Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi rahasia part 3
Kemudian mereka melihatnya.
Beberapa tahanan sedang memecah batu bekas pertempuran, entah bekas pertempuran apa.
Batu-batu besar berserakan di sepanjang pantai, beberapa sudah hancur menjadi kerikil kecil.
Suara palu menghantam batu terdengar berirama, diiringi deru ombak yang datang dan pergi.
Will dan Clara mengintip dari balik tumpukan peti kayu di tepi dermaga. Karena di sekitar para tahanan itu, ada pihak keamanan yang mengawasi mereka.
Dua penjaga berseragam hitam berdiri di pinggir, senapan laser tergantung di bahu. Satu penjaga lain duduk di atas batu besar, matanya mengawasi setiap gerakan tahanan.
"Itu dia," bisik Clara.
Ia menunjuk ke seorang tahanan di barisan paling pinggir, sosok dengan rambut berwarna hijau, pendek dan kusut, terkena debu batu.
Pakaiannya lusuh, kotor. Tapi gerakannya saat mengayunkan palu, terlihat kuat. Tidak seperti orang yang sudah lama dipenjara.
Will mengamati sekeliling. Dua penjaga di timur dan barat. Satu penjaga di selatan duduk di atas batu. Utara? Tebing curam. Tidak ada jalan.
"Kita tidak bisa sembarangan mendekat," bisik Will.
"Tentu saja," jawab Clara.
Will menghela napas.
Mereka memikirkan cara untuk menyelamatkannya.
"Sudahlah, kita membuang waktu untuk berpikir. Biar pakai caraku saja."
"Cara apa?" tanya Will.
Clara tiba-tiba keluar dari persembunyian dan menghampiri salah satu penjaga.
Will hampir menariknya kembali, tapi sudah terlambat.
"Permisi, di sana ada perkelahian," ucap Clara sambil menunjuk ke arah kerumunan di kejauhan.
Penjaga itu menoleh ke arah yang ditunjuk Clara. Will, dari balik persembunyiannya, merasa. Kalau apa yang dikatakan Clara itu bohong, tidak ada perkelahian di sana.
Tapi tiba-tiba, dari arah yang ditunjuk Clara, terdengar suara ribut. Teriakan. Suara benda jatuh. Orang-orang mulai berlarian.
Penjaga itu mengangkat radio dan berbicara. Beberapa detik kemudian, para penjaga mulai berkumpul ke arah kerumunan.
"Semua unit, ke timur. Ada keributan,"
Satu per satu, penjaga meninggalkan pos mereka.
"Perasaan tadi, tidak ada perkelahian di sana," gumam Will pelan.
Tapi setelah Will melihatnya kembali, perkelahian itu benar-benar ada.
"Ini ucapannya yang benar-benar terjadi? Atau ini keberuntungan Clara yang tinggi?" pikir Will.
Will melesat keluar dari persembunyian, menghampiri Reno yang masih memukul batu.
"Reno,"
Perempuan berambut hijau itu menoleh. Matanya menyipit.
"Kau siapa?"
"Tidak ada waktu. Ikuti aku,"
"Kenapa aku harus mengikutimu?" tanya Reno. Suaranya datar, tidak takut. Seperti orang yang sudah kehilangan harapan.
"Kau mau bebas atau tidak?" tanya Will dengan serius. Matanya menatap Reno langsung.
Reno terdiam sejenak.
"Aku mau. Tapi lihat kalung ini. Percuma kau membawaku kabur, pasti dilacak oleh mereka,"
Will melihat kalung logam di leher Reno, tipis, berkilat, ada lampu merah kecil berkedip di sisinya.
Will mengeluarkan pedang pendek dari sakunya yang terhubung dengan ruang penyimpanan. Pedang itu tidak besar, tapi terlihat tajam.
Will langsung menebas kalung itu.
Hanya dengan sekali tebasan. Kalung itu terbelah dan hancur. Lampu merahnya padam. Potongan logam jatuh ke pasir.
Reno mengerjap. Ia tidak menyangka, anak ini dengan mudahnya memotong kalung penjara.
"Sekarang?" tanya Will.
Reno menatap Will beberapa saat. Lalu menghela napas.
"Baiklah. Ayo pergi,"
Will dan Reno berjalan menuju pelabuhan. Clara mengikuti mereka dari belakang, matanya waspada ke kiri dan kanan.
Tapi saat tiba di pelabuhan, dari kejauhan, mereka melihat pihak keamanan yang sedang patroli.
Dua sosok berseragam berjalan mondar-mandir di dermaga. Senapan laser tergantung di bahu.
"Kita tidak bisa lewat sini," bisik Clara.
Will mengamati sekeliling.
"Kita cari jalan lain,"
"Tidak ada," kata Reno.
"Pelabuhan hanya punya satu pintu keluar,"
Will menggigit bibirnya.
"Kalau begitu... kita tunggu sampai mereka pergi,"
Mereka bersembunyi di balik tumpukan karung, sambil menunggu.
Tapi para penjaga itu tidak pergi.
"Kita tidak bisa menunggu terlalu lama," bisik Clara.
"Nanti, penjaga yang tadi sadar kalau Reno hilang,"
"Lalu, kita harus apa?" tanya Will.
"Aku punya ide," ucap Reno.
Ia mulai membisikkan rencananya. Will dan Clara mendengarkan dengan saksama.
Beberapa menit kemudian.
Will, Clara, dan Reno berjalan menuju kapal.
Tapi pakaian Reno sudah berganti, baju nelayan lusuh dengan topi jerami menutupi kepala dan wajahnya. Tidak ada yang akan mengenali rambut hijaunya dari kejauhan.
"Mira," bisik Will begitu kaki mereka menyentuh dermaga.
Mira yang sedang duduk di tepi kapal, menoleh. Ia melihat Reno sekilas, lalu mengangguk kecil. Tidak bertanya apa-apa.
Tapi sebelum mereka naik.
"Kalian mau ke mana?"
Seorang pihak keamanan mendatangi mereka. Tinggi sekitar 180 cm. Seragam rapi. Senapan laser tergantung di pinggang.
Will dan Reno sedikit gugup. Tapi Clara tetap tenang. Ekspresinya tidak berubah.
"Kami mau mencari ikan. Teman kami di kapal itu sudah menunggu kami," ucap Clara sambil menunjuk ke arah Mira.
Pihak keamanan itu menatap mereka secara bergantian. Matanya berhenti sebentar di topi Reno, lalu beralih ke Will, lalu ke Clara.
"Dokumen?"
Clara mengeluarkan surat izin dari sakunya, amplop cokelat pemberian resepsionis Guild.
Pihak keamanan itu membaca sebentar, lalu mengangguk.
"Silakan lewat,"
Clara menyimpan surat itu. "Terima kasih,"
Mereka bertiga segera naik ke kapal.
Mira sudah siap di kemudi.
"Tali lepas!" perintahnya.
Kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga.
Di kabin kapal.
Will dan Clara menghela napas lega.
Reno melepas topinya, menatap ke arah jendela kecil, ke pantai yang mulai menjauh dari dermaga.
"Aku bebas," ucap Reno pelan. Seperti tidak percaya.
Ia menunduk, melihat tangannya sendiri. Tangan yang tadi masih memegang palu pemecah batu. Kini hanya memegang topi nelayan tua.
"Kalian benar-benar mengambil risiko besar untukku. Kalau boleh tahu, kenapa?"
Will dan Clara saling berpandangan.
"Karena kami butuh kau," jawab Will jujur.
Reno mengerjap. "Butuh aku? Untuk apa?"
Will dan Clara mulai menjelaskan. Tentang misi mereka, tentang rencana yang masih samar, tentang perlunya seseorang yang paham banyak hal.
"Oh, begitu," ucap Reno setelah selesai mendengar.
"Aku mengerti kenapa kalian butuh aku,"
Ia tersenyum kecil.
"Harus kuakui, aku emang paham banyak hal sih,"
Reno menatap mereka berdua.
"Tapi sebelum itu, aku ingin tahu nama kalian."
"Namaku Will."
"Aku Clara."
"Namaku Reno. Senang berkenalan dengan kalian,"
Kemudian...
"Karena sudah berkumpul, aku mau kasih kalian ini,"
Will memasukkan tangan ke dalam kantong dan mengeluarkan dua surat, surat yang hanya diberikan untuk mereka berdua.
Will menyerahkan kertas itu kepada Reno dan Clara.
Mereka menerimanya, membukanya, lalu membacanya.
Mereka bertiga terdiam, hanya terdengar suara ombak yang menghantam lambung kapal.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua mengangguk.
"Jadi, ini masalahmu?" tanya Clara.
"Iya,"
"Ibumu dituduh pemberontak?" tanya Reno.
"Iya,"
Reno melipat kertas itu. Wajahnya serius, tidak ada keraguan di wajahnya.
"Aku ikut,"
Clara tersenyum. "Aku juga,"
Will menatap mereka bergantian.
"Kalian, tidak memikirkannya dulu?"
"Tidak," jawab Clara tegas.
"Aku memang cocok kalau bersamamu,"
Reno mengangguk. "Aku punya hutang budi padamu. Membebaskanku, tidak mudah tahu. Itu tidak akan aku lupakan,"
Will tersenyum kecil.
"Terima kasih,"
Reno menyandarkan punggungnya ke dinding kabin.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"
Will menggeleng.
"Aku belum tahu. Tapi kita akan cari tahu bersama,"
Bersambung...