Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Runtuhnya Kerajaan Bayangan
Matahari baru saja menampakkan sinarnya di langit Jakarta, tapi hawa di depan gedung pencakar langit kawasan Sudirman itu sudah terasa sangat panas. Gedung tanpa papan nama itu adalah markas besar The Syndicate, para mafia yang selama ini merasa paling suci karena punya uang dan senjata.
VROOMMM!
Suara knalpot motor matic Guntur membelah kesunyian. Dia datang sendirian, tapi di belakangnya, ratusan driver ojek online mulai memblokade jalanan di sekitar gedung. Guntur turun dari motornya, melihat lecet di spakbor depannya, lalu menatap ke puncak gedung.
"Mbak V, jangan turun dari mobil. Ini urusan laki-laki dengan tikus got," ucap Guntur lewat HT ke mobil Vanesha yang mengikutinya dari jauh.
Guntur melangkah masuk ke lobi. Dua belas petugas keamanan bersenjata lengkap langsung mengadangnya. Tanpa basa-basi, Guntur melemparkan helm bogo-nya ke arah salah satu penjaga.
PLAAAKKKK!
Helm itu pecah, tapi kepala penjaga itu jauh lebih hancur. Guntur menerjang masuk seperti badai.
BUGH! BUGH! DESSS!
Pukulan Guntur mendarat telak di ulu hati penjaga kedua sampai dia muntah darah. Guntur menangkap lengan penjaga ketiga yang mencoba memukulnya dengan tongkat listrik.
KREEEEKKKK!
Tangan itu patah seketika. Guntur mengambil tongkat listriknya dan menghantamkannya ke leher penjaga terakhir sampai dia kejang-kejang dengan busa di mulut. Guntur naik ke lift menuju lantai paling atas. Lantai 50.
TING!
Pintu lift terbuka. Di sana, lima petinggi Mafia sudah menunggu dengan pengawal elit mereka. The Godfather, pria tua berambut putih itu, menatap Guntur dengan benci. "Kamu berani datang ke sini sendirian, Naga?"
"Saya nggak sendirian. Saya bawa doa orang-orang yang kalian tindas di aspal Jakarta," jawab Guntur dingin. Dia melilitkan sarung di tangan kanannya, menyisakan ujung yang tajam.
Para pengawal elit menyerbu. Mereka ahli karate dan jiujitsu, tapi bagi Guntur, teknik tanpa amarah itu sampah.
KRAAAKKKK!
Satu tendangan Guntur menghancurkan tempurung lutut pengawal pertama. Guntur menangkap kepala pengawal kedua dan menghantamkannya ke meja kaca kristal sampai hancur berkeping-keping.
PRANKKKKK! BUGH!
Guntur meraih leher The Godfather. Pria tua itu gemetaran, pistol di tangannya jatuh sebelum sempat ditembakkan. Guntur menekan wajah pria itu ke jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan Jakarta.
"Lihat ke bawah... lihat teman-teman saya di bawah! Kalian pikir uang bisa beli aspal? Kalian pikir bisa kirim pembunuh buat ngerusak motor cicilan saya?!" bentak Guntur dengan suara menggelegar.
Guntur menghantamkan kepala sang Mafia ke kaca hingga kaca itu retak seribu.
DESSSSS!
"Ampun... ampun Sang Naga! Kami akan bayar! Kami akan tutup semua bisnis ilegal kami!" teriak petinggi lainnya sambil bersujud di lantai.
Guntur melepaskan cengkeramannya. Dia berdiri di tengah ruangan mewah itu dengan napas menderu. "Bayar? Iya, kalian harus bayar. Tapi bukan ke saya. Serahkan semua bukti korupsi dan jaringan narkoba kalian ke polisi sekarang juga. Dan satu lagi..."
Guntur menunjuk ke luar jendela, ke arah motor matic-nya yang terparkir jauh di bawah. "Ganti rugi motor saya yang lecet itu. Saya mau motor baru, tapi warnanya harus tetap hijau ojek. Kalau besok motor itu nggak ada di depan pangkalan... saya balik lagi buat runtuhin gedung ini sampai jadi debu!"
Para bos mafia itu cuma bisa mengangguk-angguk ketakutan seperti ayam sayur. Sang Naga berjalan keluar dengan tenang, meninggalkan kerajaan bawah tanah Jakarta yang kini runtuh tanpa sisa. Di bawah, ribuan rekannya menyambut dengan sorakan kemenangan yang mengguncang Jakarta.
Di lantai 50 yang mewah itu, suasana mencekam. Para petinggi The Syndicate masih berlutut, tak percaya bahwa benteng mereka ditembus oleh satu orang berjaket hijau. Namun, Guntur tidak langsung pergi. Matanya tertuju pada sebuah brankas baja raksasa di pojok ruangan.
"Buka," perintah Guntur pendek.
"Tapi itu... itu data rahasia seluruh jaringan kami di Indonesia, Mas Naga," ucap The Godfather dengan suara bergetar.
Guntur melangkah mendekat, lalu mencengkeram rahang pria tua itu sampai terdengar bunyi sendi yang bergeser. "Kamu pilih buka brankas itu sekarang, atau saya lempar kamu dari jendela ini biar kamu bisa tahu rasanya jadi aspal!"
Dengan tangan gemetar, brankas itu dibuka. Isinya bukan cuma tumpukan uang dollar, tapi ribuan dokumen daftar hitam pejabat yang mereka suap. Guntur mengambil tumpukan dokumen itu, lalu berjalan ke arah balkon gedung.
Di bawah sana, ribuan driver ojek masih setia menunggu. Guntur mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi, lalu melemparkannya ke udara. Ribuan kertas putih melayang jatuh seperti salju di langit Sudirman.
"Lihat! Itu adalah bukti dosa-dosa kalian! Biar rakyat Jakarta yang menghakimi lewat hukum!" teriak Guntur.
Tiba-tiba, salah satu pengawal elit yang masih punya sisa tenaga mencoba menusuk Guntur dari belakang dengan pisau komando.
SLREEEETTTT!
Guntur menghindar dengan gerakan refleks yang tidak masuk akal. Dia menangkap tangan pengawal itu, lalu menghantamkan sikunya ke sendi siku lawan dengan kekuatan penuh.
KRAAAKKKK!
Tulang tangan pengawal itu mencuat keluar menembus kulit. Teriakannya membelah ruangan, tapi Guntur langsung membungkamnya dengan satu tendangan lutut yang menghancurkan tulang hidungnya hingga rata dengan wajah.
BUGH!
Guntur menatap para bos mafia yang ketakutan. "Hari ini, Jakarta bersih dari sampah seperti kalian. Joni!" panggil Guntur keras.
Joni, mantan bos preman yang kini jadi pesuruh Guntur, langsung masuk ke ruangan dengan seragam ojek yang masih baru. "Siap, Bos Naga!"
"Bawa mereka semua ke kantor polisi. Pastikan mereka sampai dalam keadaan hidup, tapi kalau mereka mencoba lari... kamu tahu apa yang harus dilakukan," ucap Guntur sambil melirik tajam.
"Siap! Saya seret mereka pakai motor saya kalau perlu, Bos!" jawab Joni semangat.
Guntur berjalan keluar gedung dengan langkah gagah. Di lobi, Vanesha sudah menunggu dengan mata sembab karena bangga. Dia langsung memeluk Guntur, tidak peduli bau keringat dan noda darah yang menempel di jaket ojeknya.
"Kamu gila, Guntur. Kamu benar-benar meruntuhkan mereka," bisik Vanesha.
Guntur tersenyum tipis, dia mengambil rokok kreteknya yang terakhir. "Kadang, Jakarta butuh orang gila buat beresin orang-orang yang merasa terlalu pintar, Mbak V. Sekarang, ayo kita cari bengkel. Saya mau modifikasi motor baru saya nanti biar ada logo Naganya."
Hari itu, gedung pencakar langit yang dulunya angker kini menjadi saksi bisu kemenangan rakyat kecil. Sang Naga telah resmi menghapus bayangan hitam di bawah tanah Jakarta. Tahta itu kini benar-benar bersih, dan namanya akan terukir abadi di setiap jengkal aspal Ibu Kota.