Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akal sehat
Nyala api menari-nari di atas batang kayu yang terlilit kain, cahayanya membuka tirai gelap memberikan kesempatan bagi kelompok itu untuk berlalu tanpa khawatir tersandung.
Kelompok pembawa obor itu terdiri dari lima orang, dua orang wanita dan tiga orang pria, mereka dipenuhi debu dan kotoran, darah mengecat pakaian mereka di beberapa titik, mengungkap tindakan mereka sebelumnya.
Mereka menjaga jarak satu sama lain sebanyak satu setengah langkah, mengantisipasi serangan apapun dengan senjata di genggamannya.
Di balik kegelapan Adam menarik lengan Ziva dan mundur dengan cepat, langkahnya disembunyikan dengan baik namun semuanya tak berjalan mulus.
Visinya sangat pendek, mungkin jarak pandang efektif Adam hanyalah kurang lebih satu meter di depannya, dan tanpa sengaja kakinya terbentur pipa besi di sisi tembok.
Bruk! Suara itu menyebar ke seluruh tempat memecah keheningan parkiran bawah tanah itu.
Kelompok pembawa obor diperingatkan dengan cepat, mereka mengangkat obor dan senjatanya bersiap untuk bertarung "Siapa disana!" Diantara mereka, seorang pria yang memimpin berbicara, sepertinya tak senang dengan siapapun yang membuat suara itu.
Dia mengambil kuda-kuda dengan katana di lengan kanannya, sedangkan lengan kirinya mengangkat obor ke atas.
Pria itu menoleh ke arah kelompoknya, jarinya bergerak melakukan sesuatu, kelompok di belakangnya mengangguk dan dengan cepat mengikuti pemimpin regu mereka dari belakang.
Pria itu beserta kelompoknya menghampiri asal suara, dengan obor di tangan mereka tabir gelap selalu diungkap di setiap langkahnya, memberikan pandangan jelas pada setiap anggota.
Mata tajam pria itu bergerak kesana-kemari, mengamati semua yang ada di sana.
Mobil-mobil terbengkalai, kendaraan bermotor tergeletak jatuh dalam barisan panjang dan bahkan jejak bercak darah yang telah mengering terungkap sepenuhnya.
Kelompok itu menjaga kecepatannya, mereka sepertinya tahu aturan baru dari dunia ini. Mereka menjaga suara dihasilkan seminim mungkin, meski mereka tahu tetap sulit untuk tak melanggarnya.
Bagi mereka tempat ini sudah cukup aman, jika dibandingkan dengan dunia luar, ditambah dengan banyaknya anggota, mereka hampir bisa menyelesaikan rencana besar sang penguasa.
Di belakang, salah satu anggota wanita berbicara "Mungkinkah itu tikus mutan lainnya?" Dia berkata secara acak, anggota lain berpikir sejenak sampai sang pemimpin menjawab "Mungkin, bisa saja itu tikus, atau makhluk lainnya, kita tak tahu apa itu" Dia tetap tak melepaskan kewaspadaannya.
"Kalaupun itu bukan makhluk mutan, kita harus tetap mengeceknya" Ada sedikit tekanan dan tak berdaya dalam suara mereka, sang pemimpin menegaskan kembali "Ini sudah jadi tugas kita, sebagai tim pengintai" Jelasnya.
Mereka terus mendekat dalam formasi ketat, dan akhirnya sampai ke sumber suara itu.
"Lihat itu, pipanya rusak" Anggota lain menunjuk pipa di tembok dengan obornya, sang pemimpin hampir menyatukan alisnya, dia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan keadaan "Ini pasti ulah mutan," Dia berjongkok dan menyentuh pipa itu "Kita kembali, laporkan ini pada markas, sepertinya parkiran bawah tanah belum bersih"
Keempat anggota berkata dengan serempak "Baik" mereka berbalik pergi meninggalkan sang pemimpin yang masih berjongkok, tatapan pria itu terfokus pada bidang gelap di kejauhan dimana mobil-mobil ditinggalkan tanpa pemilik.
Dia terdiam sejenak sebelum kembali berdiri, berbalik meninggalkan tempat itu "Mungkin cuma perasaan gua" Sang pemimpin regu berbalik menyusul ketertinggalannya.
. . .
'Siapa mereka!' Adam dan Ziva bersembunyi di balik barisan mobil, beruntung Adam bertindak dengan cepat setelah kecelakaan kecil itu, meski kakinya tak terasa sakit mereka lebih khawatir jika ditemukan.
Mereka setidaknya tahu satu hal penting, tak perlu bagi Rifana untuk memberitahu hal semacam ini, karena ini hanyalah akal sehat normal dari umat manusia.
Kedua bersaudara itu tahu bagaimana keadaan bisa merubah seseorang, mereka tak bisa begitu saja bertemu dengan orang asing di dunia seperti ini.
Mereka tak tahu niat dan bahkan tujuan mereka. Lebih baik bagi mereka untuk waspada, dan hal itu berlaku bagi semua orang.
Mereka berdua bahkan masih belum sepenuhnya mempercayai Rifana, dengan watak misterius pria itu, sangat sulit bagi mereka untuk yakin, namun lebih baik mereka bekerja sama untuk saat ini.
Keduanya yakin, kalau Rifana memang berbeda.
Jadi lebih baik bagi mereka untuk membangun hubungan sedini mungkin, seseorang yang licik dan pintar lebih baik menjadi teman dibandingkan musuh.
Mereka tak tahu apa yang akan terjadi jika pria semacam ini menjadi musuh mereka, lagipula watak Rifana meski tertutup seringkali terungkap di masa lalu.
Ziva masih mengingatnya, alasan kenapa dia mengagumi pria itu tak hanya karena kepintarannya dan kehebatannya.
Ada satu sisi lain yang sangat dikagumi Ziva dari pria itu.
Rifana merupakan seorang pragmatis radikal, dia mungkin terlihat acuh tak acuh di luar, namun pria ini akan melakukan apapun demi penyelesaian masalahnya.
Pernah sekali, saat itu ada sebuah acara sedang diadakan di sekolah, Ziva sebagai ketua kelas harus mengatur banyak hal demi penampilan mereka berjalan lancar.
Dan saat sedang mengatur teman sekelas untuk giliran tampil mereka, Rifana entah bagaimana membuat marah sekelompok siswa berandalan.
Itu menjadi hari yang berat bagi banyak orang, entah mengapa, Ziva selalu memperhatikan Rifana, pria itu hanya duduk di depan kelas setiap hari, dia hanya menghabiskan waktu kosongnya merenung dan menyendiri.
Namun sepertinya kelompok itu tersinggung entah bagaimana, seingat Ziva siswa pentolan yang mimpin kelompok itu tak menyukai tatapan Rifana.
Yah itu alasan yang bodoh, pada akhirnya pertikaian terjadi.
Namun satu hal.
Ziva menyaksikan semua adegan itu secara langsung, Rifana tak melakukan apapun, dia hanya berdiam diri dan menatap kosong, dia bahkan tak menghiraukan omongan kelompok berandalan itu dan melanjutkan hidupnya.
Dan itu membuat kelompok berandal itu merasa terhina, mereka memukuli Rifana bersama-sama, mengharapkan ekspresi kesakitan dan kesedihan di wajahnya.
Tetapi wajah poker Rifana tak pernah berubah sejak awal hingga akhir pemukulan, dia hanya menatap kelompok itu dalam diam.
Pada akhirnya pemukulan itu berakhir saat seorang siswa mengancam untuk melapor, guru meski tahu mungkin hanya akan memberikan peringatan pada kelompok itu.
Ziva sebelumnya berpikir bahwa Rifana akan dirundung lagi di kemudian hari, namun siapa sangka.
Selama beberapa hari, Rifana tak masuk sekolah, dan tiba-tiba di hari ke 4 dia kembali ke sekolah, tanpa baju sekolah, hanya baju kasual rumahan.
Dengan lengan diperban, dia masuk ke ruang BK.
Ziva yang mendengar kedatangan Rifana bergegas ke ruang BK untuk bertemu, dia khawatir padanya.
Awalnya dia berpikir kalau Rifana hanya melaporkan kejadian lalu pada gurunya, dan benar saja dia melakukannya.
Tak sampai di situ saja.
Beberapa siswa memang melihat pengeroyokan itu, namun mereka tak melihatnya dengan seksama. Rifana seharusnya tak berada dalam kondisi separah itu, meski pemukulan dilakukan oleh sekelompok remaja itu belum cukup untuk membuat kondisinya seburuk itu.
Yang tak diketahui mereka adalah, Rifana memperkeras dampaknya saat pemukulan itu terjadi.
Membanting tubuhnya berkali kali, membuat bekas-bekas memar di seluruh tubuhnya, bahkan dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke tepian tembok, mematahkan lengannya sendiri.
Semua itu dilakukan dengan sengaja olehnya, hingga pada akhirnya.
Kelompok berandal itu, dikeluarkan dari sekolah secara bersamaan.
Saat gurunya bertanya, Rifana hanya mengatakan satu hal.
"Membersihkan"