NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saudara Seperguruan Nararya Candrawulan

"Hanya seorang lelaki tua berpakaian seperti seorang pertapa dengan dua pengikutnya. Mereka sangat hebat dalam pertarungan, tadi para prajurit patroli dibuat tak berkutik menghadapi mereka", lanjut Weleng yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya mengerutkan kening.

Hemmmmmmm...

"Sepertinya mereka bukan orang sembarangan. Antar aku ke tempat itu sekarang.. ", perintah Pangeran Mapanji Wijaya segera.

" Sendiko dawuh Gusti Pangeran.. ", Weleng menghormat sebelum ia bangkit dari tempat duduk nya.

Bersama dengan Weleng juga Nararya Candrawulan dan Rara Lembayung, Pangeran Mapanji Wijaya segera menuju tempat keributan.

Seorang lelaki sepuh berpakaian seperti pertapa dengan janggut putih panjang dan rambut di gelung berdiri bersama dua orang lelaki berpenampilan sama dengan orang tua ini. Sepertinya mereka berasal dari satu perguruan yang sama. Sementara Juru Mandhasiya bersama Warak juga beberapa orang prajurit sedang mengepung kelompok itu.

Kedatangan Pangeran Mapanji Wijaya sontak membuat kepungan Juru Mandhasiya dan yang lainnya tersibak. Juru Mandhasiya sendiri segera menghormat pada sang pangeran Medang.

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut disini? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya segera.

" Mohon ampun Gusti Pangeran..

Tiga orang ini memaksa untuk lewat di Wanua Tuntang. Para prajurit sudah baik-baik meminta mereka memutar balik karena situasi kampung ini. Tapi mereka bertiga ngeyel tak mau dengar. Kami terpaksa menggunakan cara kekerasan untuk menghentikan mereka ", lapor Juru Mandhasiya.

Nararya Candrawulan menyipitkan matanya melihat tiga orang itu. Dia buru-buru menundukkan kepalanya karena kenal dengan tiga orang ini. Tetapi salah seorang dari mereka melihat Nararya Candrawulan segera memanggilnya.

" Wulan, kaukah itu? "

Pertanyaan itu sontak membuat perhatian Pangeran Mapanji Wijaya beralih ke arah Nararya Candrawulan.

'Aduh sial. Kenapa sih Kakang Pandu malah mengenali ku meski sudah dengan pakai penyamaran begini? Apa yang mesti aku lakukan? Aku tak mau penyamaran ku terbongkar saat ini', batin Nararya Candrawulan sembari memutar otak.

"Kau kenal dengan mereka? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Nararya Candrawulan mengangkat kepalanya yang menunduk.

" Ah hehe iya, mereka itu saudara seperguruan ku Gusti Pangeran..

Hehehehe, Kakang Pandu Kakang Rukmaka Guru Resi Mpu Lodra kalian datang kesini ada apa ya? "

Nararya Candrawulan segera mendekati kelompok tiga orang berpakaian seperti pertapa itu. Sambutan hangat pun diberikan pada Nararya Candrawulan.

"Tentu saja untuk menjemput Gus... Aduuuuh kaki ku... ", Pandu yang hendak nyerocos, langsung mengaduh kesakitan saat kaki nya diinjak oleh sang putri Kalingga.

" Jangan panggil nama ku sembarangan. Disini itu hanya ada Wulan, tidak ada Gusti Putri ", bisik Nararya Candrawulan sembari bolak-balik menoleh ke arah Pangeran Mapanji Wijaya sambil memaksakan senyumnya.

" Oh begitu rupanya..

Jadi Gus eh Wulan disini sedang apa? Keluarga mu mencemaskan keberadaan mu yang menghilang setelah menerima kabar perjodohan. Ayah mu meminta kami mencari mu", ucap Rukmaka yang hampir keceplosan ngomong.

"Aku mencari tahu siapa sebenarnya orang yang dijodohkan dengan ku. Ternyata dia tak sama dengan yang selama ini dibicarakan orang", jawab Nararya Candrawulan sambil tersenyum bahagia.

" Maksud mu si pangeran pecundang itu? Apa yang hebat dari hidung belang seperti dia? ", sahut Pandu sedikit meremehkan.

" Buktinya kalian sudah melihat nya bukan? ", Nararya Candrawulan melebarkan tangannya ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.

"HAAAAAHHHHHH?!! DIAAAAAA??!! "

Kompak Pandu dan Rukmaka mengalihkan perhatian ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang masih berdiri di samping Juru Mandhasiya. Sementara itu Resi Mpu Lodra segera menggunakan indra keenamnya untuk mengetahui kekuatan asli Pangeran Mapanji Wijaya. Matanya langsung terbelalak melihat tingkat tenaga dalam maupun kekuatan batin bangsawan muda itu.

'Pangeran muda ini rupanya sudah mencapai tingkat tujuh puncak tenaga dalam nya, hampir ke tingkat delapan. Masih semuda ini tapi tenaga dalam nya sungguh-sungguh mengerikan. Pantas saja Putri Nararya Candrawulan menyukainya', batin Resi Mpu Lodra seraya mengelus jenggot.

'Huhhhhh hanya seorang pangeran pecundang saja, apa hebatnya? Aku harus mendapatkan perhatian dari Nararya Candrawulan jika ingin menjadi menantu Adipati Mpu Sada dari Kalingga. Bersaing dengan pangeran pecundang ini, aku tidak akan kalah! '

Setelah membatin demikian, Pandu segera melesat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya sambil menghantamkan tapak tangan kanannya. Tak tanggung-tanggung, ia mengerahkan separuh tenaga dalam nya pada Ajian Segara Bayu yang menjadi andalan Padepokan Paranggaruda tempatnya belajar ilmu beladiri.

Kejadian ini berlangsung cepat hingga Resi Mpu Lodra tak sempat menghentikannya.

Whhuuuuuuuugggggg!!!

Pangeran Mapanji Wijaya yang melihat serangan Pandu, mendengus keras sambil memapak serangan tapak tangan Pandu yang berselimut cahaya hijau kebiruan. Dan..

BLLAAAAAAMMMMMM...!!!!!

Tubuh Pandu mencelat ke belakang tapi ia dengan cerdik memutar tubuhnya dan mendarat dengan satu kaki di tanah. Seteguk darah muncrat keluar dari mulut nya. Resi Mpu Lodra yang melihat muridnya cedera, tak bisa berdiam diri begitu saja.

"Cukup Pandu!!

Jangan gegabah! Kau tidak mungkin menang melawannya.. ", peringat Resi Mpu Lodra tetapi Pandu yang kadung termakan nafsu, hanya mendengus keras.

" Tadi aku hanya menggunakan separuh tenaga dalam ku. Aku tidak percaya dia bisa mengalahkan ku jika aku menggunakan tenaga penuh!! "

Usai berteriak demikian, Pandu kembali melesat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya sambil merapal mantra Ajian Segara Bayu nya. Gumpalan cahaya hijau kebiruan berselimut angin kencang melingkupi seluruh tapak tangan Pandu.

Whhuuuuuuuugggggg...

Pangeran Mapanji Wijaya masih terlihat tenang kala serangan maut Pandu datang. Dia hanya tersenyum tipis saat memapak serangan Pandu sambil merencanakan untuk memberi pelajaran pada pemuda ceroboh ini.

BLLAAAAAAMMMMMM..!!!

AAAAUUUUUUGGGGHHHHH!

Tubuh Pandu kembali mencelat ke belakang. Melihat itu Pangeran Mapanji Wijaya menggunakan Ajian Sepi Angin nya, melesat cepat ke arah murid Padepokan Paranggaruda itu sambil menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah dada musuhnya.

Dhhiiiieeeeesssssshhhhh!!

Tambahan serangan ini membuat Pandu tak bisa mengontrol pergerakan nya hingga tubuh nya meluncur cepat ke arah rimbun pohon bambu apus yang baru ditebang sebagian. Dia tak mungkin selamat jika menabrak pohon bambu yang runcing.

Saat genting ini, Resi Mpu Lodra yang tak mau kehilangan murid bergerak cepat dan menahan pergerakan tubuh Pandu yang sudah cedera lumayan parah.

Hooooooeeeeegggggg!!!

Untuk kali kedua Pandu memuntahkan darah kehitam-hitaman. Resi Mpu Lodra dengan cepat menotok beberapa jalan darah Pandu yang mengakibatkan pemuda itu kembali muntah darah sebanyak dua kali. Tetapi wajah Pandu yang semula pucat berangsur-angsur memerah karena luka dalamnya sudah ditangani.

Resi Mpu Lodra yang menyadari bahwa Pangeran Mapanji Wijaya tidak bermaksud untuk membunuh muridnya segera menghormat.

"Terimakasih sudah memberikan kesempatan kedua kepada murid hamba , Gusti Pangeran.. ", ucap Resi Mpu Lodra dengan tulus.

Hemmmmmmm..

" Kalau tidak mempertimbangkan Wulan sudah beberapa kali membantu ku, aku sama sekali tidak keberatan untuk membunuh nya Resi..

Didik baik-baik murid mu agar kelak tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu.. ", usai berkata demikian, Pangeran Mapanji Wijaya segera membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat itu diikuti oleh Rara Lembayung. Juru Mandhasiya dan Warak pun juga segera mengikutinya disusul para prajurit patroli.

Uhhuukkkk uhhuuukkkk...!

"Guru kenapa begitu hormat pada pangeran pecundang itu?

Bukankah memberinya pelajaran pada nya semudah membalikkan telapak tangan bagi Guru? ", protes Pandu sambil meremas dadanya yang sakit seperti baru ketiban batu besar.

" Pelajaran kepala mu itu hah?!!

Dasar murid goblok, kau ini benar-benar tidak bisa baca situasi. Dia itu tenaga dalam nya sudah tingkat tujuh puncak, sebentar lagi pasti ke tingkat delapan. Aku sendiri baru masuk tahap delapan, itupun belum sepenuhnya. Aku saja tidak yakin bisa menang jika harus bertarung melawan nya. Andai saja ia mau membunuh mu tadi, aku tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mu", omel Resi Mpu Lodra panjang lebar yang membuat Pandu, Rukmaka dan Nararya Candrawulan terkejut.

"Setinggi itu Guru? ", tanya Nararya Candrawulan dengan nada antara percaya dan tidak.

" Iya Gusti Putri...

Ku lihat dia masih menyimpan sebagian besar tenaga dalam nya. Andai tadi dia menggunakannya, Pandu pasti sudah bertemu dengan Hyang Yama di neraka sana. Pangeran muda ini sungguh-sungguh menarik ", puji Resi Mpu Lodra sungguh-sungguh.

" Oh iya Gusti Putri aku sampai lupa..

Aku tadi mau bertanya, kenapa kau dan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya berasa di tempat ini? ", Resi Mpu Lodra, Rukmaka dan Pandu menatap ke arah Nararya Candrawulan.

" Kami sedang menghadapi ancaman dari Serikat Bulan Darah, Guru..

Beberapa waktu lalu, kami berhasil memusnahkan utusan dari Serikat Bulan Darah. Gusti Pangeran percaya, mereka akan datang lagi jadi membangun pertahanan dengan melibatkan masyarakat Wanua Tuntang ini", jawab Nararya Candrawulan jujur.

"Serikat Bulan Darah ya...

Sudah lama bajingan Bayuseta itu menebar ketakutan di sekitar kawasan kaki Gunung Karungrungan. Aku benar-benar membenci nya", Resi Mpu Lodra segera menoleh ke arah Nararya Candrawulan sembari berkata,

" Gusti Putri, carikan aku cara untuk bergabung dengan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya.

Aku mau ikut membasmi mereka.. "

1
Idrus Salam
Wah-wah... Siapa/ Kelompok mana kali ini yang datang...

semakin dibuat penasaran saja...
Idrus Salam: Siap
segera up tentunya 😄
total 2 replies
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
Ha ha ha... kasihan udah kabur jauh² malah diambang kesadaran, lawan dikira kawan, habis sudah nasibnya 😁
Ebez: hehehe ya begitulah akhir hayat orang jahat bang Joe 😁😁🙏🙏
total 1 replies
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Ebez: terimakasih atas dukungan nya Bang Mujib🙏🙏😁😁
total 1 replies
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!