NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Waktu terus berjalan, istirahat siang pun usai. Suasana panas dan gairah yang membara di dalam kamar mandi tadi seakan lenyap ditelan waktu, berganti kembali dengan suasana profesional yang dingin dan serius.

Juniarta dan Putri keluar dari area kamar mandi dengan penampilan yang sudah rapi sempurna. Kemeja mereka terlihat segar dan licin, tidak ada satu pun kerutan yang terlihat. Rambut disisir rapi, dasi terikat pas di leher. Tidak ada orang yang akan menyangka bahwa beberapa menit yang lalu mereka baru saja melakukan pesta cinta yang sangat panas dan liar, hingga suara desahan Putri terdengar memekakkan telinga.

Wajah Putri memang masih terlihat sedikit merona dan bercahaya, langkah kakinya pun terasa sedikit lebih lemas dan ngesot dibandingkan biasanya, efek dari kehilangan kesucian dan penetrasi keras Juniarta tadi. Namun, dia berusaha sekuat tenaga untuk tampil tegas dan profesional, sama seperti hari-hari biasanya.

Mereka berjalan masuk ke ruangan kerja utama. Di sana, Sulthan Aditama sudah duduk tegap di kursi kebesarannya. Wajahnya kembali dingin, tatapannya tajam, dan auranya memancarkan wibawa seorang pemimpin besar. Tidak ada senyum usil, tidak ada canda tawa. Dia benar-benar siap bekerja.

"Silakan duduk. Kita mulai rapatnya sekarang," ucap Sulthan singkat dan padat, suaranya berat dan tegas.

"Siap Bos," jawab Juniarta dan Putri serentak, lalu duduk di sofa tamu yang berada tepat di hadapan meja kerja sang CEO dengan posisi tegap dan siap mendengar.

"Rapat sore ini khusus kita bahas Tindak Lanjut Hasil Kunjungan Kerja ke Lokasi Proyek Mojokerto," buka Sulthan langsung ke inti pembicaraan. Dia menatap kedua bawahannya itu bergantian. "Juniarta, laporan kondisi lapangan secara umum gimana menurut penilaianmu?"

Juniarta yang tadi masih terbayang kenikmatan tubuh Putri, kini otaknya langsung beralih mode 100% kerja. Dia merapikan duduknya, lalu mulai melapor dengan jelas.

"Siap Bos. Secara garis besar, kondisi lokasi sangat memuaskan dan sesuai dengan data yang kita terima. Luas tanah sangat ideal, posisi sangat strategis tepat di pinggir jalan raya utama yang padat lalu lintas, jadi potensi foot traffic dan visibilitas toko emas nanti sangat bagus," jelas Juniarta rinci.

"Tapi ada beberapa catatan penting yang harus kita perbaiki dan perhatikan," tambah Juniarta.

"Sebutkan," perintah Sulthan.

"Pertama, soal struktur tanah. Di bagian belakang area lahan, tanahnya terlihat agak lunak dan berawa-rawa. Jadi untuk keamanan jangka panjang, kita harus memaksimalkan penekanan tiang pancang lebih dalam dari rencana awal. Tidak boleh ada resiko amblas atau miring sedikitpun nantinya."

"Kedua, akses jalan masuk ke dalam lokasi saat ini masih tanah merah. Harus segera diperkeras dan dicor agar truk-truk besar pengangkut material bisa masuk dengan lancar tanpa terjebak macet atau becek saat musim hujan."

Sulthan mendengarkan dengan seksama, tangannya saling bertaut di atas meja, wajahnya tampak berpikir mendalam.

"Oke, poin itu diterima. Itu hal teknis yang harus segera dieksekusi. Putri, soal anggaran dan jadwal?" Sulthan beralih menanya sekretarisnya.

Putri segera membuka buku catatan besarnya yang tebal, matanya membaca catatan-catatan kecil yang dibuatnya tadi pagi. Suaranya terdengar jelas dan lantang, meski tenggorokannya masih terasa sedikit gatal dan kering akibat banyak mendesah tadi.

"Siap Pak. Berdasarkan kesepakatan dengan Pak Bambang dan tim kontraktor tadi," mulai Putri.

"Untuk target waktu penyelesaian tahap pondasi dan struktur utama, mereka berjanji akan selesai maksimal dalam waktu dua bulan ke depan. Mereka akan menambah jumlah pekerja dan jam lembur agar target terpenuhi."

"Lalu untuk anggarannya, Pak... Karena ada penambahan kedalaman pondasi dan perbaikan akses jalan seperti yang Mas Juniarta sebutkan tadi, estimasi biayanya akan mengalami penambahan sekitar 5% hingga 7% dari total anggaran awal yang sudah disepakati," lapor Putri jujur dan transparan.

Ruangan hening sejenak. Sulthan menatap layar komputernya, menghitung cepat dalam pikirannya.

"5 sampai 7 persen..." gumam Sulthan. "Menurut kalian, nominal itu sebanding dengan kualitas yang didapat?"

"Mutlak sebanding, Bos," jawab Juniarta cepat meyakinkan. "Daripada hemat dikit tapi kualitas jelek dan bahaya di kemudian hari, lebih baik kita keluarkan dana ekstra sedikit demi keamanan dan kekokohan bangunan."

Sulthan tersenyum tipis, lalu mengangguk mantap.

"Oke, saya setuju. Uang bisa dicari lagi, tapi reputasi dan keamanan tidak bisa ditawar. Silakan proses anggaran tambahannya. Asalkan bukti pembayaran dan nota belanjanya rapi, tidak ada masalah," putus Sulthan tegas.

"Siap Pak, terima kasih," jawab Putri lega lalu mencatat keputusan itu.

Rapat pun berlanjut cukup lama. Mereka membahas detail demi detail. Mulai dari sistem keamanan safe box dan brankas yang harus standar bank internasional, desain interior showroom yang harus mewah dan elegan, hingga strategi promosi grand opening nanti.

Sulthan memimpin diskusi itu dengan sangat cerdas dan visioner. Dia memberikan arahan-arahan penting yang langsung dicatat rapi oleh Putri. Juniarta pun aktif memberikan masukan-masukan praktis di lapangan.

Suasana di ruangan itu kembali formal dan penuh tekanan kerja. Kenangan panas di kamar mandi tadi seolah hanya mimpi belaka. Kini yang ada hanyalah tim kerja solid yang sedang membangun kerajaan bisnis mereka lebih besar lagi.

Rapat panjang dan melelahkan itu akhirnya selesai sudah. Segala keputusan penting sudah ditetapkan, arahan sudah diberikan, dan jadwal kerja sudah tersusun rapi.

"Oke, sepertinya cukup sampai di sini. Kalian bisa lanjutkan tugas masing-masing. Saya izin pulang duluan," ucap Sulthan sambil berdiri dan merapikan berkas di mejanya.

"Siap Bos. Selamat sore," jawab Juniarta dan Putri serentak.

Sulthan pun berjalan keluar ruangan menuju lift, meninggalkan kedua bawahannya itu sendirian.

Begitu pintu ruangan tertutup dan memastikan Bosnya sudah pergi, suasana profesional tadi langsung luluh seketika. Wajah Putri yang tadi tegas dan anggun, kini berubah menjadi masam mencuka dan sedikit meringis kesakitan.

Tanpa banyak bicara, Putri langsung menarik lengan kemeja Juniarta dengan kasar namun manja, menyeretnya masuk ke ruangan kecil miliknya sendiri yang ada di sudut lantai itu. Pintu ditutup rapat dan dikunci.

"Aduh... Mas Jun!! Sini kamu!" seru Putri sambil mendorong tubuh Juniarta duduk di sofa tamu kecilnya.

"Kenapa sayang? Kenapa mukanya cemberut gitu?" tanya Juniarta sambil tersenyum menggoda, dia tahu persis apa yang dirasakan wanita itu.

"Apanya yang enak?! Sakit tauuu!!" rengek Putri panjang lebar, tangannya secara reflek mengusap-usap area selangkangannya yang terasa perih dan panas. "Vagina aku ini sakit banget Mas! Perih, panas, rasanya ngilu banget jalan!"

Putri mendongak menatap Juniarta dengan tatapan memelas campur kesal.

"Kan aku udah bilang dari awal... aku masih perawan, masih suci! Eh kamu malah semangat banget tadi, kenceng-kenceng, dalem-dalem! Badanmu gede, burungmu juga besar banget Mas! Rasanya kayak disobek-sobek tadi!" keluh Putri panjang lebar, matanya bahkan berkaca-kaca menahan rasa tidak nyaman itu. "Selangkangan aku juga rasanya pegal dan lemes semua."

Mendengar rengekan manja itu, hati Juniarta langsung terenyuh dan merasa bersalah. Dia pun menarik tangan Putri, lalu memeluk tubuh mungil itu erat-erat ke dalam pelukannya.

"Sstt... maaf sayangku... maafkan Mas ya," bisik Juniarta lembut di telinga wanita itu, tangannya mengelus punggung dan rambut Putri dengan penuh kasih sayang. "Tadi kan Mas lagi nafsu banget, terus pas tahu kamu perawan malah bikin aku makin kegirangan jadi agak nggak bisa nahan diri. Maafin ya sayang."

Dia mengecup kening Putri berkali-kali.

"Tapi tenang saja... rasa sakit itu wajar kok sayang. Kan baru pertama kali 'dibajak', pasti ada lecet dan perih dikit. Nanti besok atau lusa juga biasa lagi kok," bujuk Juniarta menenangkan.

Putri membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, masih sedikit terisak manja. "Terus kalau sakit begini gimana aku kerja besok? Malu ah dilihat orang lain jalannya ngesot."

"Ya sudah, nanti aku izinin kamu setengah hari atau kerja dari rumah dulu gak apa-apa," jawab Juniarta bijak.

Lalu dia memegang kedua pipi Putri, menatap mata wanita itu dalam-dalam dengan tatapan sangat serius dan tulus.

"Putri... dengerin aku ya," suara Juniarta terdengar berat dan tegas. "Aku tahu ini kejadiannya cepat dan mungkin diluar dugaan kita berdua. Tapi aku janji sama kamu... aku nggak akan main-main sama kamu."

"Aku tanggung jawab penuh. Kamu sekarang sudah jadi milikku, wanitaku, dan pacarku resmi. Apa pun yang terjadi, aku akan jagain kamu, aku nafkahin kamu, dan aku pastikan kamu bahagia. Jadi jangan takut ya," janji Juniarta dengan sungguh-sungguh.

Mendengar janji mulia itu, beban di hati Putri seakan hilang. Rasa sakit di tubuhnya pun terasa berkurang setengahnya. Dia pun memeluk Juniarta semakin erat, merasa aman dan terlindungi.

"Makasih ya Mas... aku sayang banget sama kamu," bisik Putri lirih.

"Sama sama sayangku..."

Sementara itu, di lantai dasar gedung perkantoran.

Sulthan sudah berdiri di depan mobilnya. Pak Didik sudah siap dengan seragam rapinya.

"Mobil sudah siap semua Pak?" tanya Sulthan santai.

"Sudah siap sempurna, Tuan. Silakan masuk," jawab Pak Didik sigap membukakan pintu.

Sulthan pun masuk ke dalam kabin mobil yang dingin dan nyaman. Hari yang panjang dan penuh kejutan ini akhirnya usai. Ada urusan bisnis yang berjalan lancar, ada pemandangan yang menghibur, dan suasana hati yang terasa sangat baik.

"Pak Didik, ayo kita pulang," perintah Sulthan santai sambil menyandarkan kepala dan memejamkan mata, siap beristirahat setelah seharian penuh aktivitas.

"Siap Tuan..."

Mobil pun melaju meninggalkan area parkir, membawa sang CEO kembali ke istananya untuk istirahat malam yang tenang.

•••

Di dalam ruangan kecil yang nyaman itu, suasana terasa sangat hangat dan intim. Putri masih membenamkan wajahnya di dada bidang Juniarta, sesekali mendesah menahan rasa perih yang masih terasa di area selangkangannya.

Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin tenangnya pikirannya, Putri mulai menyadari sesuatu. Rasa kesal dan marah tadi perlahan berubah menjadi rasa malu dan sadar diri.

Dia mengangkat wajahnya, menatap mata Juniarta dengan tatapan yang bercampur rasa bersalah.

"Mas..." panggilnya.

"Iya sayang? Kenapa lagi?" tanya Juniarta lembut sambil mengusap rambut wanita itu.

"Sebenernya... aku juga mikir-mikir sendiri nih Mas," jawab Putri, jarinya memainkan kancing kemeja Juniarta dengan gugup. "Rasa sakit ini kan... emang harus terjadi ya. Dan sebenernya ini juga salahku sendiri juga."

Juniarta mengerutkan kening bingung. "Maksud kamu apa sayang? Kok salah kamu?"

Putri menghela napas panjang, lalu menceritakan apa yang ada di pikirannya dengan jujur.

"Gini lho Mas... Kan tadi Mas Jun lagi mandi sendirian, kan itu hak Mas. Terus aku yang tiba-tiba nekat masuk ke sana. Padahal aku tahu kondisi Mas Jun lagi telanjang bulat dan lagi panas-panasnya," akui Putri jujur, wajahnya memerah padam.

"Aku yang ngajak masuk, aku yang nggak pakai baju, aku yang kasih kode. Jadi wajar dong kalau akhirnya Mas Jun jadi kepalang nafsu dan langsung gaspol begitu," tambah Putri sambil tertawa kecil melihat ekspresi Juniarta. "Terus kan aku juga yang mau, aku yang nggak nolak kuat-kuat. Jadi ya... akibatnya ya begini, sakit dan perih karena jalur sempit dipaksa masuk benda besar."

Juniarta pun tertawa renyah mendengar pengakuan lugu namun jujur itu. Dia pun mencubit gemas pipi Putri.

"Hahaha... dasar kamu ini ya. Suka ngaku-ngaku tapi manis. Iya sih sebenernya bener juga omonganmu," jawab Juniarta sambil tersenyum lebar. "Aku kan laki-laki normal sayang, liat cewek secantik dan seksi kamu masuk-masuk gitu tanpa busana, mana tahan coba? Otomatis mesin langsung nyala dan nggak bisa rem lagi."

"Terus kan kamu juga enak kan tadi? Desahannya juga minta ampun tuh," goda Juniarta nakal.

"Ih apaan sih Mas!!" seru Putri sambil memukul bahu Juniarta, wajahnya makin merah. "Iya sih enak... tapi kan tetep sakit efeknya sekarang. Tapi ya sudahlah... namanya juga pengalaman pertama. Udah takdir mungkin kesucianku diambil Mas Jun di tempat kerja begini."

"Yaudah sekarang kan kita jadi makin dekat sayang. Sekarang kamu resmi pacarku, dan aku akan jaga kamu baik-baik," janji Juniarta lagi sambil mengecup lembut bibir wanita itu.

Putri pun tersenyum manis, rasa sakit di tubuhnya seakan terobati oleh perhatian dan kasih sayang pria itu. Dia sadar sepenuhnya bahwa semua ini terjadi karena kebebasan dan keberaniannya sendiri, dan dia sama sekali tidak menyesal memilih Juniarta sebagai pria pertama dalam hidupnya.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
Cimut (Kelinci Imut): Soalnya harus ada proses pendekatan dulu dong, gak tiba-tiba langsung pacaran, nanti kesannya alurnya maksa..
••
Apalagi Nurlia dan Sulthan awalnya orang asing yang belum kenal dekat.🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!