NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengganggu

Tiba saatnya hari pernikahan Nadia....

    Gedung mewah itu dipenuhi dengan cahaya gemerlap dan musik yang merdu. Suasana pernikahan Rendra dan Nadia sangatlah megah, dengan dekorasi yang elegan dan tamu-tamu yang berpakaian formal. Diantara para tamu itu, terdapat bintang-bintang film dan pengusaha-pengusaha sukses.

   Hanum berdiri diantara mereka, tersenyum, meski ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Awalnya semua berjalan sesuai rencana, sampai Hanum melihat Reza hadir di pesta itu.

  "Reza datang? oh iya, mereka kan saling mengenal, jadi wajar saja kalau Reza hadir sebagai tamu," pikir Hanum.

    Melihat kedatangan Reza, Nadia langsung menghampiri, meninggalkan singasananya demi menyombongkan diri. "Aku sengaja mengundangmu. Aku ingin kamu tahu sendiri, kalau aku nggak salah buat ninggalin kamu!" Kata Nadia dengan bangganya.

   "Aku tahu." Jawab Reza tanpa merasa heran, "lagi pula aku datang bukan untuk kamu." Sambungnya dengan lebih santai.

   "Jadi semudah ini kamu melupakan aku?"

    Reza hanya tersenyum tipis, "Nadia... Nadia... sejak awal, aku sudah bilang kalau aku datang hanya karena aku ingin melihat Hanum, bukan untuk melihat kemewahan yang kamu banggakan ini."

   "Jadi selama ini kamu anggap aku apa?"

   Reza mendekatkan wajahnya, "jalan terdekat, yang menyesatkan—yang membuat aku jauh dari dia." Ucapnya sambil menunjuk Hanum dari kejauhan, "kamu memilih hidup yang lebih mewah, dan aku memilih berhenti mendustai hati aku." Sambungnya.

  Nadia sangat kesal pada ucapan Reza, kemudian Reza pergi begitu saja, dan berjalan menghampiri Hanum.

  Demi mengubur masa lalu yang pernah mereka bagi sebelumnya, Hanum bersikap biasa saja. Namun ada sesuatu yang berbeda, ketika tatapan Reza tak pernah benar-benar lepas darinya. Bahkan di tengah keramaian itu, Hanum dapat merasakan kehadirannya yang diam-diam mendekat. Saat itu Hanum mulai menyadari, bahwa Reza datang bukan untuk Nadia.

   "Apa yang kamu lakukan di sini?" Bisik Hanum sembari menahan emosi, setelah Reza berada di dekatnya.

   "Aku datang untuk melihatmu." Jawabnya santai.

   "Jangan bercanda, ini pernikahan adikku."

   "Aku serius. Aku rasa ini waktu yang tepat, karena sebelumnya kamu selalu menghindar."

   Di balik gaun yang rapi dan senyum yang ia paksakan, terdapat pikiran yang kacau. Ia teringat pada reaksi suaminya ketika Reza menelepon, malam itu.

   "Dengar, ya! Aku tidak menghindar, tapi aku sudah memilih hidupku!" Tegas Hanum dengan suara bergetar.

   "Memilih, atau menyerah?" Kata Reza, yang tidak langsung dijawab oleh Hanum.

  "Kamu tidak berhak datang ke sini untuk mempertanyakan hidupku."

 "Aku rasa aku berhak, karena kamu belum jujur sama hati kamu sendiri."

    "Cukup! Aku sudah menikah, dan apapun yang kamu cari di sini, sudah terlambat."

   "Kalau memang terlambat, kenapa kamu masih gemetar saat bicara sama aku?" tanya Reza agak ngeyel.

   "Pergi dari sini sebelum kamu merusak rumah tanggaku!" usir Hanum.

    Suara riuh dari tawa para tamu undangan, kontras dengan percakapan mereka yang semakin tajam.

    "Yang, aku cari kamu dari tadi, rupanya kamu di sini?" Tanya Abi yang tiba-tiba berada di belakang mereka.

   Hanum menoleh cepat, "aku cuma cari udara." Katanya dengan tegang, lalu mengamati sekeliling yang sudah membuat Reza menghilang entah kemana.

    Abi menatapnya lekat, seolah menaruh rasa curiga pada sang istri. "Sama siapa?"

     "Sendiri." Jawabnya cepat.

    "Jangan bohong," kata Abi dengan suara yang mendadak dingin. "Aku lihat kamu bicara sama seseorang."

  Jantungnya mendadak tidak aman, "dia cuma tamu." Katanya.

    Abi mengerutkan dahinya, "tamu? Cara dia bicara sama kamu itu bukan seperti tamu biasa."

   "Kamu telalu berpikir jauh." Katanya, dengan mata yang menghindar.

 Dipegangnya pundak Hanum, "aku ini suami kamu, aku tahu kalau ada yang tidak beres." Katanya.

   Sejenak suasana mendadak hening, hanya suara musik yang terdengar samar.

    "Ada apa sebenarnya?" Tanya Abi pelan, namun terasa menekan. "Mantan kamu kenapa selalu saja ada di mana-mana? Apa dia sengaja?"

    Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa berat tak terhindarkan. "Bagaimana Abi bisa tahu?" bathin Hanum.

    Dengan susah payah Hanum menelan ludahnya sendiri. "Dia hanya masa laluku," jawabnya pelan.

   "Seberapa dalam?"

   Hanum tak langsung menjawab. Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban buat Abi.

   "Dia tidak akan bisa menjawab!" Seru Reza yang tiba-tiba kembali, Reza seolah tak ingin lagi menyimpan apapun. "Karena sebenarnya dia tidak benar-benar meninggalkan aku."

   Abi menatapnya tajam. "Apa maksud dia?" pertanyaan untuk Hanum yang dijawab oleh Reza.

   "Hanum menolak banyak pria cuma buat nunggu aku. Dia pernah menemui aku agar aku menikahinya, tapi saat itu aku belum siap, dan tiba-tiba dia sudah menikah sama kamu. Aku rasa Hanum terpaksa melakukannya." Kata Reza yang membuat keyakinan Abi sedikit goyah.

   Susana semakin tegang, bisik-bisik dari para tamu pun mulai terdengar.

  "Ini bukan saatnya—" Hanum tak bisa melanjutkan kalimatnya.

   Abi berdiri sedikit kaku, tatapannya menyimpan banyak pertanyaan, yang belum sempat terucap namun sudah memenuhi udara. Ia menghela napas pelan, mencoba meredam gelombang yang diam-diam naik di dalam dadanya.

  Diamatinya orang-orang yang berada di sekeliling, kemudian Hanum menarik tangan Abi dan membawanya pergi dari kerumunan.

   "Aku tahu kamu mungkin nggak nyaman dengan kehadiran Reza, tapi tolong dengarkan aku dulu." Kata Hanum saat mereka menjauh dari keramaian.

    "Jadi namanya Reza?" Tanya Abi yang dijawab anggukan oleh Hanum, lalu keduanya berhenti.

   "Apa pun yang dia katakan, itu bagian dari masa lalu yang sudah selesai, dan aku tidak hidup di sana lagi."

   "Aku jadi merasa kalau aku—" kata Abi yang langsung dipotong oleh Hanum.

   "Aku menerima kamu, bukan hanya sekedar memenuhi janji aku, bukan karena keadaan, juga bukan karena paksaan. Aku rasa kamu lebih mengenalku." Hanum menjelaskan.

  Ia menggenggam tangan Abi, kemudian melanjutkan ucapanya, "kalau kamu masih ragu, tanyakan langsung sama aku. Jangan beri ruang untuk prasangka yang tumbuh dari orang lain. Seperti aku yang telah mempercayai kamu dan Nesa, aku juga berharap hal yang sama. Tidak ada yang bisa menghapus masa lalu, tapi aku bisa memastikan, masa depanku hanya denganmu."

  Ada jeda yang panjang, bukan karena Abi tidak percaya, tetapi karena Abi sedang menenangkan sesuatu di dalam diri yang sempat goyah. Kata-katanya sederhana, tetapi cara Hanum menggenggam tangan, membuat Abi sulit mengabaikan.

   Kini, matanya tidak menghindar saat Abi menatapnya, seolah sudah tidak ada lagi kegelisahan yang ia sembunyikan—hanya keyakinan yang tenang, yang membuatnya tahu di mana dia berdiri.

Dan saat itu, Abi sadar, dia tidak sedang kehilangan apapun.

  Perlahan, Abi menariknya dalam pelukan. Ia menghembuskan napas pelan di bahunya. "Apa yang kita bangun tidak boleh serapuh yang orang lain kira. Di luar mungkin masih banyak yang menunggu untuk mengganggu kita, tapi yang perlu kita jaga bukan bayangan masa lalu, melainkan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal." Katanya.

   Hanum mengangguk pelan, "terimakasih." Bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!