Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah dan Pengkhianatan Sinclair
Sinar matahari pagi yang pucat menembus kabut yang mulai menipis, menyinari halaman belakang mansion yang masih menyisakan noda merah di sela-sela rumput yang membeku. Di dalam ruang interogasi bawah tanah yang dingin, aroma kematian semalam masih menggantung pekat. Maximilian duduk di kursi besi, tangannya yang masih berbalut perban tipis akibat hantaman semalam mencengkeram sebuah tablet yang menampilkan data ekstraksi dari ponsel salah satu penyusup yang tewas.
Rebecca berdiri di sudut ruangan, wajahnya tampak kaku. Ia mengenakan mantel hitam panjang, mencoba menghalau dingin yang seolah meresap hingga ke tulangnya. Sejak penyusupan itu digagalkan, ada keheningan yang mencekam dari arah Vargo dan tim intelijen. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan, sebuah kebenaran yang terlalu pahit untuk diucapkan dengan suara keras.
"Vargo, katakan saja," suara Rebecca memecah kesunyian, tajam dan tanpa ragu. "Siapa yang memberikan protokol bypass sensor kepada unit elit Naples itu? Kita tahu penyusupan profesional seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan 'orang dalam' yang memiliki akses ke sejarah keluarga."
Vargo melirik Maximilian, seolah meminta izin terakhir. Max hanya mengangguk pelan, matanya tidak beralih dari layar.
"Bukan orang dalam dari tim keamanan kita, Nona," Vargo memulai, suaranya berat karena beban informasi yang ia bawa. "Kami melacak jejak enkripsi yang digunakan untuk mematikan laser perimeter sektor barat. Kode itu berasal dari sebuah server pribadi di Zurich, atas nama sebuah perusahaan cangkang yang sudah lama tidak aktif."
Vargo menghela napas, lalu meletakkan sebuah map fisik di meja depan Rebecca. "Perusahaan itu bernama Sinclair Global Holdings. Milik ayah Anda, Arthur Sinclair."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Rebecca. Jantungnya berasa dihantam godam besar hingga ia sulit bernapas. "Apa? Itu tidak mungkin. Ayahku... dia sudah bangkrut. Dia sudah kehilangan segalanya saat Valenti menyita asetnya. Dia tidak mungkin terlibat dengan Naples."
"Itu yang kita pikirkan, Rebecca," Maximilian akhirnya bersuara, nadanya rendah namun mengandung kemurkaan yang tertahan. "Tapi datanya tidak berbohong. Ayahmu bukan sekadar korban kebangkrutan. Dia memiliki hutang judi dan investasi bodoh kepada Enzo Valenti yang jumlahnya melampaui seluruh aset Sinclair. Untuk menghapus hutang itu, Valenti menyerahkan Arthur kepada koalisi d'Angelo dan Naples."
Rebecca membuka map itu dengan tangan yang gemetar hebat. Di dalamnya terdapat foto-foto Arthur Sinclair—pria yang dulu ia puja sebagai sosok ayah yang terhormat—sedang melakukan pertemuan rahasia di sebuah gudang di Naples bulan lalu. Ada juga salinan komunikasi rahasia di mana Arthur memberikan denah rahasia mansion Moretti yang dulu pernah ia kunjungi saat masih menjadi rekan bisnis ayah Maximilian.
"Dia menjualku..." bisik Rebecca, air matanya mulai menggenang namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Dia menjual lokasi rumah ini, dia menjual protokol keamananku... kepada orang-orang yang ingin membunuh kita?"
"Dia tidak hanya menjual informasi, Rebecca," Maximilian berdiri, melangkah mendekati gadis itu. "Dia memberikan kunci gerbangnya. Ayahmu tahu bahwa jika aku mati semalam, d'Angelo akan mengambil alih seluruh pelabuhan, dan sebagai imbalannya, hutang-hutangnya akan dianggap lunas, dan dia akan diberikan posisi di bawah kepemimpinan baru."
Keterkejutan Rebecca berubah menjadi rasa muak yang luar biasa. Ia teringat bagaimana ayahnya selalu bicara tentang kehormatan keluarga Sinclair, bagaimana ayahnya menangis saat rumah mereka disita. Ternyata semua itu hanyalah sandiwara seorang pecundang yang rela mengorbankan darah dagingnya sendiri demi menyelamatkan kulitnya dari lilitan hutang mafia.
"Di mana dia sekarang?" tanya Rebecca, suaranya kini bergetar karena amarah yang dingin.
"Tim Vargo melacak sinyalnya. Dia bersembunyi di sebuah vila terpencil di perbatasan Italia, di bawah perlindungan faksi d'Angelo," jawab Maximilian. Ia memegang bahu Rebecca, mencoba memberikan kekuatan. "Aku akan mengirim tim untuk menjemputnya. Dia akan membayar setiap inci pengkhianatan ini."
Rebecca menepis tangan Maximilian dengan lembut, lalu menatap pria itu dengan tatapan yang setajam silet. "Tidak, Max. Jangan kirim timmu. Jika dia masih memiliki darah Sinclair di tubuhnya, maka ini adalah urusan Sinclair. Aku yang akan pergi menjemputnya."
"Ini berbahaya, Rebecca. d'Angelo pasti menjadikannya umpan," cegat Maximilian.
"Aku tidak peduli!" teriak Rebecca, air matanya akhirnya luruh. "Dia memberikan denah rumah ini agar mereka bisa membunuhmu di tempat tidurmu sendiri! Dia membiarkan mereka menyerangku! Dia bukan lagi ayahku, dia adalah pengkhianat yang telah menodai nama yang aku bawa!"
Rebecca mencengkeram kerah kemeja Maximilian, menatapnya dengan putus asa. "Kau melatihku untuk menjadi predator, Max. Kau memberiku mahkota ini. Sekarang, biarkan aku membuktikan bahwa aku tidak akan membiarkan darah yang mengalir di tubuhku menjadi titik lemah Moretti. Biarkan aku yang mengakhiri pengkhianatan ini."
Maximilian melihat api kegelapan yang sama di mata Rebecca—api yang dulu membakar jiwanya saat ia melihat rumahnya sendiri terbakar. Ia menyadari bahwa membiarkan Rebecca menghadapi ayahnya adalah satu-satunya cara agar Rebecca bisa benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalunya.
"Baik," ucap Maximilian tegas. "Vargo, siapkan jet pribadi. Siapkan tim taktis terkecil. Kita berangkat ke Italia satu jam lagi. Tapi dengarkan aku, Rebecca... jika kau tidak sanggup menarik pelatuk itu saat melihat wajahnya, jangan ragu untuk menyerahkannya padaku."
"Aku tidak akan ragu, Max," sahut Rebecca sambil menyeka air matanya dengan kasar. "Dia sudah mati bagiku saat dia memberikan kode keamanan itu kepada d'Angelo."
Satu jam kemudian, jet pribadi Moretti membelah awan menuju Italia. Di dalam kabin yang sunyi, Rebecca menatap ke luar jendela, memutar-mutar cincin berlian hitam di jarinya. Kebenaran yang baru saja ia kuak terasa lebih berat daripada senjata yang tersampir di pinggangnya. Ia menyadari bahwa dunia bawah tanah Maximilian memang rumit, tapi pengkhianatan dari orang yang paling ia cintai adalah kerumitan yang paling mematikan.
"Kau melakukan hal keji itu, Ayah? Kau sudah memberikanku pada bajingan anak buah Valenti malam itu sebagai jaminan hutangmu. Sekarang kau memberikan seluruh hal tentangku kepada orang-orang Naples? Sungguh kau bukan manusia, Ayah!" batin Rebecca tak percaya.
Arthur Sinclair telah melakukan kesalahan fatal. Ia mengira putrinya tetaplah gadis kecil yang lemah yang bisa ia tukar dengan koin emas. Ia tidak tahu bahwa Rebecca Sinclair sudah terkubur di bawah salju pegunungan, dan yang akan datang menjemputnya adalah Rebecca Moretti—seorang wanita yang telah memahami bahwa dalam dunia ini, satu-satunya kesetiaan yang sah adalah kesetiaan yang ditulis dengan darah, bukan dengan nama keluarga.
Maximilian duduk di seberangnya, memperhatikannya dengan diam. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan mengubah Rebecca selamanya. Malam ini, di tanah Italia yang penuh darah, sebuah kebenaran akan tuntas dikuak, dan sebuah nama lama akan dihapus selamanya dari sejarah Moretti.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘