Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33. BCS.
Prasasti berhasil melepaskan diri kemudian keluar dengan hati-hati mencari tempat aman untuk bersembunyi, Ia melihat kawanan bodyguard sedang tertidur lelap di sisi pintu. Dengan jalan perlahan ia melewati mereka dan mengambil kunci lalu membuka pintu sangat pelan agar tidak terdengar oleh penjaga. Setelah berhasil Prasasti menutup pintu dan menguncinya dari luar lalu membawa kunci bersamanya melarikan diri.
Ada lorong kecil di sisi tempat tersebut Prasasti berjalan perlahan masuk sesuai ukuran tubuhnya. Ia bejalan pelan-pelan karena suasananya gelap tak ada lampu yang menerangi jalan tersebut. “Sepertinya tempat ini tidak pernah di jamah orang, aku harus cepat keluar dari sini," gumam Prasasti.
Perjalanan Prasasti memakan waktu kurang lebih satu jam lamanya, hingga sampai di ujung lorong. Saat keluar ia melihat sekumpulan orang asing yang belum pernah di lihat, ternyata berada di pasar tradisional.
Beberapa orang melihat Prasasti dengan tatapan aneh dan merasa jijik. Prasasti melihat dirinya menghembuskan napas kasar, menyadari kondisi tubuhnya yang bau dan bernoda darah. Ia mencari tempat untuk membersihkan diri dan membeli pakaian untuk mengganti pakaiannya yang kotor dan bau.
“Mari ikut saya," kata Seorang perempuan yang sedang hamil besar berdiri dibelakangnya.
Prasasti menoleh melihat perempuan tersebut dengan sungkan. "Siapa anda?"
"Bersihkan dulu badan anda di rumah saya," ajaknya berjalan lebih dulu ke arah rumahnya.
Perempuan itu masuk ke dalam rumahnya kemudian mengambil pakaian dan memberikan kepada Prasasti. "Ini pakailah, di sana kamar mandinya, bersihkan tubuh anda," perintahnya.
Prasasti meraih pakaian di tangan perempuan tersebut lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai ia menghampiri perempuan hamil itu sedang membuatkan dua gelas minuman.
Perempuan itu tersenyum melihat Prasasti sudah bersih nampak cantik memakai pakaiannya kemudian meletakkan minumannya sambil berkata. “Silahkan di minum,“
Prasasti dengan sungkan mengambil gelas berisi minuman tersebut dan meneguknya hingga setengah gelas. Ia melihat perempuan itu lalu pandangannya menyapu seluruh ruangan di dalam rumah tersebut.
"Kenalkan nama saya Melati, saya seorang janda di tinggal mati oleh suami, saya tinggal bersama seorang ibu sekarang sedang berjualan di pasar," kata Perempuan bernama Melati.
Prasasti terkejut sekaligus merasa kasihan mendengarnya. Ia beruntung masih ada suami yang menyayanginya. "Saya Prasasti, saya turut berduka atas meninggalnya suami anda,"
Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk menjawab perkataan Prasasti. Ia sedih ketika mengingat almarhum suaminya semasa hidupnya. Ia menceritakan kisah hidupnya bersama suami. Prasasti merasa terharu mendengar kisah perempuan bernama Melati.
Tak terasa Prasasti dan Melati bercerita sampai berjam-jam, hingga menjelang sore hari. Seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam rumah dari arah belakang memberi salam. Melati berjalan menghampirinya membantu ibunya merapihkan barang dagangannya.
Prasasti tertegun melihat pemandangan didepannya. Ia tidak diam saja, membantu merapihkan barang tersebut dan meletakkan di pojok dapur. Perempuan paruh baya itu terkejut melihat ada orang asing berada di dalam rumahnya.
"Kamu siapa, Nak?" tanya perempuan paruh baya tersebut berdiri di samping Prasasti.
Prasasti mencium tangan perempuan itu. “Saya Prasasti, Bu,“
Perempuan itu tersenyum mendengarnya. “Nama yang cantik secantik orangnya, kamu darimana?"
Prasasti menceritakan asalnya bisa sampai di tempat ini. Ibu dan anak itu sangat terkejut mendengar cerita Prasasti. Tiba-tiba perempuan itu menyebut nama Rosmaya wajahnya merah dan tangannya mengepal kuat. Seperti menyimpan rasa amarah yang sudah sangat lama.
“Apa ibu mengenal Rosmaya?" tanya Prasasti melihat wajah perempuan itu heran.
“Hanya tahu namanya saja, kalau masalahnya tidak tahu," jawab Perempuan itu beranjak pergi ke kamarnya.
Prasasti menatap kepergian perempuan itu dengan sejuta tanya di dalam benaknya. Melati menghembuskan napas kasar kemudian melangkah duduk di kursi sofa. Prasasti mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
“Rosmaya sudah membunuh suamiku, karena dendam masa lalu,“ kata Melati.
"Yang tadi kamu ceritakan itu perempuan bernama Rosmaya?" Prasasti meyakinkan rasa penasarannya tentang kehidupan Melati.
Melati mengangguk sedih. "Maaf, aku sudah mengingatkanmu soal masa lalu," kata Prasasti merasa bersalah.
"Kalau boleh tahu nama ibu kamu siapa?" tanya Prasasti kemudian.
Melati menatap Prasasti lekat mengerutkan alisnya lalu menarik napas dalam. "Jihan,“
Deg
Prasasti seperti pernah mendengar nama Jihan waktu di sekap oleh Rosmaya. Ternyata ibu dari melati, Prasasti teringat waktu Rosmaya bersitegang dengan Gael dan Dorman menyebut mana Jihan dengan suara lantang dan ingin membunuhnya.
“Lalu hubungan ibumu dan Rosmaya apa, sampai balas dendam?" tanya Prasasti merasa ada sesuatu yang ingin ia ketahui.
Tiba-tiba perut Melati merasa sakit, ia memanggil ibunya. Rasanya seperti ingin melahirkan, Prasasti tidak tahu harus membantu bagaimana karena ia belum pernah mengalami hamil.
Jihan ibunya keluar dari kamar melihat Melati kesakitan berlari keluar memanggil seseorang, tak lama kemudian masuk bersama seorang lelaki dan membawanya keluar memasukkan ke dalam mobil. Mereka segera pergi ke rumah sakit sedangkan Prasasti masih berdiri tidak tahu harus berbuat apa.
Satu sampai dua jam tidak ada kabar dari Jihan dan Melati, Prasasti merasa tidak nyaman. Prasasti tertidur di kursi sofa ruang tamu. Menjelang pagi ia tersadar dan langsung beranjak mencari Jihan dan Melati di seluruh ruangan dan kamar.
Secara tidak sengaja Prasasti melihat kamar Melati ada bingkai foto seorang gadis remaja bersama seorang pria tampan berdiri disampingnya sambil menggandeng dengan mesra. Prasasti tersenyum senang melihatnya, saat melihat ada tulisan di atas kertas membuatnya terkejut.
Tulisan tangan itu mirip dengan tulisan tangan milik suaminya Albi. Mengatakan kalau Albi sekarang sudah bahagia bersama keluarga baru. Pikiran Prasasti teringat sosok suaminya bernama Albi, apakah Albi yang di maksud suaminya atau Albi yang lain.
Tiba-tiba Prasasti merindukan suaminya, ia tidak tahu sekarang dimana yang jelas ia merasa aman dan nyaman tinggal di tempat asing. "Kamu sedang apa, Mas Albi?" gumamnya meneteskan airmata.
Di tempat penyekapan, Rosmaya sangat marah dan memaki para bodyguard yang menjaga Prasasti. Ia melampiaskan kepada para bodyguard yang tidak becus menjaga tawanannya.
Semua bodyguard dikumpulkan dan dihajar oleh Rosmaya, Gael dan Dorman geleng-geleng kepala. Mereka berdua tidak tahu menahu soal pemindahan Prasasti ke tempat itu, jadi hanya mendengar saja ocehan Rosmaya.
“Kamu, berdua kenapa diam saja, cari Prasasti sampai ketemu, masa harus aku semua yang mengerjakan. Enak sekali kalian berdua," Rosmaya berdecih melihat dua pria yang berdiri dibelakangnya.
"Kami harus mencari kemana, dunia ini luas, Ros," sahut Gael dengan malas.
"Urus Albi saja tidak becus apalagi urus istrinya," Rosmaya meremehkan Gael dan Dorman.
Dua pria itu tidak terima diremehkan olehnya, saling memberi kode lalu melangkah pergi.