Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi Aset
Sera seketika menge rem langkahnya yang telah di paksa, melepaskan tangannya dengan cepat, dia belum terlalu gila untuk menemani Grevan gulat diatas ranjang, dasar edan!
"Apa yang kamu lakukan ha!" teriak Sera dengan mata tajam yang siap menelan Grevan.
"Melakukan?, melakukan apa?, ini kamar tamu, kamu bisa bersihkan dirimu dulu, setelah itu ikut aku ke restoran, kita makan malam, memangnya kamu tidak lapar?"
"A Apa?!" tentu saja Sera terkejut sekalian heran, bagaimana mungkin justru kini otaknya yang begitu kotor, Tuhan!, Sera segera masuk begitu saja dan menutup pintu.
BRAK
"Astaga, apa-apaan wanita ini" Graven terkejut, lalu segera berbalik menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Sera kesal dan marah, bukan pada Graven tapi pada dirinya sendiri, bagaimana bisa memikirkan hal sekotor itu, benar-benar otaknya sudah gak waras.
"Memalukan Sera, memalukan!!" teriaknya di depan cermin yang ada di wastafel.
lalu Sera teringat akan sesuatu, benar sekali, dia belum mandi di jam sembilan malam ini, astaga!, lalu mencium baunya sendiri, untung tidak begitu memalukan, tubuhnya masih bau harum parfum mahal yang selalu di pakainya, lumayan bisa menyelamatkan harga dirinya.
Hanya membasuh muka, melihat wajahnya di depan kaca, dan penampilannya, benar-benar seperti wanita yang doyan tidur dengan piyama yang masih menempel di tubuhnya.
"Apa sebaiknya aku pulang saja?, ini berarti sudah selesai kan pekerjaannya?" Sera bicara sendiri di depan kaca.
Tak lama, terdengar Graven mengetuk pintu kamar dan memanggilnya.
"Cepatlah Sera!"
Hanya menghela nafas, melepaskan bajunya, masuk ke dalam dan membersihkan tubuhnya dengan shower, cukup singkat dan segera menyambar Bathrobe, tapi lumayan dengan wajah dan tubuh yang segar.
Keluar dari bathroom, terkejut saat Graven ada di sana dengan melipat tangannya.
"Tidak bisa mengartikan kata cepat?, lama sekali" ucap Graven lalu melemparkan sebuah gaun tepat di wajah Sera.
"Kau ini!"
"Pakai saja, aku rasa itu pas di tubuhmu, dan ini_"
Sret
Graven memberikan satu pasang dalaman berwarna hitam, di tenteng di tangannya dan kini tepat di depan mata Sera.
"Kau gila?!" Sera melotot seketika.
"Ini baru, dan aku kira cukup_"
Sera langsung menyilangkan tangan di dadanya, seolah melindungi asetnya dari jama-han tatapan mata Graven yang kini mengukur besar kecilnya.
"PAS!" Graven tersenyum
"Sinting!" sahut Sera lalu menyambar apa yang di berikan.
Sera kini memegang gaun sekalian dalaman hitam yang di berikan, lalu kemudian menatap heran Graven yang malah duduk di pinggiran kasur dengan tenang.
"Oh,.mau sekalian melihatku telan-jang!" ucap Sera.
"Ck, bukan, hanya ingin memastikan instingku masih tajam, apa yang aku berikan pas di tubuhmu"
"Okey, sekarang?, benar mau melihat langsung prosesnya?" ancam Sera.
"Emm, boleh"
Brug
Sera melempar bantal kecil yang ada di sofa tepat di wajah Graven, lalu teriak dengan kencang _
"KELUAR!"
Terkekeh, Graven lalu berjalan keluar dengan santai, melihat sekilas wanita yang sedang murka padanya, dan menutup pintu kamar dengan pelan sambil berkata.
"Aku lapar"
Sera melongo, pintu tertutup dan masih tertegun di tempatnya, kata-kata lapar yang di ucapkan Graven lebih mirip ajakan untuk memberikan tubuhnya untuk di makan.
"Dasar kanibal!" ucap Sera lirih setelah sadar, lalu segera merapikan dirinya.
Tak lupa sejenak melihat ponselnya, terhubung dengan cctv apartemen Alensky dan di sana Sera merasa lega, terlihat adik sepupunya yang baru keluar dari Rumah Sakit itu tertidur pulas di kamarnya.
Beralih ke aplikasi WhatsApp yang ada di ponselnya, Sara mengirimkan pesan ke Oma, tapi tunggu_
Sera segera mengecek panggilan masuk dari Oma, tapi tidak ada, pesan dari Oma juga tidak ada, aneh!
Biasanya jika jam sembilan malam Sera belum pulang, pasti akan ada pesan masuk dari sang Oma yang tiada henti menanyakan keberadaannya, tapi ini_?, SEPI
"Sudahlah" Sera tak ingin ambil pusing, sebelum Graven masuk lagi dan membuat pikirannya porak poranda, segera Sera memberikan sentuhan terakhir, merapikan rambut dan juga wajahnya.
"Lumayan" ucapnya saat melihat tampilan dirinya dengan gaun yang harganya_?
"My God, dia sudah gila!" Sera baru menyadari jika baju yang di pakainya dari brand ternama dengan harga selangit nya.
Berjalan keluar dan di sambut Graven yang sudah melihatnya dari ujung rambut sampai kakinya.
"Kondisikan mata, atau aku colok biar buta" ketus Sera.
Graven hanya tersenyum tipis, lalu menyusul langkah Sera yang berjalan cepat melewatinya.
Sebuah mobil warna merah marun terparkir, Sera terkejut melihatnya, mobil eksklusif hanya ada dua di dunia, dan Graven memiliki salah satunya.
"Seleramu bagus juga" ucap Sera.
"Hem, aku suka koleksi mobil mewah yang cukup langka" jawab Graven.
Membukakan pintu mobilnya, dan Sera masuk dengan mengucapkan terimakasih.
Graven bersiap, duduk di kursi kemudi dan melakukan sesuatu yang lagi-lagi membuat Sera hampir saja sesak nafas.
Tiba-tiba saja mencondongkan tubuhnya, wajahnya melewati wajah Sera dengan begitu dekat dan_
KLIK
Terdengar safety belt terkunci, Sera menyadari kebodohannya kenapa tadi tidak segera memakaikan sabuk pengamannya sendiri, hingga berikutnya, tejadi lagi dimana hidung mancung milik Graven menyentuh rahangnya.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Sera.
"Memasang kan sabuk pengamannya"
"Bukan itu"
"Sorry, hidungku menyentuh mu, tadi terlalu dekat"
"Kamu sengaja kan?" Sera menatap tajam Graven sekarang.
Menghela nafasnya, itu yang di lakukan Grevan saat melihat wanita di sebelahnya sepertinya bersiap marah dengan tuduhannya.
"Dengar, kalau aku sengaja melakukan hal itu, aku pastikan bukan hanya hidungku yang mendarat di sana, sesuatu yang basah dan langsung menyusup ke mulut mu, bukan rahang mu"
Glek
Tubuh Sera langsung menegang seketika, ujung kakinya terasa hangat perlahan, dan selanjutnya tubuhnya merasakan terbakar pelan-pelan.
"Jalan!" seru Sera segera memalingkan wajah dengan jantung dan pikiran yang tak aman, Semua itu gara-gara perkataan Graven, dasar Setan!, batinnya.
Sejenak hening, tak ada suara dari keduanya, hingga Graven akhirnya memulai perbincangan.
"Kerja kita hari ini selesai, dan terimakasih sudah memberikan waktu istirahat mu, soal hidungku yang dua kali menempel di wajah mu_"
"Cukup, kenapa sih bahas hal itu, gak ada yang lain memangnya?"
"Aku hanya mau minta maaf saja, kenapa sekarang malah terlihat wajahmu memerah?"
"Engak" sahut Sera cepat.
"Oh, aku tau, kamu_"
"Hentikan Graven!" Sera segera menatap horor, cukup mengerikan.
"Okey, sorry!" Graven lalu tersenyum tipis dan hal itu membuat Sera makin emosi.
Tak ingin berdebat lagi, Sera memalingkan wajahnya, kini menatap jendela, menetralkan pikirannya dengan melihat pemandangan di luar sana.
"Bagaimana masalah adik mu?" tanya Graven.
"Selesai, dia sudah pulang dari Rumah Sakit dan istirahat di apartemen"
"Dia Sakit?"
"Hem, karena habis tawuran di kampus"
"Begitu ya?, sepertinya wanita dari keluarga Nugraha memang cukup mengerikan"
"Lumayan" sahut Sera dengan bangga.
Graven hanya memberikan senyuman yang sekilas tertangkap mata Sera.
Yuk berikan komen biar Author tambah semangat dong nulisnya.
Bersambung.
ini akan menarik jika bersatu dg keturunan Nugraha
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭