NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Tentang Kamu Elara

Hening yang tajam itu tidak berlangsung lama. Saat Shafiya memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Dunia di depannya terlihat sama. Kabur dan gelap. Dan kemudian benar-benar gelap.

Tubuh Shafiya limbung hampir jatuh.

Agam yang berdiri di posisi lebih dekat segera menahan.

Tapi Sagara juga tidak diam di tempat. Ia bergerak lebih cepat. Kepala Shafiya jatuh di pundaknya.

Sedang Agam menahan lengan Shafiya.

Satu detik waktu seakan berhenti.

Kembali bergerak saat pandangan Sagara terangkat, menatap Agam.

Reflek Agam melepaskan pegangannya di tubuh Shafiya.

Sagara langsung mengangkat tubuh Shafiya ke dalam kamar.

“Panggil dokter!”

“Sudah.” Jawaban Agam cepat. “Dokter Zulaika sedang dalam perjalanan ke sini.”

Sejak tahu Shafiya kelelahan, dan sebelum mengantarkannya ke kamar untuk istirahat, Agam memang sudah menghubungi dokter Zulaika lebih dulu.

Mendengar itu, langkah Sagara sempat terhenti sepersekian detik.

Ia sadar kembali terlambat satu langkah, dan itu... mengganggu. Terlihat dari rahangnya yang mengeras samar. Namun tidak lama. Setelah itu ia kembali berjalan masuk tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Tubuh Shafiya dibaringkan pelan di atas ranjang.

Sagara menahan kepalanya lebih dulu sebelum benar-benar melepas dekapannya. Jemarinya sempat merapikan kerudung yang posisinya bergeser dan menutup sebagian wajah perempuan itu.

“Elara." Ia memanggil pelan.

Tapi tidak ada jawaban.

Tatapan Sagara turun ke wajah yang terlihat terlalu pucat itu. Sepasang matanya tertutup rapat. Tangannya menyentuh pelan ujung jemari Shafiya yang terasa dingin.

“Ambil selimutnya,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.

Winda bergerak cepat mengambil selimut dan menutupinya ke sebagian tubuh Shafiya.

Sementara Sagara tetap di sana. Berdiri dekat. Tidak berjalan mondar-mandir. Tidak menunjukkan kepanikan berlebihan.

Namun sejak tadi, tatapannya bahkan tidak benar-benar berkedip lama dari wajah Shafiya.

Dan itu cukup menjelaskan segalanya.

Bahwa ia lebih dari hanya sekedar khawatir.

Di luar ruangan.

Agam juga masih berdiri di sana. Semua kejadian sebelumnya hingga sampai pada titik ini terputar kembali secara teratur dalam ingatannya.

Bagaimana ia membiarkan Shafiya berjalan terlalu lama. Membiarkan perempuan itu sibuk memilih hadiah. Membiarkan antusiasme itu terus hidup sejak dari department store sampai pondok lama yang kembali mereka datangi untuk membantu persiapan harlah esok lusa.

Padahal Agam tahu kondisi Shafiya tidak benar-benar baik.

Terlalu lelah bukan hal bagus untuk perempuan yang sedang hamil muda dengan kondisi sekompleks itu.

Namun ia tetap membiarkannya.

Karena sejak awal, Agam melihat sendiri bagaimana wajah Shafiya berubah hidup saat berada di tempat itu.

Seolah untuk beberapa jam… perempuan itu akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri.

Dan sekarang, akhirnya justru seperti ini.

Agam menghembuskan napas panjang.

Rasa bersalah datang tanpa diminta.

Di sisi lain, Agam mulai mempertanyakan sesuatu yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.

Kepeduliannya pada Shafiya… sebenarnya berpijak di atas apa?

..

...

"Pak Agam." Suara itu menarik semua pikiran Agam.

Ratri berdiri tak jauh di depannya.

"Dokter Zulaika sudah datang."

"Suruh langsung."

"Baik." Ratri berlalu memanggil Zulaika yang sudah menunggu di ruang utama lantai dasar.

Langkah dokter Zulaika terdengar cepat begitu sampai di lantai atas. Tas medis masih berada di tangannya saat Ratri langsung membukakan jalan menuju kamar Shafiya.

Zulaika masuk. Keberadaan Sagara membuatnya sempat berhenti.

Sagara yang melihatnya, langsung menyilakan dengan isyarat tangan.

“Sejak kapan pingsan?” tanya Zulaika sambil mendekat ke sisi ranjang.

“Tidak lama, Dok,” jawab Winda cepat. “Baru beberapa menit.”

Dokter Zulaika berhenti di sana. Tatapannya memeriksa lebih dulu kondisi Shafiya yang masih belum sepenuhnya sadar. Jemarinya menyentuh nadi di pergelangan tangan perempuan itu terlebih dulu sebelum membuka salah satu kelopak matanya perlahan.

“Ning Shafiya…”

Memanggil lembut. Tenang.

Tidak lama, respons kecil mulai terlihat. Napas Shafiya berubah pelan sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan.

Pandangan itu tampak belum fokus sepenuhnya. Mengerjap pelan. Dan akhirnya kembali utuh. Ia bisa melihat semuanya dengan jelas.

Dokter Zulaika. Winda. Dan Sagara yang berdiri dalam jarak tidak terlalu dekat.

“Pelan-pelan.” Dokter Zulaika menahan pundaknya saat Shafiya refleks ingin bangun.

"Tetap berbaring. Tidak apa-apa."

Sagara yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sisi ranjang akhirnya sedikit bergerak maju. Tatapannya tidak lepas sedikit pun sejak dokter itu mulai memeriksa.

“Pusing?” tanya dokter Zulaika lagi.

Shafiya mengangguk kecil.

“Masih mual?”

Dan kali ini jawabannya lebih pelan. “Iya.”

Dokter Zulaika mulai melakukan pemeriksaan lebih detail. Tekanan darah. Detak jantung. Kondisi perut. Sampai beberapa pertanyaan kecil tentang apa saja yang dilakukan Shafiya hari itu.

Dan semakin pemeriksaan berjalan, tubuh Shafiya justru terlihat semakin tidak nyaman.

Bukan karena dokter Zulaika.

Tapi karena Sagara masih berada di sana.

Tatapan Shafiya beberapa kali bergerak ke arahnya lalu pergi lagi dengan cepat.

Jemarinya bahkan sempat menggenggam ujung selimut sendiri saat dokter Zulaika mulai menanyakan kondisi makan dan aktivitasnya seharian tadi.

“Banyak aktivitas hari ini?”

Shafiya diam sebentar.

“Sempat keluar cukup lama,” jawabnya pelan.

Dokter Zulaika mengangguk kecil. “Makan teratur?”

Kali ini Shafiya tidak langsung menjawab.

Dan jeda kecil itu cukup membuat suasana kamar terasa berubah.

Sagara menangkap semuanya.

Cara Shafiya menahan jawaban. Cara perempuan itu seperti sedang memilih kalimat yang paling aman untuk diucapkan di depannya.

Dan entah kenapa, itu terasa lebih mengganggu daripada ketidaksadaran tadi.

Shafiya seperti tidak mau bercerita semuanya karena ada Sagara. Entah karena dia merasa takut, atau memang tidak ingin.

“Ning Shafiya.” Nada dokter Zulaika tetap tenang. “Saya perlu jawaban jujur supaya bisa tahu kondisi kamu.”

“Makan? Tidak terlalu teratur,” jawab Shafiya akhirnya.

Sunyi sebentar jatuh di kamar itu.

Zulaika mengangguk singkat.

"Dokter?" Sagara menatap Zulaika yang sudah selesai dengan pemeriksaannya.

Dokter Zulaika melepaskan stetoskopnya pelan. Tatapannya berpindah dari wajah Shafiya yang kembali memejamkan mata karena lemas, ke Sagara yang berdiri kian dekat.

“Tidak ada perdarahan. Detak jantung janin juga masih baik.” Kalimat itu lebih dulu ia sampaikan.

Dan itu cukup membuat rahang Sagara yang sejak tadi menegang sedikit mengendur.

“Tapi tubuh nona terlalu lelah.”

Tatapan Sagara kembali naik.

“Aktivitas hari ini terlalu banyak untuk kondisinya sekarang. Jalan terlalu lama. Kurang istirahat. Makan juga terlambat.” Dokter Zulaika berhenti sebentar. “Ditambah tekanan emosional.”

Sunyi jatuh beberapa detik.

Namun Sagara tidak menyela.

Tatapannya hanya berubah lebih dalam ke arah Shafiya.

“Pingsannya tubuhnya itu bentuk respon karena sudah terlalu dipaksa,” lanjut dokter Zulaika lebih tenang. “Kalau terus seperti ini, kontraksi ringan bisa muncul sewaktu-waktu. Dan itu tidak baik untuk kehamilan muda.”

Kalimat terakhir itu membuat suasana kamar semakin hening.

“Yang saya sarankan sekarang, bed rest.” Dokter Zulaika menatap Sagara langsung kali ini. “Minimal satu minggu. Aktivitas dibatasi. Jangan terlalu lelah. Dan pola makannya harus dijaga benar.”

Sagara mengangguk pelan.

Tidak banyak bicara.

Namun sejak tadi pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari perempuan di atas ranjang itu.

Dan kali ini, dengan semua yang terjadi, ia terlihat benar-benar menyadari… kondisi Shafiya jauh lebih rapuh dari yang selama ini ia lihat.

Ruangan itu akhirnya kembali sepi setelah dokter Zulaika keluar diikuti Winda.

Sagara masih berdiri di sisi ranjang. Sementara Shafiya perlahan membuka matanya lagi.

Tatapan mereka bertemu sebentar.

"Kamu suka ke pondok itu?"

Nada Sagara rendah.

Shafiya diam beberapa saat sebelum menjawab. "Iya. Saya merasa lebih hidup di sana."

Sagara terdiam.

Jawaban itu terasa jauh lebih berat dibanding jawaban dokter barusan.

Namun akhirnya Sagara mengangguk.

"Baik. Sekarang kita patuhi saran dokter dulu. Istirahat total. Setelah semua selesai. Kamu bisa kesana lagi.. kapanpun."

Shafiya hanya diam, menatap Sagara. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan laki-laki itu sepanjang interaksi mereka. Dan mungkin itu yang membuat Shafiya masih terdiam.

"Hanya saja. Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu memaksakan diri." Sagara melanjutkan.

Shafiya menangkap arah lain dari ucapan itu. "Jangan khawatir. Saya akan jaga anak ini... biar bagaimanapun."

"Ini bukan hanya tentang dia." Sagara menatap lurus wajah pucat Shafiya.

"Tapi tentang kamu, Elara."

1
Nurilbasyaroh
aku tuh slalu suka karya mu thor bagus banget cerita y
Ayuwidia
Aku curiga, jangan2 ini kerjaan si perawat baru itu, dan dalangnya wanita yang masih sangat mengharapkan berada di posisi Shafiya
Afsa
Apakah ada andil Kaluna,ingin Syafiya keguguran🤔
iqha_24
Anjani jahat apa ya?
Amalia Siswati
nunggu lama2 agak kecewa di bab ini,malah terlalu banyak menceritakan karakter sagara,di awal2 sudah di ceritakan bagaimana karakternya tapi selalu di ulang2 bukan fokus ke kisah dengan elaranya.
iqha_24
gercep kan Sagara 👍, lanjut
Ayuwidia
Baca bab ini, berasa deg-degan. Takut Elara dan calon bayinya kenapa-napa 🥺
Nofi Kahza
Iya, Sagara manis juga ternyata🤭
Nofi Kahza
lho.. dh mulai manis ni perhatiannya...🥰
Nofi Kahza
sikap Anjani yg ini gue suka😎
Ayuwidia
Baru sadar kalau kamu suaminya? Kalau mengaku suami, harusnya paham dong tanggung jawab dan kewajibannya apa...
Nofi Kahza
masih bertanya? teman kok suka suudzhon..
Nofi Kahza
Cetaasss! bagus. Satriya itu bibirnya lembut tp diwaktu tertentu tajamnya setajam silet😆
Nofi Kahza
Anjani yang di sini dengan Anjani yang di sana beda ya🤭
Nofi Kahza
Anjani mah, yg dipikirin cuma penerus keturunannya aja. itu Shafiya anak orang loh, rela kasih penerus. ih😒
Nofi Kahza
Yes! harusnya dr kemarin2 kayak gitu, Gar....
Nofi Kahza
Eaaakk .. mulai berkembang nih si Sagara. Suka suka..🥰
Nofi Kahza
tetaplah berpijak di batas wajar aja ya, Gam. Aku tahu, Sagara kakunya nyebelin, tapi aku tetep pinginnya Shafiya itu sama Sagraa🤭
Nofi Kahza
woah. centilnya centil banget🤭
Nofi Kahza
aku suka jika Sagara terusik. kalau bisa buat dia kelimpungan dg gengsinya Kak Othor🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!