Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaus Bolong
Justin dengan cekatan menyiapkan permainan. Entah dari mana, ia juga mengeluarkan beberapa bungkus jelly buah, keripik kentang, dan ikan kering. Sambil bersenandung, ia bahkan mengambil sebotol anggur bagus dari koleksi pribadinya.
Setelah semuanya siap, ia duduk bersila di lantai. Tepat saat ia menggulung lengan baju dan hendak mulai bermain, bel pintu di luar berbunyi.
Wajah Justin langsung menggelap. Ia tidak membuka pintu, melainkan menelepon Fevvey dengan nada kesal, “Berhenti pencet bel! aku bakal datang tepat waktu besok, oke? kamu nelpon terus kayak ngejar orang gila, aku sampai nggak bisa main game—”
“Ha? Bel apa?” Fevvey yang dimarahi tanpa sebab itu benar-benar bingung.
Justin terdiam sejenak. “Bukan kamu yang di luar?”
“Aku masih di jalan! Lagi nyetir!” jawab Fevvey polos.
“Terus siapa... nggak banyak yang tahu aku tinggal di sini...” gumam Justin curiga.
“Jangan-jangan alamat kamu bocor? Hati-hati, jangan sembarang buka pintu. Bisa jadi media! Jenna juga masih di situ!” Fevvey langsung memperingatkan.
Justin mendengus. “Kalau media kenapa? Emangnya kenapa kalau mereka lihat dia?”
Fevvey hanya bisa pasrah. “Justin, aku bukan mau ceramah. Walaupun niat kamu baik mau bantu dia. Jenna sendiri sudah bilang dia nggak mau naik kapal bajak laut kamu...”
Justin langsung meledak. “Kapal bajak laut apaan! Siapa yang kamu sebut bajak laut!”
Bel pintu terus berbunyi, setiap lima detik sekali, teratur.
“Udah, aku tutup. aku buka pintunya. Siapa sih yang datang jam segini...” Justin menutup telepon dengan kesal dan berjalan ke arah pintu.
Ia sengaja mengecek CCTV dulu.
Hasilnya, ia langsung membeku seperti melihat hantu.
“Gila... itu Marco!!! Ngapain dia ke sini...”
Di depan pintu, pria itu mengenakan pakaian santai abu-abu dan sandal, sambil membawa sesuatu di tangan. Meski tampil santai, Justin tetap merasakan hawa dingin seperti angin kutub menyapu tengkuknya, membuat bulu kuduknya merinding.
Ia panik seperti kelinci melihat serigala. Baru setelah bel berbunyi dua kali lagi, ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sikap santainya langsung hilang, berubah menjadi penuh hormat. “Eh... kok kamu ke sini...”
“Aku datang menemuimu,” jawab pria itu datar.
“Oh... silakan masuk... masuk...” Justin buru-buru mempersilakan.
Tatapan Marco menyapu santai ke arah stik game, camilan, dan anggur di lantai, lalu ia duduk di sofa.
Menyadari arah pandangannya, Justin berdeham. “Eh, kerjaanku lagi banyak banget. Jarang-jarang bisa santai sedikit...”
Marco tidak menanggapi. “Kapan kamu sampai?”
“Belum lama.”
Justin mencari-cari, akhirnya menemukan teh celup. Namun, karena belum ada air panas, ia hanya mengambil air mineral dari kulkas. “Di rumah belum ada air panas. Nggak apa-apa?”
“Gak perlu. Aku cuma sebentar,” kata Marco. Ia menunjuk beberapa kotak yang dibawanya. “Mamamu yang mengirim ini.”
“Harusnya suruh orang aja yang antar. Nggak perlu kamu repot-repot datang malam-malam...” Justin menggerutu dalam hati, menyalahkan ibunya berkali-kali.
Suasana menjadi hening. Suara air dari kamar mandi terdengar semakin jelas. Justin menggaruk kepala, canggung.
Marco tampak mengerti, lalu berdiri. “Aku pamit. Sempatkan pulang menjenguk Mamamu.”
“Iya, iya, aku antar!”
Justin baru saja berdiri hendak mengantar, ketika suara kesal terdengar dari belakang.
“Justin! Ini baju apaan sih! Bolong segini gede, gimana aku mau pakai!”
Langkah Marco yang hampir pergi langsung terhenti. Tubuhnya membeku, lalu perlahan berbalik. Tatapannya tajam seperti pisau, mengarah ke sumber suara.
Seorang gadis berdiri di pintu kamar mandi, tanpa alas kaki. Rambutnya basah, pipinya memerah setelah mandi. Ia mengenakan kaus pria yang kebesaran, dengan sobekan besar di sisi pinggang yang memperlihatkan kulit putihnya.
Justin tidak menyadari perubahan suasana. Ia hanya merasa ingin mati. “Aku lupa buang itu. Robek waktu naik motor. Baju banyak banget, kenapa kamu pilih yang bolong!”
Ia lalu menoleh ke Marco dengan canggung. “Eh, ini teman aku, Jenna...”
Namun ia mendadak menyadari ekspresi Jenna aneh. Gadis itu menatap Marco tanpa berkedip, seperti kehilangan jiwa.
Justin kesal. “Jenna, ini paman aku, CEO Alamsyah Corporation, Marco. Ngapain kamu bengong? Sapa dong!”
Jenna akhirnya menemukan suaranya. Dengan nada seperti sedang bermimpi, ia berkata perlahan, “Pa... man...?”
Nada itu sebenarnya penuh tanya, tapi di telinga Marco terdengar seperti panggilan sungguhan.
Ekspresinya langsung berubah dingin, seolah iblis besar baru saja keluar dari neraka. Aura dingin menyelimuti ruangan, membuat keduanya merinding.
Setelah beberapa saat, tatapan tajam itu jatuh ke Jenna. “Orang yang ingin kamu jemput... Justin?”
Justin terpaku. “Jenna, kamu kenal paman aku?”