"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Insiden di ruang kerja Pak Mario.
Satu lagi yang penting Bu. Meja kerja Pak Mario jangan ada debu, meskipun setitik. Pak Mario pasti bisa melihatnya." ucap Mira tanpa bermaksud menakut-nakuti.
Hanya menjelaskan seperti apa karakter Bos Tua, yang suka angin-anginan. Tapi hatinya memang baik.
"Pada dasarnya Pak Mario Bos yang sangat baik, Bu. terlebih kalau kita berhasil menaklukkan hatinya. Pasti disayang deh." ucap Mira asal saja, membuat Ribka salah paham.
"Maksudnya, disayang bagaimana?" seru Ribka heran. Dalam bayangannya bosnya itu suka mesum. "Apakah disayang seperti ini?" Ribka menyatukan ujung jari kedua tangannya. Lalu menirukan seperti ayam mematuk.
Mira tertawa ngakak mendengar ucapan Ribka. "Gak gitu juga Bu Ribka. Maksud saya, kalau kita bekerja dengan jujur dan baik. Pak Mario itu akan bersikap baik juga kepada kita. Beliau itu adalah bos yang sangat menghargai karyawannya. Walau sikap beliau kadang terlihat dingin dan acuh bahkan kasar. Tapi semua karyawan disini betah bekerja."
"Oh, aku kira Pak.Mario itu arogan pada pegawainya." sahut Ribka mulai paham.
Ya, dia akan berusaha bekerja sebaik mungkin. Supaya betah juga bekerja di sini. Kasihan nanti Kenny, sudah capek-capek merekomendasikannya bekerja disini. Malah dia bekerja setengah hati.
"Baiklah, saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin." ucap Ribka penuh semangat.
"Bagus Bu. Kita semua disini akan saling mendukung, Bu. Kalau ada hal-hal yang tidak Ibu Ribka mengerti. Boleh bertanya ke saya ya. Semangat ya Bu!" Mira menyemangati Ribka. Dalam benaknya, kehadiran Ribka sangat menguntungkan dirinya.
Sudah beberapa tahun ini melakoni pekerjaan dobel. Sebagai sekretaris sekaligus yang bertanggung jawab mengawasi kebutuhan pribadi bosnya.
Pak Mario hanya percaya kepadanya. Menyiapakan teh atau makanan kesehariannya. Tidak mau dipilihkan pembantu di rumahnya.
Terkadang Mira kewalahan juga membagi waktu untuk bosnya dan keluarganya. Untunglah suaminya bisa mengerti keadaannya.
Dengan hadirnya Ibu Ribka, Mira berharap tugas-tugasnya dapat dialihkan. Dan dia akan lebih banyak waktu luang untuk keluarganya.
Makanya dia begitu antusias ketika Bos Mudanya mengajukan ide itu. Semoga saja Bos Tua, bisa menerima. Karena Mira percaya juga kalau Ribka sepertinya orang baik dan cocok dengan tugas itu. Karena Bos Tua terlihat seumuran dengan Ibu Ribka.
Cantik dan lembut.
Itulah kesan pertama Mira saat bertemu Ribka.
Ribka tengah membersihkan ruang kerja Pak Mario di lantai tiga. Sekaligus ruang tempat tinggal Pak Mario
Lantai satu dan dua khusus ruang karyawan. Yang mengelola semua kinerja kantor-kantor cabang. Dan sebagai kantor pusat.
Sementara ruang produksi ada di kantor cabang. Perusahaan Pak Mario bergerak dibanyak bidang. Mulai dari kontraktor, perhotelan, kuliner juga konveksi
Raymond bekerja disalah satu anak perusahaan Pak Mario. Yakni perusahaan konveksi. Raymond manajer di ruang produksi.
Sedangkan Kenny putranya menangani salah satu anak perusahaan, dibidang kontraktor.
Saking asyiknya membersihkan, ruangan Pak Mario. Ribka tidak menyadari kalau Pak Mario sudah keluar dari kamarnya.
Pak Mario kaget melihat Ribka berada di dalam ruangannya. Harusnya Mira yang bertugas disini. Menyiapkan kebutuhannya di pagi hari.
Pak Mario bersidekap dada. Bersandar ke dinding. Mengamati gerak-gerik Ribka. Tangannya begitu lincah dan telaten. Gerak tubuhnya juga nampak luwes. Membuat kening Pak Mario mengernyit. Siapa sebenarnya wanita di dalam ruangannya.
Pak Mario sama sekali lupa, dengan ucapan Kenny yang menyediakan asisten pribadi untuknya.
Tiba-tiba Ribka berbalik dan terkejut melihat ada seoarang pria asing di ruangan bosnya. Ribka lantas berprasangka buruk. Mengira Pak Mario orang jahat.
Spontan Ribka berteriak.
"Maling!" teriak Ribka kaget. Mario juga kaget karena Ribka berteriak maling. Mengira betulan ada maling. Pak Mario berlari ke arah Ribka menghindari maling yang dilihat Ribka.
Sebaliknya Ribka kaget karena Pak Mario mendekatinya. Yang dikiranya adalah maling. Ribka memukul Pak Mario pakai kemoceng di tangannya.
"Dasar maling! Mampus kamu! Tolong!" teriak Ribka histeris. Pak Mario berusaha membungkam mulut Ribka. Pak Mario akhirnya sadar bahwa dirinyalah yang diteriaki sebagai maling
Takut, para pegawainya akan bermunculan akibat teriakan Ribka. Makanya dia berusaha menutup mulut Ribka.
Ribka berusaha melawan. Melepaskan diri dari cekalan Pak Mario. Pak Mario kewalahan juga menghadapi Ribka. Dan kehilangan keseimbangan. Pak Mario terjatuh dan tak sengaja menarik tangan Ribka. Sehingga Ribka ikut terjatuh dan menimpa tubuh Pak Mario.
Suara gaduh dan teriakan dari ruang kerja Pak Mario terdengar oleh Mira yang masih satu lantai. Dia dan kelima rekannya spontan berlari ingin tahu apa yang telah terjadi.
Kelimanya muncul di pintu dan terkejut melihat apa yang terjadi.
"Pak Mario? Bu Ribka?" seru Mira kaget tak kepalang.
Ribka juga kaget setengah mati, saat Mira menyebut nama Pak Mario. Bergegas dia berdiri. Dengan wajah pucat pasi dia menatap Mira.
"Ja-jadi beliau Pak Mario? Bukan maling?"
"Astaga! Bisa-bisanya Bu Ribka menuduh beliau maling." ucap Mira gugup sekaligus takut. Kesalah pahaman itu terlalu fatal.
Mira menyuruh dua rekan prianya membantu Pak Mario berdiri. Dan mendudukkannya di sofa.
"Aduh, maafkan saya Pak. Saya kira tadi Bapak, maling." Ribka merasa serba salah. Membayangkan akan kehilangan pekerjaannya di hari pertama.
"Jadi dia itu asisten pribadi yang dimaksud, Kenny ya?" beliak Pak Mario kesal tak terkira. Baru ngeh kalau Kenny serius dengan ucapannya. Apakah Kenny mau membunuhnya dengan pegawai norak begini?
"I-iya Pak. Pasti telah terjadi kesalah pahaman Pak. Mira minta maaf. Karena belum sempat mengenalkan Bapak. Tadinya Mira mau mengenalkan Bu Ribka. Tapi Bapak masih tidur tadi." tunduk Mira merasa bersalah juga.
Mira tidak menduga akan terjadi kesalah pahaman fatal seperti ini.
"Trus kamu kenapa menuduhku maling? Ini rumahku. Kantorku. Enak saja kamu asal menuduh." Pak Mario memegangi pinggangnya yang serasa patah.
Wanita kurus didepannya itu kuat juga. Terlihat kurus tapi beban tubuhnya cukup berat juga. Mana kepalanya terasa nyut-nyutan efek dilibas pakai kemoceng.
"Maafkan saya Pak. Telah salah mengira Bapak. Tapi, saya tidak mengira kalau Bapak adalah Bos saya. Soalnya Ba-bapak seperti ...."
"Seperti apa?" potong Pak Mario sebelum Ribka selesai bicara. Mira dan kelima rekannya sudah memberi kode untuk tutup mulut saja. Tapi Ribka dengan polosnya malah menjawab.
"Se-seperti preman Pak!" ungkap Ribka tandas. Mira dan lainnya langsung pucat pasi dan bersiap hendak melarikan diri. Takut akan amukan Pak Mario. Jantung mereka sudah seriuh suara petasan. Menunggu amukan sang Bos Tua.
Pak Mario kaget mendengar jawaban Ribka yang jujur itu. Tidak ada tekanan. Lugas dan jujur. Belum pernah ada orang seberani ini membicarakan penampilannya. Dia karyawan barunya. Belum ada sehari bekerja. Masih dalam hitungan menit.
Tapi dia sudah menciptakan kegaduhan. Kegaduhan yang akan berakibat buruk pada dirinya.
Tatapan tajam Pak Mario tiba-tiba melembut. Mira dan rekannya saling pandang, heran. Melihat perubahan drastis wajah Bos Tua mereka
Pak Mario tersenyum lucu mengingat kejadian beberapa menit lalu. Dimana wanita, eh siapa tadi namanya. Ribka ya? Ya, Ribka! Benak Pak Mario ribut sendiri.
Saat Ribka jatuh tepat diatas tubuhnya.
Bibir Pak Mario melengkung. Lalu terbuka dan keluar tawa membahana. Membuat Mira termasuk Ribka terkejut keheranan. ***
Dan aku rasa Mirza itu anaknya Raymond dengan Kathy.