Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Syarat
Happy reading
Hawa menarik napas dalam, merasakan kemantapan yang kian mengakar di relung hatinya setelah berbincang di joglo tadi. Kini ia sangat yakin untuk melangkah bersama Rama; menautkan cinta dan mengikrarkan janji suci di bawah naungan rida-Nya.
Hatinya telah bulat memilih Rama sebagai pelindung, penjaga, pengayom, sekaligus imam.
Dalam senyap, ia melangitkan harap agar Ilahi mengijabah segala pinta, memudahkan langkah, serta menyingkirkan aral yang melintang.
Namun, ada satu doa yang ia selipkan dengan lebih khusyuk: semoga Allah melunakkan hati sang bunda agar mau menerima Rama dengan tangan terbuka.
Hawa ingin bundanya menerima Rama bukan sekadar karena ia adalah Dzaki, putra dari sahabat lamanya, melainkan karena sosok pemuda itu sendiri--lelaki yang patut dijadikan menantu tanpa harus melulu menimbang embel-embel bibit, bobot, dan bebet.
Sesaat Hawa termenung, menatap lekat laci nakas yang menyimpan berbagai benda miliknya. Di sana, berjuta memori tersusun rapi, tak terkecuali sebuah buku harian berisi curahan hati tentang Damar yang dulu pernah begitu mendominasi dunianya.
Hawa terdorong untuk membuka laci itu, kemudian mengeluarkan buku bersampul biru muda. Jemarinya sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mantap merobek lembar demi lembar halaman yang tergores nama Damar Aksara, sahabat yang kini telah berganti status menjadi kakak ipar.
Ia terus mencacah lembaran-lembaran itu menjadi serpihan kecil hingga tak ada lagi kata yang bisa terbaca, lalu membiarkannya luruh di tempat sampah.
"Selamat tinggal masa lalu. Kini aku memilih jalanku karena Allah," bisiknya lirih, menyematkan senyum tipis yang terasa begitu ringan di bibir.
Tepat saat itu, ketukan pintu terdengar diikuti panggilan lembut khas Ijah. Hawa sedikit terperanjat, lantas segera beranjak membukakan pintu untuk pengasuh yang sudah ia anggap sebagai ibu.
"Non, sudah ditunggu Tuan, Nyonya, Non Hanum, dan Den Damar di ruang makan," lapor Ijah begitu pintu terbuka.
"Iya, Bi. Sebentar lagi aku menyusul."
"Non Hawa sedang apa? Kok banyak sobekan kertas di sana?" tanya Ijah heran sembari melirik cacahan kertas yang memenuhi tempat sampah di sudut kamar.
"Sedang melenyapkan kepingan masa lalu, Bi. Agar hatiku semakin yakin untuk menuliskan kisah terindah bersama Rama," jawab Hawa mantap, tanpa menyisakan sedikit pun keraguan.
Ijah mengulas senyum. Ada kelegaan yang menyeruak di hatinya saat mendengar ketegasan sang nona. Ia hanya bisa merapalkan doa, berharap Hawa akan tetap istikamah pada pilihannya, meski ia tahu ada satu hal besar yang harus diperjuangkan: restu sang bunda.
Ia paham, meyakinkan Nyonya Gistara tidak akan semudah membalik telapak tangan. Namun melihat binar di mata Hawa, Ijah merasa harapan itu selalu ada.
Ijah belum tahu bahwa Rama yang dipilih Hawa adalah Dzaki, putra dari Arya dan Almira--dua sahabat karib majikannya.
Hawa sengaja bungkam. Bukan karena ia tak mau berbagi rahasia dengan pengasuhnya, ia hanya ingin semua orang di rumah itu menerima Rama sebagai pribadi yang utuh.
Ia ingin mereka melihat sosok lelaki yang pantas dipilih karena ketaatannya, bukan karena embel-embel masa lalu atau ikatan persahabatan orang tua.
Bagi Hawa, Rama harus berdiri di atas kakinya sendiri untuk mendapatkan restu itu.
Hawa melangkah tenang menuju ruang makan diiringi oleh Ijah yang mengekor di belakang. Bibirnya melengkung tipis saat menangkap tatapan sekilas dari Damar, yang kemudian segera menunduk. Hawa sangat menghargai ikhtiar Damar dalam membangun perisai demi menjaga kesucian ikatan pernikahannya dengan Hanum, dan juga hubungan mereka kini--sebagai saudara ipar.
"Hawa, besok pagi tolong antarkan kue ke rumah Tante Almira. Sampaikan juga salam Bunda untuk Dzaki," ujar Gistara, tepat saat Hawa mendaratkan tubuh di kursi.
"Dzaki? Apa dia sudah kembali?" Damar bergumam lirih. Nama itu membangkitkan memori tentang sahabat masa kecil yang dulu sering ia panggil 'Jenderal'.
"Bunda harap hubungan kalian yang dulu erat bisa terjalin lagi," imbuh Gistara, tatapannya terkunci pada Hawa, seolah sedang mendikte masa depan putri bungsunya dengan lelaki bernama Dzaki.
Hawa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. "Iya, Bun, besok Hawa antarkan. Tapi, ada satu hal yang ingin Hawa sampaikan."
"Apa?" sahut Gistara singkat.
"Begitu lulus kuliah nanti, Rama berniat menemui Ayah dan Bunda. Dia ingin memohon restu untuk menjadikanku teman hidupnya."
Pengakuan itu jatuh bak gelegar petir yang membelah keheningan meja makan. Gistara seketika mengepalkan tangan kuat-kuat, napasnya memburu tertahan. Di sisi lain, Damar hanya bisa menunduk dalam, mencoba mendistraksi hatinya agar lapang menerima kenyataan bahwa sahabat yang dulu ia impikan menjadi kekasih halal, kini telah memilih jalan hidupnya sendiri.
"Bunda tidak sudi menyambut pelayan itu! Apalagi jika harus memberikan restu," suara Gistara naik satu oktaf, memberikan penekanan tajam pada kata 'pelayan'.
"Bun, Rama bukan pelayan--"
"Hawa! Kamu jauh lebih pantas mendapatkan calon suami seperti Dzaki, bukan lelaki yang belum jelas arah masa depannya," potong Gistara cepat, tak membiarkan Hawa menyelesaikan kalimatnya.
"Bun, Rama itu pemuda yang giat bekerja. Yang lebih utama, dia sangat dekat dengan Tuhannya," sahut Hawa, suaranya bergetar namun tetap teguh. "Hawa yakin, Rama bisa menjadi suami sekaligus imam yang sanggup menuntun Hawa meraih rida Ilahi. Mengenai masa depan, insyaallah sudah ia pikirkan matang-matang," imbuhnya.
"Apapun yang kamu katakan tentang laki-laki itu, Bunda tetap tidak akan memberi restu, karena yang bunda harapkan menjadi menantu hanya Dzaki." Gistara tetap bersikukuh dengan keputusannya.
"Bun, Hawa sudah dewasa. Izinkan dia memilih jalannya sendiri, tanpa harus terus-menerus disetir dan dijejali kriteria bibit, bobot, bebet. Hanum yakin, Hawa pasti sudah berpikir matang sebelum memercayakan hatinya pada Rama," Hanum menginterupsi. Ia yang biasanya lebih banyak diam, kini memberanikan diri angkat bicara demi membela adiknya.
Janu berdeham. Ia mencoba menjadi penengah, memperdengarkan suaranya yang berat namun sarat akan kewibawaan.
"Ayah sependapat dengan Hanum. Biarkan Hawa memilih jalannya sendiri. Lagipula, Rama itu pemuda yang santun, fasih membaca Al-Qur'an, dan yang terpenting... dia taat pada Tuhannya. Ayah yakin, Rama bisa menjadi imam yang sanggup membimbing Hawa, sosok lelaki yang pantas bersanding dengan putri kita."
Gistara kian meradang. Dadanya naik-turun menahan emosi yang nyaris tumpah. Ia beranjak kasar dari duduknya, berusaha keras mengendalikan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Kalian semua sama saja!" hardiknya tajam.
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah lebar meninggalkan ruang makan yang seketika terasa engap. Suara langkah kakinya yang menghentak lantai seolah menjadi penutup diskusi yang berakhir buntu itu.
"Hawa, jangan masukkan ucapan Bundamu ke dalam hati. Jika benar Rama berniat datang sebagai lelaki yang ingin memintamu menjadi teman hidup, Ayah tidak akan keberatan. Namun, ada satu syarat: ia harus datang bersama walinya, bukan seorang diri," tutur Janu bijak, memecah hening yang sempat mengambil alih ruang makan.
Sepasang mata indah Hawa seketika berkaca-kaca. Rangkaian kata yang mengalir dari bibir ayahnya terasa seperti oase yang menyejukkan hati. Ia benar-benar tidak menyangka sang ayah akan memberikan lampu hijau secepat ini--dukungan yang terasa kontras dengan penolakan keras dari Bundanya.
"Terima kasih, Yah. Insyaallah, nanti Hawa sampaikan syarat itu," balas Hawa disertai lengkung senyum yang merekah di bibirnya.
Janu mengangguk, lalu mengejapkan mata dan membalasnya dengan senyum tulus yang menenangkan.
Setelah itu, tidak ada lagi obrolan. Keheningan hanya tergantikan oleh suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik, mengiringi ritual makan malam tanpa Gistara yang saat ini mungkin tengah meluapkan amarahnya di balik pintu kamar yang terkunci.
🍁🍁🍁
Bersambung
aku vote deh..