Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30
Harlan masih memeluk erat tubuh Alisa, membiarkan wanita itu bersandar di dadanya sambil menenangkan debar jantung mereka yang sama-sama kacau.
Perlahan Harlan pun mulai melepaskan pelukannya, hanya untuk menyatukan kembali tatapan mereka. Dengan lembut, Harlan menunduk dan menggendong Alisa dengan gerakan yang sangat protektif, membawa wanita itu ke tengah ranjang yang luas itu.
Alisa refleks mengalungkan lengannya di leher Harlan, menyembunyikan wajahnya yang kian memanas di ceruk leher suaminya.
Harlan merebahkan Alisa dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang meletakkan porselen yang sangat rapuh dan berharga.
Di bawah temaram lampu kamar, warna merah marun lingerie itu kontras dengan kulit putih Alisa, menciptakan pemandangan yang membuat Harlan harus berkali-kali mengatur nafasnya agar tetap tenang.
"Terima kasih, Alisa... karena sudah percaya kepadaku." bisik Harlan pelan.
Ia pun ikut merebahkan dirinya di samping Alisa, bertumpu pada satu siku sambil jemarinya menyisir lembut rambut istrinya yang tersebar di atas bantal.
Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara detak jantung mereka yang saling berkejaran.
Harlan kembali mendekat, kali ini dengan sentuhan yang lebih berani namun tetap penuh dengan kehati-hatian dan kelembutan.
Kemudian Ia mencium kening Alisa, lalu kedua mata, turun ke pipi Alisa, memberikan jeda di setiap sentuhan agar Alisa bisa beradaptasi dengan debar yang kian menggila.
Sementara Alisa, ia menutup matanya dengan pasrah. Memberikan ruang kepada Harlan untuk menyentuhnya lebih dalam lagi.
“Kamu yakin dengan semua ini? Kalau masih ragu, mungkin sebaiknya kita berhenti disini,” ucapnya lagi. Memastikan jika Alisa tidak akan menyesali keputusannya.
Alisa menggeleng kecil. Meski wajahnya masih merah padam, namun dari tatapannya sudah tidak ada lagi keraguan.
“Aku istrimu… dan aku, milikmu, Mas.”
Kalimat itu membuat tatapan Harlan melembut. Pria itu mengecup kening Alisa lama, seolah menahan rasa syukur yang memenuhi dadanya.
“Terima kasih, sayang.”
Masih dengan rona merah di wajahnya, Alisa tersenyum tipis. Malam itu, akhirnya, Alisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Memberikan apa yang sudah menjadi haknya Harlan sebagai seorang suami.
***
Pagi harinya.
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu dari balik tirai kamar, menciptakan garis-garis keemasan yang jatuh di atas ranjang.
Alisa terbangun perlahan. Untuk beberapa detik, ia hanya diam menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat kenapa tubuhnya terasa agak aneh.
Seperti ada beban yang cukup berat yang menumpu di tubuhnya. Belum lagi, ada sesuatu yang melingkar erat di pinggangnya.
Beberapa detik kemudian… raut wajah Alisa yang tenang mulai berubah, pipinya kembali memanas saat semua kenangan yang terjadi tadi malam kembali memenuhi kepalanya tanpa ampun.
Alisa buru-buru menutup wajahnya dengan selimut, membuat Harlan yang sejak tadi sebenarnya sudah terbangun malah tersenyum kecil.
“Kenapa sembunyi, hhmm?”
Suara berat itu terdengar begitu dekat di telinganya. Membuat Alisa makin malu.
“Mas sudah bangun?” tanya balik Alisa, tanpa menjawab pertanyaan Harlan.
“Sudah… dari tadi,” jawab Harlan membuat Alisa refleks membuka selimut yang menutupi wajahnya.
“Dari tadi? Kenapa tidak membangunkanku?”
Deg.
Seketika, Alisa kembali membeku saat untuk pertama kalinya, ia melihat Harlan dipagi hari dengan keadaan yang berantakan.
Pria itu bertelanjang dada, dengan rambut yang sangat acak-acakan. Belum lagi… tanda merah yang berada di beberapa titik, menghiasi leher dan dada putih pria itu.
Alisa menelan ludah. Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa ia bisa melakukan hal seliar itu. Membuat ia dilanda rasa malu yang teramat sangat malu.
Tak kuasa lagi menahan rasa malu. Alisa kembali menarik selimutnya, menutup lagi wajahnya dengan selimut itu. Membuat tawa Harlan akhirnya lepas juga.
“Kenapa sih, Yang? Kok ditutup lagi mukanya?” tanya Harlan, disela tawanya yang menggema di kamar itu.
“Malu…” jawab Alisa lirih.
Harlan menarik perlahan selimut yang menutupi wajah istrinya itu, hingga memperlihatkan pipi Alisa yang sudah semerah tomat.
Cantik. Cantik sekali. Dengan rambut yang sedikit berantakan, bibirnya masih tampak sembab tipis, dan ada bekas merah samar di lehernya yang membuat Harlan langsung terdiam beberapa saat.
Tatapannya berubah penuh rasa bersalah sekaligus sayang.
“Apa… masih sakit?” tanyanya, diucapkan dengan nada yang sangat lembut.
Alisa menggigit bibir bawahnya kecil sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Harlan langsung mendekat, lalu mengecup kening istrinya cukup lama.
Membuat ketegangan yang dirasakan oleh Alisa perlahan mulai menguap begitu saja. Berganti dengan rasa nyaman dan tenang.
“Maaf… kalau aku sudah menyakitimu,” ucap Harlan penuh penyesalan.
Namun, Alisa buru-buru menggeleng. Ia tahu, semua ini adalah proses yang harus mereka lalui dan rasa sakit itu, menjadi bagian dari prosesnya menjadi seorang istri seutuhnya.
“Enggak perlu minta maaf… semua itu kan memang seharusnya terjadi,”
“Tapi aku takut… terjadi sesuatu kepadamu,”
“Memang sakit. Tapi… aku akan baik-baik saja. Jadi, Mas tidak perlu khawatir.”
Jemari Harlan menyibakkan rambut Alisa dari wajahnya dengan hati-hati, seolah takut menyakiti wanita itu lagi.
“Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang sama aku.”
Alisa tidak langsung menjawab. Perlahan Alisa mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di dada Harlan. Mendengar detak jantung pria itu yang tenang.
“Mas tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja kok. Aku juga merasa sangat senang…”
Harlan menunduk, menatap wanita di pelukannya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
“Kenapa tidak dilanjutkan? Senang, karena apa?”
Alisa tersenyum malu-malu. Semakin menyembunyikan wajahnya di dada Harlan.
“Karena akhirnya, aku… bisa jadi istri yang seutuhnya untuk kamu, Mas.”
Kalimat polos itu membuat Harlan terdiam, lalu tersenyum senang karena kini, mereka benar-benar sudah memiliki satu sama lain.
Harlan memeluk Alisa semakin erat, lalu mengecup pucuk kepala istrinya penuh rasa sayang.
“Bolehkah, aku mengatakan sesuatu kepadamu?” ucapnya membuat Alisa mendongak pelan. Lalu Mengangguk tanpa keraguan sedikitpun.
“Tentu saja boleh. Apa itu, Mas?”
“Aku… mencintaimu Alisa.”
***
Sementara ditempat lain.
Seorang wanita tampak meremas kuat-kuat sebuah surat undangan. Tatapannya tajam, tertuju ke sebuah layar televisi yang menempel di dinding kamar.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan ini. Lihat saja, aku akan segera kembali dan mengambil lagi posisiku sebagai istrinya.” ucapnya penuh dengan amarah yang tertahan.
Di Dalam layar televisi itu, sedang menayangkan berbagai kabar tentang hebohnya pernikahan putra mahkota dikeluarga Argantara.
Keluarga terkaya nomor satu di negara itu. Meski pernikahan itu telah berlalu selama tiga bulan, namun isu tentang pernikahan yang dirasa memiliki keganjilan itu, masih menjadi kabar hangat di kalangan gosip para pengusaha dan para artis.
ayolah Harlan, Alisa saling ngobrol,saling pandang mata siapa tahu udah ada cinta