NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada apa dengan Rian

Udara panas Jakarta langsung menyergap begitu pintu otomatis lobi Hotel Mulia terbuka. Abian melangkah keluar dengan angkuh, kacamata hitam sudah bertengger di hidungnya. Nana mengekor di belakang, tangannya sarat dengan tas dokumen dan tablet, berusaha menyeimbangkan langkah dengan hak sepatunya yang cukup tinggi.

"Pertemuan tadi lumayan," gumam Abian sambil menunggu mobil mereka dipanggil oleh petugas.

"Meskipun kamu tadi agak lambat sedikit saat menampilkan data kuartal kedua. Lain kali, sinkronkan otakmu dengan kecepatan bicara saya."

"Baik, Pak. Akan saya usahakan otak saya punya kecepatan transmisi," jawab Nana datar.

Namun, kalimat Nana menggantung di udara. Matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil sedan mewah yang baru saja berhenti di jalur drop-off eksekutif. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria keluar dari sana.

Jantung Nana seolah berhenti berdetak. Postur itu, gaya rambut itu, bahkan cara pria itu membenarkan letak jam tangannya... itu Rian. Tapi Rian yang ini berbeda. Ia tidak memakai kaus oblong atau jaket kusam. Ia mengenakan kemeja slim fit yang tampak mahal.

Belum sempat Nana mencerna pemandangan itu, pintu sisi lain mobil tersebut terbuka. Seorang wanita keluar dengan pakaian yang sangat ketat sebuah gaun mini dengan potongan dada rendah yang cukup terbuka, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Wanita itu langsung menggandeng lengan Rian dengan mesra, dan mereka tertawa bersama sebelum melangkah masuk ke dalam lobi.

"Pak..." suara Nana bergetar, hampir tidak terdengar.

Abian, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik sekretarisnya, mengikuti arah pandang Nana. Ia terdiam sejenak, lalu sebuah seringai dingin muncul di wajahnya.

"Wah, lihat itu. Sepertinya Samudra Cintamu sedang pasang dan membawa ikan jenis baru ke hotel bintang lima," sindir Abian. Suaranya tidak lagi sekadar pedas, tapi menusuk tepat ke ulu hati.

"Tampangnya boleh seperti tukang galon, tapi seleranya ternyata... cukup 'terbuka' ya?"

Nana tidak menjawab. Dunianya terasa berputar. Rian yang ia kenal adalah pria sederhana yang bahkan canggung untuk masuk ke mal mewah, tapi pria di sana tadi tampak begitu akrab dengan kemewahan dan... wanita itu.

"Pak, saya... saya boleh minta izin sebentar? Saya harus memastikan sesuatu," tanya Nana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Abian menaikkan sebelah alisnya, ia melipat tangannya di dada dengan gaya dominan.

"Izin untuk apa? Untuk menyusul mereka ke dalam dan membuat keributan yang akan mempermalukan nama perusahaan saya?'

"Hanya lima menit, Pak. Saya janji," pinta Nana, suaranya mulai serak.

Abian mendengus, ia menatap jam tangannya. "Dua menit. Saya tidak suka menunggu, apalagi untuk urusan remeh seperti memergoki kurir paket yang sedang menyamar jadi bangsawan gadungan. Kalau lewat dari itu, kamu pulang sendiri."

Nana tidak mempedulikan ancaman itu. Ia langsung membalik badan, mengabaikan rasa sakit di kakinya karena sepatu hak tinggi, dan berlari kembali masuk ke dalam lobi hotel yang dingin.

Di teras lobi, Abian berdiri memperhatikan punggung Nana yang menjauh. Ia bergumam pelan dengan nada yang sulit diartikan.

"Sudah saya bilang kan, Na... pada akhirnya, kamu akan menyesal."

Nana segera menuju meja resepsionis yang panjang dan megah.

"Selamat siang, Mbak. Bisa bantu saya? Pria yang baru saja masuk bersama wanita berbaju merah tadi... mereka menuju ke mana ya?" tanya Nana cepat, napasnya masih memburu.

Petugas resepsionis, seorang wanita dengan sanggul rapi dan senyum kaku, menatap Nana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia melihat napas Nana yang tidak teratur dan wajahnya yang panik.

"Mohon maaf, Ibu. Demi privasi tamu kami, kami tidak diperkenankan memberikan informasi mengenai keberadaan atau tujuan tamu di dalam hotel ini," jawab resepsionis itu.

"Tapi ini penting sekali, Mbak." desak Nana, suaranya sedikit naik karena cemas.

Resepsionis itu tetap bergeming, wajahnya menunjukkan ekspresi merendahkan yang samar.

"Sekali lagi mohon maaf. Jika Ibu tidak memiliki reservasi atau kepentingan resmi dengan tamu tersebut, saya tidak bisa membantu. Silakan Ibu menunggu di area lounge jika berkenan."

Nana merasa dadanya sesak. Diabaikan seperti ini di saat hatinya sedang hancur rasanya benar-benar menyakitkan.

"Mbak, tolonglah..."

"Ada masalah di sini?"

Sebuah suara bera memecahkan mereka. Itu Abian. Ia melangkah maju dengan tangan terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer di meja resepsionis.

Si petugas resepsionis yang tadinya kaku langsung menegakkan punggung. Matanya membelalak, dan wajahnya mendadak pucat pasi.

"P-Pak Abian? Selamat siang, Pak! Mohon maaf, saya tidak tahu Bapak sedang ada di sini."

Abian tidak membalas sapaan itu. Ia justru menatap tajam papan nama di dada petugas tersebut, lalu beralih menatap Nana yang tampak rapuh.

"Sekretaris saya sedang bertanya padamu, dan kamu menjawabnya seperti sedang bicara dengan pengemis?" ucap Abian, suaranya rendah namun sangat mengancam.

"Bukan begitu, Pak... saya hanya menjalankan prosedur privasi tamu....."

"Prosedur?" Abian memotong dengan tawa sinis yang pendek. Ia mencondongkan tubuhnya.

"Sepertinya kamu lupa atau mungkin manajemenmu kurang memberikan pelatihan. Biar saya ingatkan Saya adalah investor terbesar di hotel ini. Nama saya tercatat di barisan paling atas pemegang saham gedung tempatmu berdiri sekarang."

Resepsionis itu gemetar, tangannya di bawah meja mulai berkeringat dingin. "M-mohon maaf sekali, Pak Abian. Saya tidak bermaksud...."

"Berikan informasi yang diminta asisten saya. Sekarang. Atau besok pagi kamu bisa mencari pekerjaan baru di hotel melati yang tidak butuh prosedur privasi," perintah Abian tanpa ampun.

Resepsionis itu dengan cepat mengetik di komputernya, jemarinya bergetar hebat. "P-pria tadi... atas nama Bapak Rian dan pasangannya, mereka baru saja menuju lift ke arah executive lounge di lantai 20, Pak."

Abian menarik tubuhnya kembali, lalu melirik Nana yang masih tertegun melihat bagaimana bosnya itu dengan mudah meruntuhkan tembok birokrasi hotel bintang lima hanya dengan satu kalimat.

"Masih mau berdiri di situ dan menangis?" tegur Abian pada Nana.

"Ayo. Lantai 20. Saya ingin lihat seberapa hancur hatimu saat melihat si Tukang Galon itu menuangkan sampanye untuk wanita lain."

Meskipun kata-katanya tetap pedas, Abian tidak meninggalkan Nana. Ia justru berdiri di sampingnya, menunggu lift terbuka seolah-olah ia adalah tameng yang siap melindungi Nana dari kenyataan pahit yang menanti di atas.

1
Kamsia
semangt abian buat nana sembuh jgn berfikir yg udh terjd kedpnnya hrs lbh siaga krn musuh camermu msh bnyk💪💪🙏 thor
Sri Supriatin
tks upny thor n lanjuut😍😍
Sri Supriatin
lanjuuut Thor...kapan up? ditunggu jangan lama2🤭
Aidil Kenzie Zie
katanya bapak Kaito pengusaha sukses kenapa nggak ada pengawal bayangan untuk Nana
Kamsia
bkn bgitu tapi di setiap nana berada ad bodyguard byngan tapi pd kmn dia.ngopi lupa wkt ato cuma bodyguardnya cuma satu.aduuhh thor kalo unsurnya ceria mafia hrsnya gercep dlm sgl hal ok💪💪💪🙏🙏
ig: denaa_127: halo kak, makasih sarannya. Tapi cerita ini berfokus pada sekretaris dan CEO sesuai judulnya aja. ini hanya penempatan konflik saja🙏
total 1 replies
Desi Santiani
double up
Nice1808
akh cerita ini abian pengusaha gk paten masa gk bisa retas cctv jalan🤭,kaito juga gk bisa kyk mafia2 jepang cari tau dimna musuhnya sampai haruna jd korban penjahat itu🤣
Mundri Astuti
yaahhh abiannn ga jago ah
Gita Megiati
ceritanya ngegantung
Nice1808
wah abian kecolongan nich pasti musuh kaito
Mundri Astuti
si Abian pegimana si, dah tau bnyk yg ngincer Nana, ni malah suruh tunggu tmpt sepi lagi
Kamsia
selalu saja begitu suruh nunggu di luar hrsnya di dpn resepsionis kalo ad ap" kan lngsg bisa di informasikan
Ani
itu salahmu udah tau Nana dalam bahaya malah disuruh keluar duluan.. hadeh
Aidil Kenzie Zie
Abian ceroboh
Kamsia
giliran nana sm abian nich thor
Aidil Kenzie Zie
padahal kemarin udah nyuri cium tu bibir Nana sama Bian
Mundri Astuti
seeeehhhh bisa bisanya kamu bian
Kamsia
modus bgt y..bian
Mundri Astuti
biiii mamak setuju biii, klo kamu sama Nana ea...😂
Kamsia
udh kena pnh asmara mom anknya gak kaku lk ky kanebo kering
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!