Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya yang Meredup
Jakarta baru saja menyambut matahari pagi yang pucat ketika sirine ambulans membelah kemacetan di jalan raya menuju Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Di dalamnya, raga Kapten Pradipta Arya terbaring tak berdaya di atas brankar. Tubuhnya yang gagah kini dipenuhi alat pemantau medis; kabel-kabel elektroda menempel di dadanya yang naik-turun dengan bantuan ventilator, sementara perban putih sudah mulai memerah oleh rembesan darah di bagian kepalanya.
Maura mengikuti ambulans itu dengan mobilnya sendiri, menyetir dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir tak mampu memegang kemudi. Pikirannya kosong. Suara benturan keras di persimpangan tadi terus bergema di telinganya seperti kaset rusak.
Begitu sampai di UGD, Arya langsung dikerubungi oleh tim dokter spesialis bedah saraf dan ortopedi. Kondisinya berada di titik nadir: Glasgow Coma Scale (GCS) menunjukkan angka yang sangat rendah. Luka di kepala akibat benturan samping truk kontainer itu menyebabkan pendarahan intrakranial yang hebat.
"Pasien harus segera masuk ruang operasi! Siapkan ruang craniotomy sekarang!" teriak salah satu dokter residen.
Maura berdiri di depan pintu UGD yang tertutup rapat, napasnya memburu. Ia melihat tangan bajunya yang terkena noda darah Arya saat ia mencoba menarik tubuh suaminya tadi. Di tengah kekacauan batin itu, sebuah benda di dalam tasnya bergetar.
Ponsel Arya.
Maura merogoh tasnya, mengeluarkan benda pipih yang menjadi pemicu tragedi subuh ini. Layarnya menyala. Ada notifikasi panggilan masuk dari sebuah nomor internasional.
Nina.
Kemarahan yang sempat menguap karena panik kini berganti dengan kedinginan yang menusuk. Maura menatap pintu UGD, lalu menatap ponsel itu. Dengan jemari yang masih berlumuran darah kering, ia membuka ponsel tersebut. Ia tidak lagi peduli pada privasi. Ia menghapus seluruh riwayat panggilan dari nomor itu. Ia masuk ke aplikasi pesan, menghapus seluruh percakapan mesra yang terjadi di Jogja dan Jakarta, lalu dengan penuh penekanan, ia menekan tombol "Blokir Nomor".
"Tidak akan pernah lagi," bisik Maura dengan suara serak. "Kamu tidak akan pernah menyentuh hidupnya lagi, Nina. Biarkan dia melupakanmu, sebagaimana semesta mungkin sedang berusaha menghapusmu dari ingatannya."
*
Tak butuh waktu lama bagi keluarga besar Sudrajat untuk memenuhi lorong rumah sakit. Mami Lastri datang dengan wajah yang sangat pucat, dipapah oleh Aurel dan Arista. Papi Sudrajat yang sebenarnya masih dalam masa pemulihan di bangsal lain, terpaksa dibawa dengan kursi roda menuju depan ruang operasi.
Suasana lorong itu begitu berat oleh doa. Mami Lastri tak henti-hentinya memutar butiran tasbih di tangannya, bibirnya komat-kamit merapalkan doa keselamatan untuk putra tunggal kebanggaannya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maura hanya mengatakan bahwa Arya mengalami kecelakaan saat hendak menjemput sesuatu di rumah dinas pagi-pagi sekali.
"Bagaimana bisa, Maura? Arya itu pengemudi yang sangat handal," tangis Mami Lastri pecah di pundak menantunya.
Maura hanya bisa memeluk ibu mertuanya itu dengan perasaan bersalah yang menghimpit. "Jalanan licin, Mami... Mas Arya mungkin terlalu lelah karena menjaga Papi semalaman."
Dokter keluar setelah tiga jam operasi pertama selesai. Wajahnya tampak sangat letih.
"Keluarga Kapten Arya?"
Papi Sudrajat menegakkan punggungnya di kursi roda. "Bagaimana putra saya, Dok?"
"Operasi pengangkatan gumpalan darah di otak sudah selesai, namun kondisi Kapten masih kritis. Beliau dalam keadaan koma dalam. Kami harus memantaunya selama 72 jam ke depan di ruang ICU," dokter itu menjeda sejenak, menatap Papi Sudrajat dengan prihatin. "Ada benturan yang sangat keras di lobus temporal. Jika—dan kami sangat berharap—beliau sadar nanti, ada kemungkinan besar beliau akan mengalami amnesia sebagian atau gangguan memori jangka pendek. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Mami Lastri hampir jatuh pingsan mendengar kata 'amnesia', namun Maura justru terdiam dengan tatapan kosong. Amnesia? Sebuah pikiran gelap melintas di benaknya. Jika Arya lupa pada kejadian beberapa bulan terakhir, itu berarti Arya akan lupa pada kepulangan Nina. Arya akan lupa pada janjinya di Kaliurang. Arya akan kembali menjadi suaminya yang hanya tahu bahwa mereka adalah pasangan yang serasi di mata dunia.
Maura memejamkan mata, memohon pada Tuhan agar Arya selamat, namun di sisi lain, sebagian kecil dari dirinya yang sudah terluka parah berharap agar amnesia itu benar-benar terjadi.
***
Di Amsterdam, hari masih pagi ketika Sari mendobrak pintu kamar Nina dengan wajah yang sangat panik. Nina sedang mencoba memakai riasan untuk latihan panggung terakhir, namun tangannya terus gemetar.
"Nin! Nina!" Sari terengah-engah, ponselnya masih menempel di telinga.
"Ada apa, Sar? Kamu kenapa?" Nina meletakkan kuas riasnya, jantungnya berdegup kencang melihat ekspresi sahabatnya.
"Dimas... Dimas baru saja menghubungiku," suara Sari tertahan. "Arya, Nin. Arya kecelakaan subuh tadi di Jakarta. Mobilnya dihantam truk kontainer."
Nina merasa seolah lantai yang ia pijak lenyap seketika. Dunianya berputar. "Apa? Kak Arya... dia baik-baik saja, kan? Dia hanya luka ringan, kan?"
Sari menggeleng, air matanya mulai jatuh. "Dia kritis, Nin. Sekarang di ICU RSPAD. Dia koma. Dimas bilang kondisinya sangat buruk karena mobilnya ringsek total."
Nina menjerit, sebuah teriakan pilu yang tertahan di kerongkongannya. Ia langsung menyambar paspornya di atas meja rias, tangannya mengacak-acak laci mencari tiket atau apa pun. "Aku harus pulang. Aku harus ke Jakarta sekarang juga! Sari, tolong pesankan tiket paling cepat!"
Sari segera menangkap tangan Nina, menahannya dengan kuat. "Nina! Sadarlah! Kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke Arya, Sar! Dia membutuhkanku! Dia berjanji akan menyelesaikannya dengan Maura, dan sekarang dia begini karena mengejarku lewat pesan singkat!" Nina meronta, mencoba melepaskan diri dari pegangan Sari.
"Kamu gila, Nin? Ingat posisimu!" bentak Sari. "Lusa adalah malam pementasan besarmu di National Opera & Ballet. Kontrakmu di sini sedang dipertaruhkan! Dan yang paling penting... kalau kamu ke Jakarta sekarang, mau jadi apa kamu di sana?"
"Aku tidak peduli pementasan itu! Aku hanya mau Arya!"
"Dan Maura?" Sari menatap mata Nina dengan tajam, suaranya kini merendah namun menusuk. "Arya itu masih suami sah Maura. Di rumah sakit itu, ada istrinya, ada maminya, ada papinya. Kamu mau datang sebagai apa? Sebagai selingkuhan yang menjenguk di depan keluarga besarnya? Kamu mau bunuh diri secara sosial dan menghancurkan reputasi yang sudah kamu bangun susah payah?"
Nina luruh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. "Tapi dia kecelakaan karena aku, Sar... aku merasakannya. Dia pasti sedang memikirkan aku saat itu."
"Justru karena itu, Nin. Kalau kamu mencintainya, jangan buat situasinya semakin kacau," Sari berlutut di depan Nina, memeluk pundaknya yang berguncang. "Biarkan keluarganya menjaganya. Kamu tidak punya hak di sana. Di mata hukum, di mata agama, kamu tidak ada hubungannya dengan Arya sekarang. Jangan egois. Kamu hanya akan membuat Mami Lastri semakin membencimu dan mungkin akan memperburuk kondisi kesehatan Papi Sudrajat kalau kamu muncul di sana."
Nina menutup wajahnya. Rasa sakitnya tak tertahankan. Ia ingin berteriak bahwa ia mencintai Arya, namun kata-kata Sari adalah kenyataan pahit yang harus ia telan. Ia terjebak di Amsterdam, terikat kontrak besar, sementara pria yang memegang separuh jiwanya sedang bertaruh nyawa di sebuah ruangan steril di Jakarta.
*
Malam harinya di Amsterdam, Nina duduk di balkon apartemennya. Dinginnya angin malam tidak terasa apa-apa dibandingkan dengan hampa yang ada di dadanya. Ia berkali-kali mencoba menghubungi nomor Arya, namun selalu ada balasan otomatis bahwa nomor tersebut tidak aktif atau tidak dapat dihubungi. Ia tidak tahu bahwa Maura telah memblokirnya selamanya.
Ia mencoba menghubungi Dimas, namun Dimas hanya membalas singkat bahwa kondisi Arya masih belum stabil dan tidak bisa menerima kunjungan selain keluarga inti.
Pintu balkon terbuka. Julian masuk dengan wajah yang sangat khawatir. Ia sudah mendengar kabar dari Maya bahwa ada "kenalan lama" Nina di Indonesia yang kecelakaan, meskipun Julian belum tahu detail bahwa pria itu adalah alasan Nina berubah dingin padanya.
"Nina... aku dengar beritanya. Aku ikut berduka," Julian mendekat, mencoba menyentuh bahu Nina.
Nina menjauh secara insting. Ia tidak sanggup disentuh oleh siapa pun saat ini. "Terima kasih, Julian. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri."
Julian menghela napas, rasa kecewa dan bingung tampak di wajahnya. "Besok adalah general rehearsal. Kamu harus fokus, Nina. Ini adalah puncak kariermu."
Nina tidak menjawab. Ia menatap ke arah timur, ke arah di mana matahari akan terbit lebih dulu di Jakarta. Di dalam pikirannya, ia membayangkan lorong rumah sakit yang putih, bau antiseptik yang menyengat, dan wajah Arya yang pucat tertutup masker oksigen.
Ia menyadari betapa kejamnya takdir. Saat mereka baru saja saling menyatakan cinta lagi, semesta justru memisahkan mereka dengan cara yang paling brutal. Ia harus menari di atas panggung megah di Belanda dengan hati yang hancur berkeping-keping, sementara satu-satunya penonton yang ia inginkan kehadirannya mungkin tidak akan pernah bisa mengingat namanya lagi.
"Kak Arya... tolong bangun," bisik Nina pada kegelapan malam. "Bangunlah, meskipun Kakak harus melupakan aku. Asal Kakak hidup, itu sudah cukup."
Nina menggenggam liontin sepatunya hingga telapak tangannya lecet. Di Jakarta, detak jantung Arya pada monitor medis berdenyut lemah, naik dan turun, seolah sedang berjuang menembus kabut hitam yang menyelimuti kesadarannya. Dan di lorong rumah sakit, Maura duduk diam, memegang ponsel Arya yang kini sudah bersih dari segala jejak tentang Nina, bersiap untuk menulis ulang sejarah hidup suaminya jika suatu saat nanti pria itu membuka mata.