Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Sinar matahari pagi Chicago menyelinap masuk melalui celah-celah gorden otomatis penthouse mewah itu, membelah kegelapan kamar utama dengan garis-garis cahaya keemasan yang terang.
Cahaya itu jatuh tepat di atas ranjang berukuran king size yang tampak kacau berantakan.
Seprai sutra yang kusut, bantal-bantal yang berserakan di lantai marmer, dan keheningan yang mendadak terasa begitu pekat setelah badai semalam, menjadi saksi bisu atas apa yang telah terjadi.
Aiden Luther Stone membuka matanya perlahan.
Sentakan pertama yang singgah di kesadarannya bukanlah rasa pening atau lelah, melainkan sebuah beban berat yang seolah menghantam dadanya hingga sesak.
Efek obat perangsang laknat yang menyiksanya semalam telah menguap sepenuhnya dari aliran darahnya, menyisakan akal sehat yang kini bekerja dengan ketajaman yang menakutkan.
Aiden menundukkan kepala.
Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sosok wanita yang masih terlelap di dalam dekapannya.
Wanita itu meringkuk kecil, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Aiden yang telanjang, seolah mencari perlindungan dari dinginnya AC kamar.
Detik itu juga, gelombang perasaan bersalah yang teramat besar menghujam jantung Aiden.
Dia sadar semalam.
Dia mengingat setiap detailnya dengan sangat jelas.
Bagaimana dia kehilangan kendali, bagaimana dia mengabaikan permohonan wanita ini di awal, dan bagaimana dia telah merenggut sesuatu yang paling berharga dan suci dari wanita asing di dalam pelukannya ini.
Moralitasnya yang dididik keras oleh sang Mommy, Nora Amelie Luther-Stone, dan sang Daddy, Martin Luther, menjerit menghakiminya.
Dia telah melanggar prinsip terbesar dalam hidupnya.
Dia telah melanggar janji untuk tidak pernah membawa wanita ke atas ranjang secara hina, apalagi menghancurkan masa depan mereka.
Aiden menatap wajah wanita itu yang tampak begitu damai namun sekaligus menyedihkan dalam tidurnya.
Ada bekas air mata yang mengering di sudut matanya yang indah, dan jejak kemerahan yang samar di sekitar leher dan tulang selangkanya akibat perbuatannya yang terlalu kasar semalam.
Dengan kesadaran yang kini penuh dan mutlak, sebuah ketetapan hati yang besar dan kokoh mendadak lahir di dalam benak remaja berusia delapan belas tahun itu.
Aiden bukan pengecut.
Dia tahu apa yang harus dia lakukan sebagai seorang pria Stone.
Dia telah mengambil kesucian wanita ini, dan dia tidak akan pernah mencampakkannya begitu saja seperti sampah.
Aiden mengambil keputusan besar pagi itu: dia akan bertanggung jawab sepenuhnya.
Dia akan menikahi wanita ini.
Kelulusannya di high school hanya tinggal beberapa bulan lagi, dan begitu ijazah berada di tangannya, dia akan membawa wanita ini ke hadapan kedua orang tuanya dan meresmikan hubungan mereka, tidak peduli apa pun rintangan yang harus dihadapi.
Tangan Aiden yang besar dan hangat bergerak perlahan, sangat lembut, seolah takut memecahkan kaca yang rapuh.
Ia mengulurkan jemarinya untuk memperbaiki anak rambut wanita itu yang berantakan, menyisipkannya ke belakang telinga agar tidak mengganggu tidurnya.
Merasakan pergerakan lembut di kepalanya, Suzanne mengerutkan kening kecil.
Kelopak matanya yang terasa berat perlahan bergerak, membuka matanya yang sayu dan menyiratkan kelelahan yang luar biasa karena kurangnya tidur semalam.
Begitu pandangan mereka bertemu—mata elang Aiden yang jernih dan penuh rasa bersalah menatap langsung ke dalam netranya—Suzanne seolah tersentak kembali ke dalam realitas yang kejam.
Dengan cepat, seolah disengat listrik, Suzanne mencoba menjauhkan tubuhnya dari dekapan Aiden.
Suaranya terdengar panik dan tergesa-gesa saat menyadari ruangan sudah terang benderang.
"Sudah... sudah pagi? Aku akan pulang," ucap Suzanne dengan cepat, nadanya bergetar menahan cemas.
Namun, belum sempat ia membuka selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya, gerakan Suzanne mendadak terkunci.
Matanya menyapu lantai di samping ranjang, tempat di mana potongan-potongan pakaiannya semalam berserakan dalam kondisi yang mengenaskan.
Gaunnya robek di beberapa bagian, hancur karena renggutan paksa Aiden yang kehilangan kendali semalam.
Suzanne mematung, menyadari fakta mengerikan bahwa dia tidak memiliki sepotong pakaian pun yang layak untuk dipakai melangkah keluar dari pintu apartemen ini.
Aiden, yang mengerti betul situasi dan kegelisahan wanita di depannya, tidak membuang waktu.
Dengan gerakan tangkas, dia meraih celana boxer-nya yang tergeletak di ujung kasur, memakainya dengan cepat, lalu segera melangkah lebar ke arah walk-in closet—ruang penyimpanan pakaian mewahnya yang terletak di sudut kamar.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Aiden untuk kembali.
Di tangannya, dia membawa sepotong hoodie hitam kebesaran bermerek desainer terkenal yang biasa ia kenakan, lengkap dengan celana training abu-abu yang tebal dan nyaman.
"Pakailah... agar bisa menutupi kemerahan di lehermu," ucap Aiden, suaranya terdengar rendah, serak khas bangun tidur, namun dipenuhi oleh perhatian yang tulus dan rasa hormat yang mendalam.
Suzanne menatap pakaian itu sejenak dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya mengambilnya dengan tangan yang agak gemetar.
Tanpa berkata-kata, dia memakai hoodie besar itu di atas ranjang, membiarkan kain tebalnya menenggelamkan tubuh kecilnya yang mungil.
Hoodie itu begitu besar di tubuh Suzanne hingga lengannya menutupi seluruh jemarinya, dan bagian bawahnya menjuntai hingga ke paha.
Melihat Suzanne yang masih kesulitan dan tampak lemas untuk bergerak lebih banyak, Aiden melakukan sesuatu yang membuat jantung Suzanne berdesir aneh.
Remaja jangkung itu berjongkok di tepi ranjang, tepat di depan kaki Suzanne.
Dengan gerakan yang teratur dan penuh kehati-hatian, Aiden meraih ujung celana training abu-abu itu, lalu membantunya memakaikan celana tersebut ke kedua kaki Suzanne, menariknya perlahan ke atas hingga menutupi kaki mulusnya yang menyiratkan sisa pergulatan semalam.
Suzanne hanya bisa terdiam mematung, menatap puncak kepala Aiden yang sedang berjongkok di hadapannya.
Perlakuan selembut ini... bahkan tidak pernah ia dapatkan dari Willem Daendels selama enam bulan pernikahan mereka. Willem selalu menatapnya dari atas dengan keangkuhan, sementara remaja di depannya ini, yang baru saja melakukan tindakan paling intim dengannya, justru berlutut tanpa ragu untuk melayaninya.
Aiden menegakkan tubuhnya kembali setelah selesai membantu Suzanne.
Dia duduk di tepi ranjang, menatap lekat-lekat wajah wanita yang kini tenggelam di balik pakaian kebesarannya.
"Siapa namamu?" tanya Aiden lembut, memecah keheningan di antara mereka.
Suzanne memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan mata Aiden yang terlalu intens dan jujur.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa ketegasan mentalnya yang runtuh.
"Lupakan yang terjadi malam ini," jawab Suzanne datar, mencoba bersikap dingin seolah malam itu hanyalah sebuah kecelakaan searah yang tidak berarti apa-apa.
Namun, Aiden menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Tatapan matanya berubah menjadi sangat tegas, mencerminkan watak keras kepala khas keluarga Stone yang tidak akan pernah mundur dari tanggung jawab.
"Tidak," kata Aiden dengan nada yang mutlak, mengunci pandangan Suzanne. "Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahi mu."
Deg.
Jantung Suzanne seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh mendengarnya.
Dia terdiam, menatap remaja di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya seulas senyum sinis yang sarat akan kepahitan terukir di bibirnya.
Menikah? Kata itu terdengar begitu menggelikan di telinganya saat ini.
"Menikah?" Suzanne terkekeh hambar, matanya menyapu tubuh Aiden dari atas ke bawah, mengingatkan dirinya sendiri pada kenyataan yang ada.
"Kau bahkan masih memakai baju seragam high school semalam, Bocah. Kau bahkan belum tahu bagaimana kerasnya dunia di luar sana."
Aiden tidak merasa tersinggung atau ciut karena direndahkan.
Dia justru memajukan tubuhnya, menatap Suzanne dengan keyakinan yang luar biasa besar, sesuatu yang jarang dimiliki oleh remaja seusianya.
"Aku mampu menafkahimu, kumohon... Aku bukan remaja yang tidak punya apa-apa. Aku akan tanggung jawab penuh atas hidupmu, atas masa depanmu," desak Aiden, suaranya terdengar begitu bersungguh-sungguh hingga membuat Suzanne sempat goyah.
Namun, Suzanne segera memisahkan fantasi itu dari kenyataan hidupnya yang kelam.
Dia tahu dia tidak boleh terseret lebih jauh ke dalam lingkaran ini.
Dengan gerakan yang lambat namun sengaja dibuat dramatis, Suzanne mengangkat tangan kirinya ke udara, tepat di depan wajah Aiden.
"Aku sudah menikah," jawab Suzanne dengan cepat dan tegas.
Di jari manis tangan kirinya, sebuah cincin emas putih polos berhiaskan berlian kecil berkilau di bawah siraman cahaya matahari pagi.
Cincin pernikahan dari Daendels Group yang mengikatnya dalam status hukum sebagai istri sah dari Willem Daendels.
Aiden sendiri terdiam seketika begitu melihat benda berkilau itu.
Matanya menatap cincin tersebut selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah kekehan pelan lolos dari bibirnya.
Aiden menggeleng-gelengkan kepalanya, mengira bahwa wanita muda di depannya ini sedang menyusun sebuah kebohongan fiktif yang cerdas demi bisa melarikan diri darinya.
Sebuah alasan gila yang tentu saja tidak akan pernah ia percayai begitu saja.
"Menikah?" tanya Aiden lagi, nadanya kini beralih menjadi sedikit geli namun penuh kemenangan terselubung.
Ia berdiri dari tepi ranjang, berjalan mendekati sebuah keranjang anyaman di sudut kamar, lalu menunjuk ke arah kain putih yang berada di atas ranjang laundry—sebuah seprai putih yang telah ia ganti pagi-pagi sekali sebelum Suzanne terbangun, yang menampilkan noda merah pembuktian kesucian semalam.
"Aku bahkan orang pertama yang menyentuhmu semalam," tunjuk Aiden pada seprei tersebut dengan senyum yang merekah di wajah tampannya, memperlihatkan kepuasan ego seorang pria yang tahu bahwa dia adalah yang pertama dan satu-satunya bagi wanita itu.
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja kalau kau bilang kau sudah menikah? Jika kau sudah menikah, suami macam apa yang membiarkan istrinya masih suci seperti selembar kertas putih hingga aku yang harus merobeknya?"
Senyum Aiden tampak begitu percaya diri, menganggap argumen Suzanne sama sekali tidak berdasar dan hanya sekadar gertakan sambal karena wanita itu merasa malu atau bingung menghadapi situasi pasca-kejadian semalam.
Suzanne mengepalkan tangannya di balik lengan hoodie yang kebesaran.
Kata-kata Aiden barusan tanpa sengaja seperti menyiramkan garam di atas luka menganga di hatinya.
Benar, suami macam apa? Suami yang menganggapnya menjijikkan, suami yang sedang tidur di pelukan perempuan bernama Lydia Gonne di belahan kota yang lain.
Penghinaan itu terasa begitu nyata, namun Suzanne tidak berniat menceritakan aib rumah tangganya pada bocah SMA ini.
Aiden kembali berjalan mendekat, kembali duduk di tepi ranjang dengan ekspresi wajah yang melembut, mengalah demi kenyamanan emosional wanita itu.
"Baiklah, aku mengerti alasanmu untuk menghindar," ucap Aiden lagi dengan nada yang lebih santai namun tetap menuntut kelanjutan. "Tapi setidaknya, kasih tahu aku namamu."
Suzanne menatap cincin di jarinya, lalu menatap Aiden yang masih menanti jawabannya dengan binar mata yang penuh harap.
Dia tahu dia harus memberikan sebuah nama agar bisa segera keluar dari tempat ini, namun nama "Suzanne Klatten" atau "Suzanne Daendels" terlalu berbahaya untuk diucapkan di lingkungan elite seperti ini.
Suzanne menarik napas pendek, lalu menjawab dengan suara yang pelan, "Anne... Namaku Anne."
Aiden mengangguk pelan, mengulang nama itu di dalam hatinya seolah sedang menghafal sebuah mantra suci.
"Anne... nama yang indah," bisiknya dengan senyum tipis yang tulus.
Namun, Suzanne tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Rasa cemas bahwa Willem mungkin akan kembali ke penthouse mereka sewaktu-waktu atau menyadari ketidakhadirannya mulai menghantui pikirannya.
Meskipun hubungan mereka hancur, skandal tertangkap basah di apartemen pria lain—terutama seorang remaja high school—akan menghancurkan sisa-sisa nama baik keluarganya.
"Aku harus pergi sekarang, Aiden," kata Suzanne, sengaja menyebut nama remaja itu yang ia ketahui dari seragam sekolah yang tergeletak di lantai semalam, untuk menunjukkan bahwa dia juga tahu siapa pria itu.
Aiden sempat terkejut mendengar namanya disebut, namun dia segera berdiri, menghalangi jalan Suzanne dengan tubuh jangkungnya yang tegap.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja tanpa tahu ke mana aku harus mencarimu lagi, Anne. Katakan di mana tempat tinggalmu, atau berikan nomor ponselmu."
Suzanne menggelengkan kepala dengan tegas.
"Tidak perlu. Apa yang terjadi semalam... anggap saja itu adalah cara takdir untuk menyelamatkanmu dari obat itu, dan cara takdir untuk memberikan apa yang tidak pernah ku dapatkan dalam hidupku. Kita tidak perlu bertemu lagi."
Kata-kata Suzanne yang terdengar begitu dewasa dan sarat akan kepedihan terselubung membuat Aiden terenyak.
Remaja itu menatap Suzanne dengan pandangan mata yang bergetar.
Sifat protektif dan rasa memiliki yang mendadak tumbuh subur di dalam dadanya membuat Aiden tidak rela melepaskan wanita ini ke dalam ketidakpastian dunia luar.
"Aku tidak bisa melakukan itu," desak Aiden, suaranya meninggi satu oktav karena frustrasi.
"Aku sudah merenggut kesucianmu, Anne! Di dalam duniaku, seorang pria yang melakukan hal itu harus bertanggung jawab sampai mati! Jika Daddy-ku tahu aku mencampakkan wanita yang telah kuserang semalam, dia akan membunuhku dengan tangannya sendiri!"
Suzanne tersenyum tipis, kali ini senyumannya tidak lagi sinis, melainkan menyiratkan rasa haru yang samar atas kepolosan dan keluhuran budi remaja di depannya.
Di saat suaminya yang sah memperlakukannya seperti sampah, seorang remaja asing yang baru dikenalnya semalam justru siap mengorbankan segalanya demi bertanggung jawab atas tindakan yang bahkan dipicu oleh obat terlarang.
"Orang tuamu mendidikmu dengan sangat baik, Aiden," ucap Suzanne lembut, melangkah perlahan melewati tubuh Aiden menuju pintu keluar apartemen.
"Tetapi hidup tidak sesederhana aturan di dalam rumahmu. Ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata 'tanggung jawab'."
"Anne! Tunggu!" teriak Aiden, mencoba mengejar langkah kaki Suzanne yang berbalut celana training kebesaran miliknya.
Namun, Suzanne bergerak lebih cepat.
Begitu pintu ganda apartemen mewah itu terbuka, dia langsung melangkah keluar menuju lorong koridor yang masih sepi.
Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Suzanne berbalik sejenak, menatap Aiden untuk yang terakhir kalinya pada pagi itu.
"Jangan mencariku, Aiden." bisik Suzanne sebelum akhirnya menarik pintu hingga tertutup rapat, memutuskan kontak visual di antara mereka dan meninggalkan Aiden yang berdiri mematung di dalam kamarnya yang luas, mencengkeram kusen pintu dengan kepalan tangan yang memutih frustrasi.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍