NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode, 30. Istri Mandul.

Ayam jantan tetangga berkokok lantang, angin pagi berhembus lumayan kencang membawa hawa dingin khas pagi di pedesaan Garut daerah Tarogong.

Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Biasanya, Sekar di jam segini sudah sibuk di dapur menanak nasi, membuat lauk sederhana untuk mereka sarapan bersama. Akan tetapi pagi ini cukup berbeda.

Sekar memilih memakai sweater rajut longgar dan rok hitam panjang sederhana, lalu keluar rumah tanpa mengatakan apa pun.

Semalaman ia tidak bisa tidur dan memilih tidur terpisah dari Galang. Kalimat Galang tentang piyama satin itu masih terngiang di kepalanya.

"Lain kali jangan pakai pakaian seperti itu di depan saya..."

Sesederhana itu cara Galang mengatakan batas di antara mereka. Seolah apa yang di kenakan Sekar semalam itu adalah sesuatu yang memalukan. Seolah dirinya adalah perempuan murahan yang sedang mencoba menggoda laki-laki yang bahkan tidak menginginkannya.

Harga dirinya terasa jatuh kedalam jurang dalam.

Sepanjang jalan kecil di pedesaan Tarogong, Sekar berjalan pelan sambil melihat-lihat sekitar. Hatinya cukup tenang melihat suasana pagi di kota Swisnya Indonesia.

Ada bapak-bapak membawa cangkul di pundak menuju sawah, ada pula ibu-ibu dengan keranjang belanjaan yang berjalan ke arah pasar sambil mengobrol ramai.

Tak lama kemudian, Sekar juga melihat segerombolan anak-anak yang tengah bersepeda sambil berceloteh ringan. Membicarakan soal temannya, lalu tentang pelajaran dan tertawa ringan bersama.

"Neng Sekar, tumben jalan pagi!" sapa seorang ibu.

Sekar tersenyum kecil, "iya Bu."

Sekar tak banyak bicara, karena Sekar memang sangat irit bicara. Bukan karena sombong, melainkan karena dirinya bingung untuk basa-basi dan memulai percakapan.

Ia terus berjalan hingga area persawahan, sawah itu sangat luas di depan matanya yang indah. Hamparan hijau bak permadani itu bergoyang ketika angin meniupnya. Sekar merasakan kedamaian setelah ketegangan semalam.

"Jalan-jalan Neng?!"

Sekar menoleh ke arah sumber suara. Suara itu sudah ia hafal beberapa hari lalu sejak ia sering mengobrol dengan wanita berusia 37 tahun. Di tangannya ada sebuah piring berukuran sedang dan di isi dengan nasi putih, telur mata sapi yang di beri kecap manis.

"Iya teh. Nyuapin Arfan, ya?" Balas Sekar.

"Iya nih. Dia kalau makan harus sambil jalan-jalan," curhat teh Emi.

"Faiz udah pulang?" tanya teh Emi sambil menyodorkan suapan kecil dari tangannya kepada Arfan.

"Udah. Nangis terus pengen pulang."

Angin menerpa wajah mereka, dedaunan bergoyang. Kicauan burung pipit terdengar samar. Mungkin mereka tengah mencari makan.

"Bingung mau masak apa hari ini. Untung suami teteh masih tidur, kamu udah masak Neng?" tanya teh Emi.

Sekar nyengir, "belum. Tapi di rumah ada stok telur."

"Teteh liat barusan A Galang lagi di luar rumah, kayanya lagi benerin lampu depan." Ucap Teh Emi membuka percakapan.

"Lampu teras emang udah mati, teh. Mau aku yang ganti tapi susah, ketinggian." Jawab Sekar seraya memilih duduk di atas kursi bambu di dekat bes sungai kecil yang mengalir pesawahan.

Teh Emi menoleh ke arah Arfan yang kini jongkok di dekat Sekar. Memainkan kerikil kecil disana.

"Tahu gak!" seru teh Emi.

Sekar menatap wanita itu, dirinya sudah yakin jika teh Emi akan membocorkan informasi tentang tetangganya atau anak tetangga lainnya.

"Semalam kan teteh belum tidur," ucapnya mulai bercerita. "Teteh kelupaan belum ngunci pintu depan, pas mau ngunci pintu depan teteh gak sengaja liat anaknya Bu Ayu lagi ciuman sama pacarnya."

Sekar menanggapi perempuan itu, "Masa sih teh, salah lihat kali."

Teh Emi duduk di bebatuan besar, tangannya masih terampil menyuapi Arfan.

"Serius, gak bohong teteh. Kalau gak salah sekitar jam sebelas malam, kampung kita kan sepi kalau udah jam segitu. Teteh kira hantu, eh pas semakin dilihat ternyata orang lagi ena-ena. Anak jaman sekarang kalau pacaran kelewatan banget ya," seru teh Emi.

Sekar hanya tersenyum menanggapinya.

"Bukan cuma ciuman aja, Neng. Tapi si cowoknya meremas-remas payuda** si pacarnya. Mungkin udah gak kuat kali ya, mereka langsung pergi ke halaman belakang. Sebenernya teteh mau lihat kelanjutannya, tapi sayang..." Ucapnya menggantung.

"Kenapa?" tanya Sekar antusias.

"Suami teteh malah ngajakin ena-ena di kamar," katanya cengengesan.

Sekar hanya menanggapinya dengan senyum kecil yang dipaksakan. Saat tengah asyik mengobrol dengan pembahasan receh, tiba-tiba saja seorang perempuan berusia sekitar lima puluh dua tahun dengan gincu warna merah menyapa mereka.

"Lagi pada gosip apa atuh?"

Teh Emi langsung menoleh dan di ikuti oleh Sekar juga. Bu Dian, istri RT yang kerap sekali membuat keributan dengan ucapan tajamnya. Wanita itu terlihat sudah rapi, mengenakan baju pajamas dengan warna nyentrik serta dandanan yang cukup menor.

Teh Emi memutar bola matanya malas, "mau tahu aja Bu Dian."

"Eh, BU RT ya! Panggil Bu RT!" serunya tak terima.

Teh Emi melirik Sekar, "oh maaf, Bu RT."

Sekar tersenyum ramah, "Mau keluar ya, Bu RT?" tanya Sekar.

Bu Dian membenarkan kerudungnya yang meskipun sudah sangat rapi.

"Biasalah, ini kan hari Minggu... akhir bulan juga. Mau belanja bulanan ke Ciplaz." Serunya dengan nada sombong.

"Ciplaz masih lama bukannya, Bu. Nanti jam sembilan!" seru teh Emi.

Bu Dian mengerlingkan matanya semakin tidak suka dengan kehadiran wanita tua ini. Soalnya Teh Emi pernah cerita kepada Sekar kalau dirinya pernah adu jotos dengan Bu Dian cuma masalah sayur kangkung di Kang sayur yang sering lewat di kampung mereka.

"Ya biarin atuh, sekalian jalan-jalan dulu, nyari sarapan kue serabi kesukaan Bu RT," serunya membenarkan tas pundaknya. "Kamu sih, Em...jarang main-main ke kota, jam segini banyak banget kuliner apalagi ini hari Minggu. Ada CFD juga, sekali-kali mainlah. Kamu juga Neng Sekar, jangan di rumah terus, kali-kali main keluar. Suami kamu kan dokter, pastinya gajinya juga gede dong."

Teh Emi berdiri berhadapan dengan Bu Dian. Sedangkan Bu Dian langsung mundur pelan, takutnya tiba-tiba saja wanita yang menikahi duda anak satu ini kembali menjambak rambutnya kaya Minggu lalu.

"Bu RT, emangnya kenapa kalau aku jarang ke kota? Bu RT mau bilang aku kampungan, gitu? Nora banget sih, Bu." Ucap Teh Emi sudah tak tahan lagi.

Bu Dian memajukan bibirnya kesal, lalu kembali melirik Sekar yang masih diam duduk di kursi yang terbuat dari bambu.

"Neng Sekar udah mau dua bulan ya, sama A Galang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Iya, Bu RT." Jawab Sekar singkat.

"Masih belum ngisi ya? Saya lihat-lihat perut kamu masih rata. Kasian A Galang, jangan-jangan Neng Sekar ini masih menunda-nunda kehamilan gara-gara pernikahan kalian yang di jodohkan itu ya?" tanyanya dengan semangat.

Sekar hanya tersenyum kecil, padahal Teh Emi terlihat ingin menutup mulut wanita itu namun Sekar menahan tangan Teh Emi agar kejadian Minggu lalu tidak terulang.

"Mungkin belum waktunya aja, Bu." Jawab Sekar.

"Belum waktunya," cibirnya penuh congkak. "Jangan-jangan kamu mandul ya?!"

Perkataan itu membuat Sekar diam seribu bahasa, bibirnya yang tadi pink merona seketika pias. Ada gemuruh di dalam dadanya ketika wanita itu menuduhnya mandul.

"Eh, Bu! Jangan sembarang ngomong gitu ke orang lain! Nanti ibu kuwalat sendiri, omongan ibu bisa berbalik sama anak perempuan ibu si Esih itu!" seru teh Emi membela.

"Ya masa udah mau dua bulan jalan, Neng Sekar gak ada tanda-tanda kehamilan." Cetusnya tak mau kalah.

"Emangnya kalau Neng Sekar hamil, ibu mau ikut andil buat ngurusin anaknya nanti?!" teh Emi berbicara dengan nada suara lumayan tinggi karena emosi.

Bu Dian tampak terkekeh meremehkan seraya melirik Sekar yang saat ini diam.

"Kasihan sekali A Galang, coba aja dulu Galang nikahnya sama anak saya. Mungkin dia sudah punya anak," ucapnya tajam.

Kedua bola mata Sekar mulai memanas, ada sebuah gumpalan yang terus naik hingga ke tenggorokannya.

"Mendingan cepet periksa ke dokter kandungan, siapa tahu kamu beneran gak bisa hamil!" serunya lagi.

Sekar tidak bisa lagi menahan kesabarannya, gadis itu beranjak dari duduknya.

"Sa-saya permisi dulu, saya harus mengupayakan sarapan dulu." Pamit Sekar dengan suara keras.

Tanpa persetujuan, Sekar langsung pergi dari sana. Ia berjalan dengan langkah terburu-buru bahkan hampir berlari. Air matanya terus mendesak untuk keluar, dadanya bergemuruh antara malu, kesal dan marah berkecamuk dalam dadanya.

Dari kejauhan, Sekar masih bisa mendengar Teh Emi memarahi Bu Dian dengan ucapan yang cukup kasar.

🍁🍁🍁🍁

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!