Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Gravitasi Bumi
Hiruk-pikuk Stasiun Pasar Senen terasa seperti tamparan realita yang membangunkan Luna dari mimpi panjang yang mematikan. Asap knalpot MetroMini, teriakan pedagang asongan, dan hawa panas Jakarta yang membakar kulit menyambutnya kembali. Tidak ada lagi kabut pekat bermata merah atau hawa dingin dari kutukan kuno. Yang ada hanyalah kerasnya kehidupan ibu kota yang tidak pernah peduli pada luka siapa pun.
Luna melangkah keluar dari stasiun dengan ransel usang yang dipeluk erat di dadanya. Di dalam tas itu, bersembunyi rahasia kelam yang bisa menjebloskan seorang miliuner ke penjara, atau sebaliknya, membunuh Luna jika ia salah langkah.
Perjalanan kembali ke kamar kos nomor 04 terasa surealis. Saat Luna membuka gembok pagarnya yang berkarat, ia menyadari satu hal yang hilang: perasaan diawasi. Selama lima belas tahun, setiap kali ia membuka pintu kamarnya, ia selalu bersiap menyapa sisa-sisa entitas yang menempel di sudut langit-langit. Namun sore ini, kamarnya kosong. Bersih. Garam krosok yang menghitam di lantai telah tersapu angin dari celah bawah pintu, menyisakan debu biasa.
Hawa kamarnya terasa normal. Terlalu normal hingga membuat dada Luna terasa berongga. Ia merindukan pendar biru citrus yang menerangi sudut gelap ruangan ini. Ia merindukan ocehan sarkas yang mengkritik letak barang-barangnya.
"Kau benar-benar sudah pergi, Nando," gumam Luna pelan, meletakkan ranselnya di atas kasur busa.
Ia mandi dengan air dingin, membersihkan sisa-sisa lumpur Alas Roban dan darah kering dari luka goresan di lengannya. Luka cakar sang Perewangan itu kini telah menutup berkat ramuan Tarjo, meninggalkan bekas luka panjang berwarna merah muda yang akan menjadi pengingat abadi akan pertarungan mematikannya.
Setelah berganti pakaian dengan seragam minimarketnya, Luna menyembunyikan map kulit hitam berisi dokumen Bara di dalam laci paling bawah lemari plastiknya, menumpuknya dengan baju-baju bekas. Keris Pangruwat ia balut dengan kaus tebal dan ia simpan di dalam sarung bantalnya. Barang-barang itu adalah nyawanya sekarang.
Sore itu, Luna melangkah masuk ke minimarket dengan jantung yang berdebar. Bunyi bel pintu otomatis terdengar seperti terompet penyambutan.
"LUNA!"
Sebuah jeritan melengking membuat beberapa pelanggan menoleh. Kala berlari dari balik meja kasir dan langsung menerjang Luna dengan pelukan erat yang nyaris mencekik.
"Astaga, Kala! Napasku sesak!" protes Luna, meski ia membalas pelukan sahabatnya itu dengan senyum lega di balik maskernya.
Kala melepaskan pelukannya, menatap Luna dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata menyipit curiga. "Kamu bilang nenekmu sakit? Terus kenapa kamu yang kelihatan kayak habis digulung ombak laut selatan? Matamu panda banget, dan lenganmu itu kenapa diperban?!" Kala menunjuk lengan Luna yang terbalut kain kasa di balik seragam polonya.
"Jatuh dari motor ojek waktu di kampung," dusta Luna lancar, sebuah kebohongan yang sudah ia persiapkan sejak di kereta. "Jalannya licin. Nenekku sudah agak baikan, jadi aku langsung pulang karena takut potong gaji."
Kala menghela napas panjang, mengusap dadanya. "Bikin jantungan aja kamu ini. Aku kira kamu diculik setan penunggu gang. Syukurlah kamu nggak apa-apa. Eh, tapi kamu udah lihat berita belum? CEO NaturaGlow yang ganteng itu, Nando Pratama, beneran sadar dari koma! Mukjizat banget, padahal kata dokter otaknya udah rusak gara-gara kecelakaan!"
Mendengar nama Nando disebut oleh orang lain di dunia nyata membuat perut Luna melilit gugup. Ia mengangguk pelan, berjalan menuju rak minuman untuk memulai pekerjaannya yang tertunda. "Iya, aku baca beritanya di jalan tadi."
"Gila ya, orang kaya mah emang beda. Nyawanya kayak punya cadangan," cerocos Kala sambil mengikuti Luna. "Tapi kasihan juga, pasti dia syok banget bangun-bangun perusahaannya udah dipegang orang lain. Untung yang pegang sahabatnya sendiri, si Pak Bara itu."
Tangan Luna yang sedang menyusun botol teh manis berhenti di udara. Urat-urat di punggung tangannya menegang. Sahabat yang baik? Bara adalah iblis berwujud manusia.
"Kal," panggil Luna dengan nada serius yang tidak biasa, membuat Kala terdiam. Luna menoleh, menatap mata sahabatnya lekat-lekat. "Jangan pernah percaya pada apa yang terlihat di berita. Kadang, monster yang sebenarnya justru pakai jas mahal dan tersenyum di depan kamera."
Kala mengerjap bingung, tidak memahami maksud tersembunyi dari kalimat Luna. "Kamu ini ngomongin drakor atau apa sih, Lun? Udah sana kerja, mumpung Bos lagi nggak ada."
Sisa sif malam itu dihabiskan Luna dengan pikiran yang melayang jauh. Tangannya menyusun barang, tetapi otaknya menyusun rencana. Ia tidak bisa membawa map hitam itu ke kantor polisi sekarang. Bara memiliki uang dan kekuasaan untuk memanipulasi aparat, menuduh Luna mencuri dokumen tersebut, dan pada akhirnya bukti itu akan dilenyapkan.
Satu-satunya orang yang memiliki kuasa untuk melawan Bara secara legal dan finansial adalah Nando. Tapi pertanyaannya kembali menghantui Luna: Apakah Nando mengingatnya?
Jika roh Nando menganggap perjalanan mereka hanyalah mimpi saat koma, maka Luna akan terlihat seperti orang gila jika tiba-tiba muncul dan menyerahkan bukti tersebut. Nando mungkin akan mengusirnya, atau lebih buruk, melaporkannya ke keamanan rumah sakit. Namun, jika Nando mengingatnya... mereka memiliki kesempatan untuk menghancurkan Bara sampai ke akar-akarnya.
Pukul sepuluh malam, setelah minimarket tutup, Luna membuat keputusan nekat. Ia tidak akan pulang ke kosan. Ia berjalan menuju halte TransJakarta. Tujuannya hanya satu: Rumah Sakit Medika Utama. Ia harus melihatnya sendiri. Ia harus tahu.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
lanjut thor. 😃😃
Untung keberuntungan memihak pdmu mlm ini.
Blum juga smpai, udah abis aja.
Nando mngingat mu ko Luna tenang aja. 🥰😍
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞