Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan yang Terusik
Pindah ke apartemen baru di pusat kota Jakarta seharusnya menjadi awal yang segar bagi siapa pun. Namun, bagi Cantika, gedung pencakar langit dengan dinding kaca yang menjulang ini terasa seperti sangkar emas yang lebih modern, sekaligus lebih berbahaya. Arka memutuskan untuk memindahkan Cantika dari apartemen lamanya hanya berselang dua hari setelah viona mendatangi apartemen,Arka takut keberadaan cantika diketahui viona.
Alasannya Arka mengajak Cantika tinggal di apartemen baru Arka tidak ingin jejak Cantika terendus oleh siapa pun, terutama oleh ayahnya atau Viona.
Apartemen bernomor 212 ini jauh lebih luas. Interiornya didominasi warna abu-abu maskulin dan marmer putih yang dingin. Di sini, Cantika memiliki kamar sendiri yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.
"Tempat ini lebih aman," ujar Arka saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di sana. "Hanya aku yang tahu aksesnya. Bahkan sekretarisku pun tidak punya kode pintunya."
Cantika mengangguk patuh. Ia mulai menata barang-barangnya yang tidak seberapa. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lega. Di tempat baru ini, ia merasa bisa bernapas lebih bebas tanpa bayang-bayang masa lalu Arka yang belum pernah ia temui secara langsung.
Minggu pertama di apartemen baru berjalan dengan ritme yang lebih lembut. Arka mulai terbiasa dengan keberadaan Cantika. Pria itu tidak lagi sekaku dulu. Meskipun tetap irit bicara, Arka sering membawakan buku-buku baru untuk Cantika baca agar gadis itu tidak bosan.
Pagi itu, Cantika sedang sibuk di dapur. Ia mencoba membuat soto ayam dengan bumbu yang ia ulek sendiri. Aroma kunyit dan serai memenuhi ruangan, memberikan sentuhan "rumah" pada apartemen yang tadinya terasa seperti hotel bintang lima itu.
Arka keluar dari kamar dengan pakaian santai kaus hitam dan celana pendek karena hari ini adalah hari Sabtu. Ia berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan punggung Cantika yang bergerak lincah.
"Baunya enak," komentar Arka pendek.
Cantika menoleh dan tersenyum. "Sebentar lagi matang, Mas. Mas mau sarapan sekarang?"
"Boleh." Arka duduk di meja makan, lalu membuka tabletnya untuk membaca berita bisnis. Namun, fokusnya teralihkan saat ponselnya di atas meja bergetar hebat.
Nama "Viona " berkedip di layar.
Wajah Arka seketika mengeras. Ia melirik Cantika yang masih sibuk dengan panci, lalu ia menjawab panggilan itu dengan nada dingin. "Ya, Viona?"
"Baby! Kamu di mana? Aku ke apartemenmu tapi resepsionis bilang kamu sudah pindah unit? Kenapa kamu tidak bilang-bilang padaku?" suara Viona melengking cukup keras hingga Cantika bisa mendengarnya dari jarak dua meter.
Cantika tertegun. Tangannya yang memegang sendok sayur berhenti di udara. Inikah wanita itu? Wanita yang seharusnya menjadi pendamping Arka?
"Aku butuh privasi, Viona. Apartemen lama terlalu bising," jawab Arka tenang, namun matanya menatap tajam ke arah jendela, seolah sedang menyusun benteng pertahanan.
"Tapi aku calon istrimu! Aku punya hak tahu di mana kamu tinggal. Kirimkan lokasinya sekarang, atau aku akan menyuruh papamu yang bertanya padamu!" ancam Viona sebelum mematikan telepon secara sepihak.
Arka melempar ponselnya ke meja dengan kasar. Ia memijat pangkal hidungnya, terlihat sangat tertekan. Cantika mendekat dengan perlahan, membawa semangkuk soto hangat. Ia meletakkannya di depan Arka tanpa suara.
"Mas ... kalau Mas merasa terganggu karena saya ada di sini, saya tidak keberatan jika Mas ingin saya pergi sementara," bisik Cantika ragu.
Arka mendongak. Matanya yang tajam menatap Cantika dalam-dalam. "Jangan bodoh. Kalau kamu keluar sekarang, keadaan akan lebih buruk. Viona itu seperti detektif jika sedang marah. Tetaplah di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku."
Satu jam kemudian, bel apartemen berbunyi secara brutal. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali seolah sang tamu sedang mengamuk.
Arka bangkit dengan wajah gelap. "Itu pasti dia. Cantika, masuk ke kamar. Jangan keluar sampai aku memanggilmu. Kunci pintunya."
Cantika segera menuruti perintah itu. Ia masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu. Ia duduk di tepi tempat tidur, jantungnya berdeber kencang. Ia bisa mendengar suara pintu depan terbuka, disusul oleh suara sepatu hak tinggi yang melangkah masuk dengan angkuh.
"Jadi ini tempat persembunyian barumu? Bagus juga, tapi kenapa seleramu jadi begini? Bau dapur!" Suara Viona terdengar sangat jelas. "Arka, kenapa ada dua piring di meja makan? Kamu sedang sarapan dengan siapa?"
Cantika menahan napas di balik pintu.
"Aku makan dua porsi. Aku lapar," jawab Arka pendek. Suaranya terdengar sangat tidak bersahabat.
"Jangan bohong. Dan bau masakan ini ... ini bukan masakan restoran. Kamu menyewa pembantu baru? Mana dia? Kenapa apartemen ini terasa ada orang lain?"
Cantika mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah area kamar. Ia merasa bulu kuduknya berdiri. Jika Viona membuka pintu ini, rahasia pernikahan mereka akan terbongkar, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arka atau dirinya sendiri.
"Viona, cukup!" bentak Arka. "Jangan bertingkah seperti polisi di rumahku sendiri. Kamu datang ke sini hanya untuk memeriksa piring atau untuk bicara soal pernikahan formal yang diinginkan Papa?"
Mendengar kata Papa', suara Viona sedikit melunak, namun tetap penuh tuntutan. "Papamu ingin kita segera ingin kita menikah resmi dua bulan depan. Aku sudah memilih desainer untuk gaunnya. Tapi kamu selalu menghindar, Arka. Apa yang kamu sembunyikan di apartemen ini?"
"Tidak ada yang kusembunyikan selain ketenanganku yang sedang kamu hancurkan," sahut Arka sinis. "Sekarang, kalau kamu sudah selesai menginspeksi, silakan pergi. Aku punya janji temu virtual sepuluh menit lagi."
Terjadi keheningan panjang. Cantika membayangkan mereka sedang saling menatap dengan penuh ketegangan.
"Fine," cetus Viona. "Aku pergi. Tapi jangan pikir aku tidak tahu ada sesuatu yang aneh di sini. Aku akan mencari tahu, Arka. Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau."
Suara pintu depan yang dibanting menutup pembicaraan itu.
Beberapa menit berlalu sebelum Arka mengetuk pintu kamar Cantika. "Cantika, dia sudah pergi."
Cantika membuka pintu dengan perlahan. Ia melihat Arka berdiri di sana dengan bahu yang merosot, tampak sangat lelah. Arka tidak mengatakan apa-apa, ia hanya berjalan kembali ke meja makan dan menatap mangkuk sotonya yang sudah dingin.
Cantika mendekat, lalu dengan keberanian yang muncul entah dari mana, ia menyentuh bahu Arka pelan. "Maafkan saya, Mas. Gara-gara saya, Mas harus berbohong terus-menerus."
Arka memegang tangan Cantika yang ada di bahunya. Tangannya hangat, kontras dengan sikapnya yang dingin. "Bukan salahmu. Ini adalah konsekuensi dari pilihanku sendiri. Aku yang membawamu ke dalam kekacauan ini."
Arka menarik tangan Cantika sehingga gadis itu kini berdiri di sampingnya. "Kamu dengar tadi? Viona tidak akan berhenti. Dia sangat terobsesi dengan status. Baginya, aku bukan laki-laki yang ia cintai, tapi trofi yang harus ia pamerkan pada dunia."
Cantika menatap wajah Arka dari samping. Ia bisa melihat ada kesedihan mendalam di sana. "Lalu, sampai kapan kita akan seperti ini, Mas?"
Arka terdiam lama. Ia menatap lurus ke depan, seolah sedang menerawang masa depan yang masih buram. "Sampai aku punya cukup kekuatan untuk melawan . Sampai posisi perusahaanku tidak bisa digoyang lagi. Sampai saat itu tiba ... kamu adalah rahasiaku yang paling berharga, Cantika."
Kata-kata "paling berharga" itu membuat jantung Cantika mencelos. Ia tidak tahu apakah Arka mengatakannya karena alasan logis bahwa Cantika adalah tameng hukumnya atau ada alasan lain yang mulai tumbuh di hati pria itu.
Malam harinya, apartemen itu kembali sunyi. Namun, kesunyian kali ini terasa berbeda. Ada rasa saling melindungi yang mulai terjalin di antara mereka. Cantika menyadari bahwa meski ia belum pernah melihat wajah Viona secara langsung, wanita itu telah menjadi musuh nyata dalam hidupnya.
Di kamar sebelah, Arka menatap langit-langit. Bayangan Cantika yang tadi menenangkannya terus berputar di kepalanya. Ia tahu, tinggal di apartemen baru ini hanyalah solusi sementara. Viona akan kembali, dan ayahnya tidak akan tinggal diam. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka merasa memiliki sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bukan perusahaan, bukan status, melainkan kedamaian sederhana yang ia temukan pada diri gadis yang ia nikahi di balai desa itu.
"Besok," gumam Arka pada kegelapan, "aku akan mengajarinya cara menggunakan sistem keamanan apartemen ini dengan lebih baik."
Ia harus memastikan Cantika aman. Karena di dunia yang penuh dengan orang-orang seperti Viona dan ayahnya, Cantika adalah satu-satunya hal yang nyata dan tulus yang ia miliki. Persaingan status dan stres pekerjaan belum hilang, tapi di dalam unit 212 itu, Arka mulai belajar untuk bernapas lagi.