NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Singa Cermin dan Harmoni Dua Predator

​Pusat dari sebuah badai selalu menjadi tempat yang paling sunyi, seolah alam menahan napasnya sebelum melepaskan kehancuran yang sesungguhnya.

​Di Jantung Cermin, kabut kelabu telah sepenuhnya memudar, digantikan oleh uap berwarna merah darah yang melayang tebal di atas tanah. Pepohonan obsidian raksasa di area ini tidak lagi berdiri tegak; mereka tumbang, patah, dan hancur menjadi serpihan kaca hitam yang berserakan layaknya sisa-sisa medan perang purba.

​Shen Yuan dan Ye Chuan tiba di tepi kawah raksasa tersebut tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Dua pemuda itu bersembunyi di balik bongkahan batu cermin, menahan fluktuasi Qi mereka hingga ke titik nadir.

​Di tengah kawah, pemandangan yang tersaji cukup untuk membuat murid Lapisan Kedelapan manapun kehilangan akal sehatnya.

​Sebuah pilar cahaya merah memancar dari dalam tanah yang retak—sebuah segel kuno milik sekte yang kini telah hancur berkeping-keping. Dan berbaring santai di atas puing-puing segel itu, adalah sesosok monster yang ukurannya menyamai sebuah paviliun kecil.

​Itu adalah Singa Cermin Kegelapan.

​Tubuhnya tidak ditutupi oleh bulu, melainkan oleh pelat-pelat zirah alami yang menyerupai kaca obsidian yang tajam. Surainya terdiri dari duri-duri kristal hitam yang memancarkan energi Yin pekat. Setiap kali makhluk itu bernapas, tanah di sekitarnya membeku, lalu mencair kembali menjadi lumpur darah. Di bawah cakar depannya yang raksasa, terdapat sisa-sisa jubah elit sekte yang telah tercabik-cabik.

​"Setengah Langkah Pembentukan Inti," bisik Ye Chuan pelan, matanya yang sedingin es menyipit tajam, mengevaluasi setiap jengkal anatomi monster itu. "Zirahnya memantulkan Qi. Serangan jarak jauh hanya akan dipantulkan kembali kepada kita. Dagingnya setebal baja, dan racun Yin di napasnya bisa membekukan darah kita dalam tiga tarikan napas."

​Shen Yuan menatap monster itu dengan perhitungan yang sama dinginnya. Logikanya berputar cepat, membedah probabilitas kelangsungan hidup mereka.

​"Zirah yang bisa memantulkan Qi berarti pedangmu tidak akan bisa memotongnya dari luar jika kau hanya mengandalkan ayunan biasa," Shen Yuan menoleh ke arah Ye Chuan. "Kecuali pedangmu bisa menebas konsep ruang itu sendiri, kau butuh sebuah retakan untuk memasukkan niat pedangmu."

​Ye Chuan tidak membantah. Fakta adalah fakta. "Aku butuh satu titik hancur selebar telapak tangan di pelat dadanya. Jika zirah cermin itu retak, aku bisa menembus jantungnya dengan satu tebasan."

​"Satu titik hancur..." Shen Yuan mengangguk pelan. Ia mengangkat lengan kanannya, mengepalkannya hingga otot-otot di bawah kulitnya berkedut halus. "Aku bisa memberikannya padamu. Tapi kau hanya punya waktu kurang dari satu kedipan mata sebelum monster itu meremukkan kepalaku."

​"Jika kau berhasil meretakkannya, pedangku tidak akan terlambat sedetik pun," jawab Ye Chuan. Ia perlahan mencabut pedang besi kusamnya dari sarung kayunya. Bunyi sriing yang sangat pelan terdengar, namun pedang itu sama sekali tidak memancarkan cahaya. Ia menyerap cahaya di sekitarnya.

​Sebuah kontrak bisu telah disepakati. Sang Pelayan akan menjadi palu godam pendobrak, dan Sang Pedang Sunyi akan menjadi pisau bedah pengeksekusi.

​Singa Cermin Kegelapan itu tiba-tiba berhenti mengunyah sisa tulang di mulutnya. Telinganya yang runcing berkedut. Matanya yang merah menyala layaknya dua lampion neraka menoleh tajam ke arah bongkahan batu tempat mereka bersembunyi.

​Insting Setengah Langkah Pembentukan Inti terlalu tajam untuk dikelabui terlalu lama.

​GGRRRROOAARRR!

​Raungan itu meledak, menciptakan gelombang sonik yang membuat batu cermin tempat Shen Yuan dan Ye Chuan bersembunyi hancur menjadi debu.

​Mereka tidak lagi bersembunyi.

​Wush! Wush!

​Keduanya melesat keluar dari balik debu secara bersamaan, berpisah ke arah kiri dan kanan bagaikan dua anak panah yang ditembakkan dari busur yang sama.

​"Kau terlalu berisik, Kucing Besar!" Shen Yuan adalah orang pertama yang memprovokasi. Ia tidak menggunakan senjata. Ia melesat lurus ke arah wajah monster raksasa itu, secara terang-terangan menarik seluruh perhatian sang predator.

​Mata merah Singa Cermin itu mengunci sosok Shen Yuan. Merasa dihina oleh semut Lapisan Ketujuh, monster itu mengangkat cakar kanannya yang sebesar pedati, lalu menghantamkannya turun layaknya gunung yang runtuh.

​Udara di bawah cakar itu terkompresi hingga meledak. Tekanannya membuat tanah pualam di bawah kaki Shen Yuan retak sebelum cakar itu menyentuhnya.

​Bagi orang awam, Shen Yuan seharusnya menghindar. Namun, Shen Yuan tahu, jika ia menghindar, monster itu akan segera mengubah targetnya pada Ye Chuan yang sedang mencari celah. Ia harus menjadi jangkar yang absolut.

​"Datanglah!" raung Shen Yuan di dalam hatinya.

​Ia tidak menghindar. Ia membumikan kedua kakinya, menekuk lututnya, dan menyilangkan kedua lengannya ke atas untuk menyambut cakar raksasa itu. Seluruh Qi cair Lapisan Ketujuh di dalam Dantian-nya dipompa ke dalam Tulang Emas Pucatnya, mengubah lengannya menjadi pilar baja spiritual yang tak tergoyahkan.

​BLAAAMMM!

​Sebuah benturan yang melanggar hukum alam terjadi.

​Cakar raksasa Singa Cermin itu menghantam lengan Shen Yuan. Tanah di bawah kaki Shen Yuan meledak, menciptakan kawah sedalam satu meter. Debu dan batu beterbangan ke udara.

​Namun, di tengah kawah itu, Shen Yuan tidak hancur.

​Otot-otot jubah sutranya robek sepenuhnya. Kulit lengannya tergores dalam hingga meneteskan darah segar, namun Tulang Emas Pucatnya mengeluarkan suara rintihan tertahan tanpa patah. Ia berhasil menahan beban fisik dari monster Setengah Langkah Pembentukan Inti secara langsung!

​Singa Cermin itu melebarkan matanya yang merah. Otak buasnya tidak percaya bahwa cakar mautnya tertahan oleh seonggok daging kecil.

​"Giliran. Ku."

​Suara Shen Yuan terdengar serak, dipenuhi oleh tekanan darah yang mendidih.

​Memanfaatkan keterkejutan monster itu yang cakarnya masih tertahan di lengannya, Shen Yuan menarik lengan kanannya sedikit ke belakang. Energi emas gelap yang sangat padat dan mendominasi berputar di sekitar kepalan tangannya, menolak memancar ke luar, melainkan menekan ke dalam hingga ruang di sekitar tinjunya terdistorsi.

​Seni Tinju Runtuh Gunung: Hantaman Penembus Zirah!

​Shen Yuan melepaskan pukulan itu lurus ke depan, menghantam tepat di pelat zirah kaca hitam di bagian tengah dada Singa Cermin tersebut.

​KRAAAK!

​Pukulan itu mendarat. Zirah kaca obsidian yang konon kebal terhadap tebasan pedang tingkat tinggi itu berderak keras. Kekuatan Tinju Runtuh Gunung tidak memantul; ia merambat mencari titik terlemah dari struktur kristal tersebut dan meledak di dalam.

​Sebuah retakan selebar telapak tangan, persis seperti yang diminta Ye Chuan, muncul di dada sang monster, disertai oleh serpihan kaca hitam yang terlempar ke udara.

​Monster itu meraung kesakitan dan kemarahan yang luar biasa. Ia mengangkat cakar kirinya untuk merobek Shen Yuan menjadi serpihan.

​Namun, di detik yang sama ketika retakan itu tercipta, sebuah garis perak melintasi waktu.

​Ye Chuan tidak berlari. Ia seolah berteleportasi, muncul dari bayangan Shen Yuan. Pemuda berwajah es itu kini berada di udara, sejajar dengan retakan di dada sang monster. Matanya tidak memancarkan emosi, hanya ada kehampaan mutlak.

​Pedang besi kusam di tangannya tiba-tiba memancarkan kilau perak yang sangat menyilaukan, hingga seolah membelah langit merah di atas mereka. Niat pedang yang selama bertahun-tahun ia tekan di dalam jiwanya kini dilepaskan sepenuhnya.

​Seni Pedang Sunyi: Satu Garis Pemisah Kehidupan!

​Ye Chuan menusukkan pedangnya ke depan.

​Gerakannya tidak cepat, tidak juga lambat. Gerakan itu terasa sangat alami, seolah pedang itu memang seharusnya berada di sana sejak awal waktu. Ujung pedang besi itu masuk tepat ke dalam retakan selebar telapak tangan yang diciptakan oleh Shen Yuan, menembus tanpa halangan, dan terus melesat merobek jantung sang Singa Cermin.

​Hening.

​Raungan monster itu terputus di tenggorokan. Cakar kirinya yang bersiap mengoyak Shen Yuan berhenti membeku di udara.

​Energi pedang Ye Chuan meledak di dalam dada sang monster, membekukan seluruh aliran Qi dan darah dari makhluk Setengah Langkah Pembentukan Inti tersebut. Cahaya merah di mata sang singa berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya padam sepenuhnya.

​Bruk.

​Tubuh raksasa seberat sebuah bukit kecil itu ambruk ke samping, menghantam tanah hingga menghasilkan gempa pelan. Darah berwarna hitam pekat mengalir deras dari lubang di dadanya, melelehkan bebatuan di sekitarnya.

​Shen Yuan mundur beberapa langkah, napasnya memburu keras. Lengan kanannya bergetar, mati rasa akibat menahan tekanan cakar raksasa dan melepaskan tinju batas maksimal secara bersamaan. Ia menyeka darah di ujung bibirnya, matanya menatap mayat raksasa itu dengan kewaspadaan yang belum menurun.

​Ye Chuan mendarat di tanah dengan anggun. Ia menjentikkan pedangnya sekali ke samping, membuang darah hitam yang menempel, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarung dengan bunyi klik yang renyah. Wajahnya sedikit pucat; melepaskan niat pedang murni menguras sepertiga Qi di dalam tubuhnya.

​Angin berhembus menyapu kabut merah di Jantung Cermin, meninggalkan dua pemuda yang baru saja membunuh sebuah kemustahilan.

​Ye Chuan menoleh, menatap Shen Yuan. Tatapan dinginnya kini bercampur dengan sesuatu yang menyerupai pengakuan mendalam.

​"Pertahanan fisik yang bisa menahan pukulan Pembentukan Inti, dan tinju kompresi yang merusak dari dalam medium," ucap Ye Chuan pelan. "Jika di arena nanti tinju itu mengenai tubuhku, pedang apa pun yang kupegang tidak akan bisa menyelamatkanku."

​Shen Yuan menurunkan bahunya sedikit, merilekskan otot-ototnya yang tegang. Ia tersenyum tipis. "Dan jika pedangmu itu menebas lebih dulu sebelum aku sempat memukul, Tulang Emas di tubuhku hanya akan menjadi pajangan yang terbelah dua. Kita berdua hidup, Senior Ye. Mari berpuas diri dengan fakta itu untuk malam ini."

​Ye Chuan mendengus pelan, sebuah suara yang sangat jarang keluar dari mulutnya. Ia tidak membantah.

​"Inti Iblis monster ini bernilai setara dengan seratus inti menengah," Ye Chuan menunjuk mayat singa raksasa itu dengan dagunya. "Kau yang membuka jalannya. Ambil intinya. Ujian ini sudah berakhir secara de facto bagi kita berdua."

​Bagi murid lain, membelah hasil buruan adalah momen pengkhianatan. Namun di antara dua naga ini, kejujuran adalah bentuk penghormatan tertinggi.

​Shen Yuan berjalan mendekati mayat Singa Cermin Kegelapan. Ia tidak ragu-ragu. Dengan telapak tangannya yang dialiri Qi, ia merobek dada monster itu lebih lebar dan menarik keluar sebuah Inti Iblis berukuran sebesar kepalan tangan yang memancarkan energi gabungan antara merah pekat dan hitam kelam. Inti ini berdenyut layaknya jantung hidup.

​Ini adalah harta karun absolut.

​Namun, tepat ketika Shen Yuan memasukkan inti itu ke dalam Cincin Spasialnya, tanah di Jantung Cermin kembali bergetar. Kali ini bukan gempa dari monster, melainkan pusaran ruang.

​Di atas puing-puing segel kuno yang rusak, sebuah gerbang cahaya berwarna biru keemasan tiba-tiba merobek udara. Itu bukan portal acak dari Hutan Cermin Hitam, melainkan formasi evakuasi darurat yang dipancarkan secara paksa dari luar oleh para Tetua Sekte.

​Suara Tetua Yun terdengar bergema dari dalam portal tersebut, dipenuhi oleh kepanikan yang belum pernah terdengar sebelumnya.

​"Seluruh murid! Evakuasi! Segel Hutan Cermin Hitam telah runtuh! Monster-monster dari kedalaman Dataran Iblis sedang menuju ke arah kalian! Masuk ke dalam portal, sekarang!"

​Shen Yuan dan Ye Chuan saling bertatapan. Misi bertahan hidup telah berubah menjadi bencana berskala sekte.

​"Waktu kita habis," ucap Shen Yuan dingin, membalikkan badannya menghadap portal biru.

​Mereka berdua berjalan berdampingan menuju cahaya tersebut, meninggalkan bangkai monster dan sisa-sisa reruntuhan segel di belakang mereka. Mereka masuk ke hutan ini sebagai dua musuh potensial, namun mereka melangkah keluar dari portal sebagai dua anomali yang baru saja menyentuh puncak kekuatan Pelataran Luar.

​Dunia di luar sana, Sekte Langit Berkabut yang sombong, sama sekali belum siap menyambut kembalinya dua monster yang sesungguhnya.

1
Wiharso Saja
ceritanya bagus dan runut.... yg penting lg jgn sampai hiatus
Optimus prime
ga usah pakai kata mandor ...daiken...lebih enak nya pakai kata suhu...wakil sekte...senior...kn jdi enak baca nya thor
@arv_65: terlanjur udah nulis babnya banyak🙏
total 1 replies
Joshua Zirje
Author jangan sampai hilang lagi😁
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue: oke bang, semangat💪
total 3 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!