NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Benturan Kasta

Matahari pagi kembali memanaskan tanah liat kompleks barak pelatihan Barat, menyisakan debu-debu kering yang beterbangan setiap kali deretan banjar Tamtama menghentakkan kaki mereka. Latihan harian baru saja dimulai selama satu lingkaran pulsa nadi, namun atmosfer di lapangan utama sudah terasa sangat membakar batin. Hari ini, seluruh regu baru diwajibkan untuk mengikuti latihan penyelarasan formasi gabungan di bawah pengawasan langsung para perwira menengah garnisun Trowulan.

Mada berdiri di posisi paling belakang dari barisan Regu Serigala, memegang perisai bambunya yang anyamannya mulai sedikit longgar akibat benturan simulasi labirin kemarin fajar. Tubuh jangkungnya sengaja dibuat agak membungkuk, menundukkan pandangan matanya ke arah tumit kaki Wiranata yang berdiri tepat di depannya. Di barisan paling depan, Ragajaya tetap berdiri dengan memegang tombak kayu latihannya secara kaku, mencoba mengabaikan sisa-sisa lumpur parit yang masih samar-samar menempel di sela sandalnya.

Ketegangan di lapangan utama memuncak ketika kelompok taruna bangsawan yang dipimpin oleh Raden Daniswara melangkah memasuki area pelataran tengah. Sejak kekalahan memalukan Daniswara dalam duel tombak perorangan sebelumnya, kelompok anak pejabat itu tampaknya tidak lagi berniat menyembunyikan kebencian mereka terhadap para penghuni barak nomor empat. Mereka kini telah membentuk kelompok resmi bernama Regu Rajawali, berjalan dengan zirah kulit lembu yang bersih bersinar serta memancarkan pendaran hawa murni Kanuragan Raga yang cukup matang.

"Bintara kepala!" seru Raden Daniswara sambil menghentakkan pangkal tombak pilihan miliknya ke tanah dengan sangat keras, membuat pasir lapangan berhamburan ke arah banjar Regu Serigala. "Apakah kami harus terus berbagi jalur udara yang sama dengan para kuli desa dan anak pembawa kambing ini? Pelatihan formasi gabungan ini seharusnya menjadi tempat untuk menyelaraskan pergerakan para calon perwira, bukan arena sirkus bagi tikus-tikus tanah yang hanya bisa menang karena tersandung tali pembatas!"

Ucapan Daniswara yang sangat merendahkan itu langsung memicu tawa mengejek dari puluhan taruna bangsawan lainnya yang berdiri di sayap timur lapangan. Mereka menatap Regu Serigala dengan pandangan mata yang sangat meremehkan, seolah-olah keberadaan para pemuda desa di lapangan tersebut adalah sebuah kesalahan besar dalam sistem administrasi militer kerajaan.

Ragajaya mendengus sangat kasar, mengetuk ujung tombak kayunya ke tanah liat hingga menimbulkan suara dentuman yang solid. Sepasang matanya berkilat marah menatap Daniswara. "Raden Daniswara! Mulutmu terlalu banyak mengeluarkan busuk wewangian kota pusat! Di atas tanah liat ini, urat daging dan kerapatan pertahanan perisai kami telah membuktikan bahwa kelompok taruna bangsawanmu tidak lebih dari sekadar pajangan dinding istana yang rapuh saat menerima jepitan lambung!"

"Kurang ajar! Menjaga bicaramu, anak pesisir murahan!" bentak Lembu Wana, salah seorang anggota Regu Rajawali bertubuh pendek kekar yang merupakan putra dari seorang kepala pengawal kadipaten timur. Ia melangkah maju satu tindakan keluar dari barisannya, membiarkan riak hawa murni api merah jingganya bergetar tipis di sekitar lengan kirinya.

Jaka Wulung dan Lembu Sora yang berdiri di samping Ragajaya langsung memasang kuda-kuda bertahan mereka, menaikkan perisai bambu mereka dengan wajah yang memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Benturan kasta sosial yang selama ini terpendam di balik aturan militer kini tampak siap meletus menjadi perkelahian massal di tengah pelataran terbuka.

Mada yang berada di barisan belakang segera melihat bahwa situasi ini adalah jebakan psikologis yang sengaja dipasang oleh kelompok Daniswara. (Para taruna bangsawan itu sengaja memicu keributan sebelum para bintara instruktur senior tiba di lapangan. Jika Ragajaya terpancing untuk meledakkan hawa murni airnya dan memulai pukulan pertama, dewan perwira menengah akan memiliki alasan hukum yang sah untuk menjatuhkan hukuman pencoretan nama massal bagi seluruh anggota Regu Serigala atas tuduhan melakukan pemberontakan liar di dalam barak pelatihan.)

Mada segera menggeser poros langkah kakinya yang jangkung, menyelinap di antara celah pundak Jaka Wulung dan Wiranata dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat panik, canggung, dan terburu-buru. Ia melangkah maju tepat ke ruang kosong di antara Ragajaya dan Lembu Wana, menjatuhkan perisai bambunya ke atas tanah liat hingga menimbulkan suara prak yang keras, lalu berpura-pura berlutut dengan tubuh yang gemetar ketakutan setengah mati.

"Mohon ampunan, Raden Daniswara yang agung! Mohon belas kasihan, Tuan Lembu Wana!" seru Mada dengan suara yang dibuat agak melengking cemas, memastikan suaranya terdengar oleh para perwira pengawas yang mulai berjalan mendekat dari arah paviliun timur. "Tolong jangan nyalakan api hawa murni Anda di tempat ini! Kulit baju katun desa saya sangat tipis dan mudah terbakar! Jika baju hamba ini hangus menjadi abu, hamba tidak memiliki sisa upah lagi untuk membeli kain pengganti, dan instruktur pasti akan mencambuk punggung hamba karena telanjang di lapangan latihan!"

Mendengar ucapan Mada yang terdengar sangat konyol, penakut, dan tidak memiliki sisa harga diri seorang pria tersebut, ketegangan yang hampir meledak di tengah pelataran mendadak mencair dalam sekejap. Lembu Wana tertegun, lalu meledakkan tawa mengejeknya bersama seluruh anggota Regu Rajawali lainnya. Mereka menganggap barak nomor empat telah benar-benar kehilangan seluruh nyali mereka sehingga mengirimkan seorang pemuda desa jangkung yang paling bodoh untuk berlutut meminta ampun.

"Lihat ini, Daniswara!" ejek Lembu Wana sambil menurunkan sirkulasi hawa murni apinya, menatap Mada dengan pandangan yang sangat jijik. "Teman sebarakmu saja sudah berlutut seperti anjing kelaparan yang takut kehilangan kain bajunya. Bagaimana mungkin kita bisa berlatih tanding dengan regu yang diisi oleh makhluk menyedihkan seperti nomor nol empat puluh tujuh ini?"

Ragajaya menoleh ke arah Mada dengan sepasang mata yang menyala merah karena rasa malu yang luar biasa mendalam di depan seluruh angkatan baru. "Mada! Bangkit berdiri kamu! Jangan mempermalukan nama Regu Serigala dengan sikap pengecutmu itu! Biarkan mereka memukul kita, tapi kita tidak akan pernah membiarkan martabat kita diinjak-injak oleh kesombongan kasta mereka!"

Mada tidak mendengarkan bentakan Ragajaya. Ia tetap duduk berlutut sambil sibuk memungut perisai bambunya yang kotor oleh debu, memasang senyum polosnya yang canggung berkali-kali ke arah Daniswara. "Maaf, Tuan Ragajaya, tapi perut hamba sudah sangat perih karena lapar. Jika kita dihukum tidak menerima jatah makan malam lagi karena berkelahi, hamba tidak akan kuat memikul tombak kayu ini besok fajar."

Tindakan Mada yang berpura-pura konyol tersebut berhasil mengulur waktu dengan sangat presisi. Sebelum Ragajaya sempat menarik kerah baju Mada untuk memaksanya berdiri, suara deheman yang sangat berat dan berwibawa terdengar dari arah jalur masuk utama lapangan. Seorang perwira menengah berpakaian zirah besi hitam lengkap dengan memegang sebilah pedang panjang melangkah masuk, didampingi oleh lima bintara instruktur senior.

Kehadiran para perwira garnisun tersebut langsung membuat seluruh lapangan utama menjadi sunyi senyap seketika, memaksa Raden Daniswara dan Lembu Wana untuk segera merapikan barisan mereka kembali dengan sikap yang sangat patuh. Mada perlahan bangkit berdiri, menyeka debu di celana desanya dengan gerakan yang dibuat sangat canggung, lalu menyelinap kembali ke posisinya di barisan belakang Regu Serigala.

"Apa yang sedang kalian lakukan di tengah pelataran ini, hah?!" bentak perwira menengah tersebut, sepasang matanya yang tajam menyapu seluruh wajah peserta dengan pandangan yang mengancam. "Latihan formasi gabungan ini dibentuk untuk melihat bagaimana kesiapan urat raga kalian dalam menerima komando pusat, bukan tempat untuk menyelesaikan urusan kasta kadipaten kalian! Siapa pun yang berani membuat keributan lagi setelah ini, saya sendiri yang akan mencoret nomor registrasinya dari gerbang Barat!"

Perwira tersebut menoleh ke arah bintara pencatat di sampingnya. "Bintara! Mulai latihan penyelarasan banjar sekarang! Pisahkan Regu Rajawali di sayap utara dan Regu Serigala di sayap selatan! Jangan biarkan mereka berada di dalam satu jalur formasi yang sama sebelum ujian akhir pekan dimulai!"

Mendengar keputusan perwira tersebut, Ragajaya hanya bisa mendengus kasar sambil membalikkan tubuhnya melangkah menuju ke arah sayap selatan lapangan, diikuti oleh Jaka Wulung dan Lembu Sora yang masih menatap kelompok Daniswara dengan pandangan penuh dendam.

Wiranata berjalan di samping Mada, memperlambat langkah kakinya hingga posisi mereka sejajar di barisan belakang. Pemuda kurus itu menatap Mada dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan pikiran yang sangat dalam dan penuh selidik.

"Mada," panggil Wiranata dengan suara yang sangat rendah, memastikan kata-katanya tidak terdengar oleh Ragajaya yang berjalan di depan. "Tindakanmu berlutut dan berbicara konyol tadi... itu bukan karena kamu ketakutan menahan panas hawa murni Lembu Wana, bukan?"

Mada mendongakkan kepalanya sedikit, menampilkan wajah keluguannya yang berkerut polos bercampur kebingungan yang dibuat-buat. "Apa maksud Anda, Tuan Wiranata? Hamba benar-benar takut jika baju hamba terbakar. Ibu hamba membuat baju ini dari sisa kain katun murah di desa, dan hamba tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli yang baru di kota Trowulan ini."

Wiranata tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan arti yang tersembunyi. Ia menepuk pundak jangkung Mada sekali dengan telapak tangannya. "Kamu adalah orang yang sangat pandai dalam menyembunyikan sesuatu di balik kata-kata bodohmu, Mada. Tapi ingat, di dalam Regu Serigala ini, mata yang melihatmu bukan hanya berasal dari keangkuhan Ragajaya. Aku akan terus memperhatikan bagaimana cara kakimu bergerak di setiap benturan kasta berikutnya."

(Wiranata memiliki ketajaman insting yang sangat berbahaya untuk ukuran prajurit baru. Dia tidak bisa dibohongi sepenuhnya oleh sandiwara keluguanku seperti Ragajaya atau Daniswara. Aku harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan bantuan batin alami kepadanya di latihan berikutnya, agar dia tetap percaya bahwa aku hanyalah sebutir benih desa yang dikaruniai keberuntungan alam yang aneh.)

Latihan penyelarasan formasi gabungan sore itu akhirnya berjalan dengan penuh kedisiplinan besi yang melelahkan, memaksa dua ratus jiwa muda untuk terus menguras cairan raga mereka di bawah siraman terik matahari Trowulan yang kian hari kian membakar benturan harga diri di antara anak gunung dan anak bangsawan di dalam kompleks militer Barat.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!