Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31: Jerat yang Semakin Rapat
Hari-hari berganti, dan Dinda semakin merasa memiliki ruang gerak yang luas untuk menjalankan rencana jahatnya. Sikap Nara yang tenang dan tidak membalas perlakuan buruknya justru dianggap sebagai kelemahan, atau tanda bahwa gadis itu sadar diri dan tidak berani bersuara. Di mata Dinda, Nara hanyalah tamu yang tidak diinginkan, yang bertahan hanya karena keberuntungan semata—dan kini saatnya keberuntungan itu berakhir.
Di ruang administrasi tempat mereka bekerja, suasana perlahan berubah sepenuhnya. Dinda mulai membagi tugas dengan pola yang sangat jelas: hal-hal yang mudah, aman, dan berpeluang mendapat pujian diberikan kepada orang-orang yang ia percayai, sedangkan tugas-tugas rumit, berisiko tinggi, atau harus diselesaikan dalam waktu yang sangat sempit, selalu jatuh ke tangan Nara. Ia melakukannya dengan dalih yang terdengar masuk akal—"karena kamu cepat belajar", "karena aku percaya ketelitianmu", atau "karena ini tugas yang butuh ketenangan ekstra". Padahal, tujuannya satu: mencari celah kesalahan sekecil apa pun yang bisa dijadikan senjata untuk menjatuhkan nama baik Nara.
Pagi itu, udara di ruangan terasa lebih tegang dari biasanya. Dinda berjalan berkeliling dengan berkas tebal di tangan, wajahnya tampak serius seolah sedang memikul tanggung jawab besar. Ia berhenti tepat di depan meja Nara yang sibuk menyusun data laporan bulanan.
"Nara, ada tugas penting yang harus diselesaikan hari ini juga," ucap Dinda dengan nada tegas namun tetap berusaha terdengar wajar di telinga orang lain. "Ini berkas data transaksi cabang luar kota yang harus direkap dan dicocokkan dengan catatan pusat. Besok pagi laporannya harus sudah ada di meja manajer keuangan. Karena yang lain sudah punya tugas masing-masing, aku serahkan ini padamu."
Nara menerima berkas itu. Saat dibalik halaman pertamanya, matanya sedikit terbelalak. Jumlahnya sangat banyak, tulisan tangan sebagian petugas cabang sulit dibaca, dan ada selisih angka yang belum jelas penjelasannya. Pekerjaan ini biasanya butuh waktu minimal dua hingga tiga hari, bukan diselesaikan dalam sehari.
"Kak Dinda, jumlahnya sangat banyak dan ada beberapa bagian yang datanya belum lengkap," kata Nara pelan namun hati-hati. "Kalau dikejar waktu begini, dikhawatirkan ada kekeliruan pencatatan."
Dinda tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Ah, masa begitu? Kan selama ini kamu dikenal teliti. Aku yakin kamu sanggup. Lagipula, atasan butuh laporan itu. Kalau ada yang salah, berarti kita memang belum cukup teliti, bukan?"
Tanpa menunggu jawaban, Dinda berbalik pergi, seolah hal itu sudah selesai dibicarakan.
Sepanjang hari itu, Nara duduk memusatkan seluruh perhatiannya. Ia sadar ini adalah jebakan. Jika ia menolak, ia bisa dituduh tidak mau bekerja sama. Jika ia menyelesaikannya terburu-buru dan ada kesalahan, Dinda akan membesar-besarkannya sebagai kelalaian berat. Namun Nara tidak mau menyerah begitu saja. Ia bekerja dengan sangat cermat, membagi waktu dengan baik, sesekali beristirahat sejenak agar pikirannya tetap jernih demi dirinya dan janin di dalam kandungannya. Di sela-sela itu, tangannya sering mengusap perutnya yang kini mulai terlihat sedikit membulat di balik seragam yang agak longgar, memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
Namun Dinda belum berhenti di situ. Saat melihat Nara mulai sibuk, ia diam-diam mengatur hal lain. Ia sengaja tidak menyampaikan perubahan jadwal pertemuan koordinasi yang seharusnya diketahui Nara, hingga membuat gadis itu hampir terlambat. Ia juga memindahkan berkas pendukung yang disimpan di lemari arsip ke tempat lain, sehingga sempat membuat Nara kebingungan mencari-cari di tengah tekanan waktu yang semakin mendesak. Bahkan, saat jam istirahat tiba, Dinda memanggilnya kembali dengan alasan ada hal mendesah, sehingga waktu makan dan istirahat Nara menjadi sangat singkat.
Di ruang kerjanya yang terpisah namun masih satu lantai, Arkan mengamati semuanya dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Dinda bergerak ke sana kemari, bagaimana beban kerja menumpuk tak seimbang di meja istrinya. Ia mendengar bisikan-bisikan yang kini makin diarahkan untuk menanamkan keraguan akan kemampuan Nara. Namun ia menahan diri. Ia tahu campur tangannya saat ini hanya akan memperkuat tuduhan bahwa Nara mendapat perlakukan istimewa. Ia percaya pada kecerdasan dan ketegaran Nara, meski rasa cemas sering kali membuatnya ingin segera turun tangan.
Menjelang sore, saat pekerjaan hampir selesai, hal yang diduga akhirnya terjadi. Saat Nara sedang memeriksa kembali hasil rekapitulasi, ia menyadari ada satu lembar catatan pendukung yang hilang—lembar yang tadi ia pastikan ada di dalam map. Ia mencarinya ke mana-mana, namun tak ditemukan. Tanpa lembar itu, laporan tidak sah dan bisa dianggap tidak lengkap.
Di saat yang sama, Dinda datang lagi bersama dua orang staf senior dan kepala bagian.
"Bagaimana, Nara? Sudah selesai?" tanya Dinda dengan nada yang terdengar polos, namun matanya berkilat penuh kemenangan tersembunyi.
"Hampir selesai, Kak. Tapi ada satu lembar catatan yang sepertinya terselip atau hilang," jawab Nara jujur.
Wajah Dinda seketika berubah menjadi serius, bahkan sedikit bernada teguran. "Apa? Hilang? Padahal ini dokumen penting. Apa kamu kurang hati-hati dalam mengurusnya? Ini tugas vital, Nara. Kalau sampai data ini salah atau hilang, dampaknya bisa sampai ke kebijakan perusahaan. Jangan-jangan karena kondisimu yang sedang tidak prima, pekerjaan jadi terabaikan begini?"
Kalimat terakhir itu diucapkan agak keras, cukup terdengar oleh orang-orang yang lewat. Ia dengan sengaja menghubungkan kesalahan itu dengan kehamilan Nara yang menjadi bahan gosip utama.
Nara menarik napas panjang, menahan rasa sakit hati yang mendalam. Ia menatap Dinda, lalu beralih ke kepala bagian yang hadir di sana.
"Maafkan kelalaian ini, Bu, Kak. Saya sedang memeriksa kembali. Namun sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa saat dokumen ini saya terima, kelengkapannya sudah saya catat. Kemungkinan ada hal lain yang terjadi. Tapi saya berjanji, dalam waktu singkat akan saya temukan atau selesaikan kekurangannya dengan cara lain yang sah menurut prosedur."
Kepala bagian tampak ragu, namun melihat ketenangan dan kesungguhan di wajah Nara, ia memberi waktu sebentar lagi. "Segera selesaikan, Nara. Jangan sampai terlambat."
Setelah mereka pergi, Dinda tersenyum miring di sudut bibirnya sebelum berbisik pelan di dekat telinga Nara, hanya berdua saja.
"Jangan kira kamu bisa terus bertahan di sini selamanya, Nara. Dunia kerja bukan tempat orang lemah atau yang membawa masalah seperti kamu. Semakin lama kamu di sini, semakin besar masalah yang akan datang. Lebih baik kamu sadar diri dan pergi sendiri sebelum hal yang lebih buruk menimpamu."
Nara menatap tajam ke arah Dinda. Saat itulah, semua keraguan yang sempat tersisa di hatinya hilang sama sekali. Ia tahu persis siapa yang memindahkan lembar itu, siapa yang mengatur semuanya agar ia terlihat salah.
"Kak Dinda," jawab Nara tenang namun tegas. "Saya masuk ke sini untuk bekerja dan bertanggung jawab. Saya tidak pergi karena ada yang menginginkan saya pergi. Dan percayalah, kebenaran selalu punya cara untuk muncul, seberapa pun rapatnya jerat yang dipasang."
Sore itu, setelah kantor sepi, Nara tidak langsung pulang. Ia mengingat kebiasaan Dinda yang sering meninggalkan jejak catatan kecil saat mengatur berkas. Dengan teliti namun tetap menjaga kesehatan dirinya, ia menelusuri kembali alur kejadian dan tempat-tempat yang dikunjungi berkas itu. Akhirnya, di balik rak berkas yang jarang disentuh, ia menemukan lembar yang hilang itu—terselip dengan cara yang jelas bukan karena kelalaian pemiliknya.
Dalam perjalanan pulang di dalam mobil, Nara menceritakan segalanya kepada Arkan. Ia tidak menangis, melainkan berbicara dengan pandangan yang makin tegas.
"Dia tidak hanya ingin membuatku terlihat salah, Mas. Dia ingin semua orang berpikir aku tidak becus bekerja, aku hanya beban, dan kehamilanku adalah alasan utama kegagalanku."
Arkan menggenggam tangan istrinya erat. Wajahnya yang tenang kini berubah dingin, matanya berkilat penuh ketegasan.
"Dinda salah mengira bahwa keheninganmu berarti kelemahan, dan kebijaksanaanku dianggap ketidaktahuan," ucap Arkan pelan. "Ia lupa bahwa di perusahaan ini, ada aturan yang melindungi siapa saja dari perlakuan yang tidak adil. Ia juga lupa bahwa jejak tindakan jahat tidak akan pernah hilang begitu saja."
Ia menoleh ke arah Nara, lalu menambahkan dengan nada lembut namun mantap.
"Teruslah bekerja sebagaimana mestinya, Sayang. Catat setiap kejadian, ingat setiap waktu dan bukti. Biarkan dia yang semakin membuka kedoknya sendiri. Semakin ia berusaha menjatuhkanmu dengan cara licik, semakin cepat ia menggali kuburnya sendiri."
Malam itu di rumah, Arkan kembali duduk di samping tempat tidur, mengusap lembut perut istrinya yang kini mulai terlihat jelas bentuknya.
"Nak," bisiknya pelan, matanya penuh keyakinan. "Dunia kadang penuh dengan orang yang iri akan kebaikan dan keberhasilan orang lain. Tapi percayalah, kebenaran itu seperti matahari—meski sempat tertutup awan gelap, ia pasti akan bersinar kembali dan menerangi segalanya. Kamu dan Ibumu hebat. Kita lewati hari esok dengan kepala tegak."
Nara berbaring di sampingnya, hatinya kini lebih tenang dan berbekal tekad yang makin kuat. Ia tahu, jerat yang dipasang Dinda semakin rapat, namun ia juga tahu bahwa kekuatan kebenaran dan dukungan yang ia miliki jauh lebih besar dari apa pun yang bisa dilakukan musuhnya.
Di sisi lain kota, di kediamannya, Dinda tersenyum puas. Ia merasa langkah pertamanya telah berhasil menciptakan keraguan. Rencananya selanjutnya lebih besar: menyusun bukti-bukti palsu agar Nara dianggap merugikan perusahaan. Ia tidak tahu, bahwa setiap langkah jahat yang ia ambil justru semakin mendekatkannya pada akhir yang sebenarnya.
Bersambung...