Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Perubahan
Happy Reading
"Oh, jadi cinta pertama lo itu Alderza?" Tanya Sinta sembari memegang buku diary yang sudah terbuka.
Ingin rasanya Aily menangis. Siapa pun akan begitu jika ada yang mengetahui rahasianya tanpa izin.
Tiba-tiba di balik tenda, tepat di belakang punggungnya terdengar seseorang tengah berbisik kepadanya.
"Lawan, jangan diem aja sama cecunguk itu!" Bisiknya pelan.
Aily melotot mendengar suara itu.
Wulan?
Tentu saja, siapa lagi jika bukan sahabatnya itu. Matanya yang mengantuk langsung terbuka lebar saat mendengar teriakan Sinta.
"Lawan, ambil diary nya. Kali ini gue gak bakal bantuin. Terkadang kita harus bisa melindungi diri sendiri, Aily." Bisik Wulan dari balik tenda.
Wulan sangat kesal melihat Aily yang masih diam tak berkutik. Menyebalkan.
Kalau dia ada di posisi Aily saat ini, dia pasti sudah menjambak dua cewek kurang ajar itu, dan meludahi muka mereka.
Tapi, kenapa dia malah diam saja?
"Aily, lo bilang mah berubah. Tunjukin sekarang!" Bisik Wulan dengan nada geram. Dia sangat gemas kepada Aily sampai tangannya meremas tenda.
"Mereka gak bakal berubah meskipun lo diem."
Dari kejauhan, Aily dapat melihat Alderza yang baru keluar dari tenda dan sedang menatapnya.
Tidak. Tidak. Alderza tidak boleh tahu.
Aily menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangannya sekuat mungkin.
"Heh, cewek gatel, jawab!" Sinta mulai tak sabaran melihat Aily yang hanya diam seribu bahasa.
"Emangnya kenapa? Semua orang berhak punya perasaan, dan gak ada yang bisa ngatur perasaan!" Tiba-tiba Aily membuka mulutnya, Sinta dsn Riska dibua kaget olehnya.
Wulan tersenyum mendengar ucapan Aily barusan. Berbeda dengan Sinta dan Riska yang semakin kesal.
"Heh, lo mulai berani ya sama-"
"Iya, aku berani." Aily langsung mendekati Sinta dan merebut diary tersebut sebelum Alderza sampai.
"Kurang ajar lo!" Sinta saat itu juga ingin menampar Aily. Alderza yang melihat itu langsung berlari cepat.
Tapi seketika, Alderza langsung berhenti saat tangan Sinta di tahan. Bukan oleh Bintang maupun Wulan, melainkan oleh Aily itu sendiri.
"Kamu gak tahu malu ya. Udah jelas kamu yang salah buka-buka diary orang, tapi masih aja mau nampar aku."
Di balik tenda, Wulan bersorak riang. Sungguh, ini adegan yang paling dia suka. Sepertinya, dia harus mengajarkan kata-kata kasar lainnya.
"Apa-apaan sih lo, pegang-pegang tangan gue!" Ucap Sinta sembari melepaskan tangan Aily dengan kasar.
Tiba-tiba ada yang melempar botol hand sanitizer dari dalam tenda, jatuh tepat di sepatunya. Untunglah Sinta dan Riska tak menyadarinya.
Sepertinya Wulan ingin Aily memakainya. Tak butuh waktu lama untuk Aily bisa. mencerna apa maksud Wulan. Aily langsung memgambil benda itu dan memakainya di kedua tangannya.
Terkesan seperti Aily jijik saat memegang tangan Sinta.
"Nah... kalau gini kan tangan aku bersih." Ucap Aily.
"Udah kan, kalian cuma mau balikin diary ini? Makasih." Aily tersenyum lalu pergi berlalu untuk. mencari udara segar.
Saat Sinta ingin mengejarnya, Riska menahannya. "Sinta, udah. Ada Alderza, buruan balik!"
Sinta menggeram kesal, beraninya cewek kampungan itu melawannya, sampai memakai hand sanitizer di tangannya.
"Emangnya dia pikir tangan gue kotor apa?" Tanya Sinta kepada Riska.
Alderza yang mendengar itu berlalu begitu saja melewati Sinta. Dia mengejar Aily yang pergi entah ke mana.
Sinta yang melihat Alderza mengejar Aily hanya bisa meringis, rasanya sakit melihat orang yang dia cintai terus-menerus berpaling kepada Aily.
Sejak dulu mereka menjadi sahabat, semua orang yang Sinta suka selalu berpaling pada Aily.
Semua cowok yang awalnya menyatakan cinta padanya, langsung berpaling saat mereka melihat Aily.
Sinta mulai menitikan air matanya. "Kenapa harus selalu dia?" Ucap Sinta kepada Riska.
***
Aily tengah berjalan sembari melihat pemandangan yang indah, dia pun menelpon Wulan.
"Gila lo, sumpah. Gue seneng banget!" Ucap Wulan.
"Aku kayak gini juga berkat kamu."
"Tapi kurang. Harusnya lo jambak dia."
Aily hanya tertawa mendengar ucapan Wulan yang selalu bertingkah lucu.
"Harusnya ngomongnya pake 'lo-gue', jangan aku-kamu."
"Iya, iya. Ini kan lagi belajar pake 'lo-gue'."
Aily yang menyadari kehadiran Alderza langsung mematikan teleponnya.
Alderza yang berhasil menemukan Aily, langsung memperlihatkan kekhawatirannya. "Aily!" Teriaknya.
Aily menoleh lalu tersenyum. Alderza tidak perlu mengangkat dagu Aily lagi, cewek itu sudah otomatis menatap Alderza sembari tersenyum.
Meskipun hatinya masih terasa sakit karena hanya menjadi pacar pura-pura.
"Lo gak apa-apa, kan?" Tanya Alderza khawatir.
"Nggak kok."
"Mereka berdua ngapain lagi, sih?" Alderza dibuat pusing oleh kelakuan mereka. Dia menyesal baru menyadari bahwa mereka berdua sangat menyebalkan.
"Mereka baca diary aku." Ucap Aily sambil mencari udara segar.
"Iya, gue tau. Itu Farah yang ngambil dari tas lo tadi malem. Gue baru denger tadi pagi dan mau bilang ke lo."
Aily hanya mengangguk tidak peduli, siapa pun orang yang mengambil diary nya pasti karena terpaksa.
Aily hanya berjalan menyusuri semak yang diselimuti kabut. Alderza tidak bertanya Aily mau pergi ke mana. Dia hanya mengikuti Aily ke mana pun kakinya melangkah.
Tibalah mereka di sebuah tempat yang dihiasi bunga, sangat indah. Aily langsung menuju ke tempat yang penuh dengan bunga tersebut.
"Lo suka bunga karena cinta pertama lo, kan? Sampe segitunya." Alderza mulai membuang muka.
Aily hanya tersenyum jika Alderza menggerutu mengenai cinta pertamanya. Apalagi saat Alderza menghina dirinya sendiri, itu sangat lucu.
Aily menarik napas dalam-dalam, lalu memetik bunga tersebut sembari berkata.
"Alderza, apa kamu punya cinta pertama?"
Pertanyaan itu membuat Alderza kaget. Aily sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Dari mulai berani mengangkat wajahnya, menatap matanya, dan bertanya kepadanya.
Alderza mengembuskan napasnya. Dia menatap mata Aily sembari tersenyum kikuk, rasanya sangat malu menceritakan hal ini.
"Lo inget waktu gue ajak lo ke rumah pohon?" Tanya Alderza dan Aily mengangguk.
"Gue gambar lo pake rambut pendek, kan?"
Aily mengangguk sembari menjadi pendengar yang baik. Dia tidak ingin memotong apa pun yang dikatakan Alderza.
"Sebenernya, cewek yang gue gambar itu cinta pertama gue. Dia mirip banget sama lo, Aily."
Aily menggaruk-garuk kepalanya. Entah kenapa mendengar ucapan Alderza barusan, membuatnya salah tingkah. Ingin rasanya dia menghapus kata 'menyerah' yang ia tulis dalam diary miliknya semalam.
"Namanya Hely. Dalam hati gue sampe saat ini masih yakin kalo Helly itu elo. Tapi, harapan gue pupus waktu lo bilang gak kenal gue."
Aily kini memegang rambutnya yang kini sudah panjang, tidak sependek dulu. Ternyata, Alderza masih mengingatnya.
"Hely itu... satu-satunya orang yang bikin hidup gue berwarna dulu. Dia juga satu-satunya orang yang memuji karya gue."
"Kalo misalkan aku sama Hely orang yang sama, apa yang bakal kamu lakuin?"
Alderza menatap Aily penuh harap. Alderza mengamati wajahnya lekat-lekat. Aily benar-benar mengingatkannya pada teman kecil yang dia tinggalkan dulu.
"Gue-"
"Aily!" Panggil Bintang tepat di belakang mereka.
Bintang menarii Aily agar menjauh dari Alderza dengan kasar, seolah dia memiliki hak atas Aily. Dia tampak tidak suka dengan kedekatan mereka. Tentu saja itu membuat Alderza kesal.
"Lo gak boleh deket sama dia. Lo harus inget kalo lo itu-"
Alderza langsung mendorong Bintang penuh emosi. "Berani lo ngatur-ngatur dia, lo harus berhadapan sama gue!"
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, tolong dikoreksi ya. Love you all guys.