NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Udara di ruang kunjungan penjara terasa pengap dan berbau besi berkarat.

Di balik sekat kaca yang kusam, Dery duduk dengan seragam tahanan berwarna oranye, wajahnya tampak kuyu dan tak terurus. Namun, matanya langsung membelalak saat melihat Ria berdiri di sana, bukan membawa makanan enak seperti biasanya, melainkan membawa tas besar dan gurat ketegasan yang belum pernah ia lihat.

Ria menarik napas panjang, menahan aroma menyengat di ruangan itu yang membuat mual kehamilannya bangkit.

"Mas, aku datang bukan untuk menjengukmu seperti biasa," ucap Ria dengan suara datar, matanya menatap tajam ke arah suaminya.

"Aku datang untuk meminta cerai."

Dery tersentak, tangannya yang memegang gagang telepon gemetar.

"Cerai? Kamu gila, Ria? Kamu sedang hamil anakku! Siapa yang akan menjagamu kalau bukan keluargaku?"

Ria tertawa miris, tawa yang penuh dengan luka. "Keluargamu? Ibumu baru saja mencoba merampas uang persalinanku, Mas. Dan yang lebih menjijikkan lagi, aku baru tahu kenyataan yang sebenarnya. Kalau saja dari awal aku tahu kamu masih punya istri sah bernama Lintang, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu! Kamu menjadikanku wanita kedua, menjadikanku perusak rumah tangga orang tanpa aku sadari!"

Dery memukul meja kayu di depannya hingga menimbulkan bunyi dentum yang keras.

"Aku tidak akan menceraikanmu! Kamu milikku, dan anak itu adalah darah dagingku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"

Ria tidak gentar sedikit pun. Ia berdiri, memperbaiki letak tas di bahunya dengan tangan yang mantap.

"Tolak saja sesukamu, Mas. Tapi aku akan tetap mengurus gugatan ini. Aku tidak mau anakku lahir dengan nama ayah seorang kriminal yang penipu."

Tanpa menunggu balasan lagi, Ria meletakkan gagang telepon itu dan berbalik pergi.

Ia mengabaikan teriakan histeris Dery yang memanggil namanya dari balik jeruji besi.

Langkah kakinya terasa lebih ringan saat ia keluar dari gerbang penjara yang tinggi dan dingin itu.

Di bawah terik matahari, Ria segera mencari pangkalan ojek.

Ia meminta diantarkan ke sebuah daerah pinggiran yang jauh dari jangkauan ibu mertuanya.

Setelah berkeliling beberapa jam, ia akhirnya menemukan sebuah kontrakan kecil di gang sempit—sederhana, namun bersih dan tenang.

"Ini kuncinya, Mbak. Semoga betah ya," ucap pemilik kontrakan.

Ria duduk di lantai semen yang dingin, mengusap perutnya yang terasa mengencang.

"Kita mulai hidup baru di sini, Nak. Hanya kita berdua. Terima kasih, Lintang. Uang darimu bukan hanya untuk persalinan, tapi untuk kemerdekaan Ibu."

Sinar matahari sore menembus kaca jendela ruang kerja Jati di apartemen, menciptakan bayangan panjang yang elegan di atas lantai marmer.

Jati sedang menyesap kopi hitamnya saat asisten kepercayaannya, yang juga mengepalai unit pengamanan pribadinya, masuk dengan langkah tegap.

"Lapor, Pak Jati. Kami sudah menemukan keberadaan Ria," ucap asisten tersebut sambil menyodorkan sebuah tablet yang berisi titik koordinat sebuah kontrakan sederhana di pinggiran kota.

"Dia sudah keluar dari rumah ibunya dan sekarang tinggal sendiri. Tadi siang, dia juga terlihat mendatangi lapas untuk meminta cerai dari Dery."

Jati meletakkan cangkir kopinya, matanya menatap tajam ke arah layar.

Ada rasa hormat kecil yang muncul untuk keberanian wanita itu meninggalkan keluarga parasit seperti keluarga Dery.

"Bagus. Kirimkan paket perlengkapan bayi yang paling lengkap ke alamat itu sekarang juga.

Tambahkan susu khusus ibu hamil dan beberapa bahan makanan bergizi," perintah Jati tegas.

"Tapi ingat satu hal: Jangan bilang dari saya atau Lintang. Biarkan dia merasa itu adalah rezeki dari Tuhan. Saya tidak ingin dia merasa berhutang budi atau merasa terbebani."

Tanpa Jati sadari, Lintang berdiri di ambang pintu ruang kerja.

Ia baru saja hendak membawakan camilan sore, namun langkahnya terhenti mendengar instruksi suaminya.

Air mata haru seketika menggenang di sudut matanya.

Lintang tahu betul bagaimana rasanya berada di posisi Ria—sendirian, tak berdaya, dan dikecewakan oleh orang yang seharusnya melindungi.

Setelah asisten itu keluar, Lintang melangkah masuk dengan perlahan.

Ia meletakkan nampan di atas meja, lalu tanpa kata, ia langsung melingkarkan lengannya di leher Jati, memeluk tubuh kokoh suaminya dari belakang dengan sangat erat.

"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah sepeduli itu," bisik Lintang pelan, suaranya sedikit bergetar karena emosi.

Jati tersentak pelan, lalu meraih tangan Lintang yang melingkar di dadanya, mencium punggung tangan istrinya dengan lembut.

Ia menarik Lintang agar duduk di pangkuannya, mendekapnya dalam pelukan yang protektif.

"Aku melakukannya karena aku tahu betapa besarnya hatimu, Lintang. Aku hanya mewakili niat baikmu yang mungkin sulit kamu sampaikan langsung sekarang," ucap Jati sambil mengusap rambut Lintang.

"Ria adalah korban dari pria yang sama yang pernah menyakitimu. Membantunya adalah cara kita memastikan bahwa rantai penderitaan itu terputus."

Lintang menyandarkan kepalanya di bahu Jati, merasa sangat beruntung memiliki pria yang tidak hanya kaya harta, tapi juga kaya hati.

"Mas benar. Biarkan dia memulai hidup baru dengan tenang. Aku hanya ingin anak itu lahir dengan layak, tidak seperti nasib ayahnya."

Jati mengeratkan pelukannya.

"Sekarang, lupakan urusan mereka. Besok adalah hari besar kita bersama anak-anak yatim. Kamu harus istirahat supaya besok tampil paling cantik."

Di sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota, Ria terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin.

Matanya membelalak menatap sebuah kotak besar yang baru saja diletakkan seorang kurir di depan pintunya.

Tanpa nama pengirim, tanpa pesan apa pun, hanya tertulis alamatnya dengan rapi.

Dengan tangan gemetar, Ria membuka tutup kardus itu.

Air matanya seketika tumpah ruah saat melihat isinya: tumpukan baju bayi yang lembut, selimut tebal, berbagai botol susu kualitas terbaik, hingga suplemen ibu hamil yang mahal.

Di dasar kotak, terselip beberapa amplop berisi voucher belanja bahan makanan.

"Ya Allah, keajaiban apa ini?" bisik Ria sambil memeluk satu pasang baju bayi mungil itu ke dadanya.

"Siapa pun yang mengirim ini, terima kasih. Terima kasih telah memberi aku dan bayiku harapan untuk terus berjuang."

Ria merasa seolah Tuhan sedang berbisik kepadanya bahwa ia tidak sendirian. Semangatnya yang sempat redup kini berkobar kembali.

Ia tidak akan menyerah pada nasib, demi nyawa kecil yang berdenyut di rahimnya.

Sementara itu, di apartemen mewah yang kontras dengan suasana kontrakan Ria, kesibukan luar biasa sedang terjadi.

Ruang tengah yang luas itu kini dipenuhi dengan tumpukan tas bingkisan berwarna-warni.

Lintang, dengan wajah yang tampak jauh lebih

segar dan bercahaya, sedang asyik berlutut di atas karpet bulu.

Tangannya dengan cekatan memasukkan susu kotak, berbagai macam biskuit, cokelat, dan mainan kecil ke dalam tas-tas tersebut.

Senyumnya tidak pernah pudar; ia merasa sangat bahagia bisa berbagi rezeki dengan anak-anak yatim besok.

"Sayang, sudah. Ini sudah tas ke-50. Sisanya biar orang-orangku yang melanjutkan," tegur Jati yang sejak tadi memperhatikan dari sofa.

Ia mulai cemas melihat Lintang yang terus membungkuk.

"Sebentar lagi, Mas. Tanggung, tinggal sedikit lagi. Saya senang sekali membayangkan wajah anak-anak itu besok kalau menerima jajanan ini," jawab Lintang tanpa menoleh, tangannya tetap lincah menyusun biskuit.

Jati bangkit berdiri, langkahnya kini jauh lebih mantap meski masih sedikit perlahan.

Ia menghampiri istrinya. "Lintang, ingat kata Dokter. Kamu tidak boleh kelelahan. Kamu tadi pagi sudah mual-mual, sekarang mau memaksakan diri lagi?"

"Hanya lima tas lagi, Mas. Janji!" Lintang terkekeh, mencoba menghindar saat Jati hendak meraih tangannya.

Ia benar-benar sedang asyik dengan dunianya, merasa menjadi wanita paling berguna saat bisa membantu orang lain.

Melihat Lintang yang tetap "bandel" karena semangatnya yang meluap, Jati tidak punya pilihan lain.

Dengan satu gerakan sigap, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Lintang.

"Eh! Mas Jati! Apa yang Mas lakukan?" seru Lintang kaget saat tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara.

Jati membopong Lintang dengan sisa kekuatannya yang kian pulih.

"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan suami siaga. Kamu butuh tidur, bukan membungkus kado sampai tengah malam."

Jati membawa Lintang masuk ke dalam kamar utama mereka yang luas.

Dengan hati-hati, ia meletakkan Lintang di atas tempat tidur yang empuk. Sebelum Lintang sempat memprotes atau mencoba lari kembali ke ruang tengah, Jati berbalik dan memutar kunci pintu kamar mereka.

Ceklek!

Jati meletakkan kunci itu di atas nakas yang tinggi, lalu ia ikut berbaring di samping Lintang, menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.

"Mas, tapi bingkisannya—"

"Bingkisannya tidak akan lari ke mana-mana, Sayang," potong Jati sambil menarik Lintang ke dalam pelukannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang bidang.

"Sekarang kita istirahat. Kamu, aku, dan calon bayi kita butuh tenaga untuk besok."

Lintang akhirnya menyerah. Ia menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan, perlahan rasa kantuk mulai menyerangnya.

"Terima kasih sudah menjagaku, Mas."

"Tidurlah," bisik Jati lembut sambil mengecup kening Lintang.

"Besok adalah hari kebahagiaan kita."

1
tiara
udah Mila urus saja hidupmu jangan mengganggu Jati kalau ga mau dipenjarain sama dia tau rasa kamu
tiara
nah kan Mila sepertinya kali ini nasibmu lebih buruk lagi ya
tiara
apakah akan berhasil Mila mila kirain udah insyaf eh tetap saja ga betubah.aoa kamu mau lebih hancur lagi karena rasa iri dengki mu itu
tiara
berbahagialah Lintang sekarang dikelilingi orang tulus menyayangimu
tiara
bagus Ria tinggalin aja keluarga derry yang ga punya hati nurani.biar mereka usaha sendiri kalau mau hidup enak
tiara
lanjuut thor semangat upnya
tiara
semoga keluarga Deri tidak datang lagi mengganggu ketenangan Lintang dan keluarganya
tiara
Karyawan butik yang ga berakhlak akhirnya menyesal sudah berlaku meremehkan orang lain hanya karena penampilanya.ga salah juga sih kadang juga ada yang datang cuma buat foto juga jadi bingung juga ya
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!