangat sadar diri atas posisi saya di sini, Tuan. Saya masih menjaga komitmen yang saya buat dan saya pastikan tidak akan terlena oleh kasih sayang yang diberikan Tuan Dekha," jawab Aurellia.
***
Dua bulan waktu telah berlalu, kehamilan Aurellia sudah berusia sepuluh minggu.
Selama dua bulan terakhir Rayga jarang di rumah, bahkan hanya hitungan jari saja dia menemui Aurellia.
Akan tetapi, kebutuhan Aurellia semuanya tercukupi.
Mulai dari susu hamil, vitamin, buah dan sayuran selalu tersedia.
Kehamilan itu tidak membuat Aurellia repot, bahkan Aurellia sering bertanya-tanya apakah dia beneran hamil atau tidak.
Karena dia tidak merasakan ngidam apapun seperti banyak orang hamil keluhkan.
Hanya saja sekarang dia lebih doyan tidur.
Sebagian besar waktu kesehariannya dihabiskan untuk tidur.
"Hai, Sayang. Sehat selalu dalam perut Mommy ya. Kamu adalah anugerah dan cinta kasih Mommy. Tak sabar rasanya Mommy mau melihat wajahmu. Nanti saat waktunya Mommy check up dan USG, kamu tunjukkin wajahmu ya, Sayang." Aurellia mengusap perutnya penuh cinta, berharap yang terjadi
kedepannya yang baik-baik saja.
"Kamu jangan kecewa karena tumbuh di dalam rahim bunda tanpa banyak waktu bersama papimu, nanti saat kamu lahir waktu papimu akan menjadi milikmu, Sayang. Kamu akan hidup bersamanya berlimpah kasih sayang" Aurellia terus berceloteh, seolah janin di dalam perutnya benar-benar bisa
mendengar apa yang dia katakan.
Aurellia begitu menikmati momen menjadi seorang ibu hamil walau tanpa ditemani seorang suami, apalagi dia juga tidak diserang morning sickness, tentu membuat Aurellia merasa merdeka dengan kehamilannya.
Sementara itu di tempat lain, Rayga begitu tersiksa dengan perubahan hormon yang dia rasakan.
Semua pekerjaannya tidak bisa dia handle dengan baik.
Untung ada Xander dan beberapa orang kepercayaan lainnya yang bisa menggantikannya untuk mengurus beberapa bisnis yang dipimpin Rayga.
"Astaga, kutukan apa ini!" Teriak Rayga
di kamar apartemennya.
Rayga merasa tenaganya tak ada lagi, bahkan tulang belulangnya seolah tak lagi mampu menopang tubuhnya.
Kepala sakit juga pusing, mual, dan perutnya yang selalu tak nyaman.
Apalagi ketika dia memakan sesuatu, nantinya tidak akan bertahan lama di dalam perut Rayga.
Selalu mual dan muntah-muntah, sehingga dia benar-benar stres dengan kondisinya saat ini.
"Tuan, sebaiknya Anda ke rumah sakit supaya mendapat perawatan di sana," saran pelayan di apartemen Rayga.
"Keluar! Saya baik-baik saja," teriaknya.
Pelayan itu ketakutan, karena dia tahu kalau Rayga sudah marah tidak ada kata ampun baginya.
Lebih baik mencari aman dan meninggalkan Rayga seorang diri di dalam kamar itu.
Rayga memeluk bantal guling, membayangkan kalau itu adalah Aurellia.
Sebenarnya dia sangat merindukan Aurellia dan ingin tidur dalam pelukan wanita itu, tetapi karena keegoisannya, Rayga menahan segala Kerinduan itu.
Tangannya mengusap lembut guling yang dia peluk, seolah dia tengah mengusap perut Aurellia yang mengandung anaknya.
"Apa dia juga merasakan hal yang sama?" gumam Rayga penasaran.
"Kalau dia merasakan hal yang sama, kenapa dia tidak menghubungiku dan memintaku pulang untuk memeluknya." Rayga berbicara sendiri, terselip rasa kecewa karena Aurellia tidak menghubunginya dan tidak juga memintanya untuk kembali ke rumah.
Rayga uring-uringan dengan badan yang terasa lemas.
Bayangan wajah Aurellia terus menari di pelupuk matanya.
Bahkan saat Rayga tertidur bayangan Aurellia ikut masuk ke dalam mimpinya.
"Jika rindu jangan ditahan, Bos. Dia istrimu, bisa kamu lahap kapan saja."
Tiba-tiba saja Xander berbicara di dekatnya, entah sejak kapan Xander berada di sana Rayga pun tak tahu.
"Kalau kamu terus mempertahankan keegoisan, daripada di anggurin wanita secantik itu, biar aku saja yang menggantikan untuk memanjakannya. Akan aku puaskan istrimu sampai dia benar-benar menikmati surga dunia," kata Xander memanas-manasi Rayga.