Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Wisuda
"Widih, mau lamaran, Kal?" Goda Wildan saat melihat Kalandra yang sudah rapi dengan menggunakan kemeja batik, celana dasar dan sepatu pantofel.
"Sembarangan banget! Kalo bisa langsung nikah sih, gak usah pake lamaran." Sahut Kalandra sambil tertawa.
"Hemat budget ya, Kal." Kata Oji.
"Iya, dong. Biar bisa honey moon keliling Indonesia." Jawab Kalandra.
"Ini mau dateng ke wisuda Naina? Gak terlambat, Kal?" Tanya Oji.
"Masih jam kerja, mau melipir sih ini ceritanya." Kekeh Wildan.
"Lagian kan gak bisa masuk, dari pada nanti kelamaan nunggu di luar." Jawab Kalandra.
"Nanti kalo ada apa - apa, langsung telfon aku, ya." Pinta Kalandra yang di jawab anggukan mengerti oleh Oji dan Wildan.
Kalandra pun segera menuju ke mobilnya. Jika biasanya ia mengendarai motor, kemarin ia memang sengaja mengendarai mobil menuju ke Markas karena akan menghadiri acara wisuda kekasihnya.
Tak lupa, Kalandra mampir ke sebuah toko. Ia sudah memesan buket bunga dan coklat kesukaan Naina. Setelah mengambi pesanannya, Kalandra pun segera menuju ke Universitas Negri.
"Bang! Bang Kal!" Nadi melambaikan tangannya sambil meneriakkan nama Kalandra yang sedang mencari keberadaannya.
"Udah mulai dari tadi, Di?" Tanya Kalandra.
"Udah, Bang. Mungkin bentar lagi selesai." Jawab Nadi sambil menyalami Kalandra, begitu juga dengan si bungsu, Nata.
"Kata Mbak Nana, Abang gak bisa dateng karena masih shift?" Tanya Nata.
"Iya, memang masih shift. Tapi ini tadi izin melipir sebentar. Sengaja bilang gitu buat kasih kejutan ke Nana." Jawab Kalandra.
Mereka bertiga pun mengobrol dengan santai. Ketiganya tampak sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung. Tak jarang, ketiganya bercanda hingga berujung adu otot.
"Katanya Abang sama Mbak Nana mau tracking lagi, ya?" Tanya Nata.
"Iya. Nurutin mintanya Nana. Mau ke Gunung R, katanya." Jawab Kalandra.
"Kenapa, kamu mau ikut, Dek?" Tanya Kalandra basa - basi.
"Ck! Masih sekolah. Kalo waktu liburan, aku mau ikut." Jawab Nata.
"Memang sengaja perginya pas gak liburan, biar kalian berdua gak ikut." Gelak Kalandra kemudian.
"Parah sih emang, orang dua itu." Cicit Nadi.
"Ah! Kalian di ajak daki Gunung yang gak tinggi aja, pada K.O. Kalo ikut ke Gunung R, harusnya kita cuma tiga hari, bisa jadi seminggu nanti." Sahut Kalandra yang membuat Nadi dan Nata tertawa.
"Lagian hobi kok aneh sih, Bang. Capek - capek naik Gunung, ujungnya juga turun lagi." Kata Nadi.
"Lah kamu juga aneh, Di. Capek - capek hidup, ujungnya juga meninggal." Sergah Kalandra yang kembali membuat mereka bertiga terkikik.
"Iya juga, ya." Kata Nata.
Tak lama kemudian, satu persatu wisudawan dan wisudawati bersama pendamping mereka tampak keluar dari Gedung Serba Guna Universitas yang menjadi tempat di adakannya Wisuda.
"Eh, itu Mbak Nana!" Kata Nata sambil menunjuk keberadaan Naina dengan Ayah dan Bundanya yang sedang mengobrol dengan salah satu teman Naina.
"Ayolah, samperin. Si Abang kayaknya udah gak sabar, sampe gak kedip lagi lihat Mbak Nana." Ajak Nadi.
"Cantik banget Mbakmu, Maa Syaa Allah." Kata Kalandra sambil tersenyum.
"Kalo mau ke KUA, masih buka sih ini, Bang." Kekeh Nata yang menular pada Kalandra dan juga Nadi.
Naina terpaku saat melihat Kalandra berjalan bersama kedua adiknya. Pria itu tampak tampan dengan mengenakan baju batik, walaupun masih lebih tampan saat ia mengenakan seragam Damkar, menurut Naina.
Kalandra pun segera menyalami Ayah dan Bunda Naina ketika bertemu.
"Kata Nana gak bisa dateng, Kal?" Tanya Bunda.
"Iya, ini tadi izin sebentar, Bun." Jawab Kalandra.
"Jahat banget, ngerjain aku!" Kata Naina sambil merengut.
"Dari bangun tidur udah badmood loh itu tadi, Bang." Ledek Nata.
"Gak ya! Asal aja kalo ngomong." Sewot Naina sambil memukul lengan adik bungsunya.
"Selamat ya, Cantik. Bisa lulus cumlaude dan dapet gelar Mahasiswa terbaik di Jurusan." Kata Kalandra sambil memberikan dua buket yang ia bawa.
"Makasih ya, Bang. Makasih juga udah ngeluangin waktu buat dateng ke sini." Kata Naina.
"Ini kenapa kok orang - orang pada lihatin kita, sih?" Tanya Nata.
"Udah jelas karna Ayah ganteng." Sahut Ayah Naina yang memecah tawa mereka.
"PeDe banget sih, Yah." Gelak Nata.
"Ini kayaknya karena Petugas Damkar yang lagi naik daun sih." Kekeh Naina.
"Iya lagi! Vidionya Bang Kal banyak seliweran di sosmed loh. Waktu lagi live sama temennya. Jawaban Bang Kal, bener - bener lucu tapi menohok." Kekeh Nadi.
"Kayaknya sekarang ini orang - orang lebih percaya sama Damkar deh. Apa - apa minta tolong sama Damkar." Kata Ayah.
"Soalnya mereka geraknya cepet, Yah." Sahut Bunda.
"Abang itu anggota Damkar gajinya bulanan atau per kebakaran sih?" Tanya Nata tiba - tiba.
"Ya bulanan lah, Ta. Kalo per kebakaran, yang ada kami bakarin rumah orang tiap hari." Jawab Kalandra yang memecah tawa mereka semua.
"Udah - udah, ayo kita foto dulu." Ajak Bunda.
Mereka pun mengambil beberapa foto di sana dengan menggunakan kamera xlr milik Nata. Nata memang hobi mengambil gambar dengan kamera, hingga ia memiliki beberapa macam kamera dengan berbagai jenis lensa.
"Pindah ke studio aja, yuk." Ajak Naina.
"Udah jadi booking studio, Mbak?" Jawab Nadi.
"Udah. Makanya ayo kita ke sana. Mbak janji jam satu." Jawab Naina.
"Gak makan dulu ini? Laper loh. Seenggaknya cari yang bisa buat ganjal perut gitu." Keluh Nata.
"Yaudah, nanti kamu sama Ayah, Bunda dan Nadi duluan ke studionya. Abang sama Nana nanti mampir drive thru. Chat aja mau pesan apa." Kata Kalandra.
"Yes! Yuhuu! Abang emang paling the best." Seru Nata yang membuat kedua orang tuanya geleng - geleng kepala.
Naina dan Kalandra pun segera menuju ke salah satu Resto yang menyiapkan layanan drive thru.
"Cantik banget, Sayang." Puji Kalandra yang seolah tak jemu menatap gadis di sebelahnya.
"Aku jadi gugup loh, Bang. Kalo di lihatin terus gitu." Kata Naina.
"Gak bisa mau ngalihin pandangan, Na. Berasa lagi cuci mata." Kekeh Kalandra.
"Eh, Mama telfon, Bang." Kata Naina saat membuka ponselnya yang berdering.
Ia pun segera menjawab panggilan vidio dari Mama Vina.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, Na. Maa Syaa Allah, cantik banget." Puji Mama Vina.
"Selamat ya, Sayang. Semoga ilmunya berkah dan bermanfaat." Ujar Mama Vina kemudian.
"Aamiin. Terima kasih, Ma."
"Mommy!" Seru Gio sambil menongolkan wajahnya.
"Hallo, Ganteng..." Sapa Naina.
"Mommy cantik banget!" Puji Gio.
"Iya dong, pacar Daddy!" Sahut Kalandra.
Setelah mengobrol sebentar, mereka pun menyudahi panggilan telfon karena mereka sudah sampai di studio.
"Masih antre, Mbak." Kata Nata.
"Yaudah, makan dulu aja." Jawab Kalandra.
Tak lama kemudian mereka pun di panggil untuk melakukan sesi foto. Namun, baru mengambil dua foto bersama, ponsel Kalandra berdering.
Melihat nama si penelfon, Kalandra pun segera menjawab panggilan itu. Naina terus memperhatikan Kalandra. Wajahnya terlihat serius dan sedikit resah kala menjawab panggilan telfon itu.