Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
...🌻🌻🌻🌻🌻...
"Gak usah maen teka teki, om! Kasih tau Jen, kasih liat Jen. Bukti apa yang papa kirim ke om!" cecar Jenny penasaran.
Grap.
Alan menggenggam tangan Jenny yang berada di atas meja.
“Gak usah maksa! Kalo om Rendra bilang gak mau kasih liat bukti nya ke kamu! Ya udah, yang penting hasil nya… kamu tetap berpisah dengan laki laki breng5ek itu kan!” jelas Alan tegas.
Jenny melepaskan genggaman tangan nya dari Alan.
“Aku tidak minta pendapat mu! Ini masalah ku, rumah tangga ku! Wajar dong kalo aku ingin tau, bukti apa yang om Rendra dan papa miliki. Sampai membuat mas Jo kehilangan muka!” cerocos Jenny gak mau kalah.
Alan mengedarkan pandangan nya pada Rendra, Renal dan rekan pengacara lain nya.
“Saya mewakili mbak Jenny. Berharap besar, dengan bantuan kalian bertiga. Untuk mewujudkan perpi5ahan di antara mbak Jen dengan pria yang sekarang masih berstatus suami nya! Terlebih dengan bukti yang kalian miliki!” beo Alan dengan tatapan penuh harap.
Jenny menatap jengah Alan, “Astagaaa, jangan harap aku akan berterima kasih apa lagi kagum dengan sikap mu ya, bocah! Aku malah jeng4h tau gak!”
“Siapa juga yang mau buat mbak kagum! Saya ini bicara cuma mewakili hati istri yang terluka di khianati suami nya!!” sindir Alan.
Jenny mengangk4t tangan nya ke wajah Alan dengan gema5, “Kamu b0cah …”
“Bukan b0cah, aku ini pria dengan pikiran mat4ng yang terjebak dalam tubuh b0cah, mbak!” sangkal Alan dengan tatapan mengejek.
Untuk sepersekian detik Jenny terperangah, namun sejurus kemudian. Wanita itu terkekeh mengejek Alan.
“Apa kamu bilang? Pria dengan pikiran mat4ng? Hahaha mimpi! Usia mu itu belasan tahun! Begitu pun dengan pikiran mu! Ment4h!”
“Mau lihat seberapa mat4ng nya aku, mbak?” tantang Alan, membuat Jenny melotot galak.
“Kalian apa gak capek berdebat terus?” sela Renal.
“Siapa juga yang berdebat! B0cah ini aja yang terlalu ikut campur dalam urusan ku! Dia juga gak seharus nya ikut rapat dengan kita!” ketus Jenny.
“Udah selesai kan om rapat nya?” tanya Alan, gak peduli omongan Jenny.
“Sudah! Kalian mau balik?” seru Rendra.
Alan beranjak, “Harus balik, om! Kalo gak balik! Kapan om dan tim bergerak untuk mengurusi perpisahan mbak Jen!”
“Seriusan gak mau kasih liat bukti nya om?” desak Jenny lagi.
“Gak aja, Jen! Gak ada bukti yang harus om perlihatkan ke kamu! Anggap ini kejutan untuk mu! Penilain papa mu gak pernah salah terhadap Joseph!” tegas Rendra.
“Akkhhh! Ka- kamu jangan lanc4ng Alan! Turunin gak! Aku bisa jalan sendiri!” jerit Jenny, saat Alan men4rik nya dari kursi lalu menggend0ng nya ala bridal.
“Om, semua nya! Kami pamit!” beo Alan sebelum berbalik badan memunggungi ke tiganya. Melangkah tanpa beban menuju pintu.
“Biar aku bantu buka pintu!” Renal mendahului Alan, membuka kan pintu untuk keduanya.
Jenny panik, netra nya mengedar ke arah Rendra, Renal dan yang lain, “Kalian! Kenapa gak hentikan ini b0cah! Gimana kalo sampe nih b0cah berbuat jah4t sama aku? Tolongin!”
Rendra terkekeh di tempat nya, “Lebih baik kamu temani Jenny ke rumah sakit, Lan! Om yakin, otak Jenny sedikit bergeser itu!”
“Otak kalian yang geser! Ada tindak penculik4n di depan mata tapi kalian abaikan!” protes Jenny.
Alan terkekeh, “Bukan penculik4n ini! Tapi aku hanya bawa mbak! Kita kan udah selesai rapat nya! Ya pulang lah! Jangan menghambat proses perceraian!”
“Hati hati kalian!” beo Renal, saat Alan melewati nya.
“Terima kasih!” beo Alan.
Jenny menoleh ke belakang, di mana Renal berada.
“Kamu! Lemak dan 2 mata mu, kamu buang kemana, Renal?” teriak Jenny.
Alan menjauh kan wajah nya dari Jenny, namun pandangan nya tetap fokus ke depan.
“Astaga mbak! Seperti nya aku harus ikutin saran om Rendra, buat bawa mbak ke rumah sakit! Otak mbak mulai geser itu!”
Bugh bugh bugh.
Jenny memukul mukul bahu Alan dengan wajah merah padam.
“Dasar Alan gila! Sint1ng! Miring! Kamu yang harus di lempeng1n nih otak nya!”
Bersambung…