Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
***
Waktu seolah membeku di dalam vila mewah itu, namun bagi Mayang, setiap detik adalah siksaan yang merambat lambat. Kandungannya kini baru menginjak usia tiga bulan masa yang seharusnya penuh dengan penjagaan, namun di tangan Aditya, masa ini menjadi puncak dari eksploitasi fisik dan mental. Vila yang awalnya ia kira sebagai pelarian dari kegelapan Baskara, ternyata hanyalah sebuah sangkar yang lebih cantik, dengan jeruji yang terbuat dari obsesi dan hukum negara yang disalahgunakan.
Mayang kini benar-benar lumpuh. Upaya nekatnya dua minggu lalu untuk menyuap salah satu pelayan seorang wanita muda yang tampak memiliki secuil rasa iba—berakhir dengan tragedi. Aditya, dengan jaringan intelijennya yang mengerikan, mengetahui segalanya bahkan sebelum surat kecil itu sempat keluar dari gerbang vila.
Hukumannya kejam. Pelayan itu menghilang tanpa jejak, dan Aditya memaksa Mayang menonton melalui layar monitor saat Aira dan Rani dipindahkan ke ruangan isolasi yang lebih sempit, tanpa mainan, hanya ditemani oleh pengasuh yang diperintahkan untuk membisu.
"Kau lihat, Mayang?" bisik Aditya saat itu, sambil mencengkeram rahang Mayang agar wanita itu tidak memalingkan wajah dari monitor. "Setiap pengkhianatanmu memiliki harga. Dan harganya adalah air mata anak-anakmu. Jangan paksa aku menjadi lebih jahat dari ini."
Sejak hari itu, Mayang tidak lagi melawan secara terbuka. Ia menjadi seperti boneka porselen yang kehilangan nyawa. Tubuhnya semakin kurus akibat mual yang hebat, namun perutnya mulai menunjukkan tonjolan kecil yang menjadi pusat kegilaan Aditya.
Aditya tidak mengenal waktu. Baginya, Mayang bukan lagi manusia, melainkan monumen kesuburan yang harus ia klaim setiap saat. Pagi, siang, maupun malam, di setiap sudut vila yang megah namun dingin itu, Mayang dipaksa untuk melayani nafsu pria yang merasa memiliki hak ilahi atas rahimnya.
Siang itu, matahari terhalang kabut tebal, menciptakan suasana remang di ruang makan yang berdinding kaca. Mayang baru saja mencoba menelan sesuap bubur organik saat Aditya menghampirinya. Pria itu tidak lagi mengenakan seragam dinasnya; ia selalu memakai jubah sutra yang memudahkan aksesnya pada tubuh Mayang.
"Tuan... aku masih sangat mual," rintih Mayang saat tangan Aditya mulai merayap di bawah gaun tidurnya.
"Mualmu adalah bukti bahwa putraku sedang tumbuh, Mayang. Dan aku ingin merasakan pertumbuhannya sekarang," desis Aditya. Ia tidak membawa Mayang ke kamar. Ia mengangkat tubuh ringkih itu dan mendudukkannya di atas meja makan marmer yang dingin.
"Nghhh... Adit... di sini? Para pelayan..."
"Mereka tidak akan berani masuk tanpa izin dariku. Dan kalaupun mereka melihat, mereka hanya akan melihat pengabdianmu pada pemilikmu," sahut Aditya kasar.
Aditya mulai menciumi leher dan bahu Mayang dengan rakus. Mayang memejamkan mata, kepalanya pening, namun ia dipaksa untuk merespons. Di bawah tekanan sentuhan Aditya, Mayang merintih—sebuah suara yang kini menjadi candu bagi sang Auditor.
"Ahhh... nghhh... Adit... pelan-pelan... perutku... ahhh!" rintihan Mayang pecah saat Aditya mulai mendominasi tubuhnya di atas meja marmer tersebut. Rasa dingin batu marmer di punggungnya kontras dengan rasa panas yang menjalar di seluruh syarafnya.
"Sebut namaku, Mayang! Katakan siapa yang memberimu benih ini!" perintah Aditya dengan napas yang memburu.
"Aditya... ahhh... Tuan Aditya... nghhh... ahhh!" Mayang mendesah, suaranya bergetar antara rasa sakit kehamilan dan tuntutan fisik pria itu. "Kau... kau pemilik rahim ini... ahhh... nghhh!"
Aditya mengerang rendah, ia menyatukan tubuhnya dengan Mayang dalam ritme yang menuntut ketaatan total. Di ruangan yang luas itu, hanya terdengar suara desahan keduanya yang bersahutan dengan bunyi gesekan kulit di atas meja marmer. Aditya benar-benar ingin menenggelamkan Mayang dalam gairahnya, memastikan bahwa tidak ada ruang sedikit pun di otak wanita itu untuk memikirkan perlawanan.
"Ahhh... ahhh... nghhh! Lebih keras, Mayang! Biarkan putraku mendengar betapa ibunya memuja ayahnya!" seru Aditya saat ia mencapai puncak obsesinya.
Mayang terkulai lemas, kepalanya terkulai ke samping, menatap kabut di luar jendela. Air mata mengalir di sudut matanya, namun ia segera menyekanya sebelum Aditya menyadari. Di tengah rasa mual yang kembali menyerang akibat aktivitas fisik yang melelahkan, Mayang membisikkan doa yang gelap.
***
Bersambung....