NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:337k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekompakan Suami Istri

Jenara menguatkan hatinya, lalu mulai bergerak cepat di dapur. Ia mengeluarkan pisau kecil yang tajam untuk membersihkan dan membelah bagian tubuh belalang. Di sampingnya, ia menyiapkan pisau yang lebih besar untuk mencincang halus dagingnya nanti. Tak lupa, Jenara mengambil alu dan cobek batu untuk menumbuk daging belalang hingga lembut.

Di sudut lain, sebuah panci besar sudah ia isi air untuk merebus belalang agar lebih mudah dikuliti dan dibersihkan. Sementara untuk bumbu dan bahan, Jenara telah menyiapkan telur bebek, tepung sagu, bawang putih, merica butiran, ketumbar, serta daun bawang untuk memberi aroma segar.

Semua tertata rapi, bagai dapur seorang chef di restoran ternama. Hari ini ia tak boleh tampak ragu.

Jenara menatap belalang-belalang di keranjang. Ia tahu bagian ini akan menjadi ujian pertama.

Untuk melindungi tangannya, Jenara mengambil kain katun bekas selendang lama. Ia melilitkannya rapat pada kedua telapak tangannya, lalu mengikatnya dengan tali kecil sebagai pengganti sarung tangan.

3G berdiri tak jauh dari meja, mata mereka membulat penuh rasa ingin tahu.

“Ibu mau membuka ikatan belalangnya?” tanya Gatra pelan.

“Iya,” jawab Jenara sambil tersenyum tipis. “Tapi kalian hanya melihat. Tidak boleh menyentuh.”

“Aku mau bantu pegang baskom,” sahut Gita penuh semangat.

Jenara menggeleng lembut. “Tidak. Ini bagian yang harus Ibu lakukan sendiri.”

Tanpa menunda lagi, Jenara mengambil satu belalang, menahannya di atas talenan. Dengan gerakan hati-hati, ia memisahkan kepala dan kaki-kaki kerasnya, kemudian membuka bagian sayap yang tipis.

Setelah itu, Jenara membelah bagian perut dan membersihkan isinya. Gerakannya mantap, meski di dalam dadanya tetap ada rasa geli yang berusaha ia abaikan.

Setelah belalang pertama selesai, Jenara memasukkannya ke baskom berisi air bersih. Satu demi satu ia lakukan hal yang sama.

3G menahan napas setiap kali Jenara menggerakkan pisau, antara kagum dan ngeri.

“Ibu hebat," puji Giri.

Jenara hanya tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. Sekitar lima belas belalang sudah bersih, Jenara merebusnya sebentar di dalam panci agar teksturnya lebih lunak. Usai direbus dan ditiriskan, ia mulai mencincang dengan pisau besar sebelum memindahkannya ke cobek batu.

Alu di tangan Jenara bergerak mantap.

Tok. Tok. Tok.

Suara tumbukan menggema pelan, daging belalang yang semula bertekstur kasar perlahan berubah menjadi pasta yang lebih halus.

Saat itulah terdengar ketukan di pintu depan. Disusul suara langkah kaki beberapa orang. Jenara menghentikan tangannya sejenak. Ia sudah menduga Kepala Desa dan warga akan segera datang.

“Giri, Gatra, Gita, tolong buka pintu dan persilakan Pak Kepala Desa masuk. Arahkan ke dapur.”

3G segera berlari kecil. Tak lama kemudian, suara salam dan percakapan memenuhi ruang depan. Langkah-langkah semakin mendekat.

Benar saja. Pak Kepala Desa masuk lebih dulu, diikuti istrinya. Di belakang mereka, delapan orang ibu-ibu berderet penasaran. Termasuk di antaranya Rasmi dan Ranisya yang berdiri paling depan.

Dapur yang sederhana itu mendadak terasa penuh. Ibu Kepala Desa menatap meja yang dipenuhi bahan dan belalang yang sudah setengah diolah.

“Jenara, kau sudah mulai membuat belalang?”

Jenara berdiri tegak, meski tangannya masih berbalut kain dan sedikit lembap.

“Iya, Bu. Saya akan membuat bola-bola gurih belalang."

Beberapa ibu saling berpandangan.

“Bola-bola?” ulang salah satu dengan ragu.

Ranisya mendengus pelan, lalu mencibir tanpa menutupinya. “Bola-bola gurih? Kau pikir belalang ini daging ayam atau sapi?”

Beberapa ibu terkikik kecil, meski tak semuanya setuju. Sementara Jenara menatap Ranisya tanpa marah.

“Lihat dulu saja proses memasaknya sebelum bicara,” sahut Jenara tenang.

Tak terpengaruh oleh komentar Ranisya, Jenara kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaannya. Daging belalang yang telah halus ia pindahkan ke mangkuk besar.

Jenara menghancurkan telur bebek lantas mencampurkan ke dalam adonan belalang. Tepung sagu dituangkan perlahan, sedikit demi sedikit. Sementara bumbu yang sudah dihaluskan ia masukkan, sambil diaduk rata menggunakan sendok kayu.

Aroma adonan mulai berubah. Tidak lagi seperti serangga mentah, melainkan seperti adonan daging berbumbu.

Para ibu mulai condong mendekat saat Jenara mengaduk adonan hingga menyatu. Ia pun mengambil sedikit, lalu membentuknya menjadi bulatan kecil di antara kedua telapak tangannya yang terbalut kain. Satu bulatan terbentuk, disusul satu lagi.

Rasmi yang sejak tadi berdiri paling depan, akhirnya menyilangkan tangan di dada.

“Coba tunjukkan kepada kami bagaimana proses kau mengupasi belalang sampai dagingnya jadi halus begini. Jangan hanya yang sudah jadi," protesnya kepada Jenara.

Beberapa ibu langsung mengangguk setuju. Mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri, bukan hanya percaya pada hasil akhir.

Jenara tidak tersinggung. Justru ia sudah menduga permintaan tersebut akan muncul.

"Kebetulan belalang yang saya tumbuk memang belum mencukupi. Saya akan mulai dari awal lagi.”

Tanpa ragu, Jenara mengambil beberapa belalang hidup dari keranjang. Serangga-serangga itu masih bergerak. Kaki belakangnya juga meloncat kecil di dalam genggaman kain pelindung yang membalut tangan Jenara.

Beberapa ibu refleks mundur selangkah.

Jenara meletakkan satu belalang di atas talenan. Memakai pisau kecil tajam, ia menunjukkan tahap demi tahap.

“Pertama, kita lepaskan kepala dan kaki-kakinya yang keras. Bagian ini tidak dipakai,” jelasnya sambil memotong dengan gerakan mantap.

Kepala Desa dan para ibu menganga takjub melihat Jenara membuka sayap tipis belalang, lalu membelah bagian perut.

“Setelah dibersihkan seperti ini, kita cuci dengan air bersih agar tidak ada sisa kotoran.”

Tak satu pun ibu-ibu kini tertawa. Yang terdengar hanya gumaman kagum.

“Berani sekali…” bisik salah seorang.

Jenara kemudian menunjukkan cara mencuci dan merebus belalang. Setelah cukup lunak, ia mengangkat rebusan belalang dan meniriskan di saringan bambu.

Kini bagian yang paling menuntut tenaga. Jenara memindahkan potongan belalang ke cobek batu besar. Ia mengangkat alu kayu, bersiap menumbuk.

Suara alu beradu dengan batu terdengar mantap. Daging belalang perlahan hancur, berubah menjadi serat-serat halus.

Kepala Desa dan para ibu menatap tanpa berkedip. Bahkan Ibu Kepala Desa tampak menutup mulut saking kagumnya.

Di saat bersamaan, terdengar langkah kaki mendekat dari arah belakang rumah. Seran muncul di ambang dapur. Rambutnya masih sedikit basah sehabis membasuh diri, pakaian sudah berganti bersih.

Tatapan Seran langsung tertuju pada Jenara yang sedang menumbuk. Tanpa banyak kata, ia melangkah mendekat. Tangannya yang besar dan kokoh mengambil-alih alu dari genggaman Jenara.

“Biar aku yang melanjutkan. Kau olah saja belalang yang sudah ditumbuk.”

Jenara tertegun sesaat, menatapnya. Ia hendak memprotes, tapi melihat kesungguhan di wajah Seran, Jenara akhirnya menurut.

Seran mulai menumbuk dengan gerakan yang jauh lebih kuat dan stabil. Dalam waktu singkat, daging belalang berubah menjadi pasta yang jauh lebih halus.

Beberapa ibu berbisik kagum melihat kekompakan pasangan suami istri itu. Salah satu ibu tiba-tiba maju selangkah.

“Jenara, aku juga akan membantu. Aku ingin belajar mengolah belalang," pintanya antusias.

"Kalau ini berhasil, desa kita tak perlu takut lagi dengan wabah belalang. Justru kita bisa mendapat tambahan penghasilan," imbuh yang lain.

Pak Kepala Desa mengangguk senang melihat semangat mereka. Berbeda dengan Rasmi dan Ranisya yang tampak kesal.Mereka tak menyangka keadaan berbalik secepat ini. Yang awalnya ingin mempermalukan Jenara, kini justru seluruh dapur memihaknya.

Jenara mulai memasukkan bola-bola belalang ke dalam kuah kaldu. Sebagian lagi akan ia goreng di minyak panas. Namun, kesibukan itu terjeda karena ada dua perangkat desa yang datang tergopoh-gopoh.

"Pak Kepala Desa, utusan Gubernur datang untuk menemui Anda," ujar salah satu dari mereka.

1
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
SENJA
licik lu 🤮
SENJA
lu banyak minta nya
Ulufi Dewi
malam yang keossss ini
Andrea
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Eva Nietha✌🏻
Sangat2 suka karya mu keren thor bikin nagih
Wahyuningsih
yaah akhirnya tamat jga.... dtnggu crita brunya thor hrs lebih bagus dri yg ini 💪💪💪💪💪💪💪 thor dlm berkarya
@Mita🥰
akhirnya happy ending semuanya 😍😍😍
@Mita🥰
Lido nanti jadi koki istana terus si sita atau siapa itu cewek gendut di panggil 🫣
itin
cerita yang bagus
Hary Nengsih
d tunggu karya baru tour
Miaaaoowww😸
ahhhhh love sekebooonnnn😘😘😘
Ita Xiaomi
Keren ceritanya. Jenara tetap giat bekerja dan berusaha meski memiliki ruang dimensi. Setelah menjd Permaisuri pun ia tetap ramah dan baik hati. Memiliki keluarga yg saling menyayangi. Tq Kk ceritanya. Semangat berkarya. Berkah&sukses selalu.
Dewiendahsetiowati
aroma2 mau tamat nih
Ita Xiaomi
Giri dan Gatra msh di desa.
gina altira
Secara tidak langsung RAJENDRA melindungi keponakannya sendiri. 😥
Septi Wijaya
akhirnya.... calon putra mahkota sdh tumbuh dlm rahim jenara😍

to, bagaimana dgn triplets?
Ita Xiaomi
Ndak bs diselamatkan oleh ruang Wiji ya Pangeran Rajendra? 😢
Ita Xiaomi
Sedihnya 😭😭😭
Dandelion
next ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!