Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Leon tidak mengatakan sepatah katapun dengan Rania, Leon sangat kesal karena Rania yang berbicara dengan laki-laki di masa lalu nya. Usianya pun seperti nya tidak jauh dari Rania, lelaki muda yang mungkin saja Pantas untuk Rania.
Tapi kenapa Leon harus marah dengan Rania, dirinya yang sudah menghancurkan masa depan Rania, dan mungkin saja pria itu adalah kekasih Rania sebelum Leon menghancurkan nya.
"Ehmm." Leon berdehem untuk mencairkan suasana.
"Kenapa tuan, apa ada salah? " tanya Rania pura-pura tidak tahu.
"Tidak apa apa, kenapa kamu kembali memanggil ku dengan sebutan tuan? "
"Tidak apa apa, karena anda memang tuan Leonardo bukan. " jawab Rania.
"Tadi saat kamu perkenalkan aku sebagai suamimu, ada rasa bahagia karena karena kamu sudah mulai menerima saya, tapi kenapa panggilan pun kembali ke setelan awal. "
"Saya memperkenalkan anda sebagai suami saya, karena saya tidak ingin Hendra tahu kalau saya punya anak tapi belum menikah. " Rania sengaja menyindir Leon.
"Maafkan saya Rania, saya yang membuatmu harus memiliki dua orang anak karena saya. " Leon merasa bersalah.
Rania diam saja tidak menanggapi ucapan Leon, karena pintu lift sudah terbuka, dan di sana sudah ada beberapa orang.
Leon menatap pantulan wajahnya Rania yang menunduk di kaca lift, wajahnya tampak pucat mungkin saja karena kelelahan.
Lift sudah sampai di lantai lima tempat ruangan Zidan berada, kemudian Rania mendorong kursi roda yang di duduki Leon, berjalan melewati beberapa kamar VVIP lainnya, hingga sampai di kamar Zidan.
Pintu kamar terbaik pun terbuka, Zidan sedang makan di suapin oleh neneknya, melihat mamahnya Zidan tersenyum hangat.
"Mamah dari mana kok lama, kata nenek mamah pergi dari tadi. " ucao Zidan
"Maafkan mamah sayang, tadi di bawah mamah bertemu teman lama mamah, karena sudah lama tidak bertemu akhirnya mamah ngobrol sebentar. " jawab Rania.
"Sebentar tapi lumayan lama. " Leon nyeletuk dengan wajah masam
Rania yang mendengar Leon berbicara dengan ketua tidak mempedulikan nya, Rania berjalan ke ranjang Zidan dan mengambil alih makanan yang di pegang nyonya Erlina.
"Sini mah, biat Ran saja yang menyuapi Zidan, mamah istirahat saja, mungkin mamah lelah."
"Mamah tidak lelah kok Ran. " nyonya Erlina tahu kalau antara Leon dan Rania sedang marah.
Tuan Aditama yang duduk di sofa pin merasakan kalau kedua nya sedang bersitegang, memilih diam dan menatap istrinya yang mengangkat bahunya.
"Leon, papah tidak bisa lama lama di sini, perusahaan tidak ada yang mengawasi, mungkin minggu depan papah sama mamah datang lagi kemari. "
"Kenaoya cepat sekali pah, perusahaan sudah ada Ryan yang menghandle. " ucao Leon
"Tidak semuanya bisa di handle Ryan, ada beberapa yang tidak bisa Ryan putuskan. Papah tidak ingin membebankan semua urusan pada Ryan. " tambah tuan Aditama.
"Iya LEON, toko roti Rania juga tidak bisa di biarkan begitu saja walaupun Rania memiliki asisten, tetap saja harus kita pantau. " nyonya Erlina menambah ucapan suaminya.
Leon tampak diam, semua yang di katakan papah nya memang benar karena tampuk pimpinan Aditama Corp sedang kosong, khawatir ada penyelewengan dalam perusahaan jika lama kosong.
"Baiklah, kalau memang keputusan papah dan mamah sudah bulat, Leon tidak bisa mencegah papah untuk pulang, karena perusahaan harus ada pemimpin nya agar tidak ada kekacauan. "
Rania yang sedang menyuapi Zidan hanya diam menyimak pembicaraan antara Leon dan orang tua nya.
Hari sudah menjelang sore, tuan Aditama dan istrinya pamit pulang ke apartemen dan akan langsung terbang kembali ke tanah air. Tadinya Naila akan di ajak pulang dengan bu Arini tapi Naila tidak ingin jauh jauh dari mamahnya, walaupun Rania berada di rumah sakit, namun mereka bisa bertemu kapan saja karena jarak yang dekat.
Tuan Aditama dan nyonya Erlina sudah berada di pesawat bersiap untuk terbang ke tanah air. Setelah perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai juga di bandar Soekarno -Hatta.
Mereka sudah di jemput oleh anak buahnya, kemudian kembali ke rumah untuk beristirahat.
Hari sudah berganti pagi, nyonya Erlina dan tuan Aditama sedang berada di ruang makan. Keduanya sedang menikmati sarapan.
"Pah, dari kemarin mamah merasa penasaran apa yang sudah terjadi antara Rania dan Leon, karena sebelum Leon keluar wajahnya tampak bahagia, namun setelah masuk lagi dengan Rania, wajahnya berubah muram.? "
"Papah juga tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua, ah mungkin saja Rania menolak untuk berkumpul dengan Leon sebagai keluarga,. "
"Mungkin juga ya pah, secara Leon sangat keras kepala dan memaksakan kehendak nya pada Rania, dan Rania menolak ajakan Leon. "
Kedua orang tua tersebut memiliki pemikiran jauh sebenarnya mereka ingin agar Rania dan Leon bisa bersatu dengan alasan kasihan anak anak. Tapi semuanya mereka kembalikan pada takdir jodoh mereka apakah mereka berjodoh atau malah mereka akan semakin menjauh karena sikap Leon yang keras.
Setelah sarapan keduanya segera berangkat ke tempat usaha masing masing, namun nyonya Erlina akan ke toko roti dan juga restoran lebih dahulu melihat keadaan toko, khawatir saat Rania tidak ada di toko, karyawan nya seenaknya saja masuk kerja dan bekerja.
"Mah kalau ada sesuatu nyang tidak bisa mamah handle, hubungi papah saja, agar mamah tidak terlalu lelah, jaga kesehatan mamah. "
"Iya pah, mamah hanya akan melihat pembukuan dan juga mengecek karyawan saja. "
"Iya mah, papah berangkat dulu ya. Hati hati di jalan. " tuan Aditama mengecup kening nyonya Erlina. Begitu juga dengan nyonya Erlina yang mencium punggung tangan suaminya.
Walaupun keduanya sudah memasuki usia senja, tapi mereka tetap mesra. Mereka ingin agar di usianya ini semakin saling mencintai dan saling menguatkan.
Tuan Aditama lebih dulu berangkat menggunakan mobilnya sendiri menggunakan sopir yang akan membawa nya ke perusahaan.
Nyonya Erlina pun berangkat ke toko roti dan restoran yang di kelola Rania sebelum ke butik milik nya yang sudah beberapa lama di tinggalkan karena mengikuti suaminya keluar negeri.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, akhirnya nyonya Erlina sampai juga di toko roti, nyonya Erlina melihat seperti ada sesuatu yang agak berbeda dengan toko tersebut, namun tidak berani menebak apa yang telah terjadi, sehingga nyonya Erlina memutuskan untuk lewat jalan belakang, karena jalan itu khusus untuk karyawan saja, sedangkan jalan depan untuk pemilik toko dan para customer saja.
Keadaan di luat terasa sepi, biasanya jam segini kegaiatan di toko sudah mulai aktif, tapi kenapa pembeli pun seperti nya belum ada yang datang. Tidak seperti hari hari biasanya pelanggan sudah banyak yang datang untuk membeli roti dan kue.
...****************...