Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30.
Siang itu, Desa Rambutan terasa berbeda. Matahari bersinar terik di atas kepala, namun angin yang berhembus pelan membuat suasana tetap nyaman.
Di samping rumah Zee, toko kecilnya yang selama ini hanya terlihat sebagai bangunan sederhana... kini mulai berproses.
Pintu terbuka lebar, rak-rak tertata rapi. Dan barang-barang tersusun dengan teratur, seolah menunggu tangan pertama yang akan membelinya.
Zee berdiri di dalam, memperhatikan semuanya sekali lagi. Lalu langkah pelan terdengar dari luar.
Mbak Ayu datang dengan pakaian sederhana, tapi rapi dari biasanya. Wajahnya masih terlihat gugup, namun matanya menyimpan tekad.
Ayu berhenti di depan pintu toko, ragu untuk masuk. Zee yang melihat itu langsung tersenyum kecil.
"Masuk saja, Mbak Ayu."
Ayu tersentak pelan, lalu mengangguk cepat. "Iya, Non."
Dia pun mulai melangkah masuk dengan hati-hati, seolah takut mengotori lantai toko yang bersih itu.
Matanya langsung berkeliling, melihat seluruh isi toko. Rak berisi minyak, gula, mie instan, sabun, beras, dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya. Semuanya terlihat begitu lengkap dibandingkan dengan apa yang biasa Dia lihat.
"Banyak sekali..." gumamnya tanpa sadar.
Zee berjalan mendekat. "Nanti Mbak Ayu jaga di sini, jadi nanti harus hafal letak barangnya."
Ayu mengangguk cepat. "Iya, Non... Mbak akan pelajari semuanya."
Zee lalu mulai menjelaskan. Cara mencatat barang keluar, barang masuk, menghitung uang, dan cara melayani pembeli.
Semua di jelaskan dengan sederhana, mudah dipahami, dan tanpa membuat Ayu merasa kecil.
Ayu juga mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Tak lama kemudian, beberapa warga mulai berdatangan. Awalnya hanya satu dua orang, namun kabar cepat menyebar.
Dan dalam waktu singkat, suasana toko menjadi ramai.
"Mbak Ayu, gula satu ya!"
"Minyak dua, ya!"
"ini berasnya, Mbak?"
Ayu sempat panik, dan tangannya gemetar saat pertama kali melayani.
Namun Zee yang berdiri di sampingnya, selalu membantu sedikit-sedikit. "Melayani satu per satu dengan santai saja Mbak, tidak perlu terburu-buru." bisiknya pelan.
Ayu mengangguk. Dan perlahan dia mulai terbiasa.
Senyum mulai muncul, gerakannya mulai teratur, dan tanpa disadari... Dia mulai menjalankan perannya dengan baik.
Di sisi lain, Rama berdiri di tengah lahan yang baru saja di buka.
Tanah yang sebelumnya keras kini sudah di gembur. Barisan lubang kecil sudah siap ditanami bibit pohon buah.
Beberapa ibu-ibu mulai berdatangan, membawa semangat baru.
Mereka tertawa kecil, saling berbincang, sambil bekerja.
Namun hari ini berbeda, Rama berdiri sebagai penanggung jawab atau pengawas.
Dia menatap lahan itu sejenak, masih terasa tidak nyata. Dia di beri kepercayaan untuk mengelola sesuatu yang besar.
Rama menarik napas panjang, lalu bersuara.
"Ibu-ibu semuanya, kita mulai dari bagian sini dulu, ya. Jaraknya jangan terlalu dekat, biar pohonnya bisa tumbuh besar."
Para ibu-ibu pun mengangguk. "Iya, Nak Rama!"
Dan pekerjaan pun mulai. Rama berjalan mengawasi, sesekali membantu, dan sesekali mengingatkan.
Walaupun Rama belum sempurna untuk mengawasi para pekerja, namun cukup dan terpenting dia melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Sore mulai muncul. Di toko kecil itu, Ayu duduk sebentar, menghela napas panjang. Wajahnya lelah, tapi ada senyum yang tidak bisa dia sembunyikan.
Zee berdiri di depan pintu toko, memperhatikan jalan desa yang mulai sepi.
"Capek?" tanyanya ringan.
Ayu tertawa kecil. "Capek... tapi juga senang, Non."
Zee mengangguk pelan. "Itu bagus Mbak."
Ayu menatap ke arah Zee. "Terima kasih... Sudah percaya sama Mbak Non."
Zee tidak langsung menjawab, matanya tetap menatap ke luar. "Jaga kepercayaan itu saja Mbak." ucapnya pelan.
Ayu mengangguk. "Iya, Non."
Hari itu perlahan berakhir, toko kecil itu sudah resmi dibuka, lahan mulai di tanami, dan kehidupan di Desa Rambutan... mulai berubah sedikit demi sedikit.
Namun jauh di balik semua itu, di sisi timur Zee Plaza Mall... Pintu transparan itu masih berdiri dengan diam.
Tapi tidak lagi sepenuhnya tenang. Permukaannya beriak pelan. Seolah... sedang menunggu seseorang untuk datang.
Keesokan harinya, Desa Rambutan benar-benar terasa hidup.
Pagi dimulai dengan kesibukan yang teratur. Toko kecil di samping rumah Zee sudah dibuka sejak pagi oleh Ayu. Tangannya kini jauh lebih luwes dibandingkan hari sebelumnya.
Dia melayani pembeli dengan senyum, mencatat dengan rapi, dan sesekali masih bertanya jika ragu... namun tidak lagi panik.
Warga juga mulai terbiasa, bahkan beberapa dari mereka sengaja datang lebih pagi agar tidak mengantri.
Sedangkan di sisi lain desa, lahan kebun yang baru dibuka tampak dipenuhi dengan aktivitas pekerja.
Rama berdiri mengawasi dengan penuh tanggung jawab. Dia berjalan dari satu titik ke titik lain, memastikan jarak tanam sesuai, tanah cukup gembur, dan bibit ditanam dengan benar.
Sesekali juga dia membantu, memberi arahan sederhana, namun terarah.
Kerja sama dengan Daniel pun berjalan lancar. Pengiriman buah tetap stabil, bahkan meningkat sesuai dengan permintaan, dan tidak ada hambatan.
Semua... Berjalan sesuai rencana. Zee berdiri di depan rumahnya, memperhatikan semuanya dari kejauhan.
Matanya tenang, tapi pikirannya jauh. Semalam... A3 dan A4 kembali memberikan laporan tentang pintu itu.
Tentang perubahan yang terjadi, bukan lagi sekedar transparan. Kini pintu itu mulai membentuk wujud lebih nyata.
Pintu kayu jati tua dengan ukiran yang tidak biasa. Dan di sisi-sisinya... cahaya biru transparan yang berpendar pelan.
Pintunya semakin nyata, dan seolah siap untuk dibuka.
Zee menarik napas panjang, keputusannya sudah dibuat. Hari ini, Dia akan pergi.
Zee mulai memanggil satu per satu orang yang Dia percayai.
Bu Maya yang datang lebih dulu. "Ibu, saya mau pamit beberapa hari ke luar kota," ujar Zee dengan nada tenang.
Bu Maya sedikit terkejut. "Loh, Non mau mau pergi?"
"Iya, Bu. Ada urusan penting."
Bu Maya mengangguk pelan. "Kalau begitu, hati-hati ya, Non."
Zee tersenyum tipis. "Iya, Bu. Untuk rumah, Zee titip ke ibu juga ya."
"Iya, Non. Tenang saja "
Beberapa saat kemudian, Pak Ali, Rama dan Ayu muncul.
"Pak, Zee mau pergi beberapa hari. Jadi kebun dibelakang rumah tolong Pak perhatikan ya."
"Oke, siap Non."
"Dan untuk Mas Rama, dan Mbak Ayu. Zee titip kebun dan toko ya." lanjut Zee
"Iya, Non." jawab mereka serempak.
Zee kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil, sebuah ponsel Android baru. Dia menyerahkannya pada Ayu.
"Ini untuk Mbak Ayu."
Ayu terkejut. "Untuk Mbak, Non?"
"Iya, kalau ada apa-apa, Mbak bisa langsung hubungi Zee, atau lewat Lia."
Ayu menerima dengan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Non..."
Setelah semua selesai, Zee berdiri di depan rumahnya sekali lagi, dengan Lia sudah berdiri si sampingnya.
"Apakah semuanya sudah siap."
"Sudah Nona."
Zee mengangguk. Mereka berdua mulai masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya.
Di pintu rumah mereka juga, berdiri pak Ali, Bu Maya, Rama dan ayu yang menatap kepergian Zee dan Lia asistennya.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka pun berhenti di tempat yang sepi. Zee dan Lia keluar, memperhatikan sekitarnya merasa tidak ada orang... Zee mulai memasuki mobilnya ke dalam ruang penyimpanan.
"Ayo." ucapnya pelan.
Sling!
Dalam sekejap... Zee dan Lia menghilang. Sesaat kemudian, mereka sudah berdiri di sisi timur Zee Plaza Mall.
Udara disitu terasa berbeda, lebih dingin, sejuk, dan tenang.
A3 dan A4 juga sudah menunggu di sana.
"Laporkan," ucap Zee singkat.
A4 langsung menjawab.
"Objek mengalami perubahan signifikan. Struktur kini menyerupai pintu kayu dengan ukiran kompleks. Energi stabil, namun meningkat."
Zee melangkah maju, menatap lurus ke depan. Pintu itu... Kini benar-benar berbeda. Bukan lagi sekedar transparan.
Kayu tua dengan ukiran asing membentuk permukaannya. Pola-pola yang tidak Dia kenali, namun terasa hidup.
Di sisi-sisinya, cahaya biru transparan mengalir seperti air. Tenang namun dalam.
Zee berhenti tepat di depan pintu itu. Jaraknya hanya satu langkah. Dia mulai mengangkat tangannya perlahan, kali ini tanpa ada keraguan.
Permukaan pintu bergetar pelan. Cahaya biru di sampingnya berdenyut, dan suara itu kembali terdengar lebih jelas, dan dekat.
*Akses dikonfirmasi
*Pintu siap dibuka.
Zee masih menatap lurus ke pintu, dengan matanya yang tajam. Dan untuk pertama kalinya... Dia tidak menahan dirinya lagi.
Ujung jarinya... perlahan mau menyentuh permukaan pintu itu. Namun tetap sebelum ujung jarinya benar-benar menyentuh permukaan pintu itu....
Zee berhenti sejenak. Matanya sedikit menyipit, seolah teringat sesuatu.
Perlahan, Dia menurunkan tangannya. Lalu merogoh tas kecil yang Dia bawa.
Dari dalamnya, Dia mengeluarkan sebuah kamera analog tua, kamera yang selalu Dia gunakan untuk mengabadikan hal-hal yang menurutnya tidak biasa.
Klik kecil terdengar saat Dia membuka penutupnya.
Lia, A3, dan A4 hanya memperhatikan dalam diam.
Zee mengangkat kamera itu, membidik tepat ke arah pintu misterius di hadapannya.
Cahaya biru di sisi pintu berpendar lembut. Ukiran kayu tampak semakin jelas, dan suasana di sekitarnya terasa... tidak nyata.
Klik.....
Suara rana terdengar singkat. Zee pun menurunkan kamera itu perlahan, beberapa detik berlalu.
Hening.
Dia membuka hasil foto tersebut. Matanya langsung tertuju pada gambar itu... dan seketika...
Napasnya seakan tertahan, dan jantungnya berdegup lebih kencang.
"Ini...." gumam Zee.