Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sean Selingkuh
"Sean...?"
Bruk!
"Aww!"
Sean menyentak gadis di pelukannya dengan kasar hingga punggung gadis itu membentur pintu toilet. Bibirnya tampak memerah dan membengkak, sementara Kiara Masita menatap pemuda yang masih berstatus kekasihnya itu dengan kilat kemuakan.
Ini adalah kali pertama Kiara menyaksikan adegan intim secara langsung. Biasanya, tontonan semacam itu hanya ia temui di layar televisi, itu pun pasti sudah terpotong sensor atau jeda iklan. Terakhir kali ia hampir melihat pemandangan serupa di bioskop, telapak tangan besar suaminya dengan sigap telah menutup matanya.
Kini, ia justru menikmatinya secara cuma-cuma, tanpa perlu kuota atau listrik, namun justru rasa sesak yang menghantam dadanya. Yang lebih menyakitkan, lawan main Sean adalah Rara musuh bebuyutannya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di SMA Pertiwi.
"Aku tidak menyangka, Sean... kamu tega!" Kiara terisak.
Sean hanya menatapnya dingin, tak ada gurat penyesalan. Sementara itu, Rara mendekati Sean sambil meringis pelan, mencoba meluruskan punggungnya yang terasa kaku akibat benturan tadi.
"Sebentar, kalian jangan ke mana-mana sebelum aku selesai." ketus Kiara.
Ia melangkah masuk ke dalam bilik toilet. Suara kran air terdengar mengalir cukup lama, seolah sengaja membiarkan suasana di luar membeku. Anehnya, Sean dan Rara tetap setia menunggu di depan wastafel, seakan siap menghadapi amukan Kiara.
"Kupikir kamu sudah keluar dari sekolah ini, ternyata masih berani menampakkan diri." sindir Rara dengan wajah tanpa dosa saat Kiara keluar. Ia bergelayutan manja di bahu Sean.
"Kamu harus tahu, Kiara. Sejak kemarin, aku dan Sean sudah resmi berpacaran. Aku hanya kasihan, laki-laki sekelas Sean harus terjebak dengan gadis membosankan sepertimu. Untungnya dia bercerita tentang betapa tertekannya dia selama ini."
"Aku tidak bodoh, Rara. Justru Sean yang kehilangan akal karena memilih gadis murahan sepertimu. Kamu tahu? Kamu tidak ada bedanya dengan ini."
Kiara melempar gumpalan tisu bekas ke wajah Rara. Sontak, gadis itu meradang.
"Dasar simpanan om-om!" Rara mendorong bahu Kiara hingga terbentur dinding.
Refleks, Kiara melayangkan tendangan sebagai balasan. Rara memekik sambil memegangi pahanya. Saat Kiara hendak menyerang kembali, Sean segera menahannya.
"Kiara, cukup!"
Rara tersenyum puas di balik perlindungan Sean.
"Maaf kalau aku terkesan pengecut, Kiara. Tapi akhir-akhir ini kamu berubah, kamu tidak lagi peduli padaku. Jadi, anggap saja ini jalan terbaik. Kita putus. Aku lebih memilih Rara."
Meski Kiara sudah berniat mengakhiri hubungan ini sebelumnya, rasa sakit itu tetap nyata. Rasanya kotor harus putus di tempat seperti ini. Kiara berlari keluar sambil terisak, namun semenit kemudian, ia berbalik arah dan kembali menghampiri Sean yang masih terpaku.
"Aku lupa memberikan kenang-kenangan terakhir."
Kiara merangsek maju, mencengkeram kerah seragam sekolah mantan kekasihnya itu, dan...
Bugh!
Satu pukulan telak mendarat di wajah tampan sang ketua basket, membuatnya terhuyung ke bahu Rara.
"Aku tidak akan keberatan masuk ruang BK karena memukul pria brengsek sepertimu."
Klik!
Kiara merogoh ponselnya dan memotret pasangan itu. Sialnya, Rara justru sempat berpose dengan dua jari.
"Selamat berurusan dengan pihak sekolah. Foto kalian di toilet ini akan segera sampai ke meja Pak Laksmana."
Kiara menyeringai puas sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
**
Karena suasana hatinya yang hancur, Kiara meminta izin pulang lebih awal. Alasan yang ia berikan pada wali kelas terdengar absurd, kepala mulas dan perut puyeng namun sang guru tetap mengizinkan, mungkin karena melihat mata Kiara yang sembap dan dua kotak tisu kelas yang habis ia gunakan.
"Langsung pulang, Non?" tanya Pak Komar, sang sopir, saat melihat kondisi Kiara yang kacau di dalam mobil.
"Ke kantor Om Bara saja, Pak."
Tiba-tiba ia merindukan suaminya. Pak Komar pun segera memacu mobil menuju pusat kota Jakarta, ke gedung milik Abraham Wijaya.
"Bu Kiara?" Resepsionis yang sedang memoles riasan langsung tegak saat Kiara datang dengan hidung memerah dan botol minum bergambar unicorn di pelukan.
"Om Bara di mana?"
"Ada, Bu, tapi sedang memimpin rapat di ruang pertemuan."
"Di mana ruangannya?" tuntut Kiara, mencoba tetap terlihat elegan meski suaranya serak.
"Lebih baik Ibu menunggu di ruangan Pak Abraham saja. Nanti saya belikan cokelat, ya?" bujuk sang resepsionis.
"Saya mau bertemu sekarang!"
Tanpa memedulikan cegahan, Kiara menerobos masuk ke ruang rapat tepat saat Abraham baru saja membuka pembicaraan.
"Om Bara...!"
Teriakan nyaring itu memecah keheningan. Kiara berlari dan langsung menghambur ke pelukan Abraham di hadapan belasan peserta rapat.
"Kiara? Ada apa?" Abraham tampak canggung. Meski ini hanya rapat internal perusahaan starship miliknya, tetap saja ia merasa sungkan dengan kelakuan istri kecilnya.
"Aku sedang sedih, Om. Sean selingkuh. Kami baru saja putus di toilet sekolah."
Yudha dengan sigap menyodorkan tisu, namun sebelum ia sempat mendekat, kaki Abraham sudah lebih dulu menghalangi langkahnya.
"Laki-laki memang brengsek, itu sebabnya aku tidak mau berurusan dengan mereka!" seru salah satu staf bernama Danang, membuat rekan di sebelahnya langsung bergeser menjauh.
"Apa perlu kita datangi anak itu, Bos?" sahut staf lainnya dengan semangat. Namun, satu isyarat dari Abraham cukup untuk membuatnya kembali menciut.
"Kita bicara di ruanganku saja, Kiara. Tidak enak di sini."
Kiara menyeka air matanya, baru menyadari bahwa para peserta rapat sedang memperhatikannya sambil mengunyah camilan. Bahkan sempat terjadi keributan kecil di pojok meja saat dua staf berebut roti isi daging.
"Yudha, pegang kendali sebentar. Jangan buat kerusuhan." pesan Abraham sambil menggandeng tangan istrinya keluar.
Di dalam ruangan pribadi yang mewah, Kiara duduk di pangkuan Abraham dan menceritakan seluruh drama di toilet tadi.
"Bukankah sejak awal kamu memang ingin memutuskan dia? Kenapa harus sesedih ini?" tanya Abraham heran dengan sikap labil gadis di pangkuannya.
"Iya, Om. Tapi aku ingin putus dengan cara yang baik, bukan dengan drama perselingkuhan seperti ini."
Abraham meraih tisu, membersihkan sisa tangis di wajah Kiara. Ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan yang selama ini belum pernah Kiara rasakan sebelumnya.
"Om lanjut kerja saja, aku mau pulang sekarang." Kiara mulai merasa lebih baik.
"Tidak apa-apa, tetaplah di sini. Aku tidak merasa terganggu."
Jantung Kiara berdegup kencang melihat senyum tulus di wajah Abraham. Dalam balutan setelan kerjanya, pria berusia 27 tahun itu tampak begitu berwibawa dan melindungi.
"Kiara, aku tahu di usiamu sekarang, kamu masih ingin menikmati masa sekolah dan masa muda. Jadi..." Abraham menggantung kalimatnya. "Jika status suami istri ini terasa terlalu berat bagimu, bagaimana kalau... kita pacaran saja dulu?"
Kiara terbelalak. "Maksudnya... Om sedang menembakku?"
Abraham mengangguk pasti. Ia lebih baik menjadi kekasih Kiara daripada memaksakan peran suami pada gadis sepolos ini.
"Gimana? Kamu mau menerimaku?"
Sentuhan lembut Abraham di rambutnya membuat Kiara merinding. "Om tidak akan selingkuh seperti Sean, kan?"
"Aku janji akan menjadi kekasih yang baik untukmu."
Abraham mengecup bahu Kiara dengan lembut. Gadis itu merasa seolah melayang, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Abraham hingga akhirnya tertidur pulas.
**
Malam harinya di kediaman mereka yang tenang, Kiara mondar-mandir di kamarnya.
"Duh, kenapa aku jadi segrogi ini?" gumamnya di depan cermin.
"Mbak Kiara, makan malam sudah siap." Bi Surti tiba-tiba masuk
"Om Bara sudah pulang, Bi?" tanya Kiara penuh harap.
"Belum, Mbak."
Senyum Kiara seketika luntur. "Apa ada rapat lagi?"
"Mana saya tahu, Mbak. Pak Abraham tidak pernah memberi tahu jadwalnya pada saya. Padahal ponsel saya aktif terus." sahut Bi Surti sedikit mengeluh.
Kiara menunggu dengan gelisah. Perutnya mulai keroncongan, namun ia enggan makan sendirian. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya panggilannya diangkat oleh Abraham pada percobaan kelima.
"Lama sekali angkatnya!" protes Kiara.
"Maaf, Kiara. Aku tadi di toilet dan tidak membawa ponsel." sahut suara lembut di seberang sana, seketika mendinginkan hati Kiara.
"Om di mana? Tumben belum pulang. Aku bukan khawatir atau curiga Om sedang bersama wanita lain, ya! Tapi aku lapar, menunggu Om untuk makan malam bersama."
Terdengar kekehan kecil dari Abraham. "Maaf, ya. Tadi aku sudah mau jalan pulang, tapi tiba-tiba klien mengajak makan malam untuk membahas pekerjaan."
"Hah? Om enak-enakan makan enak, sementara aku dibiarkan kelaparan?"
"Maaf, Kiara. Tadi banyak telepon masuk jadi aku lupa mengabarimu. Makanlah duluan bersama Bi Surti. Aku akan pulang sekitar jam sepuluh."
Kiara mendengus kesal sambil menyandarkan kepalanya ke dinding kamar. Namun, kekesalannya berubah menjadi api cemburu saat sebuah suara wanita terdengar di latar belakang telepon suaminya.
"Bara, kamu mau pesan apa?"
Suara itu begitu lembut dan akrab. Kiara meremas ponselnya kuat-kuat.
"Itu siapa, Om?" geram Kiara, menanti jawaban yang akan menentukan suasana hatinya malam ini.
gak bisa ketebak cegil satu ini😄
mau nyamperin ga.....tapi jangan buat ulah ya.....cukup jadi spy aja......😁