NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 – Cahaya yang Membelah Malam

Udara malam terasa mencekam, seolah dunia menahan napasnya sendiri.

Kelompok pembunuh yang tadi mengurung Wang Yihan dan Wang Zhenyu mulai bergerak serempak. Aura membunuh mereka menyatu menjadi tekanan yang begitu berat hingga tanah di bawah kaki retak perlahan. Mata mereka kosong, dingin, tak memiliki emosi sedikit pun—seperti mayat hidup yang hanya menunggu perintah.

“Sekarang!” teriak Guo Liang dengan wajah bengis.

Namun—

Wusshh!

Beberapa cahaya kecil melesat.

Cepat.

Terlalu cepat hingga bahkan mata para ahli sekalipun hampir tak mampu menangkapnya.

BOOM!

BOOM!

BOOM!

Dalam sekejap, kepala sebagian besar pembunuh itu meledak seperti semangka yang dihantam palu raksasa. Darah, daging dan serpihan tulang berhamburan di udara, menciptakan hujan merah yang mengerikan.

Semua terjadi dalam satu tarikan napas.

Yihan tertegun. Zhenyu membeku.

Bahkan Guo Liang… terpental mundur beberapa langkah akibat gelombang kejut, wajahnya langsung berubah pucat.

“Apa… apa ini…!?” suaranya bergetar.

Dia yang sebelumnya penuh percaya diri kini dipenuhi kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

“Lindungi aku! Cepat lindungi aku!” teriaknya histeris.

Sisa pembunuh yang masih berdiri langsung bergerak mengelilinginya, meskipun jumlah mereka kini hanya tinggal segelintir. Guo Liang menggertakkan giginya, matanya liar menyapu sekeliling yang gelap.

“Siapa!?” raungnya penuh amarah. “Siapa yang berani mengganggu urusanku!? Keluar!!”

Suara itu menggema, namun…

Tak ada jawaban.

Hanya angin malam yang berdesir pelan, membawa bau darah yang menyengat.

Yihan dan Zhenyu saling melirik. Keduanya sudah berada dalam posisi siaga, tubuh mereka tegang seperti busur yang siap dilepaskan kapan saja.

“Apa kau merasakannya?” bisik Zhenyu.

Yihan mengangguk pelan. “Ya… seseorang ada di sini… tapi aku tidak bisa melacaknya.”

Guo Liang semakin murka.

“Bajingan pengecut!” dia berteriak. “Jika kau tidak—”

Kalimatnya terputus.

Wusshh!

Cahaya kembali melesat.

Kali ini lebih ganas.

BOOM!

BOOM!

Sisa pembunuh yang berdiri langsung kehilangan kepala mereka satu per satu. Tanpa kesempatan untuk bereaksi. Tanpa kesempatan untuk melawan.

Dan—

CRAAACK!

Sebuah cahaya menembus tubuh Guo Liang.

Tepat di bagian perut kirinya.

“AARGHHHH!!!”

Jeritan mengerikan mengguncang malam. Tubuhnya tersungkur ke tanah, tangannya mencengkeram luka yang kini menganga, darah mengalir tanpa henti.

Rasa sakit itu… terlalu nyata.

Terlalu dalam.

Yihan dan Zhenyu gemetar melihatnya.

“Ini… ini bukan kekuatan biasa…” gumam Yihan.

Zhenyu menelan ludah. “Apakah… seorang ahli yang bersembunyi akhirnya bergerak?”

“Aku juga berpikir begitu,” jawab Yihan, suaranya pelan. “Tapi… kita tidak tahu… dia musuh atau teman.”

“Jika musuh…” Zhenyu mengerutkan kening. “Kenapa dia membantu kita?”

Yihan terdiam.

Jawaban itu… tak ada.

Zhenyu menghela napas panjang. “Pikiran orang kuat… memang sulit ditebak.”

Sementara itu, Guo Liang masih menggeliat di tanah, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi, matanya penuh ketakutan yang sebelumnya tak pernah ada.

Dengan tangan gemetar, dia mencoba mengeluarkan sebuah token berwarna merah darah dari dalam pakaiannya.

“Aku… harus… memberi tahu… Mad Dog…”

Namun—

Langit tiba-tiba berkilat.

ZZZZZZTTTT!!!

Petir menyambar turun dengan ganas.

Tanpa peringatan.

Tanpa belas kasihan.

BOOOOOM!!!

Tubuh Guo Liang langsung tersambar. Dalam sekejap, tubuhnya hangus, berubah menjadi arang hitam yang masih mengepulkan asap.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Bahkan suara serangga pun seakan lenyap.

Dan di tengah asap tipis yang masih mengepul…

Sosok perlahan muncul.

Wang Jianhong.

Dia berdiri di atas sisa tubuh Guo Liang, napasnya berat, wajahnya pucat, tubuhnya sedikit gemetar. Namun matanya… tetap tajam.

Saat pandangannya jatuh pada Yihan dan Zhenyu—

Raut lega muncul.

“Syukurlah…” suaranya serak. “Kalian… selamat…”

Tubuhnya langsung goyah.

“Hati-hati!” Yihan berteriak.

Dia dan Zhenyu segera bergerak, menahan tubuh Wang Jianhong agar tidak jatuh. Yihan bahkan tak mampu menahan air matanya.

“Kakek! Kakek tidak apa-apa!?” suaranya bergetar.

Zhenyu juga tampak cemas. “Anda terluka parah!”

Namun sebelum suasana haru itu berkembang lebih jauh—

Sebuah suara datar terdengar.

“Sudahi reuni keluarga kalian.”

Nada itu tenang.

Namun mengandung tekanan yang tak terlihat.

“Kita harus membahas sesuatu yang penting.”

Yihan dan Zhenyu langsung menoleh.

Dan seketika—

Mata mereka membelalak.

“Ka… kau…!?” Yihan tertegun.

Sosok itu berdiri tidak jauh dari mereka. Wajahnya tenang, sikapnya santai, seolah semua yang baru saja terjadi hanyalah hal biasa.

“Bukankah kau si—”

“Yihan.”

Suara Wang Jianhong memotong.

Nada suaranya berubah serius.

“Tunjukkan rasa hormatmu.”

Yihan terdiam.

Zhenyu juga membeku.

“Beliau,” lanjut Wang Jianhong pelan, “adalah tuan Immortal… yang menyelamatkan kalian.”

Seolah disambar petir.

Keduanya langsung tersentak.

Tanpa ragu, mereka segera menangkupkan tangan dan menunduk dalam-dalam.

“Terima kasih atas pertolongan Senior!” ucap Zhenyu dengan hormat.

Yihan terlihat sedikit canggung, namun tetap menunduk. “Maafkan sikap kasar ku sebelumnya…”

Zhao hanya melambaikan tangan ringan.

“Lupakan saja,” katanya santai. “Aku tidak peduli dengan sikap anak kecil.”

Jawaban itu membuat Yihan makin kikuk.

Zhao lalu mengalihkan pandangannya ke sekeliling.

Mayat berserakan.

Darah menggenang.

Bau kematian memenuhi udara.

Dia berhenti pada salah satu tubuh pembunuh yang kepalanya hancur.

Matanya sedikit menyipit.

“Teknik boneka mayat… ya?”

Ucapan itu seperti petir kedua.

Wang Jianhong menegang.

Yihan menggertakkan gigi.

Zhenyu mengepalkan tangan.

“Pantas saja…” gumam Wang Jianhong. “Mereka tidak merasa takut… atau sakit…”

“Jadi mereka sudah mati sejak awal…” lanjut Yihan dengan nada getir.

“Kultus iblis…” suaranya bergetar. “Sudah sangat hina… menjadikan orang tak bersalah sebagai boneka…”

Zhenyu mengangguk, namun wajahnya muram. “Meski begitu… kenapa Aliansi Murim masih ragu untuk bergerak?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tak ada yang langsung menjawab.

Dan perlahan—

Ketiganya menoleh ke arah Zhao.

Zhao mengangkat alis.

Lalu mengedikkan bahu.

“Jangan lihat aku,” katanya santai. “Aku tidak peduli dengan konflik seperti itu.”

Senyum kaku langsung muncul di wajah ketiganya.

Jelas sekali niat mereka terbaca.

Tanpa banyak bicara lagi, Zhao mengeluarkan sebuah botol kecil dari lengan bajunya dan melemparkannya ke arah Wang Jianhong.

“Minum itu.”

Wang Jianhong menangkapnya, lalu tertegun. “Ini…?”

“Agar kalian cepat pulih.”

Wang Jianhong langsung menunduk. “Aku tidak pantas menerima—”

“Jangan salah paham,” potong Zhao. “Aku butuh tukang bangunan yang sehat dan kuat.”

“Hah?” Yihan dan Zhenyu serempak bingung.

Wang Jianhong hanya tersenyum pahit, lalu berbisik pelan, “Nanti akan kujelaskan…”

Dengan hati-hati, dia membuka botol itu.

Dan—

Aroma harum langsung menyebar.

Seperti embun pagi yang bercampur dengan energi langit dan bumi.

Mata mereka bertiga membelalak.

Saat satu pil dikeluarkan—

Napas mereka tertahan.

Pil itu berwarna cerah, nyaris transparan, dengan sembilan garis nadi yang sempurna mengelilinginya.

“Tu… tuan…” suara Wang Jianhong gemetar.

Zhao hanya berkata santai, “Cuma pil remeh.”

Dalam hati, Wang Jianhong hampir batuk darah.

Jika Menara Pil melihat ini… mereka pasti akan mencaci maki dunia…

Yihan dan Zhenyu bahkan tak bisa berkata-kata.

“Ini… pertama kalinya aku melihat pil seperti ini…” gumam Yihan.

“Bahkan Grand Alkemis hanya bisa membuat dua nadi…” tambah Zhenyu. “Ini… sembilan!?”

Zhao menghela napas ringan.

“Cepat minum saja.”

“Jangan banyak berpikir.”

Mereka langsung menurut.

Begitu pil itu masuk ke tubuh—

Boom!

Energi hangat langsung meledak di dalam tubuh mereka.

Luka mereka pulih.

Energi dalam mereka meningkat.

Bahkan fondasi kultivasi mereka terasa diperkuat.

Tanpa ragu, ketiganya langsung duduk bersila, memfokuskan diri untuk menyerap energi itu sepenuhnya.

Sementara itu…

Zhao berdiri diam.

Menatap ke arah kota.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Ho?”

“Penguntit itu… masih hidup setelah ditelan naga petir…”

“Menarik.”

Di sisi lain kota.

Di dalam ruang rahasia kediaman walikota.

Pintu terbuka perlahan.

Sosok masuk dengan langkah tertatih.

Mad Dog.

Topengnya retak.

Tubuhnya gosong.

Tangan kanannya… putus.

Kondisinya mengenaskan.

Dengan napas tersengal, dia berjalan menuju sebuah bola kristal di tengah ruangan.

“Ugh… sial…”

“Aku tak menyangka… tua bangka itu memiliki teknik seperti itu…”

Dia menggertakkan gigi, darah menetes dari sudut mulutnya.

“Untung saja… aku menggunakan artefak pemberian-Nya…”

“Tapi… itu hanya sekali pakai…”

“Seharusnya aku lebih waspada…”

Dengan sisa tenaga, dia menyentuh bola kristal itu.

Cahaya mulai menyala.

Perlahan.

Kemudian—

Sebuah siluet muncul.

Aura yang terpancar… membuat udara menjadi berat.

Mad Dog langsung berlutut, meski tubuhnya bergetar hebat.

“Salam… pada sosok agung…”

“Semoga kejayaan selalu menyertaimu…”

Namun—

Sosok itu diam.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.

Tekanan semakin besar.

Keringat dingin mengalir di wajah Mad Dog.

Hingga akhirnya—

Suara itu terdengar.

Dingin.

Dalam.

Dan penuh wibawa.

“Sungguh…”

“Penampilan yang menyedihkan…”

“Mad Dog.”

1
SENJA
wakaaka tanpa basa basi banget 😅
Pakde Bejo
ceritanya bagus ... tapi sayang MC nya lemot... terlalu banyak berpikir.
fajaraditya medsos
mantap, lanjutkan
SENJA
wah hayoloh ngamuk dia 🤣
SENJA
wakakaa bersihin aja semua 🤣
SENJA
lu lemah tapi sombong oiii😤
SENJA
zhao cuma perlu jentik jari lu bertiga mati oii 🤣
SENJA
naaah ini 🤣🤣🤣
SENJA
udah zhao kasih pelajaran aja ini betina cuyy😤
SENJA
lu yang dihajar wahai lemah
SENJA
lu doyanya cari perkara aja wanita lemah
SENJA
ilmu lu cetek aja belaguuu
SENJA
mati lu ga lama lagi, ngeselin 😤
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!