NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Halaman buku sketsa itu masih putih bersih, menantang Felysha Anindhita dengan permukaannya yang sedikit bertekstur. Ia duduk di salah satu kursi besi berwarna hijau tua yang tersebar di area Jardin du Luxembourg, membiarkan tas sketsanya bersandar di kaki kursi. Sinar matahari musim gugur yang pucat menyinari pundaknya, namun tidak cukup hangat untuk mengusir rasa dingin yang menyelinap di antara celah rajutan sweternya. Felysha memutar-mutar pensil grafit 2B di antara jemarinya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia merasa pikirannya terlalu penuh untuk mulai menggambar.

Di hadapannya, kolam besar yang menjadi pusat taman itu tampak tenang, memantulkan langit Paris yang berwarna biru pudar. Beberapa anak kecil sedang sibuk mendorong kapal layar kayu kecil menggunakan tongkat panjang, tawa mereka terdengar sayup-sayup terbawa angin. Felysha memperhatikan gerakan mereka—cara mereka membungkuk, cara jaket tebal mereka melipat di bagian pinggang saat mereka bergerak lincah. Pikirannya secara otomatis bekerja sebagai seorang desainer; ia mencatat bagaimana kain kaku dari mantel musim dingin itu menciptakan volume yang menarik saat tubuh anak-anak itu bergerak.

Ia mengembuskan napas panjang, uap tipis keluar dari mulutnya dan menghilang dalam hitungan detik. Felysha membuka lilitan syalnya sedikit, membiarkan udara dingin menyentuh lehernya yang kini hanya ditutupi plester kecil—bekas luka dari malam itu yang sudah mulai mengering. Ia meraba plester itu dengan ujung jari telunjuknya, merasakan tekstur permukaannya yang kasar. Kejadian di gang itu seolah-olah sudah menempel secara permanen dalam sistem sarafnya. Setiap kali ada suara langkah kaki yang mendekat terlalu cepat dari arah belakang, tangannya akan mengepal secara otomatis di atas buku sketsa.

Ia mulai menggoreskan pensilnya. Garis pertama terasa ragu-ragu. Ia mencoba menangkap siluet seorang wanita tua yang duduk di bangku seberang, yang sedang sibuk merajut dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan ritmis. Felysha memperhatikan detail kerutan pada tangan wanita itu, dan bagaimana syal panjang yang sedang dibuatnya menjuntai hingga menyentuh tumpukan daun kering di bawah bangku. Ia menggerakkan pensilnya naik-turun, mencoba menciptakan tekstur rajutan di atas kertas. Namun, garis-garisnya terasa sedikit bergetar.

Felysha berhenti sejenak, menatap sketsa yang belum jadi itu. Ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar sedang menggambar; ia sedang mencoba melarikan diri. Julian baru saja meneleponnya sepuluh menit yang lalu, menanyakan secara mendetail tentang apa yang ia makan pagi ini dan mengapa ia tidak segera membalas pesan WhatsApp-nya di jam satu siang. Tekanan itu terasa seperti tali yang melilit dadanya, membuatnya sulit untuk sekadar menikmati udara taman. Ia merasa seperti sedang berada di bawah pengawasan kamera CCTV yang terus mengikuti setiap gerak-geriknya, meski Julian berada ribuan kilometer jauhnya di Jakarta.

Ia menutup buku sketsanya dengan suara buk yang pelan. Menggambar di tempat terbuka ternyata tidak setenang yang ia bayangkan. Setiap kali Andre—supir yang ditugaskan Julian—berdiri tidak jauh dari gerbang taman, Felysha merasa waktu bebasnya sedang dihitung mundur. Andre tidak pernah masuk ke dalam taman, pria itu hanya berdiri di samping mobil hitamnya, menatap jam tangannya setiap tiga puluh menit seolah-olah Felysha adalah barang berharga yang harus segera dikembalikan ke dalam kotak penyimpanannya.

Felysha meraih tasnya, menyampirkannya ke bahu kanan dengan gerakan yang hati-hati agar tidak menekan pundaknya yang masih sedikit nyeri. Ia berdiri, merasakan lututnya yang agak kaku karena terlalu lama duduk di kursi besi yang dingin. Ia mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang ditutupi pasir halus dan kerikil. Bunyi gesekan sepatunya dengan kerikil taman terdengar sangat dominan di telinganya. Ia melewati deretan patung-patung marmer putih para ratu Prancis yang berdiri tegak dan kaku, seolah-olah sedang menghakiminya karena kegagalannya untuk merasa bebas di kota ini.

Ia berjalan menuju arah pintu keluar yang berbeda, pintu yang lebih kecil dan tidak terlihat dari posisi mobil Andre terparkir. Ada dorongan kecil di dalam dirinya untuk sedikit "memberontak"—untuk menghilang dari pandangan Andre selama tiga puluh menit saja. Felysha mempercepat langkahnya, menyelinap di antara rombongan turis yang sedang sibuk mengambil foto di depan istana. Ia merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat ia berhasil melewati gerbang besi taman dan masuk ke trotoar Rue de Vaugirard.

Trotoar itu dipenuhi oleh mahasiswa yang baru keluar dari universitas terdekat, beberapa dari mereka membawa tabung gambar dan berbincang dengan suara keras dalam bahasa Prancis yang cepat. Felysha merasa sedikit lebih tenang di tengah kerumunan ini. Di sini, ia hanyalah satu dari ribuan orang asing yang berjalan di bawah bayangan bangunan-bangunan batu yang megah. Ia tidak lagi meraba plester di lehernya. Ia justru meraba saku mantelnya, merasakan keberadaan saputangan putih Mahesa yang sudah ia cuci bersih.

Ia berjalan tanpa tujuan yang pasti, mengikuti arah langkah kaki orang-orang di depannya. Ia melewati toko buku tua yang rak-raknya meluap hingga ke trotoar, dan sebuah toko roti kecil yang mengeluarkan aroma mentega dan ragi yang sangat kuat. Felysha berhenti sejenak di depan etalase toko roti itu, memperhatikan deretan croissant yang permukaannya berkilau keemasan. Ia ingin membeli satu, namun antreannya terlalu panjang dan ia merasa waktunya mulai menipis.

Ia memutuskan untuk masuk ke jalan-jalan yang lebih sempit, mencari jalur yang lebih sepi untuk sekadar mengambil napas. Ia melewati sebuah galeri seni kecil yang pintunya dicat biru cerah, lalu sebuah toko jam antik yang bunyi detak jarumnya bisa terdengar hingga ke jalan. Felysha merasa Paris mulai menunjukkan sisi yang lebih lembut padanya, sisi yang tidak melulu tentang Menara Eiffel atau kemewahan yang dipaksakan Julian. Ia melihat seorang pelukis jalanan sedang merapikan kanvasnya di sudut gang, dan ia berhenti sejenak untuk memperhatikan sisa-sisa cat minyak yang menempel di palet kayu pria itu.

Setiap detail yang ia lihat—warna cat, tekstur dinding yang terkelupas, hingga cara sinar matahari jatuh di atas meja kayu kafe—ia simpan baik-baik di dalam kepalanya. Ia merasa energi kreatifnya perlahan-lahan mulai kembali. Ia merogoh saku tasnya, mengambil pensilnya kembali, dan membuat beberapa coretan cepat di pinggiran buku sketsanya sambil berdiri di dekat sebuah tiang lampu besi. Ia menggambar pola lengkungan pagar balkon yang menurutnya sangat elegan.

Langkah kakinya membawanya semakin jauh dari Jardin du Luxembourg. Ia tidak tahu sekarang ia berada di arondisemen keberapa, namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin terus berjalan sampai ia menemukan sebuah tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai "penemuannya" sendiri. Ia melewati sebuah gereja tua yang dindingnya ditutupi oleh tanaman rambat yang sudah memerah karena musim gugur. Di sana, di sebuah gang yang lebih sempit lagi, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah papan kayu kecil yang tergantung di atas sebuah pintu biru pudar, bergoyang pelan tertiup angin.

Felysha berdiri diam di depan gang itu, membetulkan letak tas sketsanya. Ia merasakan embusan angin dingin yang membawa aroma kopi yang sangat kuat dan familiar—bukan aroma kopi mesin otomatis yang biasa ia minum di apartemen, melainkan aroma kopi yang dipanggang dengan cara tradisional. Ia mulai melangkah masuk ke dalam gang itu, sepatunya mengetuk permukaan aspal yang sedikit lembap. Di setiap langkahnya, ia merasa beban di pundaknya sedikit berkurang, seolah-olah ia sedang berjalan menjauh dari dunianya yang selama ini teratur dan kaku, menuju sesuatu yang tidak terduga.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!