NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 [Iri Yang Menyala Tanpa Api]

Langit siang itu cerah.

Terlalu cerah… untuk sesuatu yang akan runtuh.

Di jalan berbatu yang jauh dari keramaian

Seorang pria berjalan perlahan.

Langkahnya ringan.

Namun setiap pijakan terasa… salah.

Orang-orang yang berpapasan dengannya tidak langsung menyadari.

Namun saat mereka sudah melewatinya

Perasaan aneh muncul.

Tidak nyaman.

Tidak suka.

Tidak… cukup.

Pria itu tersenyum tipis.

Matanya berwarna hijau gelap.

Kosong… tapi penuh sesuatu yang berbahaya.

Vyre

“…kenapa mereka bisa…”

bisiknya pelan.

Di depannya

Sepasang suami istri berjalan sambil tertawa kecil.

Sederhana.

Bahagia.

Tatapan Vyre berubah.

“…punya itu?”

Ia tidak menyentuh mereka.

Tidak menyerang.

Tidak melakukan apa pun.

Namun

Wanita itu tiba-tiba berhenti.

“…kamu tadi ngomong apa?”

Pria itu mengernyit.

“Hah? Aku nggak ngomong apa-apa.”

“…bohong.”

Nada suaranya berubah.

“…kamu pasti ngomong sesuatu.”

“Eh? Enggak-”

“JANGAN BOHONG!”

Suara itu meninggi.

Warga lain mulai menoleh.

Pria itu mulai kesal.

“Aku bilang enggak!”

“…kamu berubah…”

“…dari dulu kamu kayak gini…”

Pertengkaran itu… membesar.

Tanpa alasan yang jelas.

Tanpa pemicu nyata.

Vyre hanya berjalan melewati mereka.

Tanpa menoleh.

Senyumnya… sedikit lebih lebar.

“…mudah sekali.”

Beberapa jam kemudian

Kerajaan yang dikelilingi air tenang terlihat di kejauhan.

Dinding besar berdiri kokoh.

Air mengalir di parit luas di bawahnya.

Cahaya matahari memantul indah.

Aqualis Luminara.

Di atas tembok tinggi

Seorang gadis berdiri sambil memandang horizon.

Rambutnya panjang diikat.

Matanya lembut.

Namun penuh kesadaran.

Seira Luine

Ia menghela napas pelan.

“…tenang…”

Namun alisnya sedikit berkerut.

“…terlalu tenang.”

Seorang penjaga mendekat.

“Nona Seira, patroli sudah selesai di sisi timur.”

Seira tersenyum kecil.

“Terima kasih. Istirahatlah dulu.”

Penjaga itu menunduk hormat.

Seira kembali menatap jauh.

“…rasanya…”

Ia menutup matanya sebentar.

“…seperti sesuatu sedang mendekat.”

Di dalam kota

Warga beraktivitas seperti biasa.

Anak-anak berlari.

Pedagang berjualan.

Suara tawa terdengar.

Hangat.

Hidup.

Namun perlahan

Sesuatu berubah.

Seorang pedagang tiba-tiba menatap barang dagangannya.

“…kenapa dagangan dia lebih laku…”

Seorang wanita melihat tetangganya.

“…kenapa dia selalu lebih bahagia…”

Seorang pria menggenggam tangannya.

“…aku sudah bekerja lebih keras…”

“…kenapa bukan aku?”

Suara-suara kecil mulai muncul.

Pelan.

Namun…

Bertambah.

Seira membuka matanya.

Ia merasakannya

“…emosi…”

“…tidak stabil…”

Langkahnya cepat.

Ia turun dari tembok.

Di tengah jalan

Ia melihat dua orang hampir berkelahi.

“…berhenti!”

Air bergerak cepat.

Memisahkan mereka.

“Tenang… kalian kenapa?”

Mereka terdiam.

Namun mata mereka…

Masih penuh amarah.

“…aku…”

“…aku juga tidak tahu…”

Seira menegang.

“…ini bukan kebetulan…”

Di luar gerbang

Vyre berdiri.

Matanya menatap kota itu.

“…indah sekali…”

Senyumnya perlahan muncul.

“…aku benci itu.”

Ia melangkah masuk.

Tidak ada yang menghentikannya.

Tidak ada yang menyadari.

Namun saat ia masuk

Atmosfer berubah.

Lebih berat.

Lebih… tidak stabil.

Seira menoleh.

Matanya langsung mengunci satu titik.

“…kamu…”

Vyre berhenti.

Menatapnya.

Senyumnya tipis.

“…akhirnya ketemu.”

Seira menegang.

“…siapa kamu?”

Vyre memiringkan kepalanya.

“…aku?”

“…hanya seseorang…”

“…yang tidak suka melihat orang lain bahagia.”

Hening.

Udara terasa lebih berat.

Seira mengangkat tangannya.

Air di sekitarnya bergerak.

“…pergi dari sini.”

Vyre tertawa kecil.

“…kalau aku tidak mau?”

Air melesat.

WHOOSH!!

Namun

Vyre tidak menghindar.

Air itu berhenti…

Beberapa sentimeter dari tubuhnya.

Seira membeku.

“…apa-?”

Vyre melangkah.

“…kau melindungi mereka…”

“…padahal mereka bahkan tidak menghargaimu.”

Suara-suara mulai terdengar di sekitar.

“…iya…”

“…kenapa dia selalu dipuji…”

“…aku juga bisa…”

Warga mulai berkumpul.

Namun bukan untuk membantu.

Mereka saling menatap.

Dengan curiga.

Dengan iri.

Seira panik.

“Tenang! Ini bukan kalian!”

Namun tidak ada yang mendengar.

Vyre tersenyum.

“…lihat?”

“…aku bahkan tidak perlu menyentuh mereka.”

Kekacauan mulai terjadi.

Orang-orang berteriak.

Dorong-mendorong.

Pertengkaran.

Seira menggertakkan gigi.

“…hentikan ini!”

Ia mencoba menyerang lagi.

Namun setiap kali ia fokus

Orang lain hampir terluka.

Ia terpaksa menahan diri.

“…ini…”

“…bukan pertarungan…”

Vyre berjalan melewatinya.

“…ini dunia nyata.”

Ia naik ke tembok.

Melihat kota yang mulai kacau.

Senyumnya melebar.

“…mulai sekarang…”

“…biarkan mereka saling menghancurkan.”

Seira menatapnya.

Matanya tidak lagi hanya lembut.

Namun tajam.

“…aku tidak akan membiarkan itu.”

Vyre menoleh sedikit.

“…coba saja.”

Dan dalam satu langkah

Ia menghilang.

Namun efeknya…

Masih ada.

Dan semakin kuat.

Seira berdiri di tengah kekacauan.

Tidak tahu harus melindungi siapa dulu.

Karena musuhnya…

Bukan di depan.

Namun…

Di dalam hati semua orang.

Jauh dari sana

Dua sosok berjalan.

Shiranui Akihara

dan

Liora Raizen

Liora berhenti.

“…kau ngerasain itu?”

Akihara mengangguk pelan.

“…emosi…”

“…kacau.”

Ia menatap ke arah timur laut.

“…kita ke sana.”

Tanpa ragu.

Mereka melangkah.

Menuju sesuatu yang…

Sudah mulai runtuh.

1
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!